Tampilkan postingan dengan label Tazkiyah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tazkiyah. Tampilkan semua postingan

Senin, 08 Januari 2024

Catatan KOTS Januari 2024

Bismillaah..

- pentingnya memperbarui niat di awal2 aktivitas.
- berinteraksi dgn istri butuh ilmu, bgmn kalau marah, cemburu, semua butuh ilmu.
- bgmn mungkin qt menyuruh anak2 rajin menuntut ilmu sementara qt? kalau anak2 tiap hari, kita hanya sebulan sekali
- menerima rapor adalah evaluasi besar buat orang tua, karena bisa jadi kesalahan yg terjadi pada anak adalah kesalahan dr ortu.
- jika ingin mengevaluasi anak, jangan capaian akademik tp akhlaknya

- coba sesekali tanya ke istri, "apakah sy sudah menjadi suami yang baik?" agar bisa dievaluasi, apa yang harus dilakukan untuk memperbaiki. Dan sebaliknya, istri juga bertanya ke suami, apa yang harus diperbaiki.
- rasulullah kesholehannya berkesinambungan, maka pastikan anak cucu dan keturunan kita itu semuanya mentauhidkan Allah.
- semua anak2 harus kita usahakan dan mendidik agar menjadi baik, jgn sampai qt bilang, biarmi 1 baik, 1 nakal
- semakin banyak anak, semakin banyak jg yg mendoakan kita saat kita meninggal

- seperti ini rasulullaah berinteraksi dgn istrinya:
* menanyakan kabar istri di pagi / sore. jgn sampai qt tau kalau dia sakit saat badannya panas.
* beliau Rasulullaah membuat panggilan kesayangan kepada istrinya selain nama yang diberikan ortu nya. seperti yaa Humairoh atau ya Aisy. Jangan malu karena usia, walau sdh kakek nenek karena romantisnya semoga sampai ke syurga. visi kita jauh, sampai ke akhirat, bukan hanya sampai di dunia.
* rasulullah terbiasa membantu pekerjaan istrinya seperti cuci piring, membersihkan rumah, dll. Rasulullah biasa menjahit bajunya sendiri. jangan sampai tiba di rumah, langsung baring main hp, tapi kalau ada sesuatu yang ringan yg bisa qt kerja, maka kerjakan.
* membantu istri beliau (shofiyah) untuk menaiki hewan tunggangannya. ini bs qt terapkan minimal bukakan pintu mobil.
* istri beliau bersedih, rasulullaah sendiri yg mengusap air mata istrinya dgn tangannya sendiri
* beliau memperhatikan kebersihan dirinya dan aroma tubuhnya. hal apa yg pertama kali rasulullah lakukan sblm masuk rumah / kamar? aisyah menjawab: beliau bersiwak. jangan sampai di kantor harum, sampai ke rumah bau keringat.
* seni berinteraksi rasulullah --- karya syaikh al munajjid, bagus buat qt belajar bgmn berinteraksi kpd semuanya.
* bukan hanya keromantisan dlm rt rasulullaah, tetapi beliau jg mendidik para istrinya untuk menjadi teladan buat para wanita.
* suami harus lebih dan banyak ilmu untuk sesekali kita ajar dan mendidik ke istri kita. ketika ada kesalahan, kita kasi tau baik-baik.
* rt beliau jg tdk luput dr permasalahan, agar kita jg bisa mencontoh beliau ketika kita memiliki permasalahan, bgmn rasulullaah menghadapi masalah itu
* jika istri minta cerai, maka acuhkan saja, diamkan, karena akan berhenti sendiri
* masalah rasulullaah: haditsul ifki (annur), hadits yg turun untuk mensucikan ibunda aisyah.
* shofwan bin muattol yg menemukan aisyah: kalimat istirja'
* abdullah bin ubay yg paling kencang menyebar fitnah dan rasulullah terpengaruh tp beliau tdk langsung menjudge, beliau bertanya dulu ke ali bin abi thalib, usamah bin zaid, zainab binti jahsy dan mariyah, mengumpulkan informasi.
* kalau qt melihat istri / suami qt asalnya banyak melakukan kebaikan, maka jangan langsung menjudge hanya karena 1 kesalahan.
* beliau tdk tergesa2 menyimpulkan tetapi beliau mengubah sikap beliau agar istrinya sadar, dan mengumpulkan infomasi dr org lain lalu bertanya dengan jelas langsung kepada istrinya.
masalah berikutnya: istri2 beliau meminta tambahan nafkah. bertengkar tdk menyelesaikan masalah, berdebat tdk menjadi solusi, memberikan pilihan kepada istri.


7 Januari 2024
Mesjid Babul Muttaqin Dg. tata
Oleh Ust Abbas hafidzahullaah

Jumat, 08 Januari 2021

Karyawan & Rizqi

Bismillaah

Punya 2 admin/asisten toko, saya mengira tugas pribadi semakin berkurang. Ternyata tidak, malah makin banyak, subhanallah.

Mungkin karena masih baru, jadi butuh diajar dan dikontrol. Tapi setidaknya, waktu untuk mengerjakan hal-hal teknis sudah bisa dialihkan ke karyawan. Inilah keuntungannya jika kita punya karyawan.

Diantara kita mungkin ada yang beranggapan, kalau saya rekrut karyawan, cara gaji mereka bagaimana?

Dulu saya pun pernah berpikiran seperti ini. Saya malah berpikir, mending saya saja yang mengerjakan, saya saja yang digaji, gajinya lari ke saya saja. Ternyata persepsi dan anggapan ini salah. Justru ketika kita merekrut karyawan, waktu yang kita pake kerja (sendirian) yang biasanya 8 jam dengan hanya 2 tangan 1 otak/pikiran, bisa bertambah lagi. Otomatis orderan juga In syaa Allah akan bertambah. Tentunya semuanya punya dan butuh ilmu untuk mengelolanya.

Akhir bulan Desember 2020, saya ikut kelasnya Mak Muri Handayani di Sekolah Bisnis Online tentang Mengelola Tim/Karyawan. Maasyaallah, ilmunya "daging" semua. Langsung bisa diterapkan di bisnis masing-masing, In syaa Allah.

Mengenai gaji karyawan, sebenarnya ini adalah sesuatu yang tidak perlu dikhawatirkan. Tiap orang punya rizqi sendiri dari Allah. Menurut pengalaman, orderan saat kita punya karyawan berbeda jika kita tidak punya karyawan. Penyebabnya karena apa? Salah satunya dan yang utama adalah, karena Allah menitipkan rizqi karyawan itu melalui orderan-orderan kita yang In syaa Allah mengalir deras.

Allah Maha Pemberi Rizqi, yakin saja, In syaa Allah khawatirmu akan pergi jauh ❤️❤️❤️

Ziyarah Kubur

Bismillaah...

"Orang-orang salaf telah menyepakati hal ini dan banyak atsar yang diriwayatkan dari mereka, bahwa ahli kubur dapat mengetahui peziarah yang mengunjungi makamnya, dan merasa gembira karena kedatangannya itu." (Kutipan kitab al-Rûh karya Imam Ibnu al-Qayyim al-Jauziyyah).

Saya baru tau hal ini. Anggapan saya selama ini adalah, cukup mendoakan orang-orang yang telah mendahului kita tanpa ziarah ke kubur mereka. Ternyata tidak. Ziyarah kubur termasuk salah satu yang dianjurkan dalam syariat. Dan ternyata, mengunjungi kubur orang-orang yang kita kenal adalah salah satu kebahagiaan tersendiri buat para ahli kubur.

Dulu, waktu kecil saya pernah bertanya ke Aba, "Ba, kuburan nya nenek dimana?". Mungkin karena beliau gak bisa menjelaskan letaknya, pun jika menjelaskan pun saya tak akan tau (karena kurang mengenal letak/alamat pasti di Makassar), Aba cuma menjawab, "Nda usah (tau) kuburnya, Nak. Doakan saja, itu lebih dibutuhkan."
Dan itulah yang tertanam di benak saya hingga saat ini.

Dan sejak saat saya mengetahui ini, rasanya ingin terbang langsung ke kubur suami ~rahimahullah rahmatan wasi'ah~ bersama anak-anak. Karena jujur, rindu itu berat, apalagi rindu pada orang terkasih. Dan mengetahui hal ini, seperti angin segar buat kami yang selalu tak henti rindu 😥.

***

Tidak ada yang salah dengan pemahaman "cukup mendoakan". Pun ternyata pemahaman "ziyarah kubur" juga tidak ada salahnya. Yang salah adalah jika kita memaksakan kehendak atau pemahaman kita kepada orang dan menganggap selainnya itu salah. Padahal, ilmunya Allah itu luas. Kitanya saja yang mungkin kurang baca atau kurang ilmu dalam memahami satu persoalan.

Senin, 14 Desember 2020

Sepekan Penuh Makna

Bismillaah...


Sepekan terakhir, yang biasanya jadi full mom, berubah menjadi wanita karir. Terasa sekali perbedaannya.

Pertama kali dalam hidup, mengistirahatkan 3 karyawan sekaligus 😭. Bukan prestasi, namun ini bahan muhasabah. Saya sebagai pemimpin mereka yang tentunya kurang dan butuh banyak untuk belajar.

Setelah itu, mengambil alih pekerjaan mereka sangat-sangat menguras tenaga dan pikiran. Pergi pagi, pulang malam 😢 , sangat bukan kebiasaanku dulu. Akhirnya berdampak ke anak-anak yang hanya mendapatkan sisa-sisa waktu, pun dengan tubuh yang meminta untuk diberi hak nya. 😭😭😭

Namun, hari ini, sepekan berlalu, saya semakin tahu. Saya semakin mengerti mengapa Allah menyuruh para istri atau perempuan untuk tinggal di rumahnya (saja). Saya semakin paham mengapa para lelaki yang Allah perintahkan untuk mencari nafkah, bukan istri.

Ternyata, Allah tidak salah dalam perintahnya. Allah memilih sesuai kemampuan masing-masing.
Namun mungkin tidak untuk para single-parent yang tetap harus berjuang untuk hidupnya, anak-anak dan orang sekitarnya.

Hanya berpesan buat anak-anak, setiap hari, setiap pulang dari sana, setiap mereka bertanya kenapa ummi terlalu lama...
"Ini sementara saja, Nak. Akan ada ujungnya, akan ada akhirnya. Ummi lagi berbenah agar kelak bisa kembali membersamai kalian, tiap jam, tiap menit bahkan detik. Bersabar sebentar saja. Doakan ummi, semoga Allah senantiasa memberikan kekuatan dan kesabaran, selalu. Doakan juga, semoga Allah segera memberikan kita orang yang tepat untuk mengambil alih pekerjaan ini."


Samata, 7 Desember 2012

Minggu, 13 September 2020

Kaidah 49 - 50

Bismillaah...

Kaidah 49 = Bertanya (An Nahl : 43)
Kaidah 50 = Jalan Lurus (Al Isra : 9)


~RESUME~

Hari ini kita belajar kaidah langit yang memberitahukan kepada kita bahwasanya kemuliaan manusia itu terletak pada ilmu akhirat yang dia pahami, dia mengerti dan dia realisasikan pada kehidupan. Sesungguhnya siapapun yang ingin diselamatkan ketika melewati beratnya perjalanan melewati shirath, maka hendaklah dia memperhatikan bagaimana keterikatan hidupnya dengan ilmu. Dan tidaklah disebut ilmu kecuali definisinya adalah perkataan Allah dan RasulNya.

Bukankah kita mengerti, ketika kita ingin kerja di sebuah kantor, ada perjalanan ilmu yang harus kita tempuh selama 16 tahun, dari SD sampai kuliah. Kalaulah hanya duduk di belakang meja pada sebuah instansi dan kantor harus mendapatkan proses pembelajaran hingga 16 tahun, sesungguhnya syurga pun identik dengan ilmu sebagaimana ikan identik dengan airnya.

Maka salah satu proses kita di dalam belajar untuk mendapatkan ilmu sesungguhnya adalah dengan bertanya. Karena obat dari getirnya kebodohan itu adalah dengan kita bertanya. Bertanyalah ketika engkau tidak tahu. Bertanyalah kepada mereka yang paham tentang agama ini dan paham tentang ilmu syariat ini. Karena keterperosokan itu dapat dihindari ketika kita mendatangi ilmu dan bertanya kepada mereka yang memiliki kepahaman terhadap agama ini.

Inilah pula yang menjadikan kita mengetahui, kemuliaan alquran adalah kemuliaan yang tidak terbantahkan. Siapapun dan apapun pemikiran yang mencoba untuk berhadapan dengan Quran, tidak ada yang dihadapi kecuali kebinasaan dan kebinasaan dalam kehidupan akhirnya. Dan selalu quran itu menjadi pemenang bagi mereka yang mengimani dan yakin kepada apa yang dikalamkan oleh Allah di dalam kitab sucinya.

Semoga kita senantiasa mengimani bahwasanya Quran itu adalah kenikmatan dan janganlah kita tukar kenikmatan itu dengan sesuatu yang rendah layaknya bani Israil yang telah diberikan daging burung dan telah diberikan buah tetapi mereka justru tega meminta supaya diganti dengan bawang merah, bawang putih yang sejatinya barang-barang itu mereka jumpai dengan mudah di pinggir pasar.

Quran itu adalah kenikmatan. Quran itu adalah mukjizat terbesar pada kehidupan kita. Tidaklah kemuliaan seorang manusia dan satu bangsa kecuali mereka berpulang kembali kepada pangkuan alquran. Karena hidup di bawah naungan alquran itu adalah nikmat yang tidak dirasakan kecuali orang-orang yang mereka merasakan nikmatnya beriman kepada alquran.


Rabu, 9 September 2020 / 21 Muharram 1442
(Hari ke 20 di "Journey with Quran" Classroom)

Sabtu, 12 September 2020

Kaidah 44 - 45

Bismillaah...

Kaidah 44 = Mencintai Rasulullaah (Al Hasyr : 7)
Kaidah 45 = Menghapus Dosa (Huud : 114)


~RESUME~

Rasulullaah hadir dalam kehidupan umat manusia, sejatinya bukan hanya menjadi kisah klasik yang kita bacakan kepada anak kita menjelang tidur. Tetapi sejatinya Rasulullaah diutus pada kehidupan kita supaya kita mengetahui hakikat penduduk syurga dengan karakteristiknya, perkataan dan perbuatannya.

Inilah yang harus kita mengerti, kesempurnaan iman kita tidak akan pernah menjadi utuh sampai kita beriman kepada Allah dan beriman pula kepada Rasulullaah shallallaahu 'alihi wasallam. Karena sesungguhnya siapapun yang mereka setia menapak jalan sebagaimana jalan yang telah ditapak oleh Rasulullaah, dia akan menjadi orang yang mulia pada kehidupan akhirat dan menjadi mulia pada kehidupan di dunia. Dan menjadi orang yang terpimpin, karena dia telah mengikuti orang yang telah dibimbing langsung oleh Allah subhanahu wa ta'ala.

Perhatikanlah para sahabat, ketika mereka menjadi bangsa penggembala kambing lalu mengikuti Rasulullaah, Allah muliakan hidup mereka. Hidup mereka disegani oleh orang-orang dari timur ke barat dan ketika matinya, dimuliakan oleh Allah dalam kehidupan akhiratnya dengan syurga.

Simpel dan sederhana. Sesungguhnya ketika kita ingin mulia dalam kehidupan ini dan menjadi orang-orang yang dimuliakan oleh Allah dalam kehidupan nasib di akhirat, yaitu adalah berkomitmen untuk mengikuti Rasulullah dan menjadikan Rasulullah referensi tunggal pada kehidupan. Bukan pada referensi pluralisme, sekularisme dan liberalisme, serta isme isme yang lainnya, tapi hanya kepada nabi dan tidak ada pilihan yang lainnya.

Disini pula kita mengetahui, komitmen kita mengikuti sunnah selain mengikuti Rasulullah adalah bagaimana kita menjadi orang yang pandai untuk membersihkan diri kita dan mensucikan kita. Siapakah manusia? mereka pasti lengket dan pasti peka dengan kemaksiatan dan dosa. Tapi Allah begitu maha baiknya kepada kehidupan manusia sehingga Allah memberikan jalan pada setiap kehidupan manusia, bagaimana mereka itu diberikan oleh Allah kesempatan untuk membersihkan dosa.

Bukankah baju yang kotor bisa bersih dengan deterjen? Bukankah mobil yang kotor bisa bersih dengan semprotan air? Sama pula, sesungguhnya dosa dan kemaksiatan itu mampu untuk dibersihkan persis sebagaimana bayi yang baru lahir, kalau kita niatkan setiap kebaikan yang kita lakukan salah satunya adalah kita niatkan untuk menghapuskan dosa dan kemaksiatan kita.

Sungguh demi Allah, dosa itu tidak hanya dihapuskan dengan taubat. Sungguh demi Allah, dosa itu tidak hanya dihapuskan dengan istighfar kita ataupun ridhonya kita kepada takdir. Tapi salah satu diantara perangkat untuk membersihkan kita dari dosa supaya kita bersih dan meraih keberkahan dalam kehidupan kita, kalau kita rajin melakukan dosa, setidaknya kita harus rajin melakukan kebaikan untuk menghapuskan dosa dan kemaksiatan yang pernah kita lakukan.

Semoga Allah memberikan keteguhan atas komitmen kita untuk mengikuti Rasulullah dan semoga kita rajin mengikuti setiap keburukan dengan ketaatan supaya menghapuskan dosa yang pernah kita goreskan.


Senin, 7 September 2020 / 19 Muharram 1442
(Hari ke 18 di "Journey with Quran" Classroom)

Kaidah 42 - 43

Bismillaah...

Kaidah 42 = Menjaga Sumpah (Al Maidah : 89)
Kaidah 43 = Sifat Kikir (Al Hasyr : 9)


~RESUME~

Sesungguhnya kebaikan seorang mukmin, salah satunya ketika mereka tidak bersumpah kecuali dengan nama Allah. Janganlah kita bersumpah dengan nama selain Allah karena di dalam sumpah ada pengagungan. Dan pengakuan ketika diberikan kepada selain Allah bisa terjatuh pada kesyirikan.

Sesungguhnya sumpah haruslah dengan menyebut nama Allah dan berkomitmen untuk memenuhi sumpah tersebut. Jangan banyak kita bersumpah karena sesungguhnya orang yang banyak bersumpah akan hilang pengagungan kepada apa yang dia ucapkan di dalam sumpah tersebut.

Sesungguhnya siapapun yang telah menyertakan Allah dalam sumpahnya berarti dia telah terikat di hadapan Allah atas apa yang dia ikrarkan ketika bersumpah atas nama Allah. Inilah hakikat seorang mukmin.

Bersumpah atas nama Allah merupakan bagian yang diperbolehkan. Tapi ingat, siapapun yang telah melibatkan Allah dalam satu komitmen yang dia ucapkan di dalam sumpah, maka pada saat itu dia telah menjadikan Allah menjadi saksi langsung atas apa yang dia ucapkan. Penuhi sumpahmu ketika sudah menyebut nama Allah. Kalau tidak, akan berkonsekuensi besar pada kehidupan kita.

Sisi yang lainnya, kita mengetahui pula sesungguhnya kebaikan iman tergantung ketika kita mampu menafikan penyakit syuh. Syuh itu adalah bakhil tingkat yang paling tinggi, ketika seorang manusia begitu hasrat dan rakus terhadap perkara dunia yang dimiliki oleh orang lain. Sehingga dia tidak mau mengutamakan orang lain.

Penyakit syuh dikatakan oleh Rasulullaah shallallahu 'alaihi wasallam sebagai penyebab kehancuran kaum sebelum beliau, dengan berkembangnya penyakit syuh diantara mereka. Tidaklah orang yang memiliki penyakit syuh kecuali dia ingin mendapatkan apa yang dimiliki oleh orang.

Tidak ada orang yang memiliki penyakit syuh kecuali dia menginginkan supaya kebaikan yang dimiliki orang lain itu hilang. Dan tidaklah orang memiliki penyakit syuh kecuali dia akan menghalalkan segala macam cara untuk mendapatkan barang yang dia mau. Semakin besar penyakit syuh, semakin banyak keinginan yang akan dia tetapkan pada hidupnya. Dan itulah sumber dari malapetaka dalam kehidupan manusia.

Orang yang mampu menekan syuh-nya, akan timbul kebaikan itsarnya. Itsar itu mengutamakan orang lain. Sesungguhnya Allah paling senang dan paling cinta kepada seorang mukmin yang senantiasa mengutamakan orang lain.

Sungkan kepada orang yang beriman, mengorbankan zona nyaman dia kepada orang yang beriman. Siapapun yang mengorbankan zona nyamannya untuk Allah, untuk orang-orang yang beriman, maka disitulah Allah melipatgandakan pahala yang dia kerjakan dengan kelipatan yang tidak terhingga.

Semoga Allah menjaga kita dari syuh, tetapi Allah menumbuhkan kebaikan itsar pada kehidupan kita. Tidaklah orang anshor dicintai oleh Allah kecuali karena itsar yang mereka miliki pada hati dan jiwa mereka.



Ahad, 6 September 2020 / 18 Muharram 1442
(Hari ke 17 di "Journey with Quran" Classroom)

Rabu, 09 September 2020

Kaidah 39 - 40 - 41

Bismillah...

Kaidah 39 = Manajemen Waktu (Al Insyirah : 7-8)
Kaidah 40 = Berlaku Adil (An Nahl : 90)
Kaidah 41 = Kesalahan Makhluk (Asy Syura : 30)


~RESUME~

Waktu, tampaknya merupakan sesuatu yang biasa. Tapi, tahukah kita bahwasanya waktu merupakan bagian pembeda antara orang yang diridhoi oleh Allah dan tak diridhoi oleh Allah? Orang yang diridhoi oleh Allah selalu disibukkan waktunya di dalam ketaatan dan ibadah semenjak bangun tidur sampai dia menutup mata pada malam harinya. Orang yang tak diridhoi oleh Allah yaitu adalah ketika waktunya diberikan oleh Allah dalam perkara yang tidak bermanfaat pada urusan akhirat dan dunianya, semenjak dia membuka mata sampai menutup mata.

Sesungguhnya waktu merupakan bagian penting dalam kehidupan orang yang beriman. Makanya Allah berfirman, berlomba-lombalah dalam kebaikan. Bukankah makna berlomba-lomba adalah orang yang mampu untuk memaksimalkan waktu? Bukankah pemenang nomor satu pada perlombaan F1 itu adalah mereka yang paling hemat waktunya ketika menyelesaikan lap dan putaran?

Sesungguhnya orang yang beriman, mereka adalah orang-orang yang diberikan kemampuan untuk mengolah sebuah waktu menjadi sesuatu yang bermanfaat dalam kehidupan akhirat dan dunianya.

Berlomba-lombalah dengan waktu untuk segera melaksanakan sholat. Berlomba-lomba lah di dalam kita bertaubat kepada Allah, karena waktu yang kita miliki sangatlah terbatas. Berlomba-lomba lah kepada Allah supaya kita senantiasa segera meminta maaf, karena bisa jadi ketika kita selalu melambatkan meminta maaf, maka akan menjadi pengadilan panjang dalam kehidupan akhirat kita.

Berlomba-lombalah di dalam waktu, ketika kita harus mengembalikan barang, harus pula ketika menikahkan anak-anak kita dan menguburkan jenazah yang kita cintai. Karena sesungguhnya waktu merupakan bagian besar yang harusnya kita senantiasa memandangnya dengan keseriusan karena akunya masalah waktu di hadapan orang yang beriman.

Disini pula sesungguhnya seorang mukmin dibebankan oleh Allah untuk senantiasa berbuat adil, karena sesungguhnya spirit dalam agama ini adalah menegakkan keadilan. Adillah ketika ada diantara kita melakukan poligami. Adillah ketika kita membagi kasih sayang kita di antara anak-anak yang kita miliki. Adillah kita ketika kita melihat orang yang menyampaikan ilmu kepada kita, ketika mereka terjatuh pada kesalahan. Dibalik kesalahan itu ada banyak kebaikan yang dia miliki. Adillah ketika kita beribadah, ada hak untuk badan kita, ada hak untuk istri kita, ada pula hak untuk anak-anak kita. Karena sesungguhnya, keadilan itu memberikan kebaikan dalam kehidupan kita.

Inipula yang menjadikan kita memahami bahwasanya tidaklah kejadian dan peristiwa-peristiwa besar yang terjadi di atas muka bumi ini kecuali Allah gariskan peristiwa musibah yang ada pada kehidupan manusia kecuali memberikan peringatan manusia supaya kembali kepada-Nya.

Banjir bandang, gempa, tsunami, tidaklah terjadi dengan sendirinya dengan kata fenomena alam. Sesungguhnya musibah itu terjadi karena kehendaknya Allah dan kekuasaan Allah yang tidak terbatas.

Allah memberikan sentilan pada setiap peristiwa musibah yang terjadi di atas kehidupan kita bahwasanya Allah Maha Berkuasa atas apa yang terjadi pada kehidupan manusia. Semoga kita tidak sekuler, ketika kita melihat kejadian dan musibah alam tanpa kita kaitkan peristiwa itu kepada Allah. Padahal tidak ada peristiwa yang terjadi di atas muka bumi ini, sampai daun yang jatuh, kecuali adalah karena ketentuan Allah yang begitu besar pada kehidupan kita.

Orang yang cerdas adalah orang yang pandai untuk mengambil satu isyarat di balik satu peristiwa dan musibah alam ketika terjadi pada kehidupan kita, dan itu merupakan peringatan supaya kita kembali kepadaNya.



Sabtu, 5 September 2020 / 17 Muharram 1442
(Hari ke 16 di "Journey with Quran" Classroom)

Selasa, 08 September 2020

Kaidah 37 - 38

Bismillaah...

Kaidah 37 = Istiqomah (Hud : 112)
Kaidah 38 = Pengadilan Allah (Az Zalzalah : 7-8)


~RESUME~

Tidak ada yang paling berat ketika kita menghambakan diri kepada Allah kecuali menjaga konsistensi iman kita kepada Allah. Beriman kepada Allah itu bukan satu musim, tapi beriman kepada Allah itu melewati puluhan musim dan puluhan purnama.

Kalaulah kita beribadah kepadanya hanya di musim Ramadhan, tentunya itu mudah. Kalaulah kita taat kepadaNya ketika kita tawaf dan ketika haji dan umrah, tentunya itu ringan. Tapi bukankah ketakwaan itu bukan hanya bertahan pada satu musim Ramadhan dan bukan hanya bertahan dalam putaran tawaf. Sesungguhnya beribadah kepada Allah itu sepanjang hayat dikandung badan.

Itulah yang menjadikan kita mengerti, tidak ada perkara yang paling berat dirasakan Nabi kecuali perintah ketika Beliau diarahkan untuk istiqamah pada hidupnya. Bukankah Nabi sampai beruban ketika ayat yang memerintahkan Beliau untuk istiqomah turun kepada Beliau? Menunjukkan kepada kita, sesungguhnya iman itu yang paling berat adalah istiqomah.

Hijrah itu terkadang mudah. Banyak orang yang hijrah itu datang dari berbagai macam alasan yang ringan, tetapi yang paling berat adalah istiqomah di dalam perjalanan kita hijrah. Disitulah kita memahami, tidak ada perkara doa yang paling sering diminta Nabi kepada Rabbnya kecuali adalah meminta supaya diberikan istiqomah.

Tapi walaupun istiqomah itu berat, selalu ada ujung yang manis bagi mereka yang tetap bertahan, apapun kondisi getirnya dihadapi. Selama dia istiqomah, disitu akan ia jumpai kabar gembira yang diberitakan oleh Allah yaitu surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai dengan gemericik air yang menenangkan.

Inilah yang menjadikan kita mengetahui, kenapa kita diperintahkan untuk dzikir, kenapa kita diperintahkan untuk membaca alQur'an, kenapa kita diperintahkan untuk terus menuntut ilmu, supaya menjaga hangatnya iman. Karena menjaga ketakwaan dan keimanan lebih berat dari seorang penjaga gawang ketika menjaga mistar gawangnya. 

Di sisi yang lainnya, kita juga harus mengetahui, pemburu surga itu sejatinya adalah pemulung amal. Dia tidak pernah picky dan tidak pernah pilih-pilih ketika mereka itu beramal dengan apa yang harusnya mereka lakukan. Bisa jadi ada amal yang kita pandang sebelah mata tapi justru sejatinya amal itu yang akan memasukkan kita ke syurga.

Sungguh, visi dan misi pemburu syurga adalah mereka yang menjadi pemulung amal. Mereka lakukan apa yang mereka mampu, tanpa mereka memilih dan memilah yang besar ataupun yang kecil. Karena mereka tahu bisa jadi yang kecil justru memadamkan api neraka untuk mereka.

Semoga kita senantiasa tidak pernah berhenti untuk istiqomah. Senantiasa pula kita tidak pernah memandang remeh satu amalan yang ada di hadapan kita selama kita mampu melakukan. Bisa jadi amalan itu ringan, tapi bisa jadi, pintu syurga terbuka lebar dengan amalan itu tanpa kita sadari.


Jumat, 4 September 2020 / 16 Muharram 1442 H
(Hari ke 15 di "Journey with Quran" Classroom)

Jumat, 04 September 2020

Kaidah 35 - 36

Bismillaah...

Kaidah 35 = Proposal Doa (Al Baqarah : 186)
Kaidah 36 = Bertaqwa Semampunya (At Taghabun : 16)


~RESUME~

Tahukah kita bahwasanya manusia itu diciptakan oleh Allah memiliki keterbatasan. Mereka bodoh, lemah serta mereka memiliki segala macam kekurangan yang melekat. Disitulah kita akhirnya memahami kenapa di dalam Islam, ada sebuah senjata yang tidak berwujud dan tidak berfisik, yaitu adalah doa. Karena sesungguhnya, doa itu menutupi segala kelemahan kita ketika kita meminta kepada Allah dalam segala urusan kehidupan kita.

Allah itu ridho kepada kita bukan hanya ketika shalat, tapi Allah itu ridho kepada kita ketika kita banyak berdoa dan meminta kepadaNya dalam segala urusan. Karena doa itu merubah yang mustahil menjadi mustajab. Karena doa itu merubah yang jauh menjadi dekat dan doa itu pula merubah yang tidak mungkin menjadi mungkin, ketika kita senantiasa mengetuk pintu langit dengan kita berdoa.

Sesungguhnya doa itu pembeda antara makhluk dengan khalik. Makhluk semakin diminta semakin sempit dadanya, sang khalik itu semakin diminta semakin besar ridhoNya yang Ia turunkan kepada hamba yang senantiasa meminta kepada-Nya dalam segala urusan.

Kalau kita lelah, mintalah doa kepada Allah supaya dikuatkan. Kalau kita sedang terbatas materinya, mintalah kepada Allah supaya kita diberikan kecukupan. Bisa jadi segala kesulitan yang kita dapatkan, karena kita tidak yakin ketika kita meminta kepada Allah. Allah itu Dzat yang paling senang kepada mereka yang jujur di dalam doa dan sesungguhnya indikator kejujuran di dalam doa adalah mengulang-ulang permintaan tanpa bosan dan tanpa letih.

Di sisi yang lainnya, kita juga mengetahui betul bahwasanya Allah memerintahkan kepada kita untuk bertaqwa. Kaidah dalam taqwa itu sederhana; lakukan apa yang Allah perintahkan, tinggalkan apa yang Allah larang. Bertaqwalah kita kepada Allah dalam urusan harta kita. Bertaqwalah kita kepada Allah dalam urusan anak-anak dan urusan istri/suami kita. Karena sesungguhnya ketaqwaan itulah yang akan menjadikan Allah memiliki alasan untuk menyelesaikan seluruh persoalan dalam kehidupan kita, ketika kita selalu tidak pernah bosan untuk menaikkan grid ketaqwaan kita di hadapan Allah.

Sesungguhnya bertaqwa kepada Allah merupakan kunci dari semua solusi dalam kehidupan kita. Siapapun yang merapikan hidupnya di hadapan Allah dengan menaikkan ketaqwaannya, maka itu menjadi alasan bagi Allah untuk merapikan kualitas hidupnya dalam kehidupan dunia dan akhirat.

Bertaqwalah kepada Allah sesuai dengan kemampuan. Bukan berarti ayat ini memberikan kepada kita alibi untuk melonggarkan apa yang harusnya kita maksimalkan. Semaksimal mungkin bertaqwa sesuai dengan kemampuan, setelah itu biarkan Allah yang menilai dan biarkan pula orang-orang yang beriman menilai apa yang kita lakukan, supaya hasilnya kita petik manis dalam kehidupan kelak di kampung akhirat kita.

Sungguh, taqwa adalah sebuah proses yang berujung manis kepada mereka yang senantiasa ikhlas dalam setiap usaha dan ikhtiar yang mereka lakukan.


Kamis, 3 September 2020 / 15 Muharram 1442
(Hari ke 14 di "Journey with Quran" Classroom)

Kamis, 03 September 2020

Kaidah 33 - 34

Bismillaah...

Kaidah 33 = Melupakan Dunia (Al Qashash : 77)
Kaidah 34 = Mengikuti Mereka (Al Baqarah : 120)


~RESUME~

Allah memberikan wasiat yang terbaik pada kehidupan setiap orang yang beriman, supaya mereka senantiasa berkonsentrasi dan fokus kepada urusan akhiratnya. Tetapi jangan melupakan bagian dari dunia yang dia pijak hari ini.

Dunia itu sejatinya adalah jembatan, bukan tujuan. Siapapun yang telah menjadikan dunia hanyalah pijakan ataupun jembatan menuju kepada urusan akhiratnya, dia akan bersahaja ketika mencarinya. Dia tidak akan menghalalkan segala macam cara untuk mendapatkan dunia yang sejatinya pasti akan dia tinggalkan ketika mati ataupun akan rusak dengan ditiupkannya sangkakala oleh malaikat Israfil. Sesungguhnya akhirat jauh lebih baik daripada urusan dunia, tapi bukan berarti dunia diceraikan dalam kehidupan orang yang beriman.

Salah besar orang yang mengatakan bahwasanya Islam menceraikan dunia karena Allah tidak pernah mengharamkan apa yang sudah Ia halalkan dalam urusan dunia selama itu dalam batas kewajaran. Carilah dunia untuk mendukung akhirat kita karena sebaik-baik dunia adalah dunia yang dimiliki sama orang yang shalih yang mendermakan hartanya pada jalan Allah untuk kebaikan agama Allah.

Sesungguhnya siapapun hari ini yang mengungguli kamu dalam urusan dunia, katakan kepada jiwamu, "Saya akan mengungguli dia dalam urusan-urusan akhirat". Dan siapapun hari ini yang terkejut dan terpesona dalam urusan dunia, katakanlah pada benda yang membuat kita terpesona pada urusan dunia, "Sesungguhnya kehidupan kami adalah kehidupan akhirat. Innal 'aisya, 'aisyul akhirah."

Inilah yang menjadikan kita memahami betul bahwasanya urusan dunia hanyalah perkara yang sejatinya harus diletakkan pada porsinya dan tidak usah untuk berlebihan.

Disini pula kita akhirnya mendapatkan, kenapa Yahudi disisakan oleh Allah diantara bangsa-bangsa yang lainnya? Bangsa Tsamud sudah hancur, bangsa Luth sudah luluh lantak, kenapa bangsa Yahudi disisakan oleh Allah? Supaya Allah mengetahui siapa yang akan berjuang pada agama ini dan siapa yang enggan untuk berjuang. Allah akan mengetahui siapa yang bersungguh-sungguh dan siapa yang bermain-main pada agama ini.

Sesungguhnya Yahudi dan Nashara, sebagian dari mereka tidak akan pernah ridha dengan apa yang diperbuat oleh orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Jangan berusaha/berupaya sekuat mungkin hanya untuk menarik simpati orang Yahudi dan Nashara, karena sejatinya sebagian mereka tidak akan pernah memberikan simpatinya kepada kaum muslimin. Carilah ridho Allah karena itulah hakikat kita ketika kita berdakwah, yang akan menjadikan diri kita mulia di hadapanNya dan akan berbuah manis pada kehidupan kampung akhirat kita.

Rasulullaah shallallaahu 'alaihi wasallam ketika berdakwah, pernah beliau berniat bahwasanya Yahudi dan Nashara, beliau harapkan menjadi kaum yang akan beriman pertama kali karena kedekatan kultur agama mereka pada agama yang disampaikan oleh Rasulullaah, tapi justru Allah mengatakan kepada Rasulullaah, sesungguhnya sebagian mereka tidak akan pernah ridho kepadamu wahai Muhammad. 

Dan itulah yang menjadikan kita memahami, Yahudi dan Nashara sebagian dari mereka tidak ridho kepada kaum muslimin. Sehingga kita harus mengetahui ini, supaya tidak perlu mengorbankan hal prinsip dalam kehidupan kita hanya untuk menyenangkan mereka yang sudah di nash oleh Allah tidak ridho kepada kaum muslimin.


Rabu, 2 September 2020 / 14 Muharram 1442
(Hari ke 13 di "Journey with Quran" Classroom)

Karena Kesabaranmu...

Bismillaah...

Kelak, para malaikat akan menyambut orang-orang yang akan masuk ke dalam syurga dengan ucapan,

سَلَـٰمٌ عَلَیۡكُم بِمَا صَبَرۡتُمۡ

"Salam sejahtera atasmu karena kesabaranmu."
(Surat Ar-Ra'd 24)

Seakan-akan syurga itu tidak dimasuki kecuali bagi orang-orang yang bersabar semasa hidupnya.

~Bersabar menjalankan perintah dan bersabar menjauhi larangan Allah~ 

Maka bersabarlah,
Atas segala kepahitan yang menimpamu
Atas segala ujian yang menghampiri hidupmu
Atas segala nikmat yang (mungkin) Allah sedang tunda
Atas kebersamaan dengan orang terkasih yang hanya "sebentar saja"
Atas segala keinginan yang Allah belum kabulkan

Maka bersabarlah...
Selalu lah mengingat janji Allah berupa syurga
Karena mengingat syurga adalah kekuatan terbesar bagi seorang mukmin sementara mengingat dunia adalah keletihan yang tidak berujung

Kaidah 30 - 31 - 32

Bismillaah...

Kaidah 30 = Jalan Keluar (Ath Thalaq : 3)
Kaidah 31 = Bergaul dengan Istri (An Nisa : 19)
Kaidah 32 = Janji Allah (Al Hajj : 47)


~RESUME~

Siapapun orang dalam kehidupan ini, ketika mereka senantiasa bertaqwa, ketika mereka memperbaiki serta meningkatkan kualitas hidupnya dengan Allah, maka Allah akan meningkatkan kualitas hidupnya dan akan memperbaiki seluruh kehidupannya di dunia. Karena kunci memperbaiki kehidupan kita adalah memperbaiki bagaimana hubungan kita dengan Allah subhanahu wata'ala.

Inilah yang menjadikan kita mengerti, ketaqwaan itu merupakan solusi dari seluruh permasalahan yang hadir di dalam kehidupan kita. Kalau tiba-tiba hari ini kita dihadapkan kepada suatu masalah yang berat, yang kita lakukan bukan hanya mencari solusi dalam diri selaku manusia, tapi penting juga untuk menaikkan ketaqwaan kita, karena dengan ketaqwaan itulah Allah akan memiliki sebab dan alasan untuk menyelesaikan masalah-masalah yang kita hadapi. 

Orang-orang yang bertaqwa, Allah akan memberikan kepadanya rezeki, bukan semata-mata dunia, karena rezeki itu cakupannya lebih luas daripada dunia. Dunia itu hanyalah angka deret, adapun rezeki adalah sesuatu yang jauh lebih dahsyat daripada ukuran dunia yang sering dipandang agung oleh kalangan materialisme. Sesungguhnya rezeki bergandengan erat dengan proses ketaqwaan manusia, karena orang-orang yang bertaqwa sejatinya tidak pernah kehabisan rezeki, yang selalu Allah cucurkan setiap waktu dan setiap saatnya.

Inilah pula yang menjadikan kita, setiap laki-laki tidak ada yang paling baik di dalam kehidupan ini kecuali laki-laki yang paling baik terhadap istri dan keluarganya. Siapapun yang mampu memenuhi haknya seorang wanita didalam apa yang dia butuhkan pada kehidupan ini, dalam urusan kebaikan akhiratnya, maka wanita akan memberikan lebih dari apa yang dia peroleh. Dia akan mendidik anaknya dengan cara yang terbaik, dia akan memuliakan suaminya selama dia mendapatkan haknya sebagai seorang istri.

Berbuat baiklah yang terbaik kepada istrimu, karena itu bukan merupakan anjuran, tapi itu merupakan ibadah yang dibebankan kepada setiap laki-laki. Siapapun yang telah memberikan haknya yang terbaik kepada istri, maka istri akan memberikan musim panen kepada laki-laki dengan hal yang terbaik pula.

Inilah yang menjadikan kita memahami, sesungguhnya sebaik-baik diantara umatnya Rasulullaah adalah orang yang paling baik kepada istrinya selama istrinya tidak melakukan nusus dan menyimpang dari apa yang diperintahkan oleh Allah. Sesungguhnya kebaikan istri berakibat kepada kebaikan anak dan berakibat pula kepada kelapangan dan kebahagiaan urusan keluarga.


Selasa, 1 September 2020 / 13 Muharram 1442
(Hari ke 12 di "Journey with Quran" Classroom)

Selasa, 01 September 2020

Kaidah 27 - 28 - 29

Bismillaah...

Kaidah 27 = Dosa Orang Lain (Fathir : 18)
Kaidah 28 = Timbangan (Al A'raf : 85)
Kaidah 29 = Musuh-musuhmu (An Nisa : 45)


~RESUME~

Hari ini kita belajar bahwasanya komitmen kita untuk mengikuti sunnah bukan hanya dalam perkara shalat, puasa ataupun haji, tapi komitmen kita ketika mengikuti sunnah yaitu adalah bagaimana mengkondisikan hati dan jiwa kita sesuai dengan apa yang Allah ridhoi. Semakin bersih hati kita, semakin bening jiwa kita, semakin tinggi posisi kita kelak dalam kehidupan syurga. Karena tidak ada perhatian yang paling besar yang Allah berikan kepada hati manusia kecuali perhatian Allah kepada hati dan kebeningan jiwa seorang mukmin.

Hari ini pula kita belajar bahwasanya kebaikan iman kita terletak pada komitmen kita untuk menjaga takaran dan timbangan dalam setiap perniagaan dan perdagangan kita. Siapapun yang culas di dalam mengurangi timbangan saudaranya, tidaklah apa yang diambil tidak sebanding dengan apa yang dia rasakan dari hukuman dan kerusakan. Maka hargailah setiap timbangan yang kita lakukan dalam setiap transaksi yang telah kita berikan. Seorang mukmin senantiasa mereka menyepakati syarat yang telah dia sanggupi.

Hari ini kita juga belajar bahwasanya setiap orang yang beriman pasti memiliki musuh. Allah memberikan kepada kita musuh, sejatinya Allah ingin melihat  siapa yang bersungguh-sungguh di dalam agama ini dan siapa yang bermain-main. Siapa yang sepenuh hati di dalam agama ini dan orang yang setengah hati di dalam agama ini. Karena musuh itu memicu kesungguhan kita di dalam memperjuangkan agama Allah. Sekuat apapun musuh-musuh Allah, sekuat apapun musuh-musuh Rasulullaah, sesungguhnya orang yang beriman lebih kuat daripada seluruh daya dan kekuatan orang-orang yang memusuhi agama Allah. Karena orang yang beriman, merekalah yang sejatinya bersandar kepada Allah dan orang yang bersandar kepada Allah tidak akan pernah kalah di dunia. Hidupnya mulia ketika hidup di dunia dan akan menjadi mulia dengan mendapatkan kemuliaan dalam kehidupan di akhiratnya.

Semoga kita mampu menjaga hati kita sekaligus pula menjaga komitmen kita untuk menjaga takaran serta bagaimana kita senantiasa yakin jalan perjuangan ini tidak akan pernah kalah ketika kita bersandar kepada Rabb yang sempurna dalam kekuatan dan keinginan serta kehendaknya.



Senin, 31 Agustus 2020 / 12 Muharram 1442
(Hari ke 11 di "Journey with Quran" Classroom)

Senin, 31 Agustus 2020

Kaidah 24 - 25 - 26

Bismillaah...

Kaidah 24 = Mencari Keridhoan (Al Ankabut : 69)
Kaidah 25 = Menakuti (Al Isro' : 59)
Kaidah 26 = Teliti Berita (Al Hujurat : 6)


~RESUME~

Hari ini kita belajar, siapapun yang bersungguh-sungguh dalam perjalanan kebaikan, maka dia akan mendapatkan garansi petunjuk yang Allah berikan kepada mereka yang bersungguh-sungguh. Siapapun hari ini yang sedang hijrah, bersungguh-sungguhlah sampai Allah memberikan kepadamu petunjuk. Siapapun yang sedang berbakti kepada orangtuanya, bersungguh-sungguhlah sampai Allah akan memberikan petunjuk. Karena siapapun yang istiqomah serta bersungguh-sungguh pada jalan ini, sesungguhnya Allah tidak akan pernah melewatkan kecuali Allah mengiringi mereka dengan petunjuk-petunjuk yang Allah turunkan dari langit.

Disinilah kita juga mengerti bahwasanya semua yang terjadi di alam semesta ini bukan terjadi karena kebetulan dan settingan, tapi semua yang terjadi di alam ini merupakan bagian dari hikmah yang Allah tetapkan supaya kita kembali kepada Allah. Janganlah kita melihat banjir, tsunami hanyalah data dan angka yang tidak kita kaitkan kepada Allah. Terjadinya gesekan lempeng bumi, terjadinya tsunami, tidaklah itu terjadi kecuali menakuti kita supaya kita kembali kepada Allah.

Inipula yang menjadikan kita memahami bahwasanya apapun yang kita dengarkan, maka pastikan kita bertabayyun. Dan tabayyun itu sejatinya dengan dua langkah: pastikan apa yang kita dengar dan apa yang kita lihat betul-betul terjadi dan pastikan bahwasanya yang terjadi adalah sesuai dengan konteks kejadian yang sebenarnya sehingga kita tidak sampai salah mengambil kesimpulan di dalam menyikapi saudara kita.

Semoga Allah merahmati kita.



Sabtu, 29 Agustus 2020 / 10 Muharram 1442
(Hari ke 10 di "Journey with Qur'an" Classroom)

Kaidah 21 - 22 - 23

Bismillaah...

Kaidah 21 = Orang-orang Benar (At-Taubah : 119)
Kaidah 22 = Pahala (Yusuf : 88-90)
Kaidsh 23 = Pintu yang Benar (Al Baqarah : 189)


~RESUME~

Hari ini kaidah Quran memberitahukan kepada kita bahwasanya kejujuran itu ibarat kapal yang menghantarkan kita kepada dermaga keselamatan. Karena kejujuran berbanding lurus dengan fitrohnya kehidupan manusia.

Imam syafi'i, diterangkan oleh ibnu Ma'in, muridnya, "Kalaulah kedustaan itu diperbolehkan, pastilah kewibawaan Imam Syafi'i yang menjadikan dia tidak berbohong".

Imam Auza'i pun berkata, "Kalaulah ada seruan di langit yang mengatakan diperbolehkan untuk berdusta, maka saya pun enggan untuk berdusta, karena kehinaan yang terletak pada kedustaan."

Kejujuran di dalam bisnis: mendapatkan kepercayaan dari customer dan bisa merumuskan kesuksesan di dalam kita berbisnis. Kalaulah di dalam urusan bisnis ternyata bisa sukses dengan apa yang kita lakukan ketika kita melakukan kejujuran, terlebih lagi dalam urusan akhirat kita tergantung kepada kejujuran kita. 

Kejujuran dalam perkataan, kejujuran dalam keyakinan dan kejujuran di dalam perbuatan.

Inilah pula yang menjadikan kita memahami bahwasanya bukan hanya kejujuran yang kita perlukan, tapi kesabaran dan ketaqwaan pun juga kita perlukan. Banyak orang yang menyangka sabar itu cukup, SALAH. Sabar itu sejatinya belum cukup sampai mereka bertaqwa. Bukankah maling banyak yang bersabar? Bukankah koruptor banyak yang bersabar? Tetapi orang yang beriman adalah mereka yang sabar dan bertaqwa, karena sejatinya kesabaran dan ketaqwaan saling memanggil dan bergandengan mesra.

Inipula yang menjadikan kita mendapatkan sebuah kaidah agung, datangilah sesuatu sesuai dengan pintunya. Temukan apa yang kita harapkan ketika kita menempuh seluruh prosesnya. Datangilah Allah dengan ilmunya karena Allah itu diibadahi dengn ilmu. Pastikan pula pasangan-pasangan hidup kita baik, ketika kita selalu tidak pernah berhenti berproses untuk menjadi baik. Karena segala sesuatu tergantung  pada proses yang kita tempuh sampai kita mendapatkan apa yang kita inginkan.


Jumat, 28 Agustus 2020 / 9 Muharram 1442
(Hari ke 9 di "Journey with Quran" Classroom)

Kaidah 18 - 19 - 20

Bismillaah...

Kaidah 18 = Rencana Jahat (Fatir : 43)
Kaidah 19 = Hukum Qishaash (Al Baqarah : 179)
Kaidah 20 = Dihinakan Allah (Al Hajj : 18)


~RESUME~

Hari ini Allah mengajari kita melalui kalam-Nya. Siapapun yang berjalan di atas kebenaran, sesungguhnya kebenaran tidak pernah mendekatkan ajal, sebagaimana kebenaran tidak pernah menjauhkan rezeki. Orang yang berjalan di atas kebenaranpun harus memaklumi ketika satu-persatu banyak orang yang menjadi musuhnya ketika ingin untuk memadamkan kebenaran yang dia usung. Ada di antara mereka yang membuat makar, tapi Allah menjamin dan menggaransi, siapapun yang membuat makar kepada mereka yang beriman kepada Allah tidaklah makar itu kecuali kembali kepada diri mereka sendiri.

Allah juga mengajari kita bahwasanya qishash itu terdapat kehidupan. Sesungguhnya efektifitas hukum Allah itu selalu jauh lebih tinggi daripada efektifitas hukum yang dibuat oleh manusia. Persentase negara yang menerapkan hukum qishash, jauh lebih mampu menekan angka pembunuhan dibandingkan negara-negara yang tidak menjalankan hukum qishash. Bukankah logika dan akal kita menerima, mata dibalas dengan mata, hidung dibalas dengan hidung, nyawa dibalas dengan nyawa, untuk menunjukkan kepada kita, hukum Allah itu sejatinya mewakili semua kebaikan pada kehidupan manusia.

Ditambah lagi, Allah juga mengajari kita, bahwasanya kehinaan itu bukanlah mereka yang miskin lagi papa, tapi kehinaan adalah mereka yang melampaui batas ketika melanggar larangan-larangan yang telah dibuat oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Inilah yang menjadikan kita harus senantiasa mengukur posisi kita, supaya posisi kita tidak semakin jauh dari Allah, ketika kita mudah bermaksiat kepadanya dalam kehidupan kita. Semoga Allah membimbing kita dan memuliakan kita dengan ketaatan yang kita lakukan.

Kamis, 27 Agustus 2020 / 8 Muharram 1442
(Hari ke 8 di "Journey with Quran" Classroom)

Kaidah 15 - 16 - 17

Bismillaah...

Kaidah 15 = Kesudahan yang Baik (Al A'raf : 128)
Kaidah 16 = Buruk & Baik (Al Maidah : 100)
Kaidah 17 = Kuat Terpercaya (Al Qashash : 26)


~RESUME~

Allah memberikan kepada kita angin segar di tengah panjangnya pengorbanan dan perjuangan yang harus dilakukan. Perjuangan untuk mencari harta yang halal, perjuangan untuk mendidik anak-anak kita, perjuangan untuk membela kebenaran serta menghadapi orang-orang yang benci kepada kebenaran, ketika mereka berjejer kepada kebathilan. Ayat yang memberikan kesegaran layaknya angin segar di tengah cuaca yang begitu terik, yaitu adalah ketika kita menjumpai Allah mengatakan, "Wal aqibatu lil muttaqin ”, “Sesungguhnya kesudahan yang baik itu hanyalah bagi mereka yang bertaqwa kepada Allah”.

Inilah yang menjadikan kita, hari ini siapapun yang sedang berjalan menuju kepada pengorbanan yang dia berikan kepada Allah, ada yang sedang berjuang meninggalkan harta yang haram, ada yang sedang berjuang untuk mendidik istrinya, ada yang berjuang untuk mendidik anaknya, ada yang berjuang untuk berbakti kepada orang tua. Perhatikanlah, Allah memberikan kabar gembira, sesungguhnya kesudahan yang baik itu hanyalah milik orang-orang yang bertaqwa.

Disinilah pula kita menjumpai bahwasanya tidak ada orang yang paling layak untuk memimpin kita di dalam kebaikan dan tidak ada orang yang layak untuk mengarahkan kita kepada ketaatan, dari orang yang kita jadikan pemimpin dan imam dalam setiap kegiatan kebaikan kita kecuali mereka memiliki sifat dua, yaitu adalah mereka yang kuat dan mereka yang amanah. Bukankah Nabi Sulaiman adalah kuat dan amanah, bukankah Umar bin Khattab kuat dan amanah, bukankah Abu Bakar itu adalah kuat dan amanah. Jangan menyerahkan urusan agama ini, yang kita daulat menjadi orang yang akan kita ikuti dalam kebaikan kecuali mereka memiliki sifat kekuatan dan keamanahan.
Semoga anak-anak kita akan menjadi kader-kader Islam yang mereka memiliki karakter kekuatan dan rasa amanah dalam diri mereka, supaya memberikan kontribusi kepada agama Allah.



Rabu, 26 Agustus 2020 / 7 Muharram 1442
(Hari ke 7 di "Journey of Quran" Classroom)

Kaidah 12 - 13 - 14

Bismillaah...

Kaidah 12 = Indikator Mulia (Al Hujurat : 13)
Kaidah 13 = Orangtua & Anak (An Nisa' : 11)
Kaidah 14 = Hawa Nafsu (Al Qashash : 48 - 50)


~RESUME~

Islam itu merupakan ajaran langit yang menyamakan seluruh kehidupan manusia. Antara yang putih ataupun hitam, apapun jabatannya, dan apapun finansial yang mereka miliki, kaya ataupun miskin, semuanya memiliki kedudukan yang sama. Yang membedakan cuma satu: bagaimana nilai ketaqwaan mereka di hadapan Allah. Itupun hanya Allah yang mengetahui dan bukan manusia yang mengetahuinya.

Perhatikan Bilal, kenapa Bilal begitu teguh mengucapkan kata ”Ahadun Ahad”, walapun ditindih batu oleh Umayah Bin Kholaf? Karena dia tahu bahwasanya di dalam keislaman, dia dimuliakan. Makanya ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam memasuki kota Mekkah dengan kemenangan besar, siapa yang diberikan amanah untuk mengumandangkan adzan? Yang diberikan amanah adalah Bilal, padahal itu merupakan peristiwa besar. Proklamasi kemerdekaan Rasulullah ketika memasuki kota Mekkah, mengajarkan kepada kita bahwasanya sebelum orang dan manusia hari ini berbicara tentang kemanusiaan dan persamaan hak di antara seluruh manusia, Islam menjadi terdepan ketika selalu menempatkan setiap manusia sesuai dengan keadaannya dan tidak membedakan mereka kecuali dengan ketaqwaan-ketaqwaan yang ada.

Ini pula yang kita akhirnya dapati, bahwasanya kalaulah kita menjumpai ada manusia yang tidak menerima kebenaran, sejatinya bukan karena mereka tidak memahami kebenaran. Karena sejatinya kebenaran telah disampaikan oleh Allah, Dzat Yang Maha Ilmu dengan begitu gampang dan sederhana, yang mana setiap orang sejatinya begitu mudah memahami kebenaran. Kalaulah kita hari ini melihat ada orang di luar panggung kebenaran dan mereka tidak merespon kebenaran, pastikan bukan karena mereka tidak mengerti kebenaran dan jalannya, tapi sejatinya karena mereka mengikuti hawa nafsu.

Semoga kita termasuk orang-orang yang senantiasa diberikan oleh Allah kekuatan untuk mengendalikan nafsu, supaya nafsu ini mengarah kepada ketaatan.



Selasa, 25 Agustus 2020 / 6 Muharram 1442
(Hari ke 6 di "Journey of Quran" Classroom)

Minggu, 30 Agustus 2020

Kaidah 10 - 11

Bismillaah...


Kaidah 10 = Menolong Agama (Al Hajj : 40)
Kaidah 11 = Fenomena Sihir (Thaha : 69)


~RESUME~

Allah mengarahkan kita pada dua kaidah yang kita kaji pada hari ini, bahwasanya orang yang besar itu adalah mereka yang memikirkan sesuatu yang besar, bukan sesuatu yang remeh-temeh dan recehan. Sesuatu yang besar itu adalah agama Allah. Sesuatu yang remeh-temeh itu adalah dunia dan seisinya serta pernik-perniknya.

Siapapun yang memikirkan sesuatu yang besar yang sejatinya akan membantu karir dia nanti di akhirat, itulah sejatinya orang-orang yang akan diberikan pertolongan oleh Allah. Tidak mungkin Allah akan menolong kehidupan kita di akhirat ketika kita tidak pandai untuk menolong agama Allah di atas muka bumi. Bukan karena Allah itu membutuhkan kita, bukan karena Allah itu lemah, sejatinya Allah Maha Kuat, tetapi Allah jadikan berbagai macam perkara untuk menjadi perjuangan bagi kita supaya Allah tahu siapa yang mencintai agama ini dan siapa yang membenci agama ini ketika tidak mau membela dan menegakkan agama Allah. Semoga kita hidup di antara visi dan misi besar kehidupan seorang mukmin, yaitu adalah menjadi besar dengan membantu agama Allah. Inilah yang menjadikan kita memahami betapa pentingnya membantu agama Allah dalam kehidupan kita.

Ini pula kita mendapatkan bahwasanya tukang sihir sehebat apapun mantra yang dia ucapkan, sehebat apapun ilmu hitam yang dia kuasai, sesungguhnya Allah mengabarkan kepada kita sebuah keimanan yang tidak perlu kita ragukan. Sesungguhnya tidak akan pernah beruntung tukang sihir. Siapapun yang bersandar kepada Allah, siapapun yang

mereka beriman kepada Allah dan siapapun yang membentengi dirinya dengan ayat-ayat Allah dan dzikir-dzikir yang diajarkan oleh Nabi, seluruh mudharat yang disampaikan dan dilakukan oleh tukang sihir sejatinya akan patah sebelum sampai kepada kita. Kalaupun kemudharatan kita dapatkan bukan karena kuatnya tukang sihir, tapi sejatinya karena itu merupakan bagian takdir yang Allah berikan kepada kehidupan kita.

Semoga kita selalu merasa kuat dengan ayat-ayat yang Allah berikan kepada kita, karena tongkatnya tukang sihir tidak akan pernah berkutik dihadapan ayat-ayat Allah.


Senin, 24 Agustus 2020 / 5 Muharram 1442 

(Hari ke 5 di "Journey with Quran" ClassRoom)