Minggu, 30 Oktober 2016

Pasangan yang BURUK

Bismillaah..

Jangan mau nikah sama seseorang yang akhlaknya buruk. Walau ia dikenal ikhwan, sholeh, rajin sholat, tapi kalau suka mukul? Suka cubit? Suka melempar? Suka menyakiti hati orang lain? Bicaranya kasar? Jangan MAU ukhti!

Sebelum nikah, tanyakan dulu pada saudara terdekatnya, bagaimana akhlaknya jika marah. Apakah suka mukul? Apakah bicaranya kasar? Apakau suka mencubit? Apakah suka melempar? Atau perilaku ringan tangan yang lain. Jangan MAU ukhti!

Wanita itu, sifatnya perasa. Semakin dikerasi, dia bengkok. Itulah sebab, Rasulullaah mengibaratkannya gelas-gelas KACA. Dikerasi akan pecah. Perlakukan ia sebagaimana mestinya.

Seseorang itu dilihat saat dia MARAH. Bagaimana perlakuannya pada orang lain, begitulah ia sesungguhnya. Jika ia marah, ia ringan tangan? Berarti ia sesungguhnya orang yang tidak tepat menemani hari-harimu sebagai pasangan. Kecuali jika engkau orang TERPILIH dan bisa BERSABAR dan BERHARAP bahwa darinya engkau MENDULANG pahala atas sikap-sikapnya. Pahala yang banyak.

Jangan mau menikah sama seseorang yang katanya Ikhwan, tapi sangat KASAR. Jangan mau ukhti! Kasar dan perilaku ringan tangan itu menular. Percayalah... ia penyakit yang menular.


Sinjai, 30 Oktober 2016

Kamis, 13 Oktober 2016

Saya Ini Apa!!

Bismillaah..

Malu.
Malu sekali rasanya. Sejak sudah menikah, hubunganku dengan keluargaku sendiri agak renggang. Rasanya saya dijauhkan sejauh-jauhnya.

Berbanding terbalik dengan sebelumnya. Dulu, saya orang yang paling suka silaturahmi ke rumah keluarga. Dulu, saya akrab sama keluarga. Sakit, menjenguk. Nikah, aqiqah, menyambut.

Setelah menikah, BEDA. Saudara sendiri melahirkan, saya gak menjenguk. Sekarang, anaknya sakit pun, gak menjenguk.

Malu sekali.
Malu sekali, ya Allaah...

Saya ini apa?
Saya ini saudara macam apa?
Sedih sekali
Sangat sedih.

Gak ada dukungan dari suami.
Sedih sekali.
Diantar kek, diapain kek. Hiks

Padahal, pengen skaaali juga dapat pahala menjenguk orang sakit. Yang setelah menjenguk, malaikat mendoakan agar kita diberi Rahmat. Apalagi ini malam jum'at.

Ya Allaah...

Saya tidak berdaya...

Samata, 13 Oktober 2016

Minggu, 09 Oktober 2016

Kasarmu!

Bismillaah..

Kekasaranmu, rasa-rasanya menghapus semua kebaikanmu.
Sekali kasar, itu yang melekat dalam ingatan.
Pukulanmu, cubitanmu, tendanganmu, lemparanmu, marahmu, belum lagi kata-kata mu yang keluar dari mulutmu. Cukup itu saja bagi saya untuk bisa melupakan kebaikanmu.

Ya... sejak kecil, saya tak pernah dikasari. Saya tak pernah dipukul. Saya bahkan tak pernah dicubit. Saya pun tak pernah dilempari. Tak pernah sama sekali. Entah mengapa, baru kali ini saya mendapat orang sepertimu. Yang kekasarannya, cara marahnya, sungguh jauh dari akhlak Rasulullaah..

Saya kasian pada anak-anakmu. Saya khawatir, mereka tertular. Semoga saja tidak. Semoga Allah melindungi anak-anakmu dari akhlak buruk. Semoga Allah mengaruniai anak-anakmu akhlak yang baik, yang senantiasa penyayang terhadap mahluk, yang marahnya tidak sampai bermain fisik. Semoga saja, semoga saja, aamiin..

Samata, 9 Oktober 2016

Senin, 19 September 2016

Selamat Jalan, Ummu Hikari

Bismillaah...

Sesedih itukah?
Iya, sangat sedih. Sejak pertama kali mendengar kabar bahwa beliau kritis, saya gemetaran. Saat itu masih stengah 5 subuh, menunggu azan, buka facebook, statusmu ramai. Padahal hanya status 'biasa'. Saya kaget saat membaca salah satu komen "innalillaah...."

Janin yang kau kandung selama 9 bulan, ternyata sudah meninggal duluan. Dan engkau kritis, koma setelahnya.

Innalillaahi wa inna ilaihi roji'un...

Sejak saat itu, saya tak bisa move on. Ingatanku selalu padamu, memantau kabarmu dari fb mu dan berharap ada perkembangan baik darimu.

2 hari sebelum hari ini, ada berita baik. Katanya, kamu mengalami peningkatan dengan respon gelitikan di kaki. Dan hari itu saya terharu. Berharap lagi ada keajaiban. Berharap dirimu kembali sadar dan berkumpul bersama keluarga.

Tapi tidak. Tadi pagi, bahkan suami yang mengabarkan saya. Saya tak percaya. Hingga kubuka fb ku, dan ucapan berduka berentetan di timeline fb ku.

Innalillaahi wa inna ilaihi roji'un...

Selamat jalan kak Ummi :'(

Ingatanku kembali ke awal kita saling tahu. Kita satu kabupaten, tapi dipertemukan di salah satu grup nasional, yang isinya dari berbagai kota di Indonesia. Saat itu, engkau yang jadi penanggung jawab area Sulawesi. Mau tidak mau, saya harus berkenalan denganmu, kakak.

Selanjutnya, kembali kita dipertemukan di grup kulakan. Kita memesan barang yang sama dan barangnya dialamatkan ke tempatku. Saat barang datang, saya menghubungimu dan engkau datang ke rumah. Saat itulah awal kali kita bertemu.

Ekspresi kagum kepadamu, kak, karena saat itu, engkau baru saja sepekan telah melahirkan anak keduamu. Dan engkau datang ke rumah mengendarai motor.

"Kuatta', kak..", hanya itu yang kuungkapkan padamu.

Dan kau hanya tersenyum dan pamit pulang ke rumah.

Kali kedua, kita kulakan makanan Pie khas Bali. Kali ini dialamatkan ke tempatmu. Dan saya sendiri yang menjemputnya di rumahmu (diantar suami) malam-malam. Dan malam itu, pun engkau sendiri yang menyerahkan padaku.

Dan beberapa kenangan lain yang tak bisa saya sebutkan semuanya.

Sungguh, perjuangan ibu ternyata begitu berat. Sangat berat. Antara hidup dan mati. Dan kau telah membuktikannya, kak Ummi.

Selamat jalan, kak..
Tuntas sudah amanahmu di dunia
Tinggal kami di sini, yang hanya tinggal menunggu giliran.
Semoga Allah berkenan mematikan saya dan kita semua dengan akhir yang baik.

Sinjai, 19 September 2016

Sabtu, 17 September 2016

Menolak Tawaran

Bismillaah..

Tadi siang, saya di telpon sama seorang ibu. Beliau menawarkan suatu barang dan ingin bertemu langsung untuk memperlihatkan produknya.

Singkat cerita...
Bertemulah kami. Beliau memperlihatkan saya produk yang dijual dengan harapan, saya membeli sekaligus menyetok / menjual di toko.

Saya, yang tentu saja tak ingin ceroboh, pamit untuk minta izin pada suami. Baru menyebut nama barangnya, suami bilang "Gak Usah nyetok yang itu, jualan itu harus FOKUS".

Tanpa pikir panjang, saya kembali ke ibu tadi. Kebetulan saat saya kembali ini, si ibu tadi nampak berbincang ringan dengan seorang pengunjung toko.

Saya menyela...
"Maaf bu, nda diizinkanka'. Bagus mungkin qt jual di penjual xxx (yang berhubungan dengan produknya)."
"O iya...", si ibu dengan tanggap mengambil produknya dari tanganku, sambil tetap bercakap dengan ibu pengunjung toko.

Saya masih berdiri di situ, karena seperti biasa, jika ada sales, saya akan beranjak jika ia telah keluar dari pintu toko.

Begitupun dengan ibu kali ini. Setelah saya menolak dan produknya diambilnya dari tanganku, raut muka nya berubah. Kecewa pasti. Dan, setelahnya, ia tak pernah lagi melihatku. Sampai ia keluar dari pintu. Pamitnya cuma sama ibu pengunjung.

Jangan pernah mau jadi penjual jika tak siap ditolak. Jadi pembeli saja. Karena pembeli tak pernah akan ditolak sama penjual.


Sinjai, 17 September 2016

Senin, 12 September 2016

Blokir

Bismillaah...

Saya, kalau jengkel sama seseorang, terutama di facebook, langsung blokir. Walau pada akhirnya, pada kenyataannya, di dunia nyata, gak sepenuhnya saya blokir.

Alasan saya blokir kamu?
1. Saya jengkel, pake banget, lebih tepatnya dikasi jengkel. Daripada pusing melihat kamu berkeliaran di timeline saya, mending saya blokir kan? Mengurangi dosa dan penyakit hati.
2. Kalau suka dilarang komen di statusnya, mending saya blokir juga kan? Buat apa berteman jika pada akhirnya saya dilarang komen di status yang lewat di timeline.
3. Saya pusing, kalau yang komen di statusmu itu yang berlainan jenis sama kamu. Apalagi kalau dia masih jomblo. Komennya juga tidak penting banget.
4. Saya pusing, setiap buat status di facebook, kamu seakan menyindir. Saya pusing. Mending saya blokir kamu sekalian kan?

Sekian

Sinjai, 12 September 2016

Rabu, 31 Agustus 2016

Kenangan 4 Tahun Yang Lalu

Bismillaah..

Terakhir USG 27 Agustus. Kata dokter, perkiraan lahiran bulan depan, sekitar tanggal 25an *masih lama*.

Tadi sore jam 5, pas gendong Faqih, serasa ada yang keluar dari jalan lahir. Cek per cek, ada bercak sedikit, disertai kontraksi. Kayaknya ini tanda-tanda menuju lahiran.

Segera kuhubungi pak suami yang lagi ada urusan di luar rumah.

Saya: "Kak, ada bercak darah yang keluar tadi, kayaknya mauma' melahirkan."
Suami: "Ha? Janganki dulu, belumpa' siap." *panik*
Saya: *tertawa* "Ih, memangnya qt kah yang mau lahiran?"
Suami: "Iye, tapi janganki' dulu, belumpa siap"
.
.
.
.
4 tahun yang lalu, menuju persalinan anak ke 2 "Mutiara Hannan"




Sinjai, 31 Agustus 2016