Tampilkan postingan dengan label Parenting. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Parenting. Tampilkan semua postingan

Senin, 08 Januari 2024

Catatan KOTS Januari 2024

Bismillaah..

- pentingnya memperbarui niat di awal2 aktivitas.
- berinteraksi dgn istri butuh ilmu, bgmn kalau marah, cemburu, semua butuh ilmu.
- bgmn mungkin qt menyuruh anak2 rajin menuntut ilmu sementara qt? kalau anak2 tiap hari, kita hanya sebulan sekali
- menerima rapor adalah evaluasi besar buat orang tua, karena bisa jadi kesalahan yg terjadi pada anak adalah kesalahan dr ortu.
- jika ingin mengevaluasi anak, jangan capaian akademik tp akhlaknya

- coba sesekali tanya ke istri, "apakah sy sudah menjadi suami yang baik?" agar bisa dievaluasi, apa yang harus dilakukan untuk memperbaiki. Dan sebaliknya, istri juga bertanya ke suami, apa yang harus diperbaiki.
- rasulullah kesholehannya berkesinambungan, maka pastikan anak cucu dan keturunan kita itu semuanya mentauhidkan Allah.
- semua anak2 harus kita usahakan dan mendidik agar menjadi baik, jgn sampai qt bilang, biarmi 1 baik, 1 nakal
- semakin banyak anak, semakin banyak jg yg mendoakan kita saat kita meninggal

- seperti ini rasulullaah berinteraksi dgn istrinya:
* menanyakan kabar istri di pagi / sore. jgn sampai qt tau kalau dia sakit saat badannya panas.
* beliau Rasulullaah membuat panggilan kesayangan kepada istrinya selain nama yang diberikan ortu nya. seperti yaa Humairoh atau ya Aisy. Jangan malu karena usia, walau sdh kakek nenek karena romantisnya semoga sampai ke syurga. visi kita jauh, sampai ke akhirat, bukan hanya sampai di dunia.
* rasulullah terbiasa membantu pekerjaan istrinya seperti cuci piring, membersihkan rumah, dll. Rasulullah biasa menjahit bajunya sendiri. jangan sampai tiba di rumah, langsung baring main hp, tapi kalau ada sesuatu yang ringan yg bisa qt kerja, maka kerjakan.
* membantu istri beliau (shofiyah) untuk menaiki hewan tunggangannya. ini bs qt terapkan minimal bukakan pintu mobil.
* istri beliau bersedih, rasulullaah sendiri yg mengusap air mata istrinya dgn tangannya sendiri
* beliau memperhatikan kebersihan dirinya dan aroma tubuhnya. hal apa yg pertama kali rasulullah lakukan sblm masuk rumah / kamar? aisyah menjawab: beliau bersiwak. jangan sampai di kantor harum, sampai ke rumah bau keringat.
* seni berinteraksi rasulullah --- karya syaikh al munajjid, bagus buat qt belajar bgmn berinteraksi kpd semuanya.
* bukan hanya keromantisan dlm rt rasulullaah, tetapi beliau jg mendidik para istrinya untuk menjadi teladan buat para wanita.
* suami harus lebih dan banyak ilmu untuk sesekali kita ajar dan mendidik ke istri kita. ketika ada kesalahan, kita kasi tau baik-baik.
* rt beliau jg tdk luput dr permasalahan, agar kita jg bisa mencontoh beliau ketika kita memiliki permasalahan, bgmn rasulullaah menghadapi masalah itu
* jika istri minta cerai, maka acuhkan saja, diamkan, karena akan berhenti sendiri
* masalah rasulullaah: haditsul ifki (annur), hadits yg turun untuk mensucikan ibunda aisyah.
* shofwan bin muattol yg menemukan aisyah: kalimat istirja'
* abdullah bin ubay yg paling kencang menyebar fitnah dan rasulullah terpengaruh tp beliau tdk langsung menjudge, beliau bertanya dulu ke ali bin abi thalib, usamah bin zaid, zainab binti jahsy dan mariyah, mengumpulkan informasi.
* kalau qt melihat istri / suami qt asalnya banyak melakukan kebaikan, maka jangan langsung menjudge hanya karena 1 kesalahan.
* beliau tdk tergesa2 menyimpulkan tetapi beliau mengubah sikap beliau agar istrinya sadar, dan mengumpulkan infomasi dr org lain lalu bertanya dengan jelas langsung kepada istrinya.
masalah berikutnya: istri2 beliau meminta tambahan nafkah. bertengkar tdk menyelesaikan masalah, berdebat tdk menjadi solusi, memberikan pilihan kepada istri.


7 Januari 2024
Mesjid Babul Muttaqin Dg. tata
Oleh Ust Abbas hafidzahullaah

Senin, 08 Agustus 2022

VISI KELUARGA MUSLIM

Bismillaah..

Salah satu cara meminta kepada Allah secara halus adalah dengan banyak bersyukur.

Ideologi berperan dalam kehidupan. Manusia mengendalikan ideologinya sesuai dengan kemauannya.
Dalam lembaga pendidikan, agar bisa berjalan dengan baik, maka pribadi dan fasilitas harus diatur oleh Qur'an dan Sunnah. Jika fasilitas diatur oleh pribadi, maka akan rusak. Dan yang paling parah adalah ketika fasilitas yang mengendalikan kita (pribadi-pribadi).

Ulama adalah pewaris para Nabi. Kalau ulama rusak, maka akan rusak pula tatanan kehidupan ini. Itulah sebab, anak-anak sebagai calon ulama harus dipersiapkan dengan baik.

Pendidikan keluarga memegang peranan penting. Keluarga merupakan Lembaga pendidikan pertama yang memperbaiki.

Visi misi keluarga sangat penting.

Kita perlu mengevaluasi visi misi keluarga kita, apakah sudah terinspirasi oleh Al Qur'an?


🍇 VISI KELUARGA MUSLIM

Ayat pertama

(وَٱلَّذِینَ یَقُولُونَ رَبَّنَا هَبۡ لَنَا مِنۡ أَزۡوَ ٰ⁠جِنَا وَذُرِّیَّـٰتِنَا قُرَّةَ أَعۡیُنࣲ وَٱجۡعَلۡنَا لِلۡمُتَّقِینَ إِمَامًا)
Dan orang-orang yang berkata, “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.”
[Surat Al-Furqan 74]

Ayat ini, menyebutkan salah satu karakter ibadurrahman. Doa dalam ayat ini harusnya menjadi wirid harian terutama bagi ayah.

Istri tidak hanya harus menunaikan kewajibannya, tetapi lebih dari itu. Ia harus menjadi qurrota a'yun, sebagaimana dalam hadits Rasulullaah ketika ditanya siapa wanita yang baik dalam Islam,

سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ النِّسَاءِ خَيْرٌ قَالَ الَّذِي تَسُرُّهُ إِذَا نَظَرَ وَتُطِيعُهُ إِذَا أَمَرَ وَلَا تُخَالِفُهُ فِيمَا يَكْرَهُ فِي نَفْسِهَا وَمَالِهِ

Artinya: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya; “Wanita yang bagaimana yang paling baik?” Beliau menjawab: “Jika dipandang (suami) ia menyenangkan, jika diperintah ia taat, dan ia tidak menyelisihi suaminya dalam perkara-perkara yang dibencinya, baik dalam diri maupu harta.” (HR. Ahmad)

Pemegang kuasa penuh atas tumbuh kembang Anak adalah Allah.

Selalu melibatkan Allah dalam segala aktivitas kita.

Ya Muqallibul qulub…
Istri dan keturunan adalah penyejuk jiwa juga permata hati merupakan karunia terbesar..
Mereka bukan penghalang untuk masuk surga.
Parameter qurrata'a'yyun sesungguhnya adalah ketakwaan.
Boleh, dianjurkan seseorang untuk dipilih dan keturunan sebagai pemimpin bagi orang yg bertaqwa
Waj'alna lilmuttakina imama
Menjadi pemimpin yg berkualitas.
Pemimpin orang yang bertaqwa= pahala menjadi berlipat lipat.

-Harus diupayakan

Ayat ke2
QS.at Tahrim : 6

Tugas utama kepala RT untuk masuk surga, melindungi keluarga dari api neraka
Hari akhirat telah ditetapkan, surga dan neraka itu ada. Dan wajib diimani
Keimanannya kepada hari akhir adalah tarbiyah penting.
Iman kepada Allah
Iman kepada hari Akhir
Karakter malaikat penjaga neraka sesuai dg tugas dan tempat
Sikap malaikat penjaga neraka yg kasar, keras, begis
Berupaya agar tidak jadi Bahan bakar neraka
Manusi dan batu BBN
Karakter dasar Malaikat itu tdk pernah membantah perintah Allah, apapun yg ditugaskan.
Mencontoh sifat dan karakter Malaikat

Ayat ke3
QS.At Thuur: 21

Harapan berkumpul dan bersama di Surga Allah
Allah itu Maha adil. Sangat Adil, Allah tdk pernah berbuat dzalim.
Sekecil apapun keburukan dan kebaikan pasti akan dibalas.
Balasan setiap amalan itu beragam.
Setiap orang disandera oleh amal perbuatannya masing masing
Biasakanlah beramal yg positif.

Tahapan pendidikan
*Penguatan di sektor Akidah
*Aqidah mewarnai perilakunya

Jiwa harus bersih
*membekali ilmu ilmu penunjang agar bisa interaksi sosial dan muamalah
*Memancing dan mengasah skill anak



...catatan kajian ots Kuttab Al Fatih Makassar...

8 Dzulhijjah 1443 H / 18 Juli 2021
Di Masjid  Darussalam Muhammadiyah, Tamangapa Antang

Kamis, 11 Maret 2021

Tantrumnya Hanin

Bismillah...

Tantrum itu apa? Kalau menurut saya, tantrum itu.. ungkapan perasaan anak yang "berlebihan", biasanya dengan menangis (tidak seperti biasanya), berguling-guling di lantai / tanah ataukah melempar barang yang ada di sekitarnya. Tantrum biasanya di usia 3 sampai 4 tahun ke atas. Namun, setelah baca-baca dan mendengar penjelasan dari pemateri parenting, katanya tantrum bisa dimulai dari usia 1 tahun. 

Tantrumnya Hanin, cepat sekali menurutku, kalau dibandingkan dengan saudaranya yang lain yaa. Ataukah saya masih belum sadar kalau anak bungsu ku ini sudah bukan bayi lagi?!

Sangat menguji kesabaran saat tantrumnya datang. Kadang, hal sepele (menurut ku), misal dia mau sesuatu yang sudah habis atau tidak ada stoknya. Kadang juga tidak jelas masalahnya, misal bangun tidur yang dilanjut nangisnya lama. Dugaan sementara, tantrumnya karena dia kesepian. Kakak-kakaknya di rumah yang satu, dia di rumah yang lain. Tapi susah juga, karena gak mau pisah sama umminya. Di ajak main sama kakaknya, gak mau. Mau sih kalau umminya ikut juga.

Ya, sejak habis sakit beberapa pekan yang lalu, sampai sekarang (sudah sembuh, alhamdulillaah), Hanin melengket sekali sama saya. Ditinggal mandi atau sholat (tanpa izin sama dia), nangis nya kayak sudah ditinggal berhari-hari. Walau begitu, di satu sisi saya bersyukur dan menikmati masa-masa ini, usia anak 0-5 tahun yang seharusnya mereka belajar dan dekat dengan umminya.

Hari ini, kembali membawa Hanin ke rumah orang tua untuk main bersama kakaknya, disebabkan karena pagi tadi tantrum lagi. Saya tau dia kesepian. Saat tiba di rumah orang tua, dia ceria, tapi tetap saja menjaga saya biar gak kemana-mana. Walau pada akhirnya saya bisa pergi sembunyi-sembunyi.

Sore tadi, ada 'undangan' zoom yang Aba kirim ke grup keluarga, temu via zoom dengan ponakan di Arab. Saat saya masuk, saya aktifkan video dan menyapa Musa, ponakan Arab yang belum pernah bertemu langsung. Saya lupa kalau ada Hanin yang sudah aktif duluan.

Ziyad: "Ummi, na pukulki Hanin kamera ta' (video ku di zoom)"

Saya lalu menyapa Hanin, eh tambah nangis. Akhirnya saya diam dan menonaktifkan video. Di rumah sana, saya melihat Aba sibuk mendiamkan Hanin. Dan juga terdengar suara-suara lain yang membujuk Hanin berhenti nangis.

Sampai Hanin terdiam dan saya menganggap suasana aman, saya lalu  kembali membuka video tapi tetap menonaktifkan suara. Tiba-tiba, Hannan nyeletuk,

"Raidah Muharrikah dilarang bicara."

"Hanin... bukan ummi ini, tapi Raidah Muharrikah."

"Raidah Muharrikah, janganki bersuara nah, matikan suara nya'"

Hahaha..

Baru kali ini saya ikut zoom, mau bicara tapi dilarang.

Akhirnya, cuma bisa memandangi wajah anak-anak dan ponakan di layar hape tanpa sapaan. Karena jika saya nampak di layar zoom dan mengaktifkan audio, suasana pertemuan 'rusak' dan hanya didominasi oleh tangisan Hanin.

Semoga cepat berlalu "tantrumnya Hanin".


Temu Bocah


Ilma, 1 Maret 2021

Rabu, 13 Januari 2021

Bersyukur!

Bismillaah...

Semalam, ada chat dari Ziyad yang lagi di Sinjai.

"Ummi, kasi tauki Hannan, banyak kudapat uang."
#kirim foto lagi pegang uang#
Ceritanya, Ziyad lagi 'pamer' seakan mengatakan pada Hannan, "Siapa suruh nda ikut ke Sinjai".

Semalam memang ada "competition" bersepupu (dari abinya) yang disponsori oleh om nya disana. Biasanya, siapa yang menang akan banyak juga uang yang dia dapat. Entah Ziyad semalam menang atau bagaimana, yang jelas, di foto yang dia kirim, ada uang biru 😅.

Chatnya hanya terhenti di saya, tidak disampaikan ke Hannan. Namun, dalam perjalanan dari toko balik ke rumah tadi, saya menyampaikan ke Hannan,
"Hannan, yang namanya rezki itu, Nak, bukan cuma uang. Kalau misalnya Ziyad di Sinjai dapat banyak uang, jangan ki' iri nah. Ziyad dapat uang tapi dia nda pergi jalan-jalan. Kita' kemarin enak toh pergi jalan-jalan? Naik bebek-bebek trus makan enak. Itumi rezki ta qt yang Ziyad nda dapatkan. Mengerti meki?"

Hannan: "Iya, tapi nanti mauka kasi tau Ziyad kalau darika' jalan-jalan sama Aafiyah (sepupunya)."

Saya : "Nda usah dikasi tau. Nda semua yang kita dapat itu harus diceritakan."

Hannan mengangguk.

***

Bersyukurlah atas setiap nikmat yang Allah karuniakan kepada kita. Allah membagi rezki nya sesuai dengan kebutuhan hambaNya. Apa yang sampai pada kita, itulah yang terbaik.

Jangan pernah membandingkan dengan kehidupan duniawi orang lain yang lebih di atas kita. Namun dalam hal duniawi, lihatlah ke bawah. Lihatlah orang-orang yang Allah tidak berikan mereka seperti apa yang Allah berikan pada kita.

Maka, bersyukurlah selalu!


Selasa, 12 Januari 2021

Surga Dibawah Telapak Kaki Ibu (?)

Bismillah...

"Ummi, syurga bede' ada di bawah telapak kaki ibu?", tanya Ziyad suatu malam, saat saya menyuruh nya memijat kaki.

"Iye."

Dia lalu mengecek telapak kaki ku, mengamati dan menerawang 😂.

"Kenapa pale nda ada kuliat syurga di (telapak) kaki ta', Ummi?"

Ya Allah, Nak 😂😂😂 #auto pijit kepala yang nda sakit 😂

***

Kalau lagi capek trus dapat celotehan kayak gini tuh, maasyaAllah, capeknya jadi hilang. 
Anak-anak itu polos banget ya. Kadang, kata yang keluar dari mulut mungilnya itu sesuatu yang di luar perkiraan. Apalagi pertanyaannya yang jawabannya itu susah susah gampang. Banyakan susahnya sih, mesti cari kata-kata yang pas buat seusia nya. Kalau salah jawab, pembahasannya akan panjaaaaang.

Kalau pertanyaannya tentang hal duniawi trus salah jawab, masih mending. Kalau masalah akhirat/agama dan salah jawab, subhanallah 😷. Jadi... walau sudah berumur, walau sudah berekor dan agak sulit menangkap pelajaran, ibu-ibu tetap HARUS belajar. Karena menuntut ilmu itu adalah sepanjang usia kita. Jangan banyak "tapi", jangan banyak "alasan". #reminderforme

Semoga Allah senantiasa memberikan kekuatan dan keistiqomahan kepada ummahat semuanya, aamiin.

Sabtu, 09 Januari 2021

Homeschooling

Bismillaah...

Niat lama kembali muncul setelah membaca kisah tentang anak-anak homeschooling yang diceritakan oleh saksi "kesuksesan" mereka. Bukan hanya datang dari 1-2 keluarga, tapi seringkali saya mendengar, anak-anak yang homeschooling itu lebih sukses dan bermanfaat serta ber-akhlaqul karimah. Menjadikan anak-anak kita anak yang shaleh, berakhlak yang baik serta bermanfaat buat agama dan sesama serta sukses dalam hal duniawi tentu adalah tujuan semua orang tua untuk anak-anaknya.

Dulu, sewaktu anak baru 3 dan usia sekolah sudah menghampiri mereka, muncullah kekhawatiran demi kekhawatiran di diri saya sebagai ummi dari mereka. Kekhawatiran itu hanya tentang akhlak dan keadaan anak-anak dengan arus zaman yang makin hari makin aneh, tidak seperti dulu. Maka wajar, jika di zaman sekarang, bermunculan lah para pelaku HS (Homeschooling).

Begitupun dengan saya. Sempat waktu itu, saya mengutarakan maksud/niat saya kepada suami untuk meng-HS-kan anak-anak. Diizinkan. Namun, seiring berjalannya waktu, pada akhirnya kami tetap memasukkan anak-anak ke sekolah formal.

Itu dulu. Ketika niat muncul tenggelam dan akhirnya karam. Namun sekarang, niat itu kembali menyeruak. Rasa-rasanya, ingin meng HS kan saja semua anak-anak. Bukan tanpa sebab. Hampir setahun terlibat langsung menjadi "guru" buat mereka, saya semakin merasa bahwa pelajaran hari demi hari, rasanya hanya berputar di itu-itu saja. Bertele-tele dan terlalu lama. Ada banyak hal yang mestinya harus dipelajari namun tidak diajarkan secara formal di sekolah. Pelajaran dan tugas-tugas yang diberikan, rasanya hanya menjadi beban dan sesuatu yang menghantui buat anak, terlebih orang tuanya.

Walau niat itu ada, namun jika tidak ada dukungan dari lingkungan sekitar, mungkin niat ini tidak akan pernah terwujud. Namun, saya sangat berharap, jika misalnya HomeSchooling ini tidak bisa saya terapkan di ketiga anak saya, minimal di Hanin, si bungsu lah yang akan mendapatkannya.

Semoga kelak Allah izinkan, Allah mudahkan dan Allah panjangkan umur saya agar bisa mendidik anak-anak menjadi manusia bertaqwa, berakhlak dan bermanfaat.

Rabu, 23 September 2020

Toilet Training nya Hanin

Bismillaah...


"Mi, kenc*ng ka'. Mi, b*la ka",
pernyataan dari Hanin yang jika terdengar oleh saya, apapun kegiatan saat itu, walau lagi tidur sangat nyenyak, langsung terhenti dan terbangun lalu bergegas membawa nya ke wc. Alhamdulillaah, di usianya kini yang hampir 27 bulan (2 tahun 3 bulan), sudah bisa buang hajat di tempat yang seharusnya.

Salah satu masa yang harus dilalui oleh seorang anak dan ibunya adalah masa toilet training. Selainnya ada masa penyapihan juga. Dan kedua masa ini adalah masa yang membutuhkan kesiapan antara anak dan ibu (yang paling utama) dan juga anggota keluarga lain.

Flashback ke awal-awal Hanin toilet training, sempat maju mundur untuk memulai. Sebelum usianya pas 2 tahun, sempat memulai, yang pada akhirnya saya kembali lagi ke popok. Waktu itu karena saya nya lebih sering keluar rumah, jadi mau tidak mau Hanin mesti pake popok.

Hingga kembali saya memikirkan, kira-kira kapan lagi saya bisa memulai. Akhirnya memutuskan, memulainya di saat saya lagi "cuti" sholat saja biar gak terlalu kepikiran sama najis, bersih-bersih dan kalau tiba-tiba mau pipis atau pup bisa langsung saja dibawa ke wc.

Bismillaah...
Dimulai akhir Juni. Di hari pertama, pas Hanin bangun langsung di sounding,
"Hanin, hari ini Hanin belajar lepas popok nah. Jadi kalau mau pipis atau pup, bilang sama ummi.
Ayo berdoa dulu sama Allah supaya Allah kasi Hanin dan Ummi kemudahan".

Entah mengerti atau tidak, saya tetap menuntun Hanin untuk berdoa.
"Laa Hawla wa Laa Quwwata Illaa Billaah. Ya Allah, bantu Hanin dan Ummi untuk bisa melalui proses ini dengan mudah."

Dan, maasyaallaah, ketika kita memang melibatkan Allah, maka segalanya terasa mudah. Tanpa pertolongan Allah, kita gak bisa apa-apa. Terbukti di Hanin, Alhamdulillaah tidak ada kendala yang berarti, semuanya bisa dilewati dengan mudah, atas izin Allah.

2 bulan lebih, Alhamdulillaah sudah gak pernah pake popok lagi. Walau keluar rumah, juga sudah gak pake lagi. Pun kalau tidur malam. *Padahal popoknya masih banyak karena sebelumnya terlanjur beli banyak, lupa kalau usianya sudah hampir 2 tahun*

Walau begitu, selama 2 bulan ini, gak selamanya juga Hanin kalau mau buang hajat itu di WC. Kadang kebelet yang akhirnya pipis di celana, kadang juga kalau lagi gak diperhatikan (jadwalnya) atau dia lagi sibuk main. Tapi alhamdulillaah sejauh ini, ia lebih sering bilang jika ada keinginan.
*Kadang-kadang juga walaupun gak mau, tetap bilang mau pipis, ataukah ia baru saja dari wc, trus bilang mau pipis lagi. Kalau kayak gini, kentara kalau mau main air 😂.*

Alhamdulillaah, terlewati lagi 1 momen penting dalam perkembangan Hanin. Waktu berlalu terasa cepat. Ada rasa haru ketika mengingat Allah masih mengizinkan saya untuk menyaksikan dan turut serta di momen ini. Sangat betul, "Masa anak-anak itu SEBENTAR saja". Maka nikmati setiap prosesnya, nikmati setiap riuhnya, nikmati repot dan capeknya, nikmati tangis-tawa-celotehnya. Karena kelak, masa-masa ini hanya akan menjadi kenangan dan menyisakan rindu.


Samata,
5 September 2020 / 18 Muharram 1442

Sabtu, 22 Agustus 2020

School From Home (SFH)

 Bismillaah...

Kalau lagi hari sekolah, waktu ku terbagi 4, sesuai jumlah anak 😷.

Pagi, siang, sore, malam. Anak-anak bergantian diajar, tergantung siapa yang duluan siap atau materi siapa yang lebih duluan ada di grup masing-masing.

1 anak biasanya 2-3 pelajaran. 1 pelajaran butuh waktu paling cepat setengah jam. Setengah jam itu full diajar atau kerja tugas, gak ada adegan bujuk membujuk, ngambek, marah, istirahat, guling-guling, tantrum, bertengkar sama (saudaranya) yang mengganggu, izin urus Hanin yang lagi di WC, atau izin mau minum sebentar padahal lamaaaa dan setelahnya ntah hilangnya kemanaaaaa gitu.

Kalau berjalan mulus di ketiga anak, paling cepat biasanya selesai di jam 3 menjelang sore. Kalau tidak, siap2 berdagang 😂 eh begadang.

Trus malamnya, akan berefek di suara yang serak, tenggorokan sakit, lelah (pake banget) yang ujung-ujungnya kepala juga ikutan sakit. Mau ngeluh? Iyaaa... dan itu normal kan?!

Tapi, ingat, ini ladang pahala yang Allah bentangkan, tinggal kita yang harus berjuang melewatinya.

Susah? Iya. Tapi, kita mau salahkan siapa? Mau salahkan gurunya/sekolahnya? Memangnya yang punya anak siapa?

Mau salahkan keadaan? Tidak mungkin juga karena semuanya adalah takdir Allah yang harus kita jalani, suka ataupun tidak. Menyalahkan keadaan sama dengan menyalahkan Allah.

Lalu bagaimana?

Jalani dengan sabar dan ikhlas, niatkan sebagai pahala buat kita dalam mendidik anak. Berat? Sudah tentu. Apalagi yang "sendirian". Kalau ada pasangan, mungkin semua rasa bisa kita bagi biar gak berat sendiri, gak stress sendiri. Tapi kalau sendiri? Jangan lupa ada Allah, sebaik-baik tempat curhat dan penolong dalam setiap urusan.

Juga selalu ingat tanggung jawab kita sebagai orang tua. Kelak kita akan ditanyai tentang anak kita, tentang apa yang kita tanamkan pada diri mereka.

Ingat saja SYURGA, maka hatimu akan selalu lapang menerima setiap kepayahan dalam hidup. Karena,

لِّیُدۡخِلَ ٱلۡمُؤۡمِنِینَ وَٱلۡمُؤۡمِنَـٰتِ جَنَّـٰتࣲ... 

Allah masukkan "Syurga" ke dalam hati orang beriman (laki-laki dan perempuan),

yang dengannya hati orang beriman akan menjadi tenang.

Lalu kebaikan apalagi yang kita cari setelah Allah menjanjikan syurga?


Samata, 20 Agustus 2020

Jumat, 07 Agustus 2020

Tak Ingin Berlalu

Bismillaah...

Belum kelihatan kapan pandemi ini berakhir. Kapan Allah akan cabut ujian ini dari kita semua. Tapi satu yang perlu diingat, anak anak di rumahmu, tidak akan selamanya. Pandemi atau tidak, berangsur-angsur kita akan menyesuaikan. Perlahan tapi pasti, pondok-pondok pesantren mulai dibuka. Sekolah dgn protapnya sdh mulai masuk. Mau tidak mau. Semua dengan caranya masing-masing.               

Tidak sadar kita, bahwa 4 bulan terakhir ini, kita telah ‘dihadiahi’ Allah anak-anak kita kembali. Semua kumpul di rumah. Lengkap dengan riuh rendahnya, berantem dan belajarnya. Iseng dan bercandanya. Makan yang tiada hentinya. Kelihatannya ruame puol nggak habis habis. 

Stock makanan harus ditambah terus, belum cemilan. Rumah rapi hanya semenit dua, tenang jika semua sudah terlelap saja. Rasanya lelah. Kita ingin semua segera berakhir, kembali normal seperti sediakala.

Benarkah?

Mau kembali lagi seperti sediakala?

Tidak akan kehilangan semua keriuh rendahan ini? Persis seperti ketika mereka masih kecil dulu.

Sebagaimana pandemi ini menyergap kita tanpa peringatan dan tiba-tiba. Semua keseruan ini juga perlahan akan tiada. Rumah kembali sepi dan bersih. Seterusnya.. hingga kita tua.

Well, mungkin pada kumpul setahun dua kali saja.

Benarkah? 

Kita mau menggantikan kehangatan ini dengan segera?

Seperti lagu kemesraan yang pernah kondang, untuk saya “kemesraan ini.. janganlah cepat berlalu. Kemesraan ini, ingin kukenang selalu.”

Saya tahu ini nggak akan lama, cepat atau lambat, mereka akan kembali mengepakkan sayapnya, meninggalkan sarangnya.

Saya ingin menggunakan hadiah dari Allah ini untuk menikmati mereka, tertawa atas lelucon-lelucon dan perbuatan lucunya. Menikmati memeluk mereka kapan saja, sambil berbisik ke telinganya “Mama sayang kamu selamanya ya.. kamu akan jadi anak hebat ya nak. Allah akan sayang senantiasa. Doa mama selalu. Jaga mama kalau sudah tua ya, I 💗 you nak.” 😢

Sungguh Allah, terima kasih akan hadiah ini. I will enjoy it while it last. Yes, this wont last forever. Enjoy your children peeps. 💗 ya’.

-Wina Risman

***

Sangat sepemikiran dengan tulisan ini. Walaupun lelah, walau tak punya waktu senggang, walau terkadang tak tidur malam karena melewati batas tidur hingga mata tak bisa terpejam, walau keriuhannya terkadang bikin sakit kepala, walau beberapa urusan lain ada yang terbengkalai, saya sangat menikmati masa pandemi ini. Inginnya masa ini tak akan berlalu, terus seperti ini, anak-anak belajar di rumah.

Di saat ibu lain ingin sekolah segera dibuka, saya tidak. Karena mungkin inilah cara Allah memberi waktu buat saya untuk mengajar anak-anak melalui tangan saya sendiri. Sangat berat apalagi hanya sendiri menghadapi 3 anak yang berbeda tingkatan. Belum lagi 1 balita yang juga suka cari perhatian jika kakak-kakaknya diajar, entah mau minta diajar juga, atau minta makan dan disuap, ataukah masuk ke WC berulang kali jika luput dari pengawasan.

Tapi, bukankah pahala sesuai dengan beratnya tantangan?

Maka, nikmatilah, karena waktu seperti ini hanya SEBENTAR SAJA.


Samata, 17 Dzulhijjah 1441 H / 7 Agustus 2020 M

Sabtu, 11 Juli 2020

Quality Time

Bismillaah...

Sebelum tidur itu sebenarnya waktu yang paling baik untuk memasukkan sesuatu ke pikiran anak-anak (dibawah 10 tahun). Bisa dibilang, quality time nya ya pada saat-saat sebelum tidur, 30-60 menit waktunya, tidak lebih. Dan usahakan, jauhkan HP/laptop/komputer dan segala sesuatu yang bisa menjadi "orang ketiga".

Kalau kita, orang tua betul-betul memanfaatkan waktu ini, maasyaallah sekali efeknya. Ada rasa bahagia buat kita (orang tua) saat anak2 bisa tertidur dengan pendampingan kita, begitupun (mungkin) dengan anak-anak. Itulah sebabnya, orang tua yang kerja mulai dari pagi hingga malam, hendaknya jangan sampai melewatkan waktu ini.

Akan kita temukan segala macam pertanyaan mereka yang begitu polos, rasa ingin tahu yang begitu besar, tanya ini tanya itu, disuruh mengulang hafalan pun mereka mau -InsyaAllah-.

Seperti hari ini, 60 menit menjelang tidur, ada banyak istilah dan kalimat-kalimat menghibur dari anak-anak yang saya dapatkan.
Ketika Hannan lagi mewarnai gambar tangan, saya mengatakan, "Cobaki gambar tangannya Hanin". Lalu Faqih bilang, "Cobaka juga gambar tangannya abi, siapa tau tangan bisa berubah jadi keNangan". Entah nyambung dimana. Lalu Ziyad dengan polosnya merajuk, "Ummi, mauka' juga jadi kenangan", dan dijawab sama Faqih, "Kalau mauki jadi kenangan toh, mati meki dulu."

😂😂😂

Kemudian, tidak lama setelah itu saya menegur Hannan, "Janganki suka pake **p**i* nah, karena nanti rusak *i***ta', itu keringmi. Liatki ini ummi, nda pernah pake **p**i* jadi bagus".
Hannan: "Ih, pernahki pake deh, waktu ta' menikah, ada foto ta', *a**** pake begitu."
"Mauki juga *a**** begitu? Menikahmeki'.. mauki kah dikasi menikah? Sama siapa?", lanjutku.
Hannan berpikir...
Saya melanjutkan, "Kalau mauki menikah sama orang yang baek, jadi baekki juga. Kalau suka ki marah-marah, nanti sama yang suka ki juga marah-marah".

Faqih dan Ziyad langsung ikut di pembicaraan. Dan berentetan lah pertanyaan seputar pernikahan, terutama seputar ummi dan abinya.
"Ummi, dimanaki' menikah?", tanya Faqih.
"Ummi, adami Faqih waktu menikahki?", tanya Ziyad, yang bikin saya tertawa 😂

Dan semua pertanyaan panjang kali lebar dan ke kepoan tingkat tinggi diakhiri dengan seruan dan perintah, "Faqih, matikan lampu. Ayo tidur smua, nanti terlambat sholat shubuh", kataku.

Setelah lampu padam, satu persatu mereka tertidur, kecuali Faqih dan saya tentunya. Saya bangun dan menuju ke rumah sebelah karena haus. Eh, ada Faqih yang ikut di belakangku.
Trus balik lagi ke kamar, Faqih nyalakan lampu yang tadinya sudah dipadamkan.
"Ummi, nda bisaka tidur kalau mati lampu, menderita mataku."

Astaghfirullaah, awalnya saya ngantuk berat akhirnya gak bisa tertidur gara2 memikirkan "mata menderita itu kayak gimana". 😂


#latepost

Samata, 3 Juli 2020

Selasa, 17 September 2019

Anak adalah Potret Orang Tuanya

Suatu saat Fudhail bin 'Iyaadh (semoga Allah merahmatinya) melihat putranya membersihkan  daun timbangan dengan ujung bajunya.
Maka beliau bertanya kepadanya : wahai anakku kenapa engkau melakukan itu...?
Maka anaknya menjawab : Wahai bapakku, aku tidak ingin menambah berat daun timbangan ini dengan debu jalanan sehingga merugikan kaum muslimin...!
Mendengar kata-kata anaknya maka Fudhail menangis seraya berkata : Wahai anakku...
Apa yang engkau lakukan ini lebih aku cintai dibandingkan dengan 2 kali pergi haji dan 20 kali pergi umroh...!

Note : Anak adalah potret dari hasil pendidikan orang tuanya. Apabila orang tuanya mulai semenjak dini mendidik dan membiasakan anak-anaknya dengan amalan yang utama dan menanamkan pada diri mereka sifat-sifat yang terpuji. maka, cetakan ini akan tampak pada prilaku anak anaknya.
Dan mereka berkembang sesuai dengan apa yang dibiasakan oleh orang tuanya...
siapa yang menanam kebaikan kemudian merawatnya maka ia akan memanen hasil keringatnya sesuai dengan apa yang ia harapkan demikian juga sebaliknya...
Tentunya setelah taufiq dan hidayah Allah Ta'ala.


------------
By : Ustadz Abu Sa'ad

Senin, 21 Januari 2019

"Ibu" & "Nenek"

Ibu saya sangat jelas diawal, tidak mau ketitipan cucunya. Menginap sekali-kali ok.
Bermain dengan mereka ok.
Tapi anak-anak saya dititipkan oleh yang maha kuasa di Rahim saya, oleh sebab itu, itu tanggung jawab saya.
Bukan ibu saya lagi.
Tidak mau ketitipan bukan berarti tidak sayang.
Tapi cukup sudah beliau membesarkan saya dan adik-adik saya.
Kini ‘musim’nya beliau, tidur siang dengan tenang.
Menikmati makanan tanpa gangguan.
Sholat dhuha dan bermunajat berlama-lama.
Nagji Qur’an berlembar-lembar, menghadiri kajian-kajian.
Ini pembelajaran besar bagi anak saya, melihat bagaimana saya memperlakukan orang tua.
Karena, tidak berapa lama lagi...
akan datang giliran saya yang menua.
Kecuali keadaan terdesak seperti single parents, menurut saya pribadi, tidak ada alasan yang cukup kuat untuk meninggalkan anak anak pada org tua.
Wallahu a’lam bis shawab.

Dari postingannya mbak Hanaa..

Pernah g sih dengar curahan hati seorang ibu tentang anak perempuannya yang menitipkan anaknya (cucu si ibu) selama ia bekerja setiap harinya?
*TanpaUdzurSyar'i*
.
Saya pernah ...
Dan rasanya sedih, ingin nangis.
Anak si ibu itu bilang kalau dia mau promil lagi (yang ke-3), ibu bilang ke anaknya
"Ibu g larang kamu hamil lagi, ibu cuma minta untuk berhenti kerja. Bukan g boleh punya anak lagi."
Tapi anaknya g faham, tetap bilang kalau ibunya g bolehin punya anak lagi.
Padahal maksud si ibu, ibu sudah capek di'titip'in cucu-cucunya.
Mungkin lebih tepatnya bukan di'titip'in cucu-cucunya, tapi merawat cucu-cucunya.
Bagaimana mungkin merawat?
Sejak lahir, ibunyalah yang mengurus cucunya, si anak pemulihan nifas. Selesai nifas kerja lagi, ibunyalah yang ngurus semua-muanya ...
Mandikan, nimang-nimang biar bobo, buatin susu, ganti popok, cuci baju, ajak jalan-jalan, mendidik dan lain lain yang tak terhitung pekerjaan yang di'titip'in anaknya ke ibundanya.
Belum lagi pekerjaan rumah tangga beliau sendiri, masak-nyuci-bebersih endeblaendebla.
.
Belumlah anaknya setengah tahun, hamil lagi. Si kakak baru 1th lewat dikit adiknya lahir, di tambah lagi 'titip'annya.
Ibu itu cerita, setiap hari ibu lari-larian buatin susu buat cucu 2, nimang-nimang boboin cucu 2 yang masih kecil-kecil, umur ibu sudah segini, udah g sekuat ketika muda dulu. Tapi anak ibu g ngerti, g faham.
Sekarang, ibu juga yang antar jemput sekolah cucu, nyuci baju cucu, nyetrika, masakin makan untuk cucu.
G terasa, sudah lewat 8th ibu di'titip'in cucu-cucunya selama anaknya cari uang setiap harinya, padahal suaminya berkerja, punya beberapa usaha pula.
Liburnya hanya hari ahad saja, itupun anak-anak tetap dirumah neneknya krn sudah terbiasa disana.
Jadi mungkin dibilangnya, anak-anak justri dititipkan ke ibunya untuk TIDUR saja. Adapun dirawat, dibesarkan, diurusi ... oleh neneknya.
.
Sediiih deh dengarnya, padahal bukan maksud tidak senang ditemani cucu-cucunya.
Hanya saja, usia segitu ngurus 2 bayi sampai 8th ... saya aja umur segini ngurus 2 anak belum sampai 8th rasanya warbyasah. Apalagi ibu itu?
Sudah membesarkan putrinya sampai dijadikan istri, ditambah lagi di'suruh' merawat anak-anak putrinya. Ia tidak juga faham bahwa wanita yang sudah tua itu tidak mampu menolak permintaannya untuk di'titip'in cucu-cucunya, hanya sj kali ini ia sudah sangat tua untuk pontang-panting mengurus bayi dengan 2 anak yang sedang senang main kabur-kaburan.
Dan putrinya masih belum faham juga lelahnya membesarkan anak, mungkin krn iapun belum merasakan 'menjadi ibu' sebab sibuk bekerja.
.
Sediiih, sampailah kakak lelakinya bilang 'mungkin dia baru akan sadar jadi ibu itu capek kalau ibu sudah meninggal! Baru deh ngerasain pengorbanan ibu, baru deh sadar kalau kerja di rumah itu lebih capek dari kerja di kantor!'
.
Sedihnya lagi, yang seperi itu sudah sangat biasa, bahkan dianggap wajar menitipkan anak karena kerja ke neneknya sejak bayi sampai anak gede 😢

#SayangiIbu
#IbuTidakMampuMenolak
#SebelumIaMeninggal
#SebelumMenyesal
Author : Kakak

Minggu, 20 Januari 2019

Mendidik Anak

Fulan, saat berusia 6 tahun.
-Di sekolah:
Nilai matematika jeblok, nilai science terjun bebas, nilai tematik merinding disko.
Ranking 29 dari 30 siswa.

-Di rumah:
Periang, mulai gampang diajak shalat berjamaah, selalu terucap, "Aku sayang Papa Mama".
.
.
Fulan, saat berusia 8 tahun.
-Di sekolah:
Nilai matematika masih nyungsep, nilai science menanjak hampir tak kentara, nilai tematik tetap oleng.
Ranking 27 dari 30 siswa.

-Di rumah:
Sayang adik, shalat mulai diusahakan di awal waktu, puasa Ramadhan full, semangat mengaji di masjid dekat rumah.
.
.
Fulan, saat berusia 10 tahun.
-Di sekolah:
Nilai matematika sejauh ini tanpa harapan, nilai science mulai membaik, nilai tematik naik turun.
Ranking 25 dari 30 siswa

-Di rumah:
Hafalan ayat bertambah secara signifikan, bantu mama cuci piring tanpa diminta, mengingatkan adik-adiknya untuk tidak buang-buang makanan, jarang membantah orang tua, gampang berempati, stand-up comedian favorit orang serumah.
.
.
.
Orang tua, usia: tua.

-Saat nilai matematikanya jeblok:
"Gimana sih, udah kelas 5 SD perkalian aja masih acak adut begini? Ini kan pelajaran kelas dua! Ihhh, gemesss!"

-Ketika ia rajin membantu mencuci piring:
"Itu wajan sama baskom jangan pura-pura gak dilihat ya? Sekalian dicuci!"
.
.
-Saat nilai tematiknya oleng:
"Dulu waktu Mama SD, pelajaran geografi begini mah luar kepala!"

-Ketika ia berempati pada teman:
"Kamu tiap hari ngasih sebagian uang jajan sama si anu ya? Ya ampun, untuk apa siiihh ...??"
.
.
.
Orang tua mana coba, yang tidak ingin anaknya berprestasi? Multi prestasi malah, kalau bisa.

KALAU BISA. Kalau tidak bisa?

Nilai teteup aja tiarap, mau pakai gaya belajar gas pol plus ekskul plus bimbel sekalipun. Ranking juga istiqomah terus di urutan nyaris ekor.

Belum lagi terhanyut nostalgia betapa ayah bundanya dulu bintang teladan dari sekolah masing-masing. Ditambah pula tetangga, teman dan saudara rajin banget lagi posting prestasi buah hati mereka di medsos, semakin meyakinkan orang tua bahwa ada yang salah dengan anaknya.

Ini anak error dimana sih DNA-nya, kok bisa nir prestasi begini di sekolah?'

Hmm, padahal ....

Si Kecil tersayang sudah dan sedang tumbuh menjadi sebuah pribadi yang cendekia di balik dunia akademisnya. Dengan suka cita ia mengumpulkan nilai terbaik di bidang yang sayangnya tidak pernah dianggap cukup perlu untuk ditakar dengan nilai satu sampai seratus.

Sehingga sadar tidak sadar kita sebagai orang tua kerap terjebak mem-framing cacat akademisnya. Seakan-akan masa depan si anak auto gelap gulita bila ia tidak menguasai rumus Phytagoras atau ilmu pembelahan sel.

Seakan-akan rasa empatinya yang terasah tajam bukanlah poin yang membanggakan. Hafalan tahfiz, shalat di awal waktu, sayang adik, tidak buang-buang makanan ... bablas tak sempat dicermati. Dicermati saja tidak, boro-boro dianggap prestasi ....

Tidak semua anak dilahirkan sebagai matahari tunggal si penebar cahaya yang paling terang. Banyak dari buah hati kita ditakdirkan Allah sebagai bintang yang ribuan, yang walaupun berpendar ketika gelap merayap, ia tetaplah cemerlang dengan jalannya sendiri.

Jadi please, berhentilah hanya fokus mem-framing kegagalan akademis anak semata, tanpa menghargai pertumbuhan kepribadian baiknya. Mendorongnya memperbaiki nilai tentu sah-sah saja, selama kita tidak mem-blur nilai-nilai "lain" yang sudah digenggamnya.

Jangan sampai si Kecil merasa ia gagal di semua aspek kehidupannya akibat apresiasi orang tua yang tidak fair. Tak terbayangkan betapa akan sulit ia menjalani masa depannya.

Jadi, adakah "Si Fulan" dengan komposisi prestasi seperti di atas yang sedang Anda besarkan di rumah?

Selamat! Anda telah mendidiknya dengan sangat baik, Ayah Bunda!
.
.
Tabarakallah
-Cut Cynthia Sativa-

Senin, 22 Oktober 2018

Mengatasi Stress Saat Mengasuh Anak

MENGATASI STRESS SAAT MENGASUH ANAK

by : bendri jaisyurrahman (twitter : @ajobendri)

1| Kerja yg padat, fisik yg lelah, anak-anak yg sulit diatur, utang yg menumpuk, berujung pada stress. Dampaknya marah-marah ke anak

2| Akibatnya anak jadi tak nyaman berinteraksi. Lebih senang di luar rumah, bermain dengan teman. Pulang bawa perilaku membangkang. Ortu pun makin stress

3| Bagi anak usia dini, saat berinteraksi dengan ortu yg stress akan kehilangan rasa nyaman dan cenderung pasif tak bisa berprestasi

4| Anak pun juga belajar cara ekspresikan perasaan dari ortu yg stress. Jika marah membentak, melempar, bahkan memukul

5| Ikatan emosional juga cenderung berkurang yang berujung hilangnya rasa nyaman dan percaya. Saat remaja 'tertutup' dari orang tua

6| Stress ibarat sampah. Sementara anak seharusnya menerima bunga. Mengasuh dengan stress menjejalkan sampah hingga menumpuk di anak

7| Ingat-ingat kembali tentang harapan saat menikah yakni memiliki anak, hadiah dari Allah. Tegakah kita menyakiti amanah Allah ini?

Sementara begitu banyak pasangan yg belum dikaruniakan anak? Bersyukurlah dengan cara tidak menyakiti anak dalam kondisi apapun

9| Kenali pemicu stress : lapar, ngantuk, lelah ataupun sedih. Jika alami hal tersebut lebih baik menghindar dari anak agar tak jadi korban

10| Coba jujur akan masalah yg dihadapi. Apakah dari luar atau dari perilaku anak? Jangan sampai marah2 ke anak tersebab kita habis dimarahi oleh bos

11| Kerjasama antarpasangan amatlah membantu. Saat kita stress minta pasangan kita untuk memegang anak dulu. Atau cari pihak lain yg amanah

12| Ingatlah, bahwa anak ini tanggung jawab bersama. Jadi bukan hanya satu pihak yang mengasuh. Apalagi kalau memiliki anak yg banyak. Lelahnya

13| Sekali-kali rencanakan waktu sendiri > "me time" guna melakukan relaksasi dan refleksi diri. Jika sudah relax, lebih mudah mengatasi masalah anak

14| Buat program "me time" dalam sepekan beberapa jam. Agar tidak banyak emosi negatif yang menumpuk. Komunikasikan ke pasangan

15| Analisis kembali perilaku anak yg bisa menambah stress dan siapkan antisipasinya. Contoh : anak rebutan mainan » beli mainan baru hehe..pihak ayah malah jadi stress

16| Banyak baca2 buku tentang anak. Kadang pemicu stress karena ketidaktahuan akan tahap kembang anak. Jika perlu bertanya kepada ahli

17| Kalau terlanjur stress ketika bersama anak, tarik nafas dalam2 guna mengurangi ketegangan syaraf

18| Ubah posisi tubuh. Jika sedang di atas pohon segera turun . Jika sedang berdiri segera duduk. Jika duduk segera berbaring atau keluar rumah agar dapat suasana baru

19| Ungkapkan perasaan secara jujur kepada anak "maaf ya nak. Ayah kesal kamu teriak2 trus. Ayah terganggu". Anak belajar ungkap perasaan

20| Segera minta bantuan pihak lain jika makin stress. Tinggalkan anak sejenak. Jangan ikuti emosi saat itu. Rugi

21| Jika kesal berkecamuk terhadap perilaku anak, pandangi fotonya saat bayi. Tegakah kita menyakiti bayi yg sudah tumbuh itu?

22| Segera berwudhu dan sholat 2 rakaat. Jika sedang berhalangan, bagi para ibu, cukup wudhu saja. Doa dan curhat jujur kepada Pemberi Amanah

23| Minta maaf kepada Allah karena hendak marah sama anak yg merupakan pemberianNya. Berharap Allah kasih jalan segera dan lembutkan hati

24| Jika terlanjur marah kepada anak, dan Anda tersadar. Buru-buru minta maaf. Jangan biarkan anak terlalu lama dalam prasangka 'takut' kepada kita

25| Semoga kita bisa kendalikan stress agar anak selalu terjaga perasaannya. Terus berlatihlah kendalikan emosi kita..

Salam...

(bendrijaisyurrahman)