Tampilkan postingan dengan label Bunayyati. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bunayyati. Tampilkan semua postingan

Senin, 07 Oktober 2024

Rindu Anak Sulung

Bismillaah...

Faqih, begitulah ia dipanggil. Nama pilihanku yang Alhamdulillaah disetujui oleh abinya ~rahimahullah~. Harapanku, ia kelak menjadi faqih dalam segala bidang, yang dengannya ia menjadi orang yang bermanfaat hingga mengantarkan kami kembali berkumpul di syurgaNya.

Ia, anak sulungku. Usia kami selisih 22 tahun. Karenanya, terkadang kami seperti teman; teman berdebat, teman berkelahi 🤣, teman jalan, teman bercerita dan seterusnya. Saking akrabnya kami, pernah ada yang bilang, "Qt sama Faqih kayak bukan ibu dan anak, tapi kayak teman." 
Begitulah kami...

Hari ini, hari ke 4 menuju 5 ia berada di tempat yang tak boleh saya kunjungi. Disana ia berjuang untuk me-mutqin-kan hafalan Qur'anNya. Tidak ada alasan untuk saya menahan ataupun tidak meridhoinya, pun tak ada alasan saya harus bersedih, karena disana ia berjuang dalam kebaikan. Semoga Allah selalu menjaga waktu-waktunya dan membimbing ia menghabiskan harinya dengan kebaikan dan kebermanfaatan.

Sekarang, saya menulis tentangnya, Abdullah Faqih, hanya karena saya rindu. Yang biasanya kami selalu berdebat tentang apa saja, yang sebelum pergi ia sempat curhat tentang kondisi dan ujian hidupnya, yang biasanya menjemurkan pakaian yang sudah saya cuci, yang biasanya mengangkat dan mengganti galon yang kosong, yang selalu menawarkan diri membelikan jika saya ingin membeli sesuatu, yang paling pusing jika keinginannya tertunda atau tidak disetujui, yang paling ribut jika mobil dalam keadaan kotor, yang paling sering ditegur karena keisengannya sama adik2nya, yang... ah, terlalu banyak tentangnya jika saya menulisnya disini.

Semoga Allah memudahkan mu disana, menghafal, mentadabburi dan mutqin bersama dengan AlQuran, panduan hidup kita. Apa2 saja yang berkaitan dengan AlQur'an, maka ia akan baik dan menjadi utama.

Semoga Allah juga memberi kesabaran lebih padanya, dalam menjejaki kebaikan. Karena setiap jalan kebaikan, tidak akan mungkin terlepas dari godaan syetan, yang ingin kita keluar dan menjauh dari kebaikan tersebut.

Saya rindu!
Dan saya titipkan dirimu pada Allah, sebaik-baik penjaga. Apa saja yang kita titipkan pada Allah, maka tidak akan hilang maupun rusak.

زَوَّدَكَ اللَّهُ التَّقْوَى وَغَفَرَ ذَنْبَكَ  وَيَسَّرَ لَكَ الْخَيْرَ حَيْثُمَا كُنْتَ
“Zawwadakallahut taqwa wa ghofaro dzanbaka wa yassaro lakal khoiro haytsuma kunta
(Semoga Allah membekalimu dengan takwa, mengampuni dosa-dosamu, dan memudahkanmu di mana saja engkau berada).”


Makassar, 7 Oktober 2024
*merindu faqih yang lagi ikut Dauroh Hamasiyah di Pattallassang 3 Oktober - 5 November 2024 ❤️

Senin, 08 Januari 2024

Catatan KOTS Januari 2024

Bismillaah..

- pentingnya memperbarui niat di awal2 aktivitas.
- berinteraksi dgn istri butuh ilmu, bgmn kalau marah, cemburu, semua butuh ilmu.
- bgmn mungkin qt menyuruh anak2 rajin menuntut ilmu sementara qt? kalau anak2 tiap hari, kita hanya sebulan sekali
- menerima rapor adalah evaluasi besar buat orang tua, karena bisa jadi kesalahan yg terjadi pada anak adalah kesalahan dr ortu.
- jika ingin mengevaluasi anak, jangan capaian akademik tp akhlaknya

- coba sesekali tanya ke istri, "apakah sy sudah menjadi suami yang baik?" agar bisa dievaluasi, apa yang harus dilakukan untuk memperbaiki. Dan sebaliknya, istri juga bertanya ke suami, apa yang harus diperbaiki.
- rasulullah kesholehannya berkesinambungan, maka pastikan anak cucu dan keturunan kita itu semuanya mentauhidkan Allah.
- semua anak2 harus kita usahakan dan mendidik agar menjadi baik, jgn sampai qt bilang, biarmi 1 baik, 1 nakal
- semakin banyak anak, semakin banyak jg yg mendoakan kita saat kita meninggal

- seperti ini rasulullaah berinteraksi dgn istrinya:
* menanyakan kabar istri di pagi / sore. jgn sampai qt tau kalau dia sakit saat badannya panas.
* beliau Rasulullaah membuat panggilan kesayangan kepada istrinya selain nama yang diberikan ortu nya. seperti yaa Humairoh atau ya Aisy. Jangan malu karena usia, walau sdh kakek nenek karena romantisnya semoga sampai ke syurga. visi kita jauh, sampai ke akhirat, bukan hanya sampai di dunia.
* rasulullah terbiasa membantu pekerjaan istrinya seperti cuci piring, membersihkan rumah, dll. Rasulullah biasa menjahit bajunya sendiri. jangan sampai tiba di rumah, langsung baring main hp, tapi kalau ada sesuatu yang ringan yg bisa qt kerja, maka kerjakan.
* membantu istri beliau (shofiyah) untuk menaiki hewan tunggangannya. ini bs qt terapkan minimal bukakan pintu mobil.
* istri beliau bersedih, rasulullaah sendiri yg mengusap air mata istrinya dgn tangannya sendiri
* beliau memperhatikan kebersihan dirinya dan aroma tubuhnya. hal apa yg pertama kali rasulullah lakukan sblm masuk rumah / kamar? aisyah menjawab: beliau bersiwak. jangan sampai di kantor harum, sampai ke rumah bau keringat.
* seni berinteraksi rasulullah --- karya syaikh al munajjid, bagus buat qt belajar bgmn berinteraksi kpd semuanya.
* bukan hanya keromantisan dlm rt rasulullaah, tetapi beliau jg mendidik para istrinya untuk menjadi teladan buat para wanita.
* suami harus lebih dan banyak ilmu untuk sesekali kita ajar dan mendidik ke istri kita. ketika ada kesalahan, kita kasi tau baik-baik.
* rt beliau jg tdk luput dr permasalahan, agar kita jg bisa mencontoh beliau ketika kita memiliki permasalahan, bgmn rasulullaah menghadapi masalah itu
* jika istri minta cerai, maka acuhkan saja, diamkan, karena akan berhenti sendiri
* masalah rasulullaah: haditsul ifki (annur), hadits yg turun untuk mensucikan ibunda aisyah.
* shofwan bin muattol yg menemukan aisyah: kalimat istirja'
* abdullah bin ubay yg paling kencang menyebar fitnah dan rasulullah terpengaruh tp beliau tdk langsung menjudge, beliau bertanya dulu ke ali bin abi thalib, usamah bin zaid, zainab binti jahsy dan mariyah, mengumpulkan informasi.
* kalau qt melihat istri / suami qt asalnya banyak melakukan kebaikan, maka jangan langsung menjudge hanya karena 1 kesalahan.
* beliau tdk tergesa2 menyimpulkan tetapi beliau mengubah sikap beliau agar istrinya sadar, dan mengumpulkan infomasi dr org lain lalu bertanya dengan jelas langsung kepada istrinya.
masalah berikutnya: istri2 beliau meminta tambahan nafkah. bertengkar tdk menyelesaikan masalah, berdebat tdk menjadi solusi, memberikan pilihan kepada istri.


7 Januari 2024
Mesjid Babul Muttaqin Dg. tata
Oleh Ust Abbas hafidzahullaah

Minggu, 31 Desember 2023

Baju Renang Anak

Bismillaah..

Sekedar mau meninggalkan jejak saja di 2023, biar ada kenangan tulisan 2023 di blog ini. Walau kenyataannya, pergantian tahun 2023 ke 2024 sama saja dengan pergantian bulan.

Dikasi judul "Baju Renang", karena aktivitas terakhir sebelum menulis disini adalah menyesuaikan stok baju renang real dan catatan stok di telegram jualan.

Trus, sempat diskusi juga sama suami tentang baju renang ini. Katanya, saya tuh jual baju renang sementara anak-anak tidak punya baju renang, haha. Bukan tidak mau mengambil stok jualan buat anak-anak, cuma kami bukan termasuk keluarga yang sering atau bahkan meng-agendakan untuk berenang tiap bulan. Lagipula, kalau kami pergi berenang, paling di laut atau di tempat yang tidak mesti memakai baju khusus renang. Jadilah sampai saat ini saya tidak memberi anak-anak baju renang. Sayang saja kalau mereka punya namun hanya sekali pakai. #alasan 🤣

Apapun itu, intinya adalah kami Mutiara Hijab Kids jualan baju renang anak ya. Tersedia mulai usia 3 sampai 11 tahun. Untuk katalog, bisa cek kesini 👇

https://t.me/bajubayianakmakassar/5210?single

https://t.me/bajubayianakmakassar/5329?single

https://t.me/bajubayianakmakassar/5187?single

Baju renang buat anak perempuannya tersedia yang pake jilbab / hijab maupun non hijab. Lengan pendek maupun lengan panjang ada ya 😀

Sekian dulu tulisan hari ini.

O iya, kalau mau tanya-tanya tentang baju renang, bisa ke wa:

wa.me/628114441073
wa.me/6281242074074


Ilma, 31 Desember 2023
yang rencana awalnya mau tidur jam 8, tapi karena ada orderan baju renang, gak jadi tidur sampai 23.21 ini 😅

Senin, 05 September 2022

"Jangan jadi ...."

Bismillaah...

Suatu waktu, kami berkumpul membacakan siroh salah satu sahabat Nabi, Abbad bin Bisyr. Buku yang kami pakai berjudul "101 Sahabat Nabi", buku yang pertama kali kuambil di rak buku Aba yang setelah saya buka dan baca sekilas, Alhamdulillaah, bahasanya agak ringan dan In syaa Allah mudah dipahami anak-anak.

Yang bertugas membacakan malam itu adalah Faqih. Saat dibacakan, Ziyad dan Hannan kayak gak serius. Akhirnya, setelah kisah nya selesai dibaca, saya buat kuis dadakan dengan 5 soal, dengan harapan besoknya mereka lebih serius lagi mendengarkan.

Salah satu soal dari kuisnya adalah, "Apa hikmah dari kisah Abbad bin Bisyr yang tadi Faqih bacakan".

Faqih dan Ziyad angkat tangan. Saya persilakan dulu ke Faqih untuk menjawab.

Hikmahnya adalah...

"Kita harus khusyu' kalau sholat. Seperti Abbad bin Bisyr ketika sholat, ada yang memanah tubuhnya sampai 3x, tubuhnya terkena tusukan namun Abbad tetap melanjutkan sholatnya," kata Faqih.


"Kalau Ziyad? Apa hikmah atau pelajaran yang kita dapat?", tanyaku.


Dengan mantap dan bermuka polos, ia menjawab,

"Jangan jadi pemanah!"


Astaghfirullaah, gak nyangka 😂

Ending yang menghibur dan semuanya tertawa kecuali dia 😂😂😂


***

MasyaAllah ya.. di saat lagi lelah-lelahnya karena aktivitas rutin seharian, ditambah dari tadi menegur anak2 yang gak bisa diam dengar kisah, trus waktunya juga sudah jam istirahat malam, Allah hapuskan lelah dengan celotehan polos dari anak-anak.

Semoga mereka tetap menjadi qurrata a'yun sampai kapan pun, jadi anak sholeh, berakhlak yang baik, dan semoga kebersamaan kami di dunia berlanjut kelak hingga ke syurgaNya, aamiin.


5 September 2022

@ilma

Kamis, 11 Maret 2021

Tantrumnya Hanin

Bismillah...

Tantrum itu apa? Kalau menurut saya, tantrum itu.. ungkapan perasaan anak yang "berlebihan", biasanya dengan menangis (tidak seperti biasanya), berguling-guling di lantai / tanah ataukah melempar barang yang ada di sekitarnya. Tantrum biasanya di usia 3 sampai 4 tahun ke atas. Namun, setelah baca-baca dan mendengar penjelasan dari pemateri parenting, katanya tantrum bisa dimulai dari usia 1 tahun. 

Tantrumnya Hanin, cepat sekali menurutku, kalau dibandingkan dengan saudaranya yang lain yaa. Ataukah saya masih belum sadar kalau anak bungsu ku ini sudah bukan bayi lagi?!

Sangat menguji kesabaran saat tantrumnya datang. Kadang, hal sepele (menurut ku), misal dia mau sesuatu yang sudah habis atau tidak ada stoknya. Kadang juga tidak jelas masalahnya, misal bangun tidur yang dilanjut nangisnya lama. Dugaan sementara, tantrumnya karena dia kesepian. Kakak-kakaknya di rumah yang satu, dia di rumah yang lain. Tapi susah juga, karena gak mau pisah sama umminya. Di ajak main sama kakaknya, gak mau. Mau sih kalau umminya ikut juga.

Ya, sejak habis sakit beberapa pekan yang lalu, sampai sekarang (sudah sembuh, alhamdulillaah), Hanin melengket sekali sama saya. Ditinggal mandi atau sholat (tanpa izin sama dia), nangis nya kayak sudah ditinggal berhari-hari. Walau begitu, di satu sisi saya bersyukur dan menikmati masa-masa ini, usia anak 0-5 tahun yang seharusnya mereka belajar dan dekat dengan umminya.

Hari ini, kembali membawa Hanin ke rumah orang tua untuk main bersama kakaknya, disebabkan karena pagi tadi tantrum lagi. Saya tau dia kesepian. Saat tiba di rumah orang tua, dia ceria, tapi tetap saja menjaga saya biar gak kemana-mana. Walau pada akhirnya saya bisa pergi sembunyi-sembunyi.

Sore tadi, ada 'undangan' zoom yang Aba kirim ke grup keluarga, temu via zoom dengan ponakan di Arab. Saat saya masuk, saya aktifkan video dan menyapa Musa, ponakan Arab yang belum pernah bertemu langsung. Saya lupa kalau ada Hanin yang sudah aktif duluan.

Ziyad: "Ummi, na pukulki Hanin kamera ta' (video ku di zoom)"

Saya lalu menyapa Hanin, eh tambah nangis. Akhirnya saya diam dan menonaktifkan video. Di rumah sana, saya melihat Aba sibuk mendiamkan Hanin. Dan juga terdengar suara-suara lain yang membujuk Hanin berhenti nangis.

Sampai Hanin terdiam dan saya menganggap suasana aman, saya lalu  kembali membuka video tapi tetap menonaktifkan suara. Tiba-tiba, Hannan nyeletuk,

"Raidah Muharrikah dilarang bicara."

"Hanin... bukan ummi ini, tapi Raidah Muharrikah."

"Raidah Muharrikah, janganki bersuara nah, matikan suara nya'"

Hahaha..

Baru kali ini saya ikut zoom, mau bicara tapi dilarang.

Akhirnya, cuma bisa memandangi wajah anak-anak dan ponakan di layar hape tanpa sapaan. Karena jika saya nampak di layar zoom dan mengaktifkan audio, suasana pertemuan 'rusak' dan hanya didominasi oleh tangisan Hanin.

Semoga cepat berlalu "tantrumnya Hanin".


Temu Bocah


Ilma, 1 Maret 2021

Sabtu, 09 Januari 2021

Homeschooling

Bismillaah...

Niat lama kembali muncul setelah membaca kisah tentang anak-anak homeschooling yang diceritakan oleh saksi "kesuksesan" mereka. Bukan hanya datang dari 1-2 keluarga, tapi seringkali saya mendengar, anak-anak yang homeschooling itu lebih sukses dan bermanfaat serta ber-akhlaqul karimah. Menjadikan anak-anak kita anak yang shaleh, berakhlak yang baik serta bermanfaat buat agama dan sesama serta sukses dalam hal duniawi tentu adalah tujuan semua orang tua untuk anak-anaknya.

Dulu, sewaktu anak baru 3 dan usia sekolah sudah menghampiri mereka, muncullah kekhawatiran demi kekhawatiran di diri saya sebagai ummi dari mereka. Kekhawatiran itu hanya tentang akhlak dan keadaan anak-anak dengan arus zaman yang makin hari makin aneh, tidak seperti dulu. Maka wajar, jika di zaman sekarang, bermunculan lah para pelaku HS (Homeschooling).

Begitupun dengan saya. Sempat waktu itu, saya mengutarakan maksud/niat saya kepada suami untuk meng-HS-kan anak-anak. Diizinkan. Namun, seiring berjalannya waktu, pada akhirnya kami tetap memasukkan anak-anak ke sekolah formal.

Itu dulu. Ketika niat muncul tenggelam dan akhirnya karam. Namun sekarang, niat itu kembali menyeruak. Rasa-rasanya, ingin meng HS kan saja semua anak-anak. Bukan tanpa sebab. Hampir setahun terlibat langsung menjadi "guru" buat mereka, saya semakin merasa bahwa pelajaran hari demi hari, rasanya hanya berputar di itu-itu saja. Bertele-tele dan terlalu lama. Ada banyak hal yang mestinya harus dipelajari namun tidak diajarkan secara formal di sekolah. Pelajaran dan tugas-tugas yang diberikan, rasanya hanya menjadi beban dan sesuatu yang menghantui buat anak, terlebih orang tuanya.

Walau niat itu ada, namun jika tidak ada dukungan dari lingkungan sekitar, mungkin niat ini tidak akan pernah terwujud. Namun, saya sangat berharap, jika misalnya HomeSchooling ini tidak bisa saya terapkan di ketiga anak saya, minimal di Hanin, si bungsu lah yang akan mendapatkannya.

Semoga kelak Allah izinkan, Allah mudahkan dan Allah panjangkan umur saya agar bisa mendidik anak-anak menjadi manusia bertaqwa, berakhlak dan bermanfaat.

Rabu, 23 September 2020

Toilet Training nya Hanin

Bismillaah...


"Mi, kenc*ng ka'. Mi, b*la ka",
pernyataan dari Hanin yang jika terdengar oleh saya, apapun kegiatan saat itu, walau lagi tidur sangat nyenyak, langsung terhenti dan terbangun lalu bergegas membawa nya ke wc. Alhamdulillaah, di usianya kini yang hampir 27 bulan (2 tahun 3 bulan), sudah bisa buang hajat di tempat yang seharusnya.

Salah satu masa yang harus dilalui oleh seorang anak dan ibunya adalah masa toilet training. Selainnya ada masa penyapihan juga. Dan kedua masa ini adalah masa yang membutuhkan kesiapan antara anak dan ibu (yang paling utama) dan juga anggota keluarga lain.

Flashback ke awal-awal Hanin toilet training, sempat maju mundur untuk memulai. Sebelum usianya pas 2 tahun, sempat memulai, yang pada akhirnya saya kembali lagi ke popok. Waktu itu karena saya nya lebih sering keluar rumah, jadi mau tidak mau Hanin mesti pake popok.

Hingga kembali saya memikirkan, kira-kira kapan lagi saya bisa memulai. Akhirnya memutuskan, memulainya di saat saya lagi "cuti" sholat saja biar gak terlalu kepikiran sama najis, bersih-bersih dan kalau tiba-tiba mau pipis atau pup bisa langsung saja dibawa ke wc.

Bismillaah...
Dimulai akhir Juni. Di hari pertama, pas Hanin bangun langsung di sounding,
"Hanin, hari ini Hanin belajar lepas popok nah. Jadi kalau mau pipis atau pup, bilang sama ummi.
Ayo berdoa dulu sama Allah supaya Allah kasi Hanin dan Ummi kemudahan".

Entah mengerti atau tidak, saya tetap menuntun Hanin untuk berdoa.
"Laa Hawla wa Laa Quwwata Illaa Billaah. Ya Allah, bantu Hanin dan Ummi untuk bisa melalui proses ini dengan mudah."

Dan, maasyaallaah, ketika kita memang melibatkan Allah, maka segalanya terasa mudah. Tanpa pertolongan Allah, kita gak bisa apa-apa. Terbukti di Hanin, Alhamdulillaah tidak ada kendala yang berarti, semuanya bisa dilewati dengan mudah, atas izin Allah.

2 bulan lebih, Alhamdulillaah sudah gak pernah pake popok lagi. Walau keluar rumah, juga sudah gak pake lagi. Pun kalau tidur malam. *Padahal popoknya masih banyak karena sebelumnya terlanjur beli banyak, lupa kalau usianya sudah hampir 2 tahun*

Walau begitu, selama 2 bulan ini, gak selamanya juga Hanin kalau mau buang hajat itu di WC. Kadang kebelet yang akhirnya pipis di celana, kadang juga kalau lagi gak diperhatikan (jadwalnya) atau dia lagi sibuk main. Tapi alhamdulillaah sejauh ini, ia lebih sering bilang jika ada keinginan.
*Kadang-kadang juga walaupun gak mau, tetap bilang mau pipis, ataukah ia baru saja dari wc, trus bilang mau pipis lagi. Kalau kayak gini, kentara kalau mau main air 😂.*

Alhamdulillaah, terlewati lagi 1 momen penting dalam perkembangan Hanin. Waktu berlalu terasa cepat. Ada rasa haru ketika mengingat Allah masih mengizinkan saya untuk menyaksikan dan turut serta di momen ini. Sangat betul, "Masa anak-anak itu SEBENTAR saja". Maka nikmati setiap prosesnya, nikmati setiap riuhnya, nikmati repot dan capeknya, nikmati tangis-tawa-celotehnya. Karena kelak, masa-masa ini hanya akan menjadi kenangan dan menyisakan rindu.


Samata,
5 September 2020 / 18 Muharram 1442

Sabtu, 22 Agustus 2020

School From Home (SFH)

 Bismillaah...

Kalau lagi hari sekolah, waktu ku terbagi 4, sesuai jumlah anak 😷.

Pagi, siang, sore, malam. Anak-anak bergantian diajar, tergantung siapa yang duluan siap atau materi siapa yang lebih duluan ada di grup masing-masing.

1 anak biasanya 2-3 pelajaran. 1 pelajaran butuh waktu paling cepat setengah jam. Setengah jam itu full diajar atau kerja tugas, gak ada adegan bujuk membujuk, ngambek, marah, istirahat, guling-guling, tantrum, bertengkar sama (saudaranya) yang mengganggu, izin urus Hanin yang lagi di WC, atau izin mau minum sebentar padahal lamaaaa dan setelahnya ntah hilangnya kemanaaaaa gitu.

Kalau berjalan mulus di ketiga anak, paling cepat biasanya selesai di jam 3 menjelang sore. Kalau tidak, siap2 berdagang 😂 eh begadang.

Trus malamnya, akan berefek di suara yang serak, tenggorokan sakit, lelah (pake banget) yang ujung-ujungnya kepala juga ikutan sakit. Mau ngeluh? Iyaaa... dan itu normal kan?!

Tapi, ingat, ini ladang pahala yang Allah bentangkan, tinggal kita yang harus berjuang melewatinya.

Susah? Iya. Tapi, kita mau salahkan siapa? Mau salahkan gurunya/sekolahnya? Memangnya yang punya anak siapa?

Mau salahkan keadaan? Tidak mungkin juga karena semuanya adalah takdir Allah yang harus kita jalani, suka ataupun tidak. Menyalahkan keadaan sama dengan menyalahkan Allah.

Lalu bagaimana?

Jalani dengan sabar dan ikhlas, niatkan sebagai pahala buat kita dalam mendidik anak. Berat? Sudah tentu. Apalagi yang "sendirian". Kalau ada pasangan, mungkin semua rasa bisa kita bagi biar gak berat sendiri, gak stress sendiri. Tapi kalau sendiri? Jangan lupa ada Allah, sebaik-baik tempat curhat dan penolong dalam setiap urusan.

Juga selalu ingat tanggung jawab kita sebagai orang tua. Kelak kita akan ditanyai tentang anak kita, tentang apa yang kita tanamkan pada diri mereka.

Ingat saja SYURGA, maka hatimu akan selalu lapang menerima setiap kepayahan dalam hidup. Karena,

لِّیُدۡخِلَ ٱلۡمُؤۡمِنِینَ وَٱلۡمُؤۡمِنَـٰتِ جَنَّـٰتࣲ... 

Allah masukkan "Syurga" ke dalam hati orang beriman (laki-laki dan perempuan),

yang dengannya hati orang beriman akan menjadi tenang.

Lalu kebaikan apalagi yang kita cari setelah Allah menjanjikan syurga?


Samata, 20 Agustus 2020

Jumat, 07 Agustus 2020

Tak Ingin Berlalu

Bismillaah...

Belum kelihatan kapan pandemi ini berakhir. Kapan Allah akan cabut ujian ini dari kita semua. Tapi satu yang perlu diingat, anak anak di rumahmu, tidak akan selamanya. Pandemi atau tidak, berangsur-angsur kita akan menyesuaikan. Perlahan tapi pasti, pondok-pondok pesantren mulai dibuka. Sekolah dgn protapnya sdh mulai masuk. Mau tidak mau. Semua dengan caranya masing-masing.               

Tidak sadar kita, bahwa 4 bulan terakhir ini, kita telah ‘dihadiahi’ Allah anak-anak kita kembali. Semua kumpul di rumah. Lengkap dengan riuh rendahnya, berantem dan belajarnya. Iseng dan bercandanya. Makan yang tiada hentinya. Kelihatannya ruame puol nggak habis habis. 

Stock makanan harus ditambah terus, belum cemilan. Rumah rapi hanya semenit dua, tenang jika semua sudah terlelap saja. Rasanya lelah. Kita ingin semua segera berakhir, kembali normal seperti sediakala.

Benarkah?

Mau kembali lagi seperti sediakala?

Tidak akan kehilangan semua keriuh rendahan ini? Persis seperti ketika mereka masih kecil dulu.

Sebagaimana pandemi ini menyergap kita tanpa peringatan dan tiba-tiba. Semua keseruan ini juga perlahan akan tiada. Rumah kembali sepi dan bersih. Seterusnya.. hingga kita tua.

Well, mungkin pada kumpul setahun dua kali saja.

Benarkah? 

Kita mau menggantikan kehangatan ini dengan segera?

Seperti lagu kemesraan yang pernah kondang, untuk saya “kemesraan ini.. janganlah cepat berlalu. Kemesraan ini, ingin kukenang selalu.”

Saya tahu ini nggak akan lama, cepat atau lambat, mereka akan kembali mengepakkan sayapnya, meninggalkan sarangnya.

Saya ingin menggunakan hadiah dari Allah ini untuk menikmati mereka, tertawa atas lelucon-lelucon dan perbuatan lucunya. Menikmati memeluk mereka kapan saja, sambil berbisik ke telinganya “Mama sayang kamu selamanya ya.. kamu akan jadi anak hebat ya nak. Allah akan sayang senantiasa. Doa mama selalu. Jaga mama kalau sudah tua ya, I 💗 you nak.” 😢

Sungguh Allah, terima kasih akan hadiah ini. I will enjoy it while it last. Yes, this wont last forever. Enjoy your children peeps. 💗 ya’.

-Wina Risman

***

Sangat sepemikiran dengan tulisan ini. Walaupun lelah, walau tak punya waktu senggang, walau terkadang tak tidur malam karena melewati batas tidur hingga mata tak bisa terpejam, walau keriuhannya terkadang bikin sakit kepala, walau beberapa urusan lain ada yang terbengkalai, saya sangat menikmati masa pandemi ini. Inginnya masa ini tak akan berlalu, terus seperti ini, anak-anak belajar di rumah.

Di saat ibu lain ingin sekolah segera dibuka, saya tidak. Karena mungkin inilah cara Allah memberi waktu buat saya untuk mengajar anak-anak melalui tangan saya sendiri. Sangat berat apalagi hanya sendiri menghadapi 3 anak yang berbeda tingkatan. Belum lagi 1 balita yang juga suka cari perhatian jika kakak-kakaknya diajar, entah mau minta diajar juga, atau minta makan dan disuap, ataukah masuk ke WC berulang kali jika luput dari pengawasan.

Tapi, bukankah pahala sesuai dengan beratnya tantangan?

Maka, nikmatilah, karena waktu seperti ini hanya SEBENTAR SAJA.


Samata, 17 Dzulhijjah 1441 H / 7 Agustus 2020 M

Sabtu, 11 Juli 2020

Quality Time

Bismillaah...

Sebelum tidur itu sebenarnya waktu yang paling baik untuk memasukkan sesuatu ke pikiran anak-anak (dibawah 10 tahun). Bisa dibilang, quality time nya ya pada saat-saat sebelum tidur, 30-60 menit waktunya, tidak lebih. Dan usahakan, jauhkan HP/laptop/komputer dan segala sesuatu yang bisa menjadi "orang ketiga".

Kalau kita, orang tua betul-betul memanfaatkan waktu ini, maasyaallah sekali efeknya. Ada rasa bahagia buat kita (orang tua) saat anak2 bisa tertidur dengan pendampingan kita, begitupun (mungkin) dengan anak-anak. Itulah sebabnya, orang tua yang kerja mulai dari pagi hingga malam, hendaknya jangan sampai melewatkan waktu ini.

Akan kita temukan segala macam pertanyaan mereka yang begitu polos, rasa ingin tahu yang begitu besar, tanya ini tanya itu, disuruh mengulang hafalan pun mereka mau -InsyaAllah-.

Seperti hari ini, 60 menit menjelang tidur, ada banyak istilah dan kalimat-kalimat menghibur dari anak-anak yang saya dapatkan.
Ketika Hannan lagi mewarnai gambar tangan, saya mengatakan, "Cobaki gambar tangannya Hanin". Lalu Faqih bilang, "Cobaka juga gambar tangannya abi, siapa tau tangan bisa berubah jadi keNangan". Entah nyambung dimana. Lalu Ziyad dengan polosnya merajuk, "Ummi, mauka' juga jadi kenangan", dan dijawab sama Faqih, "Kalau mauki jadi kenangan toh, mati meki dulu."

😂😂😂

Kemudian, tidak lama setelah itu saya menegur Hannan, "Janganki suka pake **p**i* nah, karena nanti rusak *i***ta', itu keringmi. Liatki ini ummi, nda pernah pake **p**i* jadi bagus".
Hannan: "Ih, pernahki pake deh, waktu ta' menikah, ada foto ta', *a**** pake begitu."
"Mauki juga *a**** begitu? Menikahmeki'.. mauki kah dikasi menikah? Sama siapa?", lanjutku.
Hannan berpikir...
Saya melanjutkan, "Kalau mauki menikah sama orang yang baek, jadi baekki juga. Kalau suka ki marah-marah, nanti sama yang suka ki juga marah-marah".

Faqih dan Ziyad langsung ikut di pembicaraan. Dan berentetan lah pertanyaan seputar pernikahan, terutama seputar ummi dan abinya.
"Ummi, dimanaki' menikah?", tanya Faqih.
"Ummi, adami Faqih waktu menikahki?", tanya Ziyad, yang bikin saya tertawa 😂

Dan semua pertanyaan panjang kali lebar dan ke kepoan tingkat tinggi diakhiri dengan seruan dan perintah, "Faqih, matikan lampu. Ayo tidur smua, nanti terlambat sholat shubuh", kataku.

Setelah lampu padam, satu persatu mereka tertidur, kecuali Faqih dan saya tentunya. Saya bangun dan menuju ke rumah sebelah karena haus. Eh, ada Faqih yang ikut di belakangku.
Trus balik lagi ke kamar, Faqih nyalakan lampu yang tadinya sudah dipadamkan.
"Ummi, nda bisaka tidur kalau mati lampu, menderita mataku."

Astaghfirullaah, awalnya saya ngantuk berat akhirnya gak bisa tertidur gara2 memikirkan "mata menderita itu kayak gimana". 😂


#latepost

Samata, 3 Juli 2020

Senin, 29 Juni 2020

Ummi, Abi (Di)Mana?

Bismillaah

Beberapa hari dalam pekan ini, seringkali Hanin menyebut-nyebut dan memanggil abi nya. "Ummi, mana abiku?; Mauka telpon abiku; Abi.... Abi....". Kalau liat buku yang gambarnya lelaki dewasa, maka ia mengatakan "Ini abi".

"Ummi, mana abiku?"
Pertama kali ia tanyakan saat lagi makan siang. Saat itu lagi berdua saja di ruang makan. Orang-orang di rumah lagi istirahat di kamarnya, sehingga pertanyaan itu menambah keharuan (di hati umminya).

"Ya Allah, akhirnya ia menanyakan juga 😭", walau saya tahu kalau pertanyaannya hanya sekedar di lisan tanpa memaksa saya untuk menjawabnya. Terbukti ketika saya jawab, ia cuek saja sambil terus bergerak kesana kemari.

Untung saja juga tak didengar oleh Ziyad (7y), si kakak yang terkadang bisa berubah menjadi "dewasa" seakan-akan ia adalah abinya (karena seringkali Ziyad berkata "nak" pada Hanin di setiap sapaan atau akhir kalimatnya). Pun jika didengar, mungkin ia akan menjawab dan membahas panjang lebar tentang keberadaan abinya yang sebenarnya, walau Hanin belum mengerti akan hal itu.

Kali kedua adalah saat ingin sholat maghrib, tangan Hanin yang lagi pegang hp (rusak) ditarik sama Aba (kakek) untuk ikut sholat. Hanin kira hape nya yang mau diambil jadi ia teriak "mauka telpon abiku". Namun ternyata, ia cuma digeser untuk berdiri di samping Aba.

😭😭😭

Hanin...
Abi memang sudah tidak bersama kita lagi di dunia ini, namun harapan dan cita-cita darinya untuk Hanin masih senantiasa melekat kuat di ingatan ummi.
Tak apa di dunia kita tak (lama) bersama dengannya, Nak, yang terpenting adalah di akhirat, kita minta sama Allah balasan atas nikmat kebersamaan yang Allah tunda di dunia ini
Semoga Allah berkenan mengumpulkan kita semua kembali di JannahNya, reuni keluarga besar-besaran
Bukankah itu impian tertinggi kita?

Maka persiapkan amalan-amalan terbaikmu, nak
Jadilah anak sholehah
Istiqomahlah hingga ajal menjemput
Atas kepahitan hidup yang mungkin akan kau temui kelak, sholat dan bersabarlah
Selalu lah ingat Allah dalam pikiran dan hatimu,
karena Ia tak pernah pergi dan selalu bersama orang-orang yang mengingatNya


Samata,
6 Dzulqadah 1441 H
27 Juni 2020 M

Hanin 2 Tahun

Bismillaah...

Kok sedih ya kalau bayi yang selama ini gak bisa tidur kalau gak dikasi tidur sama umminya, trus hari ini didapati bayi itu tertidur sendiri di lantai habis main 😭
Rasanya itu gak bisa diungkapkan. Sedih, bangettt.

Cepat sekali waktu berlalu. Dulu ia masih bayi yang gak tau apa-apa selain nangis, tidur dan buang air. Sekarang masih bayi juga tapi maasyaallah, pintar sekali.

Ia, bungsu-ku yang dulu sakit-sakitan. Ia, dulu hanya ingin "ummi saja" dan akan menangis bila bertemu orang lain, walau om, tante dan kakek nya sendiri. Ia, dulu yang sering menutup mulut ketika disodorkan makanan. Hari ini -biidznillaah-, berbalik 180 derajat.

Sangat ramah dan tidak menangis lagi bila bertemu orang. Sangat cerewet dan selalu meniru perkataan orang. Kalau marah atau diganggu, lucu sekali, karena akan ngomel-ngomel dan matanya sinis, yang bikin kakak-kakaknya tambah suka mengganggunya.

Kosa katanya alhamdulillaah sudah banyak dan fasih diucapkan. Suka sekali sama 'amma yatasaa alun (surah annaba) apalagi ayat ke dua nya, karena ia mengira di awal ayat kedua itu adalah namanya 😂.

Pekan-pekan ini adalah proses penyapihan yang begitu berat, kadang pertahanan runtuh jika mendengar tangisannya. Namun hari ini, hari ke 3 tanpa ASI, alhamdulillaah sudah bisa tidur sendiri tanpa rewel. Cara menyapihnya? Hanya memberi tahu dan selalu setiap waktu jikalau ia sudah sampai batas, dan yang paling penting harus tega 😭. Tega dan tahan mendengar nya merengek, menangis dan mengamuk hingga tertidur.

2 tahun berlalu, alhamdulillaah bisa full ASI. Sangat bersyukur karena di pertengahan usia nya, saat berusia setahun, sang ummi dan Hanin sering di"bully" gak bisa dan gak cukup ASI serta diminta untuk memberi sufor saja (karena Hanin kecil dan kurus😭). Alhamdulillaah -biidznillaah- Allah kuatkan kita, nak. Ummi yang ber"pura-pura" mengatakan Hanin gak suka sufor (semoga Allah mengampuni hal tersebut 😷) dan Hanin yang berakting gak suka sufor. Alhamdulillaah semua bisa terlewati 💕.

Berharap pada Allah, semoga apa yang Hanin konsumsi dari Ummi bisa menjadi tulang dan daging yang bisa Hanin pake untuk beramal sholeh, hari ini dan nanti. Dan buat ummi, sebaik-baik pahala dan balasan hanya dari Allah, hanya itu yang diharapkan, semoga kelak menjadi pemberat amal timbangan di hari perhitungan.


Samata, 23 Juni 2020

Selasa, 17 September 2019

Anak adalah Potret Orang Tuanya

Suatu saat Fudhail bin 'Iyaadh (semoga Allah merahmatinya) melihat putranya membersihkan  daun timbangan dengan ujung bajunya.
Maka beliau bertanya kepadanya : wahai anakku kenapa engkau melakukan itu...?
Maka anaknya menjawab : Wahai bapakku, aku tidak ingin menambah berat daun timbangan ini dengan debu jalanan sehingga merugikan kaum muslimin...!
Mendengar kata-kata anaknya maka Fudhail menangis seraya berkata : Wahai anakku...
Apa yang engkau lakukan ini lebih aku cintai dibandingkan dengan 2 kali pergi haji dan 20 kali pergi umroh...!

Note : Anak adalah potret dari hasil pendidikan orang tuanya. Apabila orang tuanya mulai semenjak dini mendidik dan membiasakan anak-anaknya dengan amalan yang utama dan menanamkan pada diri mereka sifat-sifat yang terpuji. maka, cetakan ini akan tampak pada prilaku anak anaknya.
Dan mereka berkembang sesuai dengan apa yang dibiasakan oleh orang tuanya...
siapa yang menanam kebaikan kemudian merawatnya maka ia akan memanen hasil keringatnya sesuai dengan apa yang ia harapkan demikian juga sebaliknya...
Tentunya setelah taufiq dan hidayah Allah Ta'ala.


------------
By : Ustadz Abu Sa'ad

Jumat, 15 Februari 2019

Pengalaman di Nebu

Bayi 8 bulan yang bikin "dumba-dumba" kemarin 😩

Sejak sebelum shubuh, nda mau tidur di tempat tidur. Maunya tidur dalam pelukan dan harus duduk, jadinya umminya tidur duduk di tempat tidur sambil peluk bayi ini.

Kalau dia bangun, kayak sesak. Mau batuk tapi gak bisa. Digendong teruss, sampai-sampai wudhu untuk sholat shubuh pun harus dibawa ke wc karena gak mau disimpan, sholat shubuh juga dalam keadaan menggendong 😢😢

Jam 10 dapat telpon dari pengadilan agama, saya harus kesana. Agak berat meninggalkan Hanin yang lagi sakit. Tapi, karena sepertinya disana cuma ambil sesuatu, akhirnya saya keluar dan menitipkan Hanin yang lagi tidur ke mama mertua.
 
Di pengadilan agama, alhamdulillaah cuma sebentar, trus pulang. Tapi, saya singgah ke sd wahdah dulu ambil formulir. Disana juga sempat cerita-cerita sama ustadzahnya tentang Hanin. Disarankan bawa ke dokter anak untuk nebu.

Jam 11 lewat saya tiba lagi di rumah dan keadaannya masih kayak gitu (sesak+lemas+tidak ceria). Sama bapak mertua disuruh bawa ke dokter/rumah sakit. Saya bilang, "mau coba di nebu dulu". Akhirnya nelpon kk ipar cari nebu. Jam 12 siang, bawa bayi ini ke puskesmas buat di nebu. Pulangnya, alhamdulillaah ceria lagi, makin membaik lah dibanding pagi tadi. Tapi masih sesak.

Sampai akhirnya, maghrib tiba. Disinilah peristiwa yang bikin "dumba-dumba" itu. Dimulai menjelang maghrib, setelah minum ASI, tiba-tiba muntah. Trus, karena mau sholat maghrib, akhirnya saya simpan Hanin di baby walker biar bisa wudhu+sholat maghrib dulu. Rencana jam 9 malam akan di nebu lagi. Tapi mama mertua liat, katanya kenapa ini Hanin lemas sekali. Lemaaas sekali, tidak berdaya, tidak goyang-goyang dan masih sesak. Di baby walker juga seperti mau tidur saja padahal baru saja dia terbangun. Keadaan mengkhawatirkan, ditelponlah kk ipar yang bisa nebu, disuruh cepat datang.

Sambil nunggu obat yang akan dicampur di tempat nebu, dia muntah lagi dan muntahnya agak banyak + berlendir.

Nebu ke-2 dipercepat 1 jam. Nangis-nangis tapi tetap diproses. Stengah jam proses nebu.

Setelahnya?

Alhamdulillaah langsung ceria kembali, manjat sana sini, teriak-teriak dan mengoceh lagi seperti biasa. Seperti tidak ada apa-apa yang terjadi sebelumnya.

Alhamdulillaah, semalam juga tidak ada lagi yang rewel-rewel seperti malam sebelumnya. Dan pagi ini, walau masih belum pulih sempurna, setidaknya alhamdulillaah makin baik dari hari kemarin.

***

Kalau sakit itu penggugur dosa, maka untuk bayi sakit yang tak punya dosa, kedua orang tuanyalah yang digugurkan dosa-dosanya. Itulah sebab, mengapa orang tua harus bersabar menghadapi anak sakit, tidak banyak mengeluh, dan banyak beristighfar. Karena boleh jadi, anak sakit disebabkan oleh perilaku ataupun dosa orang tuanya.

Sehat selalu Hanin Athifah, tumbuh menjadi anak sholehah dan kelak menjadi amal jariyah buat kedua orang tua 💕💕💕



#haninathifah #ceritahaninathifah

Minggu, 13 Januari 2019

Harta, Untuk Apa?

Bismillaah...

Kebiasaan anak-anak sebelum tidur itu, kadang-kadang rebutan bantal atau tempat tidur. Seperti hari ini, semuanya diambil. Bantal di tempat umminya hanya disisakan 2 dari sekian bantal yang ada.

Bantalnya diapakan? Ya ditumpuk. Ini kerjaannya Ziyad sama Faqih. Mereka tidur bersebelahan lalu membuat benteng di tengahnya. Bentengnya itulah yang disusun dari beberapa bantal. Selain benteng pemisah, juga ada bantal di atas, kiri dan kanan. Jadi ceritanya, mereka berdua dikelilingi sama bantal yang sudah pasti butuh banyak.

Faqih bilang sama neneknya, "Nek, cobanya dibikin pagar disini (sampingnya) di'. Trus ada juga di atasnya, kiri kanan bawah." *seperti kandang 😂😂*

Saya menyela, "Kalau kayak gitu, berarti kayak kandang ayam. Itu di belakang rumah, ayam tidur di dalam kandangnya, ada di atasnya, bawah, kiri, kanan, ada pagarnya juga".

Faqih dan neneknya tertawa.

***

Tingkah dan hayalan anak-anak memang aneh tapi saya jadi banyak belajar. Tidak meng-cut pemikiran mereka, pun tidak menyalahkan. Saya juga teringat masa kanak-kanak saya, dimana saya bersama saudara seperti itu. Kadang rebutan bantal, kadang rebutan sarung dan apa saja yang bisa diperebutkan. Hayalan masa kanak-kanak pun mirip dengan anak-anakku sekarang, dimana dulu saya suka bikin tenda-tenda yang terbuat dari 2 kursi yang diatur sedemikian, lalu pake sarung sebagai atap dan bantal sebagai tembok, hingga menyisakan ruang tengah. Di ruang tengah itulah terkadang saya atau saudara saya tidur. Menghayal punya rumah, padahal kitanya tidak sadar kalau sudah berada dalam rumah.

***

Lalu, setelah itu, mereka semua tertidur. Faqih tertidur memeluk bantal, begitupun Ziyad. Saya yang melihat mereka sudah pulas tertidur lalu mengambil satu persatu bantal mereka yang tadinya sudah disusun 😂. Maafkan ummi, nak, soalnya Hanin lebih butuh benteng bantal di tempat tidur daripada kalian.

Kejadian rebutan bantal sebelum tidur ini, mengingatkan saya dengan orang-orang yang semasa hidupnya sibuk mengumpulkan harta lalu menumpuk dan tidak memiliki manfaat.
Tidur adalah salah satu kematian kecil.
Setelah kita tertidur, yang sebelumnya kita begitu "rakus" terhadap bantal (*baca: harta), toh itu sudah tidak berarti lagi.

Jika kita sudah tertidur (*baca: mati/meninggal), maka kita sudah tidak peduli lagi dengan segala yang ada di sekeliling kita. Iya, kan?

Lalu untuk apa harta dikejar, dikumpul lalu ditumpuk?
Untuk apa mengoleksi barang yang sejatinya tidak memiliki manfaat atau hanya sekedar pajangan?

Semoga kita menjadi pribadi yang bisa memanage harta, mengatur keuangan, waktu dan apa saja yang kita miliki agar memiliki manfaat, baik ke diri sendiri maupun bermanfaat buat orang lain, terlebih ummat ini.

Minggu, 18 November 2018

Hanin Athifah, 5 Bulan



Bismillaah...

Dear Hanin...
Tak terasa, nak, usiamu kini sudah 5 bulan.
Engkau sudah mahir tengkurap, lalu kembali lagi berbaring.
Hari ini, engkau belajar mengangkat badan, persiapan untuk duduk lalu merangkak.
Hari ini, engkau sudah bisa mengoceh, walau belum jelas
Engkau juga sudah mengenali sesiapa yang berada di hadapanmu
Jika ia lelaki, terkadang engkau memilih
Jika ia bersuara besar, engkau pasti menangis ketakutan

Jika ummi masih ada di pandanganmu, matamu tak lepas memandangnya
Seakan berkata, "Ummi mau kemana? Jangan tinggalkan saya bersama orang-orang ini".
Jika ummi ada di sampingmu, engkau kelihatan aman
Tak peduli seberapa usil orang-orang di sekitarmu

Athifah-ku...
Tak terasa, nak, waktu berlalu begitu cepat
5 bulan yang lalu engkau masih tak bisa apa-apa, hanya tidur atau terbangun saat lapar
Hari ini, waktu tidurmu sedikit demi sedikit mulai berkurang
Rasanya ingin menahan waktu, agar engkau masih seperti ini
Bayi kecil ummi yang sabar dan tak pernah menyusahkan
Penghapus duka dan penyejuk mata bagi kami semua

Hanin Athifahku...
Tumbuhlah menjadi anak sholehah
Jika hari ini badanmu "katanya" kecil
Semoga kelak amalanmu besar di mata Allah, nak
Tetap menjadi qurrotu a'yun buat kami semua


Sinjai, 17 November 201i

Kamis, 20 September 2018

Ziyad dan Potong Kuku

Bismillah...

Ziyad: "Ummi, harus orang bersyukur kalau mau minta apa-apa?"
"Bukan bersyukur. Kalau mau minta apa-apa, minta sama Allah, BERDO'A"

Ziyad menyimak apa yang saya bilang sambil lihat tanganku yang tergeletak di depannya (posisi tangan seperti mau pemeriksaan kuku).

"Ih, ummi panjang kukunya. Eh, tidak tidak.. Ini juga tidak (tangan yang satunya). Kaki, liatka' coba kaki ta'? Kaki tidakji." (ini apa hubungannya ya sama yang ditanyakan tadi).

Ini anak memang pemerhati sesuatu yang bisa digunting/dicabut/dikuliti. Kalau liat kuku panjang, siap-siap dipotong kukunya sama dia. Kalau liat luka yang sudah mengering, siap-siap dicabuti/kulitnya diambil. Kalau liat kulit yang mengering, siap-siap juga dikelupas.

Sejak tahu kebiasaannya seperti itu, yang paling saya jaga adalah adeknya, baby Hanin. Tiap hari liatin kukunya jangan sampai kukunya panjang. Soalnya, kalau panjang dan tidak dipotong, maka yang ambil alih untuk potong kuku adalah Ziyad. Dan itu adalah hal yang mengerikan. Semoga tidak pernah terjadi setidaknya sampai si Hanin sudah bisa menolak.

Tabaarokallah nak, semoga besar nanti, engkau jadi anak yang penyayang, perhatian terutama yang berhubungan dengan ummat. Aamiin.



Sinjai, 18 September 2018

Selasa, 11 September 2018

Trik Menghafalnya Faqih

Bismillaah...

Bagi saya, tidak boleh ada hafalan baru sebelum hafalan sebelumnya lancar betul. Sekarang, karena Faqih sudah kelas 2, hafalan di sekolahnya adalah juz 29. Saat kelas 1, hafalannya juz 30. Itu artinya, bagi saya, selama menambah juz 29, juz 30 harus tetap di muroja'ah setiap hari.

Setelah sekian lama, baru kali ini lagi saya ikut mendampingi Faqih untuk menghafal. Selama ini, saya hanya menyuruhnya untuk menghafal sendiri, di rumah maupun di sekolah. Hanya mengecek dan menyuruh muroja'ah ayat demi ayat yang sudah dihafal.

Hari ini, kebetulan dia habis melakukan satu kesalahan (menakut-nakuti adeknya sepulang dari mesjid). Maka saya memilihkan untuknya pilihan hukuman: dicubit keras (sadis 😂😂😂) atau menghafal surah al mulk ayat 26-30. Ternyata dia lebih memilih menghafal.

Oke.

Pukul 20.30 dia memulai. Dia duduk di kursi ruang tengah, membaca berulang-ulang, menghafal tanpa melihat quran, lalu membaca lagi, lalu menghafal lagi, begitu seterusnya. Sesekali mengeluh dan banyak alasan. 15 menit kemudian, saya menyuruh untuk menyetor, tapi katanya belum hafal. Alasannya, mau menghafal di kamar saja. Maka kami pindah ke kamar. Di kamar, saya putarkan 1 ayat sebanyak 20x. Ayat 27 berhasil dihafalkan.

Saat ayat ke 28, laaaama baru dihafal. Padahal ayat yang sudah terputar mungkin 40x, tapi tetap saja masih gak bisa dihafal. Dia menangis, mungkin ngantuk juga. Dan saya? Jangan ditanya, kesabaran hampir habis, eh, tidak, alhamdulillaah masih bisa mengontrol diri 😁. Dia hampir saja tertidur, tapi karena dari awal kami sepakat untuk menghafal ayat 27-30, maka tidak ada kata tidur sebelum ayat itu dihafal.

Di ayat 28, saya coba mendiktekan ayat demi ayat sambil membacakan artinya. Tiba-tiba, dia kelihatan bersemangat. Matanya cerah, tidak ada tanda-tanda mengantuk, padahal tadi sudah nangis-nangis mau tidur. Begitu hingga ayat ke 30. Dan dia tertidur setelah menghafalkan ayat 26-30 walau masih belum lancar, maasyaallaah wa tabaarokallah. Alhamdulillah, saya jadi tahu trik menaklukkan dia untuk suka menghafal yaitu dengan membacakan artinya dan menceritakan kisah-kisah dibalik ayat itu.

Tiap anak memang unik, tidak bisa disama ratakan. Sama halnya dengan Faqih. Banyak metode yang beredar tentang cara mudah menghafal quran bagi anak. Rata-rata sudah saya terapkan sama Faqih. Tapi dasar Faqih, sesuai dengan namanya, dia lebih suka dan lebih cepat hafal jika tahu apa arti ayat demi ayat yang dibaca. Dia suka diceritakan. Lalu, jika seperti ini, berarti saya mau tidak mau, HARUS banyak belajar, terutama bahasa Arab. Harus banyak tahu kisah-kisah dan asbabun nuzul dari ayat-ayat itu. Salah menyampaikan, tentu bisa fatal.

Seperti tadi, di ayat 29 surah almulk, ada kata tawakkal. Bukan Faqih kalau dia tidak bertanya, "apa itu tawakkal". Dan tentu, saya harus memilih kata yang mudah masuk di akalnya.

Jadi ummi itu berat, butuh ilmu terutama ilmu addiin. Saya tidak tahu apa jadinya jika saya tidak pernah belajar. Mungkin, anak-anak saya akan tahu dari orang lain, bukan dari saya dan itu artinya saya kehilangan satu kesempatan lagi untuk mendapatkan pahala jariyah.

Olehnya, buat para akhawat, para gadis yang masih diberi keluangan waktu, manfaatkan waktu luangmu dengan banyak belajar ilmu. Selain untuk diri kita, ilmu agama yang kita pelajari kelak akan berguna buat anak-anak kita, Insyaallah.

Betullah syair Arab yang berbunyi: “Al-ummu madrasatul ula...", ibu adalah sekolah utama. Bila engkau mempersiapkannya, maka engkau telah mempersiapkan generasi terbaik”.

Semoga saja, anak-anakku kelak menjadi generasi terbaik, dan ini mimpi saya. Semoga Allah berkenan mengabulkan dan mewujudkan. Aamiin...

Terus belajar ✊✊✊


Sinjai
Ahad, 9 September 2018

Sabtu, 08 September 2018

Hanin Athifah 2 bulan



Hanin Athifah kini usianya 2 bulan setengah. Tanggal 16 nanti, menurut tahun masehi, ia genap 3 bulan.

Sejak usianya sebulan lebih, di badannya ada bintik-bintik berisi, seperti alergi, di kepala atau kadang di wajah maupun di kakinya. Kami hanya bisa mengira-ngira, karena belum pernah memeriksakan ke dokter anak/kulit.

Dugaan awal, ia alergi telur. Karena saya memang ada riwayat alergi telur ayam yang warna kulitnya putih itu. Dulu-dulu, saya, setiap sudah makan (banyak) telur, biasanya ada bentol-bentol di badan. Anehnya, hanya telur ayam berkulit putih itu saja. Kalau telur ayam ras yang banyak dijual di pasaran, tidak. Dan kami menduga, Hanin Athifah juga alergi telur, turunan dari umminya.

Fix, saya puasa makan telur selama masih menyusui. Walau kadang-kadang saya makan sedikiiit saja telur sisa yang dimakan anak-anak karena mau sekali (*saya pencinta lauk telur*).

Sudah tidak makan telur, tapi baby Hanin masih bentol-bentol. Bahkan semakin banyak. Ada apa ini? Ada yang bilang, mungkin kutu kasur, atau nyamuk, atau karena suka dicium sama kakak-kakaknya, dll, dll.

Tapi, sampai saat ini, setelah saya berpikir yang saaaangat panjang, akhirnya menduga (masih dugaan) bahwa mungkin saja ia alergi coklat. Iya, mungkin saja. Karena seingat saya, bintik-bintiknya mulai ada saat saya suka mengkonsumsi coklat-coklatan.

Fix lagi, mulai hari ini, saya puasa makan coklat. Hiks. Padahal di lemari, masih banyak simpanan cemilan coklat. Tapi untuk kali ini, saya mau lihat dulu perkembangan si baby, apa betul setelah saya berhenti mengkonsumsi coklat, bentol-bentolnya juga berhenti, ataukah masih tetap bermunculan.

Mari kita menunggu dan mengamati sebulan ke depan.

O iya, di usianya yang hampir 3 bulan ini, akhir-akhir ini suka liat Hanin berpindah dari posisi semulanya, terutama kalau tidur malam. Kadang saya tempatkan sejajar dengan saya, saat terbangun tengah malam, eh, kakinya di sana, kepalanya dimana. Sudah mulai suka berbalik badan juga untuk siap-siap tengkurap.

Semoga sehat selalu, nak, jadi anak sholehah, kelak rajin sholat, berakhlak yang baik dan jadi penghafal qur'an, Insyaallah. Aamiin

Senin, 03 September 2018

Kapan Lahir (an)?

Bismillaah


Baca ini, saya teringat dengan percakapan bersama suami saat menanti persalinan. Waktu itu, sering sekali ada tanda-tanda akan bersalin, tapi hanya sesaat alias kontraksi palsu.

Hingga suatu ketika, saat saya sedang mengatur barang-barang jualan di lemari, suami yang lagi duduk tidak jauh dari tempat saya lalu bertanya, "Ummi, kapanpeki' itu melahirkan?"

Saya membalikkan wajah saya ke beliau lalu menjawab, "Tidak tau, abi. Itu pertanyaanta' samaji kalau bilangki 'kapan meninggal'".
Beliau kaget, "Sembarangnya", katanya. Mungkin tidak menyangka jawaban saya seperti itu. 😥
"Betul kan? Kelahiran, kematian, jodoh dan rizki adalah rahasia Allah."

Kelahiran anak ke-4 yang dinanti sejak awal Ramadhan, yang diharapkan lahir di bulan Ramadhan, ternyata Allah menghendaki lahirnya setelah Ramadhan.
Pun dengan kematian suami yang tak pernah dinanti ataukah berharap masih lama, ternyata Allah takdirkan secepat itu, di waktu yang menurut akal manusia "begitu cepat" dan di usia yang masih sangat muda.

Begitu pula dengan jodoh dan rizki. Tak perlu lah kita tanyakan kapan dan bagaimana. Tugas kita hanya berusaha memantaskan diri mendapatkan yang terbaik. Tak perlu pula menempuh cara-cara yang Allah tidak sukai, karena semuanya telah Allah tetapkan akhirnya, semuanya telah tercatat di lauhul mahfudz, jauh sebelum kita lahir.