Tampilkan postingan dengan label Hanin Athifah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hanin Athifah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 11 Maret 2021

Tantrumnya Hanin

Bismillah...

Tantrum itu apa? Kalau menurut saya, tantrum itu.. ungkapan perasaan anak yang "berlebihan", biasanya dengan menangis (tidak seperti biasanya), berguling-guling di lantai / tanah ataukah melempar barang yang ada di sekitarnya. Tantrum biasanya di usia 3 sampai 4 tahun ke atas. Namun, setelah baca-baca dan mendengar penjelasan dari pemateri parenting, katanya tantrum bisa dimulai dari usia 1 tahun. 

Tantrumnya Hanin, cepat sekali menurutku, kalau dibandingkan dengan saudaranya yang lain yaa. Ataukah saya masih belum sadar kalau anak bungsu ku ini sudah bukan bayi lagi?!

Sangat menguji kesabaran saat tantrumnya datang. Kadang, hal sepele (menurut ku), misal dia mau sesuatu yang sudah habis atau tidak ada stoknya. Kadang juga tidak jelas masalahnya, misal bangun tidur yang dilanjut nangisnya lama. Dugaan sementara, tantrumnya karena dia kesepian. Kakak-kakaknya di rumah yang satu, dia di rumah yang lain. Tapi susah juga, karena gak mau pisah sama umminya. Di ajak main sama kakaknya, gak mau. Mau sih kalau umminya ikut juga.

Ya, sejak habis sakit beberapa pekan yang lalu, sampai sekarang (sudah sembuh, alhamdulillaah), Hanin melengket sekali sama saya. Ditinggal mandi atau sholat (tanpa izin sama dia), nangis nya kayak sudah ditinggal berhari-hari. Walau begitu, di satu sisi saya bersyukur dan menikmati masa-masa ini, usia anak 0-5 tahun yang seharusnya mereka belajar dan dekat dengan umminya.

Hari ini, kembali membawa Hanin ke rumah orang tua untuk main bersama kakaknya, disebabkan karena pagi tadi tantrum lagi. Saya tau dia kesepian. Saat tiba di rumah orang tua, dia ceria, tapi tetap saja menjaga saya biar gak kemana-mana. Walau pada akhirnya saya bisa pergi sembunyi-sembunyi.

Sore tadi, ada 'undangan' zoom yang Aba kirim ke grup keluarga, temu via zoom dengan ponakan di Arab. Saat saya masuk, saya aktifkan video dan menyapa Musa, ponakan Arab yang belum pernah bertemu langsung. Saya lupa kalau ada Hanin yang sudah aktif duluan.

Ziyad: "Ummi, na pukulki Hanin kamera ta' (video ku di zoom)"

Saya lalu menyapa Hanin, eh tambah nangis. Akhirnya saya diam dan menonaktifkan video. Di rumah sana, saya melihat Aba sibuk mendiamkan Hanin. Dan juga terdengar suara-suara lain yang membujuk Hanin berhenti nangis.

Sampai Hanin terdiam dan saya menganggap suasana aman, saya lalu  kembali membuka video tapi tetap menonaktifkan suara. Tiba-tiba, Hannan nyeletuk,

"Raidah Muharrikah dilarang bicara."

"Hanin... bukan ummi ini, tapi Raidah Muharrikah."

"Raidah Muharrikah, janganki bersuara nah, matikan suara nya'"

Hahaha..

Baru kali ini saya ikut zoom, mau bicara tapi dilarang.

Akhirnya, cuma bisa memandangi wajah anak-anak dan ponakan di layar hape tanpa sapaan. Karena jika saya nampak di layar zoom dan mengaktifkan audio, suasana pertemuan 'rusak' dan hanya didominasi oleh tangisan Hanin.

Semoga cepat berlalu "tantrumnya Hanin".


Temu Bocah


Ilma, 1 Maret 2021

Selasa, 05 Januari 2021

Hanin & Air

Bismillaah...

Kemarin, lagi temani Ziyad kerja tugas, Hanin minta sesuatu. Tapi, karena tidak diperhatikan, dia nangis-nangis. Air matanya berjatuhan di lantai. Karena mau mengalihkan perhatiannya (biar nda nangis), saya nanya,

"Hanin, liatki ini (tunjuk 2 tetes air matanya di lantai). Siapa ini yang tumpah-tumpah?"

Hanin: *diam, tapi kayak berpikir, itu tetesan air darimana ya πŸ€”*

Trus, dia lanjut nangis. Air matanya tumpah lagi di lantai.

"Hanin, nih liatki', darimana ini air, siapa yang tumpah-tumpah?"

Hanin diam sejenak lalu setengah berteriak, dia bilang, "Bebe nya Ziyad itu".

Ziyad yang lagi kerja tugas kaget, saya juga.

Ya Allah, menghibur sekali πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚nda disangkanya jawaban ta', Nak πŸ˜‚

***

Lagi...

Umminya sibuk ikut kelas di hape, Hanin juga sibuk memperlihatkan tetesan air di atas kertas. Saya nanya itu apa, tapi gak dijawab, malah sibuk berceloteh. Lalu itu air di oles di kaki umminyaa seakan-akan mengobati sesuatu yang sakit.

Setelah kelas selesai, umminya agak lowong dan Hanin masih saja bermain karton yang di atasnya ada tetesan air.

"Hanin, ini air apa?"
Tidak dijawab tapi berceloteh panjang lebar.

Um = "Hanin, air apa ini? Dari mana ini air?"
Nin = "Dari Allah", jawabnya cuek

Ya Allah πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚ bukan itu jawaban yang kuharapkan, Nak.

Kemudian dia bertanya, "Ummi, putihma' toh?"

Belum sempat saya jawab, Hannan datang membawa info,
"Ummi, lem itu na tumpah (di atas kartonnya)"

Ya Allah...

Seketika, lem2 yang dioles di kaki ku dan muka nya tadi, mengering

Terjawab sudah πŸ˜‚


Samata, 7 November 2020

Rabu, 23 September 2020

Toilet Training nya Hanin

Bismillaah...


"Mi, kenc*ng ka'. Mi, b*la ka",
pernyataan dari Hanin yang jika terdengar oleh saya, apapun kegiatan saat itu, walau lagi tidur sangat nyenyak, langsung terhenti dan terbangun lalu bergegas membawa nya ke wc. Alhamdulillaah, di usianya kini yang hampir 27 bulan (2 tahun 3 bulan), sudah bisa buang hajat di tempat yang seharusnya.

Salah satu masa yang harus dilalui oleh seorang anak dan ibunya adalah masa toilet training. Selainnya ada masa penyapihan juga. Dan kedua masa ini adalah masa yang membutuhkan kesiapan antara anak dan ibu (yang paling utama) dan juga anggota keluarga lain.

Flashback ke awal-awal Hanin toilet training, sempat maju mundur untuk memulai. Sebelum usianya pas 2 tahun, sempat memulai, yang pada akhirnya saya kembali lagi ke popok. Waktu itu karena saya nya lebih sering keluar rumah, jadi mau tidak mau Hanin mesti pake popok.

Hingga kembali saya memikirkan, kira-kira kapan lagi saya bisa memulai. Akhirnya memutuskan, memulainya di saat saya lagi "cuti" sholat saja biar gak terlalu kepikiran sama najis, bersih-bersih dan kalau tiba-tiba mau pipis atau pup bisa langsung saja dibawa ke wc.

Bismillaah...
Dimulai akhir Juni. Di hari pertama, pas Hanin bangun langsung di sounding,
"Hanin, hari ini Hanin belajar lepas popok nah. Jadi kalau mau pipis atau pup, bilang sama ummi.
Ayo berdoa dulu sama Allah supaya Allah kasi Hanin dan Ummi kemudahan".

Entah mengerti atau tidak, saya tetap menuntun Hanin untuk berdoa.
"Laa Hawla wa Laa Quwwata Illaa Billaah. Ya Allah, bantu Hanin dan Ummi untuk bisa melalui proses ini dengan mudah."

Dan, maasyaallaah, ketika kita memang melibatkan Allah, maka segalanya terasa mudah. Tanpa pertolongan Allah, kita gak bisa apa-apa. Terbukti di Hanin, Alhamdulillaah tidak ada kendala yang berarti, semuanya bisa dilewati dengan mudah, atas izin Allah.

2 bulan lebih, Alhamdulillaah sudah gak pernah pake popok lagi. Walau keluar rumah, juga sudah gak pake lagi. Pun kalau tidur malam. *Padahal popoknya masih banyak karena sebelumnya terlanjur beli banyak, lupa kalau usianya sudah hampir 2 tahun*

Walau begitu, selama 2 bulan ini, gak selamanya juga Hanin kalau mau buang hajat itu di WC. Kadang kebelet yang akhirnya pipis di celana, kadang juga kalau lagi gak diperhatikan (jadwalnya) atau dia lagi sibuk main. Tapi alhamdulillaah sejauh ini, ia lebih sering bilang jika ada keinginan.
*Kadang-kadang juga walaupun gak mau, tetap bilang mau pipis, ataukah ia baru saja dari wc, trus bilang mau pipis lagi. Kalau kayak gini, kentara kalau mau main air πŸ˜‚.*

Alhamdulillaah, terlewati lagi 1 momen penting dalam perkembangan Hanin. Waktu berlalu terasa cepat. Ada rasa haru ketika mengingat Allah masih mengizinkan saya untuk menyaksikan dan turut serta di momen ini. Sangat betul, "Masa anak-anak itu SEBENTAR saja". Maka nikmati setiap prosesnya, nikmati setiap riuhnya, nikmati repot dan capeknya, nikmati tangis-tawa-celotehnya. Karena kelak, masa-masa ini hanya akan menjadi kenangan dan menyisakan rindu.


Samata,
5 September 2020 / 18 Muharram 1442

Senin, 29 Juni 2020

Ummi, Abi (Di)Mana?

Bismillaah

Beberapa hari dalam pekan ini, seringkali Hanin menyebut-nyebut dan memanggil abi nya. "Ummi, mana abiku?; Mauka telpon abiku; Abi.... Abi....". Kalau liat buku yang gambarnya lelaki dewasa, maka ia mengatakan "Ini abi".

"Ummi, mana abiku?"
Pertama kali ia tanyakan saat lagi makan siang. Saat itu lagi berdua saja di ruang makan. Orang-orang di rumah lagi istirahat di kamarnya, sehingga pertanyaan itu menambah keharuan (di hati umminya).

"Ya Allah, akhirnya ia menanyakan juga 😭", walau saya tahu kalau pertanyaannya hanya sekedar di lisan tanpa memaksa saya untuk menjawabnya. Terbukti ketika saya jawab, ia cuek saja sambil terus bergerak kesana kemari.

Untung saja juga tak didengar oleh Ziyad (7y), si kakak yang terkadang bisa berubah menjadi "dewasa" seakan-akan ia adalah abinya (karena seringkali Ziyad berkata "nak" pada Hanin di setiap sapaan atau akhir kalimatnya). Pun jika didengar, mungkin ia akan menjawab dan membahas panjang lebar tentang keberadaan abinya yang sebenarnya, walau Hanin belum mengerti akan hal itu.

Kali kedua adalah saat ingin sholat maghrib, tangan Hanin yang lagi pegang hp (rusak) ditarik sama Aba (kakek) untuk ikut sholat. Hanin kira hape nya yang mau diambil jadi ia teriak "mauka telpon abiku". Namun ternyata, ia cuma digeser untuk berdiri di samping Aba.

😭😭😭

Hanin...
Abi memang sudah tidak bersama kita lagi di dunia ini, namun harapan dan cita-cita darinya untuk Hanin masih senantiasa melekat kuat di ingatan ummi.
Tak apa di dunia kita tak (lama) bersama dengannya, Nak, yang terpenting adalah di akhirat, kita minta sama Allah balasan atas nikmat kebersamaan yang Allah tunda di dunia ini
Semoga Allah berkenan mengumpulkan kita semua kembali di JannahNya, reuni keluarga besar-besaran
Bukankah itu impian tertinggi kita?

Maka persiapkan amalan-amalan terbaikmu, nak
Jadilah anak sholehah
Istiqomahlah hingga ajal menjemput
Atas kepahitan hidup yang mungkin akan kau temui kelak, sholat dan bersabarlah
Selalu lah ingat Allah dalam pikiran dan hatimu,
karena Ia tak pernah pergi dan selalu bersama orang-orang yang mengingatNya


Samata,
6 Dzulqadah 1441 H
27 Juni 2020 M

Hanin 2 Tahun

Bismillaah...

Kok sedih ya kalau bayi yang selama ini gak bisa tidur kalau gak dikasi tidur sama umminya, trus hari ini didapati bayi itu tertidur sendiri di lantai habis main 😭
Rasanya itu gak bisa diungkapkan. Sedih, bangettt.

Cepat sekali waktu berlalu. Dulu ia masih bayi yang gak tau apa-apa selain nangis, tidur dan buang air. Sekarang masih bayi juga tapi maasyaallah, pintar sekali.

Ia, bungsu-ku yang dulu sakit-sakitan. Ia, dulu hanya ingin "ummi saja" dan akan menangis bila bertemu orang lain, walau om, tante dan kakek nya sendiri. Ia, dulu yang sering menutup mulut ketika disodorkan makanan. Hari ini -biidznillaah-, berbalik 180 derajat.

Sangat ramah dan tidak menangis lagi bila bertemu orang. Sangat cerewet dan selalu meniru perkataan orang. Kalau marah atau diganggu, lucu sekali, karena akan ngomel-ngomel dan matanya sinis, yang bikin kakak-kakaknya tambah suka mengganggunya.

Kosa katanya alhamdulillaah sudah banyak dan fasih diucapkan. Suka sekali sama 'amma yatasaa alun (surah annaba) apalagi ayat ke dua nya, karena ia mengira di awal ayat kedua itu adalah namanya πŸ˜‚.

Pekan-pekan ini adalah proses penyapihan yang begitu berat, kadang pertahanan runtuh jika mendengar tangisannya. Namun hari ini, hari ke 3 tanpa ASI, alhamdulillaah sudah bisa tidur sendiri tanpa rewel. Cara menyapihnya? Hanya memberi tahu dan selalu setiap waktu jikalau ia sudah sampai batas, dan yang paling penting harus tega 😭. Tega dan tahan mendengar nya merengek, menangis dan mengamuk hingga tertidur.

2 tahun berlalu, alhamdulillaah bisa full ASI. Sangat bersyukur karena di pertengahan usia nya, saat berusia setahun, sang ummi dan Hanin sering di"bully" gak bisa dan gak cukup ASI serta diminta untuk memberi sufor saja (karena Hanin kecil dan kurus😭). Alhamdulillaah -biidznillaah- Allah kuatkan kita, nak. Ummi yang ber"pura-pura" mengatakan Hanin gak suka sufor (semoga Allah mengampuni hal tersebut 😷) dan Hanin yang berakting gak suka sufor. Alhamdulillaah semua bisa terlewati πŸ’•.

Berharap pada Allah, semoga apa yang Hanin konsumsi dari Ummi bisa menjadi tulang dan daging yang bisa Hanin pake untuk beramal sholeh, hari ini dan nanti. Dan buat ummi, sebaik-baik pahala dan balasan hanya dari Allah, hanya itu yang diharapkan, semoga kelak menjadi pemberat amal timbangan di hari perhitungan.


Samata, 23 Juni 2020

Jumat, 15 Februari 2019

Pengalaman di Nebu

Bayi 8 bulan yang bikin "dumba-dumba" kemarin 😩

Sejak sebelum shubuh, nda mau tidur di tempat tidur. Maunya tidur dalam pelukan dan harus duduk, jadinya umminya tidur duduk di tempat tidur sambil peluk bayi ini.

Kalau dia bangun, kayak sesak. Mau batuk tapi gak bisa. Digendong teruss, sampai-sampai wudhu untuk sholat shubuh pun harus dibawa ke wc karena gak mau disimpan, sholat shubuh juga dalam keadaan menggendong 😒😒

Jam 10 dapat telpon dari pengadilan agama, saya harus kesana. Agak berat meninggalkan Hanin yang lagi sakit. Tapi, karena sepertinya disana cuma ambil sesuatu, akhirnya saya keluar dan menitipkan Hanin yang lagi tidur ke mama mertua.
 
Di pengadilan agama, alhamdulillaah cuma sebentar, trus pulang. Tapi, saya singgah ke sd wahdah dulu ambil formulir. Disana juga sempat cerita-cerita sama ustadzahnya tentang Hanin. Disarankan bawa ke dokter anak untuk nebu.

Jam 11 lewat saya tiba lagi di rumah dan keadaannya masih kayak gitu (sesak+lemas+tidak ceria). Sama bapak mertua disuruh bawa ke dokter/rumah sakit. Saya bilang, "mau coba di nebu dulu". Akhirnya nelpon kk ipar cari nebu. Jam 12 siang, bawa bayi ini ke puskesmas buat di nebu. Pulangnya, alhamdulillaah ceria lagi, makin membaik lah dibanding pagi tadi. Tapi masih sesak.

Sampai akhirnya, maghrib tiba. Disinilah peristiwa yang bikin "dumba-dumba" itu. Dimulai menjelang maghrib, setelah minum ASI, tiba-tiba muntah. Trus, karena mau sholat maghrib, akhirnya saya simpan Hanin di baby walker biar bisa wudhu+sholat maghrib dulu. Rencana jam 9 malam akan di nebu lagi. Tapi mama mertua liat, katanya kenapa ini Hanin lemas sekali. Lemaaas sekali, tidak berdaya, tidak goyang-goyang dan masih sesak. Di baby walker juga seperti mau tidur saja padahal baru saja dia terbangun. Keadaan mengkhawatirkan, ditelponlah kk ipar yang bisa nebu, disuruh cepat datang.

Sambil nunggu obat yang akan dicampur di tempat nebu, dia muntah lagi dan muntahnya agak banyak + berlendir.

Nebu ke-2 dipercepat 1 jam. Nangis-nangis tapi tetap diproses. Stengah jam proses nebu.

Setelahnya?

Alhamdulillaah langsung ceria kembali, manjat sana sini, teriak-teriak dan mengoceh lagi seperti biasa. Seperti tidak ada apa-apa yang terjadi sebelumnya.

Alhamdulillaah, semalam juga tidak ada lagi yang rewel-rewel seperti malam sebelumnya. Dan pagi ini, walau masih belum pulih sempurna, setidaknya alhamdulillaah makin baik dari hari kemarin.

***

Kalau sakit itu penggugur dosa, maka untuk bayi sakit yang tak punya dosa, kedua orang tuanyalah yang digugurkan dosa-dosanya. Itulah sebab, mengapa orang tua harus bersabar menghadapi anak sakit, tidak banyak mengeluh, dan banyak beristighfar. Karena boleh jadi, anak sakit disebabkan oleh perilaku ataupun dosa orang tuanya.

Sehat selalu Hanin Athifah, tumbuh menjadi anak sholehah dan kelak menjadi amal jariyah buat kedua orang tua πŸ’•πŸ’•πŸ’•



#haninathifah #ceritahaninathifah

Rabu, 16 Januari 2019

ASN dan Hanin 7 Bulan

Bismillaah...

Ada 3 "tema" hari ini.
1. ASN
2. Umrah
3. Hanin 7 bulan πŸ’ž

Tentang ASN
Serius, sebenarnya sejak kemarin-kemarin, saya suka baca tentang ASN ini. Di grup whatsapp kampus, di facebook, dunia maya maupun di dunia nyata, orang-orang suka menyebut "ASN". Tapi serius (lagi), sejak kemarin-kemarin itu saya sebenarnya penasaran dan mencoba menerka kepanjangan dari ASN. Abdi.... S... Negara, SALAH. Anggota Sekolah Negara, SALAH. Dan banyak terkaan lain.

Baru hari ini saya googling, karena rasa penasaran dan waktu yang ada (lagi ingat). Ternyata, ASN itu... *bentar, googling lagi, lupa*

Ya... ASN itu singkatan dari Aparatur Sipil Negara. *Susahnya dihafal 😁

Kayaknya, sekarang PNS sudah berganti nama ya? Bukan PNS dan CPNS lagi ya? Sudah berganti nama jadi ASN kah?

Saya kudet tentang ini. Biasanya ada suami yang dengan rela ditanya dan dengan senang hati pula menjawab disertai dengan pendapat pribadi mengenai hal yang dipertanyakan. Wawasannya luas. Kadang apa yang dipikirkan itu tidak terpikirkan oleh saya. ~rahimahullah rahmatan wasi'ah~

Balik ke ASN.
Alhamdulillaah, 2 keluarga dekat, adik suami satu-satunya beserta suaminya, lulus tes ujian masuk ASN. Semua keluarga bergembira, menyampaikan selamat dan bersukacita, begitupun dengan saya (walau terselip rasa sedih dan merasa kehilangan karena tiba-tiba jadi ingat beliau yang PNS duluan dan pergi duluan).

Semoga Allah memudahkan urusan-urusan mereka, semoga Allah memberi sifat amanah dan semoga statusnya bisa menjadi wasilah menebar manfaat.

Tentang Hanin, tepat 7 Bulan hari ini
🌼 Alhamdulillaah makin hari makin lucu ~maasyaallah, tabaarokallah~.
🌼 Selalu mencari tempat berpijak, biar bisa berdiri lalu senyum-senyum ke sekelilingnya.
🌼 Masih jadi "anak ummi" yang "only ummi". Jadinya, kemanapun umminya pergi, dia harus ikut. Gak bisa ditinggal di rumah tanpa umminya. Pernah, saya ke banknya PNS urus sesuatu, bawa Hanin juga. Jadilah saya satu-satunya pengunjung bawa baby ke bank itu.
🌼 Masih takut melihat laki-laki dewasa. Entah ini sampai kapan. Jangankan omnya ~saudara abi maupun umminya~ bahkan melihat kakeknya yang serumah dengannya pun ia takut. Dan ia adalah anakku satu-satunya yang seperti itu. Wajar, karena ia tak pernah melihat abinya, kata neneknya. 😩😩😩
🌸 Sudah bisa duduk sendiri dan merangkak. Alhamdulillaah gak pake jatuh-jatuh lagi. Lancar.


Lalu, tentang Umroh...
Dibahas lain kali sajalah. Ada rasa sedih kalau ingat ini.


Semoga hari esok lebih baik dari hari ini. Semoga Allah tetap mengistiqomahkan kita di atas ad-diin hingga akhir hayat, aamiin

Jumat, 04 Januari 2019

Bayimu Kecil, Part II


 

Bismillaah...

Masih tentang postur tubuh alias berat badan.

Kenapa saya sensitif sekali sama yang ini?
Qaddarullaah, Allah takdirkan saya memiliki bayi yang kecil, imut. Berat badan hanya 6 koma lebih, di usianya yang hampir 7 bulan. Tidak seperti bayi lainnya yang berat badannya minimal 7kg di usianya. Qaddarullaah wa maa sya a fa'al.

Bayiku, Hanin Athifah, postur tubuhnya mirip-mirip dengan kakak perempuannya dulu ketika masih bayi. Imut, kecil. Tapi, Mutiara Hannan, dulu kecil sangatlah wajar, karena asupan gizi dari ASI berkurang sejak usia nya 4 bulan. Allah takdirkan saya hamil di usia Hannan masih 3 menjelang 4 bulan. Otomatis, ASI yang seharusnya ia dapatkan minimal 6 bulan, tidak terpenuhi sempurna, walau saat itu saya masih tetap memberi ASI semampu saya. Di usia 7 bulan ke atas, nenek kakeknya membelikan susu formula dan "memaksa" untuk diberikan kepada Hannan, si bayi imut.

Kejadian bayi imut terulang ke Hanin, anak bungsu sholehah ku. Dengan kondisi yang berbeda, saya sangat berharap dan memohon kepada Allah, agar saya mampu memberinya ASI hingga usia nya minimal 2 tahun. Saya sangat berharap dan meminta pada Allah, yang maha menggerakkan hati, semoga Allah tidak menggerakkan hati kakek neneknya untuk membelikan susu formula kepada bayi bungsu sholehahku ini.

Hanin Athifah, ketika orang-orang mengatakan dirimu kecil, semoga kelak amalanmu besar, nak.
Apalah arti postur tubuh, sementara yang akan dibawa ke sana adalah amalan.
Semoga Allah ridhoi, semoga Allah istiqomahkan, semoga Allah jaga dan terus menuntunmu ke jalan kebaikan, jalan yang ditempuh Rasulullah, sahabat dan orang-orang terdahulu, yang telah Allah janjikan syurga pada mereka.

Semoga kelak engkau mengikuti jejak-jejak kebaikan para shahabiyah, ummahaatul Mukminin, teladan yang sebenarnya.

Semoga, nak.

Minggu, 02 Desember 2018

Diluar Kehendak

Bismillaah

Seringkali, kita sudah menyusun rencana dengan matang untuk dikerjakan esok harinya, namun, pada kenyataannya, yang terjadi berbeda atau di luar rencana. Seperti yang terjadi pada saya, kemarin.

Berencana melaksanakan beberapa agenda yang telah direncanakan jauh hari, qaddarullah, kenyataan di luar rencana. Membayangkan setelah kerja ini, lalu kerja itu, trus yang ini kemudian yang itu. Tapi, yang terjadi? Di luar rencana. Hanya 1 agenda yang terselesaikan.

Padahal, kemarin momennya sangat pas untuk menyelesaikan semua yang tertunda *rencananya*. Pikir saya, ketika anak-anak tidak di rumah (*kemarin diajak omnya ke laut), saya bisa menyelesaikan banyak pekerjaan. Nyatanya? Apalah saya tanpa mereka. Saya ditegur lagi sama Allah, kalau ternyata kehadiran anak-anak khususnya ketiga kakak anak bungsu saya, begitu berarti.

Saya berpikir, ketika mereka tidak di rumah, saya bisa menidurkan Hanin dengan tenang tanpa gangguan, lanjut mencuci, menjemur pakaian, kerja rekapan untuk persiapan tutup buku di toko, lalu sederet rencana "me time" yang lainnya. Saya berpikir, jika ada kakak-kakaknya, tentu pekerjaan ini agak sedikit terhambat karena tidur Hanin akan terganggu dengan gangguan dari kakaknya atau suara teriakan dari mereka yang kadang terjadi.

Nyatanya, sama saja. Ketika Hanin terbangun dan tidak melihat saya, ia menangis sekeras-kerasnya seperti habis disakiti. Padahal, cucian masih setengah proses, belum selesai. Dan saya harus meninggalkan cucian demi menemani anak sholehahku ini. Kadang, jika kelihatannya ia asyik bermain, saya tinggal lagi, tapi tidak lama tangisannya terdengar lagi.

Di rumah, ada nenek dan kakeknya. Tapi tetap saja, bagi Hanin, "Only Ummi".

Dan, ketika saya pikir-pikir kembali, ternyata lebih bagus jika ketiga kakaknya ada di rumah, karena jika Hanin terbangun, ada kakaknya yang ia lihat, hingga saya bisa menyelesaikan pekerjaan rumah dengan khusyuk.

Begitulah, terkadang kita berpikir itu baik, ternyata Allah tegur kita bahwa itu tidak baik. Maka, mengembalikan semua urusan kepada Allah, menyerahkan dan pasrah dengan apa yang terjadi, adalah salah satu bentuk kesyukuran kepada Allah.

Apa yang terjadi, itulah yang terbaik buat kita. Apa yang tidak terjadi, tentu ada hikmah dibaliknya. Allah paling tahu kebutuhan kita, Allah paling tahu bagaimana kita, maka nikmatilah alur takdir yang Allah tetapkan pada kita.

πŸ’šπŸ’šπŸ’š

Minggu, 18 November 2018

Hanin Athifah, 5 Bulan



Bismillaah...

Dear Hanin...
Tak terasa, nak, usiamu kini sudah 5 bulan.
Engkau sudah mahir tengkurap, lalu kembali lagi berbaring.
Hari ini, engkau belajar mengangkat badan, persiapan untuk duduk lalu merangkak.
Hari ini, engkau sudah bisa mengoceh, walau belum jelas
Engkau juga sudah mengenali sesiapa yang berada di hadapanmu
Jika ia lelaki, terkadang engkau memilih
Jika ia bersuara besar, engkau pasti menangis ketakutan

Jika ummi masih ada di pandanganmu, matamu tak lepas memandangnya
Seakan berkata, "Ummi mau kemana? Jangan tinggalkan saya bersama orang-orang ini".
Jika ummi ada di sampingmu, engkau kelihatan aman
Tak peduli seberapa usil orang-orang di sekitarmu

Athifah-ku...
Tak terasa, nak, waktu berlalu begitu cepat
5 bulan yang lalu engkau masih tak bisa apa-apa, hanya tidur atau terbangun saat lapar
Hari ini, waktu tidurmu sedikit demi sedikit mulai berkurang
Rasanya ingin menahan waktu, agar engkau masih seperti ini
Bayi kecil ummi yang sabar dan tak pernah menyusahkan
Penghapus duka dan penyejuk mata bagi kami semua

Hanin Athifahku...
Tumbuhlah menjadi anak sholehah
Jika hari ini badanmu "katanya" kecil
Semoga kelak amalanmu besar di mata Allah, nak
Tetap menjadi qurrotu a'yun buat kami semua


Sinjai, 17 November 201i

Sabtu, 08 September 2018

Hanin Athifah 2 bulan



Hanin Athifah kini usianya 2 bulan setengah. Tanggal 16 nanti, menurut tahun masehi, ia genap 3 bulan.

Sejak usianya sebulan lebih, di badannya ada bintik-bintik berisi, seperti alergi, di kepala atau kadang di wajah maupun di kakinya. Kami hanya bisa mengira-ngira, karena belum pernah memeriksakan ke dokter anak/kulit.

Dugaan awal, ia alergi telur. Karena saya memang ada riwayat alergi telur ayam yang warna kulitnya putih itu. Dulu-dulu, saya, setiap sudah makan (banyak) telur, biasanya ada bentol-bentol di badan. Anehnya, hanya telur ayam berkulit putih itu saja. Kalau telur ayam ras yang banyak dijual di pasaran, tidak. Dan kami menduga, Hanin Athifah juga alergi telur, turunan dari umminya.

Fix, saya puasa makan telur selama masih menyusui. Walau kadang-kadang saya makan sedikiiit saja telur sisa yang dimakan anak-anak karena mau sekali (*saya pencinta lauk telur*).

Sudah tidak makan telur, tapi baby Hanin masih bentol-bentol. Bahkan semakin banyak. Ada apa ini? Ada yang bilang, mungkin kutu kasur, atau nyamuk, atau karena suka dicium sama kakak-kakaknya, dll, dll.

Tapi, sampai saat ini, setelah saya berpikir yang saaaangat panjang, akhirnya menduga (masih dugaan) bahwa mungkin saja ia alergi coklat. Iya, mungkin saja. Karena seingat saya, bintik-bintiknya mulai ada saat saya suka mengkonsumsi coklat-coklatan.

Fix lagi, mulai hari ini, saya puasa makan coklat. Hiks. Padahal di lemari, masih banyak simpanan cemilan coklat. Tapi untuk kali ini, saya mau lihat dulu perkembangan si baby, apa betul setelah saya berhenti mengkonsumsi coklat, bentol-bentolnya juga berhenti, ataukah masih tetap bermunculan.

Mari kita menunggu dan mengamati sebulan ke depan.

O iya, di usianya yang hampir 3 bulan ini, akhir-akhir ini suka liat Hanin berpindah dari posisi semulanya, terutama kalau tidur malam. Kadang saya tempatkan sejajar dengan saya, saat terbangun tengah malam, eh, kakinya di sana, kepalanya dimana. Sudah mulai suka berbalik badan juga untuk siap-siap tengkurap.

Semoga sehat selalu, nak, jadi anak sholehah, kelak rajin sholat, berakhlak yang baik dan jadi penghafal qur'an, Insyaallah. Aamiin