Kamis, 11 Februari 2016

SIRAH NABAWIYAH (4)

Masa Sebelum Nabi Dilahirkan

Ada sebuah kasus yang terjadi pada saat itu. Masyarakat Arab yang dikatakan turunan asli, asalnya itu dari Yaman. Waktu itu tidak ada orang Arab selain di Yaman. Di Yaman dulu, ada sebuah bendungan yang sangat terkenal, namanya Ma’rib. Saddul Ma’rib. Saddul itu bendungan, Ma’rib itu nama kota atau lokasinya.

Masyarakat (Yaman) zaman dulu luar biasa kehidupannya, sangat makmur, tentram. Tapi, karena mereka kufur terhadap nikmat Allah subhanahu wata’ala, maka akhirnya bendungan tersebut dihancurkan oleh Allah (Ini ada kisah tersendiri, disebutkan juga dalam alQur’an). Pada saat bendungan tersebut hancur, sumber kehidupan orang-orang Arab ini tidak ada lagi. Mulailah suku-suku Arab Asli ini keluar dari Yaman, untuk mencari lokasi yang ada airnya (***karena kalau tidak ada air, mereka tidak bisa hidup. Makanya Allah subhanahu wata’ala mengatakan dalam alQur’an “Kami menjadikan segala sesuatu itu, dari air, bisa hidup”. Kalau makanan itu mungkin hanya sekedar menutupi rasa lapar, tapi kekurangan air, bisa meninggal. Ini sesuatu yang sangat penting.***).

Lalu keluarlah suku-suku Arab ini dari Yaman. Salah satu yang jadi saksi bahasan kita adalah satu suku besar bernama suku Jurhum. Ini suku yang masyhur sekali, termasuk besar. Suku Jurhum ini tujuannya mau ke negeri Syam.

Note: ***kalau kita melihat peta Jazirah Arab, berbentuk agak miring, kemudian ada sedikit lengkungan, ini Jazirah Arab. Kalau kita lihat Yaman, itu berada di Selatan Jazirah Arab, jadi Yaman lebih dekat dengan kita (Indonesia). Makanya, Nabi sallallaahu ‘alaihi wasallam menjadikan miqatnya (tempat niat) orang Asia Tenggara (Indonesia dan sekitarnya), itu Yalamlam namanya, di Yaman. Jadi kalau sudah dekat dengan Saudi, biasanya disampaikan oleh pramugari/pramugaranya, ini sudah lewat di atas Yalamlam, maksudnya tempat miqat yaitu di Yaman, di selatan Jazirah Arab (bagian bawah [lihat peta]). Kalau kita naik lagi (lihat peta), di utaranya Jazirah Arab itu ada negeri Syam (ada empat negara sekarang; Yordania, Palestin, Libanon dan Syiria). Ini punya rentetan sejarah yang sangat besar. Lokasi ini nanti akan sering kita sebutkan; Yaman, Jazirah Arab umumnya, kemudian negeri Syam.***

Ketika bendungan tadi hancur, suku Jurhum yang asalnya dari Yaman keluar dengan tujuan mau ke negeri Syam, karena Syam terkenal banyak laut, banyak sungai, kehidupannya bagus, tidak ada masalah disana. Pada saat mereka jalan, di tengah-tengah jazirah Arab itu ada kota Mekkah yang mereka lewati. Agar mereka bisa hidup sampai ke negeri Syam, di pinggiran Jazirah Arab itu ada laut merah (batas antara Asia dengan Afrika, Saudi dengan Mesir, tempat dimana Firaun ditenggelamkan oleh Allah ‘azza wa jalla). Lalu, lewatlah mereka di situ agar mereka bisa hidup dari laut tersebut. Mekkah, kebetulan sangat dekat dengan laut merah.

Maka, suku Jurhum lewat di sekitar itu, tujuannya agar bisa tetap hidup sampai ke negeri Syam, mengambil dari lautan tadi (ikannya, dll). Waktu mereka lewat di sekitar Mekkah, mereka tahu kalau dekat situ ada lembah, tapi mereka gak tau ada apa disitu. Mereka dikagetkan karena melihat di atas lembah (Ka’bah) itu, ada burung yang beterbangan dan mengelilingi lokasi itu. Biasanya, ini berarti ada AIR. Biasanya begitu. Maka pimpinannya mengatakan ini dari mana nih airnya, tidak pernah ada seperti ini sebelumnya. Coba utus orang deh, lihat, kok bisa ada air disana.

Diutuslah dua orang dari suku Jurhum ini datang ke sekitar lembah (Ka’bah). Mereka dikagetkan disana ada Hajar dan Ismail hidup di sekitar mata air tadi (sebelum ada bangunan-bangunan rumah). Karena doanya nabi Ibrahim ‘alaihissalam tadi, tiba-tiba kejadian ini semua terjadi. Maka datanglah mereka.

Pada saat mereka datang, karena mereka terkenal dengan akhlaknya yang mulia, mereka tidak merampas air itu tapi mereka mengatakan “Air ini adalah milik Anda, wahai Hajar. Kami suku ini keluar dari Yaman karena ceritanya seperti ini (kronologisnya). Kami hanya minta satu, kami akan tinggal disini, hidup dari mata air ini, dan kami akan bayar upeti”. Maka, Hajar setuju. Datanglah satu suku tersebut, semuanya.

Akhirnya mereka mulai membangun rumah-rumah, mulai membangun perekonomian di Mekkah, itu awalnya kisah Mekkah. Dari lembah tidak ada apa-apa sampai masuk suku Jurhum ini, kemudian mulailah hidup Hajar dan Ismail ‘alaihimussalaam. Lalu mereka hiduplah dari air tersebut dan Hajar hidup lebih berkembang lagi karena ada upeti yang dibayar (dari makanan, uang). Hiduplah suasana di Mekkah pada saat itu.

Mekkah berkembang dan Nabi Ibrahim belum pernah datang melihat/menjenguk. Ini karena Nabi Ibrahim ‘alaihissalaam menunggu wahyu kapan diperintahkan untuk kesana (karena semua yang dilakukan harus berdasarkan dengan wahyu, karena beliau seorang Nabi).

Sampai Nabi Ismail ‘alaihissalaam menikah dengan anak kepala suku Jurhum.

***Nabi Ismail yang tadinya tidak bisa bahasa Arab, menjadi bisa bahasa Arab, karena memang dia bergabung dan menikah dengan orang Araba asli. Maka dari sinilah keluar istilah ada Arab Asli dan ada Arab Musta’ribah (arab yang terarabkan), termasuk Nabi Ismail ‘alaihissalaam. Karena menikah dengan orang Arab tadi, kemudian punya keturunan, sampai keturunannya nanti ke Nabi Muhammad sallallaahu ‘alaihi wasallam.***

Ada sebuah riwayat shohih yang menjelaskan(sebenarnya banyak riwayat tapi tidak dijelaskan disini karena cukup panjang), diantaranya riwayat Bukhori bahwasanya Nabi Ibrahim ‘alaihissalaam mendapat perintah untuk datang ke Mekkah, menjenguk keluarganya. Pada saat datang ke Mekkah, Nabi Ismail ‘alaihissalaam sudah menikah. Lalu Nabi Ibrahim datangi rumah nabi Ismail (tentu dengan petunjuk dari Allah subhanahu wata’ala), memberikan salam kepada istrinya (nabi Ismail), lalu nabi Ibrahim tanya “Dimana suamimu (Ismail)?”.

Istrinya menjawab “Suami saya lagi pergi”.

Trus ditanya, “Bagaimana kehidupan kalian?”.

Kehidupan kami susah, ....” (semua isinya adalah keluhan, bermasalah begini begitu, dll). Intinya adalah dia mempermasalahkan kehidupannya dengan Ismail yang selalu saja ada masalah.

Lalu Nabi Ibrahim setelah mendengar, ia mengatakan “Sampaikan kepada suamimu (Ismail), telah datang seseorang bernama Ibrahim [dia tidak mengatakan ayahnya], dan menitipkan pesan agar mengganti tiang rumahnya”.

Lalu pergilah Nabi Ibrahim ‘alaihissalaam.

Sebagian ulama mengatakan, waktu itu Nabi Ismail ‘alaihissalaam sudah menerima wahyu juga, sehingga ia juga sudah tahu ayahnya dia siapa (Nabi), bagaimana (beriman kepada Allah), dan seterusnya.

Maka, Ismail pun pulang dan bertanya, “Siapa yang datang?

Istrinya mengatakan “Ibrahim”.

Apa pesannya?”.

Oh, pesannya agar mengganti tiang rumahmu”.

Maka, Nabi Ismail mengantar istrinya ke rumahnya dan diceraikan. Memang begitu kisahnya. Kalau para Nabi, perintahnya itu dari langit, bukan lagi main-main, bukan kayak kita masih menerka-nerka.


Nabi Ismail ‘alaihissalaam menikah lagi kedua kalinya dengan orang lain yang juga anak kepala suku dari Jurhum.

Nabi Ibrahim waktu itu sudah ketemu Hajar, kemudian pulang, dan datang lagi di waktu yang lain (tidak disebutkan berapa lama selisihnya). Kedatangannya yang kedua, beliau mendatangi lagi Ismail. Beliau memberi salam kepada istrinya dan menanyakan hal yang sama dengan istri pertama Ismail. Jawaban istrinya semuanya pujian, “Alhamdulillaah kehidupan kami begini, baik...”. Nabi Ibrahim mengatakan, “Baik, nanti kalau suamimu datang, beritahu, telah datang seseorang yang bernama Ibrahim dan pesankan bahwasanya pertahankan tiang rumahnya”.

Ketiika Nabi Ismail datang, ditanyakan siapa yang datang, istrinya menjawab bahwa ada seseorang yang bernama Ibrahim dan menunggu di rumah ibu Anda, Hajar, pesannya suruh pertahankan tiang rumah. Istrinya tidak tahu kalau dia disuruh pertahankan. Maka Ismail mengatakan itu ayah saya dan dia minta agar saya mempertahankan kehidupan dengannya. Lalu Nabi Ismail pergi menemui nabi Ibrahim ‘alaihissalaam (di rumah ibunya, Hajar).

Beberapa hari saja bertemu dengan Ismail (baru hitungan hari bertemu setelah beberapa tahun), tiba-tiba datang perintah, menyuruh nabi Ibrahim menyembelih anaknya, padahal baru saja ketemu setelah beberapa tahun. Anak ini (nabi Ismail) laki-laki, kuat, dan juga seorang nabi, ini cobaannya kok harus disembelih. Dan wahyu ini datang dari Allah hanya lewat mimpi.

***Perlu kita ketahui, Nabi Ibrahim ‘alaihissalaam dan semua nabi maupun semua manusia belum pernah bertemu dengan Allah. Jadi kita harus menyadari bahwa bukan cuma kita yang tidak pernah lihat Allah, para nabi pun tidak lihat Allah subhanahu wata’ala. Makanya, disini, waktu datang perintah pun untuk menyembelih anaknya, perintahnya melalui mimpi.***

Apa yang terjadi? Kita dengarkan kisahnya. Disebutkan dalam Alquran dalam surah Ash-Shaffaat (37) : 102-111.

Ayat 102. “Maka tatkala anak itu sampai pada umur sanggup (maksudnya si Ismail) berusaha bersama-sama dengan ayahnya (Ibrahim). Ibrahim berkata “Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwasanya aku menyembelihmu. Maka, fikirkanlah apa pendapatmu.” (artinya, berikan saya apa pendapatmu).

Disini ulama tafsir mengatakan, kalau Ismail belum kenal Allah, gak mungkin dia spontanitas mau menerima. Tapi, karena justru dia juga sudah ternobatkan menjadi nabi, maka dia siap.

 “Ismail menjawab, “Hai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan Allah kepadamu, insya Allah Anda akan mendapati aku termasuk orang-orang yang sabar.

Ayat 103. “Tatkala keduanya telah berserah diri”, artinya dibawalah Ismail ‘alaihissalaam ditempat yang telah ditunjuk oleh Jibril di sebuah gunung di sekitar Jamroh, di Mina.
(***Nanti ada Jamroh Aqobah, orang bilang lempar syetan, kecil-sedang-besar. Sebenarnya itu tidak ada setannya, jangan sampai Anda pikir ada syetannya sehingga mengambil sendal, kayu, batu besar lalu melempar. Padahal sunnahnya yang diambil adalah kerikil kecil. Karena Nabi Ibrahim ‘alaihissalaam pada saat membawa anaknya menuju ke tempat sasaran di Mina itu yang Allah suruh, di sebuah batu, diletakkan disitu, pada saat ditaruh, syetan datang menggoda agar tidak dilaksanakan. Maka Nabi Ibrahim ‘alaihissalaam membaca isti’adzah dan melemparnya tujuh kali dengan batu kerikil, melempari syetan tersebut.***) 

Karena nabi Ibrahim ‘alaihissalaam sudah niat menyembelih anaknya karena perintah Allah, Nabi Ismail pun sudah menyerahkan dirinya, “Sembelihlah saya karena Allah yang suruh”,
dan Ibrahim membaringkan anaknya di atas pelipisnya”, jadi sudah diletakkan dan diangkat dagunya untuk disembelih lehernya, sudah jelas dan tidak ada lagi keraguan.

Nyatalah kesabaran keduanya”, Allah sudah tahu kesabaran keduanya.

Ayat 104. “Maka Kami panggil dia: Hai Ibrahim.

Ayat 105. “Sesungguhnya kamu telah mempercayai mimpi itu”, artinya perintah untuk disuruh menyembelih. “Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan bagi orang-orang yang berbuat kebaikan.

Ayat 106. “Sesungguhnya itu benar-benar suatu ujian yang berat”, cuma lihat mimpi saja tapi karena seorang Nabi, harus percaya.

Ayat 107. “Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar”, ini asas dari sembelihan idul Adha.

Ayat 108. “Kami abadikan untuk Ibrahim ujian tadi di kalangan orang-orang yang datang kemudian”, apa maksudnya? Kata ulama, seperti kasus Hajar tadi, selama orang sa’i, Hajar panen pahalanya. Selama Idul Adha ada, Ibrahim dan Ismail panen pahalanya. Jadi hikmah imaniyahnya disitu. Dikerjakan karena Allah, maka akan berbekas. Dan Subhanallah, tidak ada sesuatu yang dikerjakan karena Allah kecuali akan ada bekasnya dan sangat besar.

Ayat 109. “Yaitu Kesejahteraan dilimpahkan kepada Ibrahim”.

Ayat 110. “Demikianlah Kami memberikan balasan bagi orang-orang yang berbuat baik”.

Ayat  111. “Sesungguhnya, ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman”.

 Lalu setelah itu, mulailah ada rentetan ibadah haji. Sa’i sudah selesai tadi di zaman Hajar, kemudian sembelihan juga sudah ada tinggal masalah Ka’bah (tawaf).

Maka Allah subhanahu wata’ala memerintahkan nabi Ibrahim ‘alaihissalaam untuk membangun Ka’bah (asas/pondasinya sudah ada). Lalu Nabi Ibrahim ‘alaihissalaam dan Nabi Ismail mulailah membangun Ka’bah, bekerjasama, hanya dua orang saja. Disini kebanyakan mereka berdua saja yang membangun karena perintah wahyu begitu. Dan ini pendapat yang paling rojih. Tidak dilibatkan masyarakat Mekkah waktu itu. Jadi, mereka berdua saja yang membangunnya, meletakkan batu demi batu, tentunya batu pada saat itu sangat sederhana, jadi tanah liat yang dibasahin kemudian dicetak, dibentuk, dikeringkan, sudah, jadi bisa runtuh setiap saat.

Maka dibuatlah batu-batu seperti itu kemudian disusunlah. Dan yang kita tau ada maqom Ibrahim (tempat telapak kaki nabi Ibrahim) itu bukan apa-apa, jangan jadi jahil disini, karena banyak orang mengganggap itu sakral. Dibungkus dengan kubah emas lah, bisa dipegang-pegang lah, ada berkahnya.. itu tidak ada sama sekali. Itu hanya sekedar telapak kaki nabi Ibrahim. Dalam sirah disebutkan, nabi Ibrahim ‘alaihissalaam waktu membangun ka’bah, setiap sudah mengatur bata-nya, beliau mundur untuk melihat apakah sudah stabil bangunannya atau belum. Hanya itu saja. Kenapa dikekalkan oleh Allah subhanahu wata’ala? Karena ketulusannya nabi Ibrahim, jadi orang bisa kenang. Salah satu perilaku dikekalkannya, tidak ada orang yang tawaf (umrah atau haji) kecuali harus sholat 2 rakaat di belakang maqom Ibrahim. Itu bagian dari tawaf itu sendiri (jika haji dan umrah).

Note: ***sholat di belakang maqom Ibrahim tidak harus pas dibelakangnya. Sampai ke tempat sa’i di belakang itu tempat sholat 2 rakaat. Jadi jangan ngotot di tempat tawaf sehingga kepalanya diinjak-injak oleh jemaah haji.***

Setelah ka’bah selesai dibangun, lalu ada wahyu datang kepada nabi Ibrahim ‘alaihissalam.

Bersambung...

(Sumber: ditranskrip langsung dari ceramah Ust. Dr. Khalid Basalamah hafidzahullaah)

#sirahnabawiyah

Minggu, 07 Februari 2016

Ibarat Ayam

Bismillaah...

Ibarat ayam peliharaan
Pagi kau lepas, terserah dia mau kemana...
Sore harus pulang. Balik kembali ke kandangnya.
Tak perlu kau kepoin dia
Tak perlu kau tanyakan padanya,
"Kamu darimana?"
"Kamu tadi bikin apa?"
"Kamu kemana aja tadi?"

Lalu, ketika dia pun terlambat pulang
Kita tetap menyambutnya
Karena intinya, yang penting dia pulang
Kita tak kepoin dia
Kita pun tak tanyakan padanya,
"Kamu darimana?"
"Kamu tadi bikin apa?"
"Kenapa kamu terlambat pulang?"

Iya kan?
Iya...
Tak perlu kepo nanyain.
Cuekin saja....

Note : "Jika kamu tak ingin dikepoin, tak ingin ditanya-tanya, maka mungkin, kamu seperti ......"

Sinjai, 7 Februari 2016
@Sinjai

Jumat, 05 Februari 2016

SIRAH NABAWIYAH (3)

Masa Sebelum Nabi Dilahirkan

Waktu malaikat datang ke rumah Ibrahim ‘alaihissalaam, seperti apa sih kejadiannya?

Allah sebutkan dalam surah Adz Dzaariyat (surah ke 51) ayat 24-30:
Sudah sampaikah kepadamu hai Muhammad cerita tentang tamunya Ibrahim?” (dua malaikat yang datang untuk menghancurkan kaum Luth).

Kisahnya bagaimana? Yaitu “Malaikat-malaikat yang dimuliakan” kata Allah di ayat 24.

Ayat 25 “Ingatlah, ketika mereka datang ke tempat nya Ibrahim dan mengucapkan ‘Salaamun’ atau keselamatan bagimu wahai Ibrahim”,

Ibrahim pun menjawab “Salaam (juga, artinya keselamatan untuk kalian), sesungguhnya kalian orang-orang yang tidak dikenal” kata Nabi Ibrahim kepada dua malaikat tadi. Ibrahim pun karena terkenal dengan karomnya, sangat ringan tangan, sangat suka dengan tamu, maka pada saat malaikat yang tidak dikenal ini datang, dipersilakan masuk, tidak ditanya siapa kalian, yang pertama Nabi Ibrahim ‘alaihissalam lakukan adalah beliau secara diam-diam menemui keluarganya di belakang (di dapur) kemudian dia menyembelih seekor anak sapi yang gemuk. Langsung dimasak dan dihidangkan kepada tamunya (tanpa menanyakan siapa kalian). Ini sebuah perilaku yang kata ulama tafsir mengatakan contoh yang sangat baik dari nabi Ibrahim ‘alaihissalaam. **Kalau sudah ada yang datang ke rumah, tidak usah dimulai dengan suudzon dulu (siapa orang ini dan segalanya), berikan sesuatu mungkin minuman atau makanan lalu ditanya ada apa kira-kira kebutuhannya.** Nabi Ibrahim ‘alaihissalaam melakukan itu dalam ayat ini.

Lalu, tatkala dihidangkan kepada dua malaikat tadi, Ibrahim lalu berkata “Silakan di makan”, ini ayat 27.

Ayat 28, “Tapi mereka tidak mau makan. Karena itu, Nabi Ibrahim merasa takut terhadap mereka.
Mereka (malaikat) berkata ‘Janganlah kamu takut’, dan menyampaikan berita gembira kepada Ibrahim tentang akan lahirnya seorang anak bagi Ibrahim yang bernama Ishaq”, inilah dari Sarah.

Ayat selanjutnya “Kemudian istrinya (Sarah) datang memekik lalu menepuk mukanya sendiri seraya berkata ‘Sesungguhnya aku seorang wanita yang tua dan mandul”.

Lalu para malaikat menjawab “Demikianlah Tuhan kalian memfirmankan, sesungguhnya Dialah yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui”. Artinya, Allah subhanahu wa ta’ala mampu membuat apapun bahkan Allah mampu membuat semua wanita hamil tanpa laki-laki kalau Allah mau, bisa melahirkan anak, bisa punya keturunan tidak harus berhubungan biologis antara suami istri, tapi itu kekuasaan Allah ‘azza wa jalla.

Akhirnya, Sarah hamil dan melahirkan seorang anak yang bernama Ishaq yang nantinya juga akan menjadi Nabi.

Inilah sebab Nabi Ibrahim ‘alaihissalam diberi julukan abul Anbiya’ (ayahnya para Nabi), karena dari dua istrinya, dua-dua anaknya nabi; Ismail dan Ishaq.

Setelah Sarah melahirkan, Allah ‘azza wa jalla memerintahkan Ibrahim ‘alaihissalam untuk membawa Hajar dan anaknya Ismail ke Mekkah. Waktu akan pergi, Nabi Ibrahim ‘alaihissalaam tidak menceritakan kepada Hajar dan anaknya Ismail (waktu itu Ismail masih kecil, masih menyusui). Dibawa saja naik unta sampai tiba di Mekkah.

***Mekkah waktu itu padang pasir, tidak ada pohon, tidak ada orang, lembah. Kalau kita liat gambar aslinya Ka’bah, itu ada pegunungan di sekelilingnya dan itu lembah. Itulah hikmahnya disana tidak pernah hujan. Satu kali hujan pasti banjir, karena memang lembah. Jadi kalau turun hujan dari gunung, pasti numpuk semua di Ka’bah, seperti kejadian beberapa tahun yang lalu, banjir sampai di pintu Ka’bah. 

Mekkah waktu itu tidak ada pohon, tidak ada makanan, tidak ada orang, tidak ada kehidupan, padang pasir (lembah). Sebagian ulama mengatakan, memang asalnya Ka’bah itu asasnya sudah ada dan pernah Ka’bah itu dibangun oleh Adam ‘alaihissalam dengan anaknya (Shith) (yang banyak kita ketahui Habil dan Qabil, tapi ada lagi yang bernama Shith, jadi nabi Adam memiliki banyak anak). Shith ini anak yang sangat sholeh, tapi dia tidak diangkat menjadi nabi, karena sudah disepakati 10 abad dari zaman nabi Adam ‘alaihissalaam itu tidak ada syirik, tidak dibutuhkan nabi. Nanti setelah adanya kesyirikan barulah Allah subhanahu wa ta’ala mengutus Idris ‘alaihissalaam.***

Lalu dibawalah Ismail ‘alaihissalaam dengan ibunya Hajar, oleh Ibrahim, tiba di lembah lalu diletakkan saja, ditaruh “Silakan turun disini”.
Hajar bingung.
Dalam riwayat shohih, Hajar berkata “Hai Ibrohim, apakah Anda meletakkan kami di lembah ini, tidak ada kehidupan, tidak ada orang?” Kemudian Nabi Ibrahim waktu itu langsung mau jalan. Jadi tidak ada keterangan, tidak ada kejelasan, kita mau buat apa disini.

Nabi Ibrahim merasa sedih sebenarnya, tapi ini kan perintah, perintah Allah cuma datang, wahyunya apa? “Antar istrimu dan anakmu (Hajar dan Ismail) ke Mekkah, di lembah”, itu saja, selesai. Untuk apa disana tidak jelas. Ditaruh saja disitu, pokoknya perintah Allah begitu. Nabi Ibrahim patuh saja, taruh istri dan anaknya tanpa penjelasan. Karena dia merasa sedih, dia tidak melihat ke Hajar, dia terus membelakangi.

Hajar mengikuti dari belakang, “Hai Ibrohim, apakah engkau membiarkan kami di lembah ini?”.

Nabi Ibrahim tidak jawab, sampai tiga kali bertanya.

Akhirnya Hajar berkata, dalam riwayat Shohih menjelaskan bagaimana keimanan Hajar (Hajar tahu Ibrahim adalah seorang nabi Allah), ia mengatakan “Aaallaaahu amaroka bihadza” (Apakah Allah yang menyuruh engkau melakukan ini?), maka Nabi Ibrahim ‘alaihissalaam menganggukkan kepalanya sambil menangis (sedih).

Maka Hajar menjawab pertanyaan membesarkan jiwanya dan suaminya juga dan mengatakan dengan keyakinan luar biasa “Kalau begitu, Allah tidak akan membiarkan kami”.

Nabi Ibrahim ‘alaihissalam pun mengikuti wahyu, langsung pulang.

Hajar, kisahnya sendirian sama Ismail, lalu akhirnya dia duduk di padang pasir, tidak ada sebuah pohon pun yang menaunginya, menyusui anaknya. Setelah beberapa saat, dia merasa kekurangan, haus, panas, butuh air. Maka dia pun keliling mencari air. Tidak ditemukan di sekitar situ. Lalu akhirnya dia mendapati dua bukit yang sudah kita kenal; Shafa dan Marwah. Naiklah dia ke Shafa, sebuah gunung yang besar (*sekarang tentu sudah keliatan tidak besar karena sudah di keramik, dulu gunungnya sangat tinggi).

Kenapa Hajar naik ke Shafa? Karena di padang pasir, kalau tempat itu kering sekali, biasanya matahari itu sangat panas, nanti mataharinya itu bisa memantulkan cahaya air dari tempat lain (fatamorgana, yang nyatanya tidak ada). Itu sering terjadi karena panasnya cuaca.

Jadi, Hajar melihat dari Shafa , seakan-akan di gunung Marwah itu ada air. Mulailah Hajar sai, artinya berjalan, turun. Di tengah-tengah lembah, disitu mulai menukik ke bukit Marwah. Agar gampang naik ke atas, maka Hajar lari. Lari dulu supaya nanti naik ke atas (Marwah) itu bisa lebih gampang. Naiklah ke Marwah. Dilihat lagi ke arah Shafa seakan-akan ada air (padahal gak ada). Hajar turun lagi, ke Shafa, bolak balik sampai tujuh kali.

Apa sentuhan imaniyah dari peristiwa ini? Hajar ‘alaihassalaam karena memang patuh kepada Allah dan mengikuti perintah suaminya tadi, lalu, apapun yang dia kerjakan termasuk sa’i tadi mencari air untuk Ismail, niatnya hanya sebagai seorang ibu saja, karena dia tulus untuk itu, Allah jadikan selama orang sa’i sampai hari kiamat, Hajar PANEN pahalanya. Ini dari sisi imaniyah yang tidak disadari.

Apa pelajaran paling besar? Bahwasanya, siapapun yang mengerjakan sesuatu karena Allah (ex: berjalan ingin menjenguk orang tuanya, menjenguk saudaranya yang sakit, membantu orang), setiap langkah bernilai PAHALA di sisi Allah. Dan pasti ada bekasnya, selama ketulusan itu ada. Disini Hajar, hanya sekedar mau cari air buat anaknya, gak ada pikiran lain, tapi itu perilaku yang baik. Dan tadi itu dia patuh dengan perintah Allah, kepada suaminya, dan dia dukung suaminya untuk itu, maka Allah subhanahu wata’ala memudahkan. Selama sa’i, bayangkan nih kalau orang sa’i, jutaan orang disitu, berapa banyak tuh pahalanya. Kalau Allah catat satu pahala saja per orang, kali sekian juta, kali setiap hari sampai hari kiamat, itu berapa banyak pahala yang dipanen oleh Hajar ‘alaihassalaam. Berarti bentuk ketaatan kepada Allah dan suami itu sesuatu yang LUAR BIASA bagi seorang wanita.


Kita kembali ke poinnya.

Setelah tujuh kali ia berjalan, barulah Hajar menyadari ternyata tidak ada air disini. Dan Ismail itu ditinggal sendiri, karena tempatnya Ismail cukup jauh dari situ. Ternyata waktu Hajar sudah keletihan (capek) mencari (air) tapi tidak dapat, ada beberapa atsar, tapi yang paling rojih sebenarnya Jibril ‘alaihissalam datang, tapi tidak dilihat oleh Hajar, lalu mengebaskan sayapnya sehingga membuat tanah di padang pasir itu mengeluarkan mata air yang kita kenal dengan ZAM-ZAM.

Ada riwayat lain yang mengatakan air Zam-zam itu keluar dari bekas telapak kaki untanya nabi Ibrahim ‘alaihissalaam, tapi ini marjuh (pendapat yang tidak terlalu kuat). Lebih kuat tadi Jibril ‘alaihissalaam yang datang. Ada pendapat lain juga yang mengatakan bahwasanya keluar dari hentakan kaki nabi Ismail pada saat menangis. Tapi yang paling kuat adalah Jibril ‘alaihissalam datang dan mengebaskan dengan sayapnya sehingga keluarlah mata air tersebut.

Ada pertanyaan kecil, selama ini kita tahu Zam-zam itu namanya air, tau gak apa artinya Zam-Zam? Jadi, Zam-zam itu pada saat dilihat airnya oleh Hajar ‘alaihassalaam, karena gembiranya, maka beliau membuat seperti bendungan dari pasir yang dikumpulkan, takutnya airnya habis, karena ini padang pasir. Maka dikumpullah, sambil mengucapkan “ZAM-ZAM”, “berkumpullah, berkumpullah”. Jadi ZAM-ZAM artinya BERKUMPUL. Maka ditutuplah.

Kata Nabi sallallaahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits Bukhari Muslim, “Semoga Allah merahmati ibunya Ismail”, kalau dia biarkan, maka akan menjadi lautan yang luas. Tapi, karena ketakutannya seorang ibu, jangan sampai habis ini air, maka ditutuplah/ditahan. Jadi akhirnya dia Cuma sekedar seperti mata air. 

Akhirnya, Hajar ‘alaihissalaam minum dari situ, mulailah hidup (karena yang paling penting air), dan SUBHANALLAH, sebagaimana dalam hadits shohih dikatakan, zam-zam bagi orang yang meminumnya, boleh niat apa saja.

Sebagaimana imam Syafi’i rahimahullah mengatakan “Saya minum Zam-zam dengan tiga niat; saya minta agar panahan saya tidak pernah meleset, dan itu berhasil (panahannya tidak pernah lagi meleset setelah minum zam-zam), kedua, saya (Imam Syafi’i) meminta agar menjadi ‘alimnya Muslimin (ulama), dan yang ketiga, saya meminta dimasukkan syurga dengan minum zam-zam. Jadi jangan minum zam-zam Cuma minta disembuhkan penyakit, itu kecil. Minta semuanya. Tapi zam-zam, bukan datang kepada orang yang dianggap pintar, akhirnya diludahi trus diminum. Itu penipuan terhadap masyarakat. Jangan pernah Anda minum air yang ditiup-tiup oleh orang, Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah melakukan itu (meniup-niup air apalagi meludah, baik kalau sikat gigi, kalau tidak?! :) bisa saja mentransfer penyakit). Kata Nabi sallallaahu ‘alaihi wa sallam “Zam-zam itu minuman sekaligus makanan yang mengenyangkan”. Itu hadits shohih. Makanya jika orang minum zam-zam itu sudah cukup walaupun tidak makan. Beberapa sahabat pernah selama tiga pekan di Mekkah, mereka tidak makan apa-apa, Cuma minum zam-zam dan tercukupkan. Itu karunia Allah ‘azza wa jalla kepada ummat ini.


Hiduplah Hajar pada saat itu. Nabi Ibrahim ‘alaihissalaam waktu pulang, dalam perjalanan, berdoa kepada Allah subhanahu wa ta’ala “Ya Allah, aku meninggalkan istri dan anakku di sebuah lembah, tidak ada sedikitpun pohonnya”, rumput pun tidak ada, kosong sama sekali. Kemudian Ibrahim melanjutkan “di lokasi/tempat rumahmu yang muharrom”, disini poinnya. Ini menandakan (kata ulama tafsir), ka’bah itu asasnya sudah ada dan mulailah mereka (ulama) menjabarkan dengan beberapa atsar yang menyebutkan bahwasanya pernah dibangun oleh Adam ‘alaihissalaam dan Shith, kemudian dengan berjalannya waktu, hancur. Nanti Nabi Ibrahim ‘alaihissalaam diperintahkan untuk membangun kembali ka’bah. Jadi Ka’bah bukan baru dibangun pada saat itu tapi pondasinya sudah ada sebelumnya, lalu dibangun kembali.

Lalu, Nabi Ibrahim pada saat berdoa, Nabi Ibrahim pun menyebutkan dalam do’anya yang masyhur yang mengatakan “Kirimlah orang-orang kepada istri dan anak saya, supaya mereka tidak sendirian”. Maka Allah subhanahu wa ta’ala pun menerima doanya.

Apa yang terjadi? Ada sebuah kasus yang terjadi pada saat itu.



Bersambung...

(Sumber: ditranskrip langsung dari ceramah Ust. Dr. Khalid Basalamah hafidzahullaah)

‪#‎sirah‬nabawiyah

Sabtu, 30 Januari 2016

Me Time, Antara Harapan dan Kenyataan

Bismillaah

Ingiin sekali rasanya juga punya waktu yang orang-orang sebut "Me Time".
Ingiin sekali rasanya juga punya waktu sejenak, ya, sejenak saja untuk merebahkan diri atas kepenatan mengurus semuanya.
Tapi, harapan memang seringkali tak seindah kenyataan.

Bahkan, saat sedang istirahat pun, kadang harus terbangun karena teriakan-teriakan kecil.
Bahkan, sholat khusyuk pun hampir tak pernah lagi terasa hanya karena tangisan-tangisan mereka.
Bahkan, saat sakit pun, rasanya seperti tak diizinkan untuk beristirahat sejenak, mengatur kembali kondisi tubuh yang drop.
Bahkan, saat makan pun hampir tak pernah tenang ketika tangan kecil mereka menarik-narik.
Bahkan, saat piknik pun, saat yang seharusnya kita pun bersantai sama dengan mereka, pun masih harus mengurusi segala tetek bengek dari keluarga kita.

Ya, memang, ternyata seorang ibu butuh "Me Time".
Waktu sejenak saja untuk "beristirahat" dari hiruk pikuk aktivitasnya sehari-hari.
Sejenak saja, diberi waktu untuk memanjakan diri dengan meluruskan badan di tempat tidur.
Sejenak saja, diberi waktu untuk makan dengan tenang.
Sejenak saja...

Wahai ibu... bersabarlah
Waktu istirahat memang hampir tidak akan pernah mungkin ada untukmu di dunia ini.
Bersabarlah, karena semua aktivitas mu in sya Allah akan dinilai oleh Allah.
Bersabarlah dengan teriakan-teriakan, tangisan-tangisan bahkan hardikan-hardikan dari anak-anakmu, yang mungkin tidak mustahil akan membuat kesabaranmu hilang.
Bersabarlah...

Istirahat kita memang bukan disini, bukan di dunia ini..
Tapi, istirahat kita adalah, saat kita telah menginjakkan kaki kita di syurga Allah, aamiin

Sinjai, 30 Januari 2016

Jumat, 29 Januari 2016

SIRAH NABAWIYAH (2)

Masa Sebelum Nabi Dilahirkan

Tiba-tiba saja, tangan kanannya si raja itu stroke, tiba-tiba tidak bisa bergerak. Mau menyentuh tidak bisa.


Apa yang kau lakukan dengan saya?”, kata raja itu.

Sarah mengatakan “Saya tidak berbuat apa-apa, saya hanya berdoa kepada Tuhan saya agar diselamatkan dari keburukanmu.

Raja mengatakan, “Mintalah kepada Tuhanmu agar saya dikembalikan dan saya tidak akan ganggu kamu.

Maka Sarah pun berdoa kepada Allah ‘azza wa jalla agar raja disembuhkan. Raja pun sembuh. Tapi, sang raja belum yakin, maka apa yang ia lakukan? Dia dekati lagi yang kedua kalinya. Jadi dia berbohong tadi. Maka kena sakit yang sama, tangannya ingin menjamah tiba-tiba tidak bisa bergerak.

Raja berkata lagi, “Mintalah kepada Tuhanmu agar saya disembuhkan dan saya tidak akan ganggu kamu, saya janji”.
Ternyata, Sarah berdoa yang kedua kali, raja kembali lagi sembuh, lalu dia mau menjamah lagi. Sampai tiga kali. Yang ketiga kalinya, pada saat dia ingin sentuh, akhirnya kembali lagi seperti itu dan ia berkata,

Saya berjanji dan sudah pasti saya tidak akan ganggu kamu, disaksikan oleh semua orang-orang yang ada di istana saya ini, saya akan bebaskan kamu.

Lalu dikeluarkan seorang budak wanita oleh si raja ini. Itulah HAJAR.
Ini saya hadiahkan untukmu”, kata raja.

Sarah pun berdoa kepada Allah dan sembuhlah tangan sang raja lalu ia berkata dalam riwayat yang masyhur, “Keluarkan wanita ini dari istana saya karena yang kalian bawa ini adalah jin”. Raja tidak yakin kepada Allah subhanahu wa ta’ala sehingga terucaplah kalimat tersebut.

Maka, pulanglah Sarah membawa Hajar. Ini kisah AWAL nya. Jadi Hajar itu memang seorang budak yang dihadiahkan oleh raja Mesir yang tadinya ingin berbuat jahat kepada Sarah.
Pulanglah mereka.

Note: *Ada beberapa riwayat, ada yang mengatakan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam tinggal di Palestina, ada riwayat yang mengatakan Nabi Ibrahim tinggal di Babilonia. Tapi kalau kita gabungkan kedua riwayat ini, Nabi Ibrahim ‘alaihissalaam memang lahir di kota Babilonia, Irak. Dan perlu kita tahu, Irak itu bukan wilayah asli orang Arab. Jadi Arab itu ada dua, ada Arab Musta’ribah dan ada Arab Asli. Orang Arab Asli itu dari Yaman, dan ada orang Arab yang terArabkan. Ini diistilahkan bagi siapapun yang menikah dengan orang Arab atau menggunakan bahasa Arab di lisannya. Seperti negara-negara di Afrika; Mesir, Tunisia, Aljazair, Maroko, itu semua bukan orang Arab. Orang Mesir itu aslinya suku Qibti. Tapi karena mereka pakai bahasa Arab di negaranya dikatakan negara Arab (orang Arab). Sama dengan Tunisia, Aljazair, Maroko, tiga negara besar di Afrika Utara ini adalah suku Barbar yang terkenal. Karena mereka masuk Islam, mereka menikah dengan orang-orang Arab, bahasanya bahasa Arab, maka dikatakan orang-orang Arab. Seperti halnya Sudan, itu asli Afrika, tapi jadi negara Arab. Begitupun di Irak, bukan negara Arab, tapi karena mereka menggunakan bahasa Arab dan berbaur akhirnya dikatakan negara Arab. Jadi, Nabi Ibrahim ‘alaihissalam bukan asli orang Arab.*

Kembali ke kisah...
Akhirnya mereka semua (Ibrahim, Sarah dan Hajar) kembali ke wilayah Babilonia. Lalu setelahnya mereka pindah ke Palestina. Ringkas cerita (karena kisahnya cukup panjang), intinya adalah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam akhirnya setelah beberapa tahun menikah dengan Sarah dan Sarah tidak memiliki anak (sebagian riwayat mengatakan karena beliau mandul), sampai umurnya Sarah mencapai 60 tahun. Waktu itu, (ada beberapa riwayat juga yang menyebutkan) Hajar dengan Sarah ini selisih umurnya cukup jauh, karena Hajar itu adalah seorang budak yang masih muda sekali pada saat dihadiahkan (tapi tidak disebutkan umurnya, selisih umurnya dengan Sarah cukup jauh).

Sarah, karena merasa khawatir dan merasa kasian dengan Ibrahim ‘alaihissalam tidak punya anak, maka dia hadiahkan Hajar untuk dinikahi. Nabi Ibrahim ‘alaihissalam pun menikahi Hajar dan akhirnya setahun menikah itu punya anak. Anaknya adalah Ismail. Jadi dari Hajar itu, anaknya adalah Ismail.

Setelah punya anak, fitrahnya Sarah muncul, kenapa kok dia tidak bisa memberikan anak sementara Hajar bisa. Lalu ia berdoa kepada Allah ‘azza wa jalla agar juga dikaruniai anak dalam kondisi umur beliau 60 tahun. Apa yang terjadi? Setelah 2 tahun proses tadi, maka malaikat datang kepada Nabi Ibrahim ‘alaihissalaam memberitahukan berita gembira. Asalnya mereka (malaikat) akan datang untuk menghancurkan kaum Nabi Luth yang kaumnya terkenal melakukan homoseksual

Note: ****Nabi Luth adalah keponakan Nabi Ibrahim ‘alaihissalaam. Dan orang yang paling pertama beriman dengan risalah Nabi Ibrahim adalah Nabi Luth. Setelah beriman, Allah utus menjadi nabi maka diutuslah dia ke kaumnya sebagaimana sabda Nabi sallallaahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits shohih Muttafaqun ‘Alaih,

“Semua Nabi diutus untuk kaumnya masing-masing”.


Jadi sebelum Rasulullaah, para nabi itu berdakwah di masyarakatnya masing-masing. Seperti misalnya Nabi Ibrahim, di daerah Palestin, Babilonia dan wilayah Mekkah nantinya, jadi ada 3 lokasi dakwahnya. Sementara Nabi Luth, keponakan beliau, ada di wilayah Yordania, kalau sekarang tepatnya batas Yordania dengan Israil, itu ada laut mati, disitu wilayah dakwahnya Nabi Luth, dan tidak ada kewajiban berdakwah di tempat lain, jadi khusus di wilayah situ saja.
Tapi Nabi Muhammad sallallaahu ‘alaihi wa sallam waktu diutus itu untuk seluruh manusia. Jadi bedanya disitu. Nabi-nabi sebelumnya tidak. Sama halnya Nabi Isa ‘alaihissalam, diutus untuk wilayah sendiri. Jadi keliru kalau ada orang-orang Nasrani mendakwahkan agama Nashara sampai ke Indonesia, itu keliru. Kenapa? Karena Nabi Isa hanya khusus untuk bani Israil, jadi dia bukan untuk berdakwah kemana-mana. Kalau Nabi sallallaahu ‘alaihi wa sallam tidak.
“Wamaa arsalnaka illaa rohmatan lil ‘alamin” (Kami tidak mengutusmu [Muhammad] kecuali untuk seluruh alam semesta). Jadi jelas sekali. Dalam sebuah hadits shohih, kata Nabi sallallaahu ‘alaihi wa sallam “Innama bu’istu minal ahmari wal aswadi” (Saya diutus untuk golongan merah dan golongan hitam), artinya jin dan manusia. Jadi tidak terkecuali.****

Akhirnya, malaikat datang untuk menghancurkan kaum Luth yang waktu itu homoseksual, sudah didakwahi tapi tidak mau terima. Tapi, sebelum ke tempat kaum Luth, mereka (malaikat) mampir dulu ke rumah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, dengan tujuan ingin menyampaikan berita gembira kepada Sarah bahwasanya Sarah akan hamil dan melahirkan anak. Karena Sarah tadi berdoa kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Ini menandakan tiada yang mustahil bagi Allah subhanahu wata’ala, bagaimana dalam kondisi umur yang sudah tua pun, mandul (tidak bisa punya anak) pun bisa hamil, dengan kekuasaan Allah subhanahu wa ta’ala.

Waktu malaikat datang ke rumah Ibrahim ‘alaihissalaam, seperti apa sih kejadiannya?

Bersambung...

(Sumber: ditranskrip langsung dari ceramah Ust. Dr. Khalid Basalamah hafidzahullaah)


#‎sirah‬nabawiyah

SIRAH NABAWIYAH (1)

Masa Sebelum Nabi Dilahirkan

Salah satu kakek dari Rasulullaah shallallaahu 'alaihi wasallam adalah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail 'alaihimussalaam.
Pembahasan pertama kita ke Nabi Ibrahim dulu, agar kita tahu jalur-jalur keturunan hingga sampai ke Rasulullaah shallallaahu 'alaihi wasallam dan bagaimana masyarakat Mekkah sebelum Rasulullaah dilahirkan.


Nabi Ibrahim 'alaihissalam adalah nabi yang mulia, mendapatkan julukan Abul Anbiyaa (ayahnya para Nabi).
 
Nabi Ibrahim 'alaihissalaam itu memiliki dua orang istri; yang pertama adalah Sarah.
Sarah ini masyhur atau sangat terkenal dengan kecantikan dan kemuliaannya.

Suatu waktu, Nabi Ibrahim pernah mengadakan perjalanan bersama Sarah ke wilayah Mesir di Afrika Utara. Kebetulan di zaman itu raja di Mesir adalah orang yang dzolim, suka sekali mengambil istrinya orang, bukan mencari perempuan umumnya tapi istrinya orang. Kenapa? Karena dalam pikiran raja Mesir pada saat itu, kalau seandainya wanita itu dinikahi oleh seorang lelaki, pasti dia pilihan (dipilih oleh laki-laki tersebut). Perilaku sang raja sangat buruk.

Sarah, karena terkenal dengan kecantikannya, maka Nabi Ibrahim 'alaihissalaam waktu jalan dengan Sarah masuk ke Mesir didatangi oleh beberapa prajurit raja Mesir. Mereka ingin mengambil Sarah. Prajurit raja berkata, "Siapa ini?"
Maka Ibrahim 'alaihissalaam mengatakan "Ini saudariku". Beliau tidak mengatakan "Istriku". Kenapa? Karena kalau beliau mengatakan yang sebenarnya, Sarah akan diambil.

(Dan ini disebutkan dalam hadits Bukhari tentang bagaimana di Mahsyar nanti, orang-orang pada saat kepanasan, menunggu lama, maka ada sebagian manusia datang ke Adam, lalu berkata "Wahai Adam, engkaulah ayah kami, engkaulah manusia pertama, mintalah kepada Allah supaya Allah datang mengadili kami (kami ke syurga atau neraka), yang penting Allah datang dulu mengadili" (karena di Mahsyar sangat panas dan luar biasa pemandangannya. Orang ada yang terbalik, wajahnya dibawah, ada yang dibangkitkan dengan bokongnya di atas dan beragam perilaku yang terjadi, naudzubillaah).

Lalu Adam mengatakan "Hari ini Tuhanku telah murka, dan belum pernah murka sebelumnya seperti ini. Nafsi nafsi. Saya cuma bisa selamatkan diriku sendiri. Maka kalian cobalah ke Idris."
Datanglah mereka ke Idris. Dan Idris juga mengatakan hal yang sama. Intinya, setiap nabi didatangi oleh manusia-manusia, sampai mereka tiba ke Ibrahim 'alaihissalaam. Lalu Ibrahim 'alaihissalaam mengatakan "Saya tidak berani karena hari ini Tuhanku telah marah, belum pernah marah sebelumnya seperti ini dan tidak akan marah sesudahnya seperti ini." Lalu beliau melanjutkan, "Saya telah melakukan perbuatan salah".

Apa itu perbuatan salah nabi Ibrahim 'alaihissalaam? Disebutkan dalam riwayat ini, "Saya pernah berbohong". Apa bohongnya? Waktu dia mengatakan kepada prajurit Mesir "Ini saudari saya". Sebenarnya bukan bohong, beliau disini maksudnya saudari saya dalam agama. Tapi, beliau karena ketaatannya kepada Allah menganggap itu dosa. Sehingga beliau mengatakan bahwa beliau pernah berbohong dan berbohongnya pun sama orang kafir demi keselamatan istrinya. Dalam riwayat ini, Ibrahim 'alaihissalaam mengakui bagaimana sebenarnya dulu beliau pernah melakukan itu, dan ini riwayat yang menjelaskan kejadian tadi.)


Kembali ke kisah,

Karena kecantikan Sarah, maka prajurit-prajurit raja Mesir saat itu tetap mengambilnya walaupun nabi Ibrahim sudah mengaku bahwasanya ini adalah saudara saya.

Pada saat dibawa ke istana dan raja Mesir melihat kecantikan yang dimiliki oleh Sarah, maka sang raja langsung ingin menjamahnya.

Maka Sarah berdoa kepada Allah azza wa jalla agar diselamatkan. Tiba-tiba saja sang raja.....



Bersambung

(Sumber: ditranskrip langsung dari ceramah Ust. Dr. Khalid Basalamah hafidzahullaah)

#sirahnabawiyah

Rabu, 20 Januari 2016

Adik-adik Lelakiku

Bismillaah...

Saya punya 7 adik laki-laki dan 5 diantara mereka pernah bahkan sering saya minta untuk antar saya kemana saja, terutama ke rumah teman atau antar paketnya "Mutiara Baby Shop Sinjai"di Makassar.

Tapi saya, sering sekali tidak sadar adik yang mana yang antar saya saat itu. Saya seenaknya saja bilang: "Antar saya kesini"
Adik: "dimana itu? "
Saya: "itu yang masuk lorong ini, dekat mesjid, bla bla"
Ketika pertanyaan lanjutan "dimana itu" muncul lagi, saya baru tersadar, ternyata adik yang pernah antar saya ke tempat itu bukan adik yang sekarang alias beda orang alias adik kesekian.

Inilah suka duka punya banyak adik, terutama adik laki-laki. Alhamdulillaah banyak mahram, banyak yang antar-antar.
Jadi berbahagialah yang punya banyak saudara laki-laki, atau punya banyak anak laki-laki. Karena suatu saat, mereka akan sangat berguna bagi kita.

@Samata