Ketika Mekkah Dikuasai oleh Orang-orang Zalim
Dan yang paling luar biasa, ini kata para ahli sejarah menunjukkan
memang di zaman itu wajar dikatakan zaman Jahiliyah, ada dua patung yang
bernama Isaf dan Naaila. Isaf dan Naaila ini punya kisah tersendiri.
Isaf ini nama seorang laki-laki dan Naaila nama seorang perempuan.
Dulunya, sebelum zaman Amru bin Luhay, jauh sebelumnya, Isaf dan Naaila
ini saling suka ceritanya, kemudian Isaf melamar Naaila dari orang
tuanya, orang tuanya Naaila nolak, tidak diterima.
Zaman itu,
caranya orang kalau ingin ketemu lebih mudah, janjian di musim haji.
Jadi di musim haji mereka kumpul di Mekkah semuanya, maka Isaf dan
Naaila janjian dari Yaman ketemu di Mekkah. Mereka niatnya mau pergi
haji. Setelah itu, mereka lalai di depan Ka’bah di malam hari. (bukan
seperti sekarang, 24 jam ada orang tawaf. Dulu kalau malam, di zaman itu, jika sudah
terbenam matahari Ka'bah sudah kosong).
Lalu dia berhubungan biologis atau berzina dengan Naaila. Jadi, Isaf dan
Naaila berzina di depan Ka’bah. Sudah zina dosa besar, depan Ka’bah
lagi. Apa yang terjadi? Allah KUTUK mereka menjadi batu. Semua ahli
sejarah mengangkat kisah ini.
Keesokan harinya, masyarakat Mekkah
dikagetkan. Akhirnya mereka mengambil sebagai ibroh, Patung Isaf yang
dikutuk tadi ditaruh oleh masyarakat Mekkah di gunung Shafa kemudian
Naaila itu ditaruh patungnya di Marwah, agar setiap kali orang sa’i
(yang pergi haji atau umrah) itu melihat, oh ternyata ini, hati-hati
kalau berbuat dosa di depan Ka’bah, Allah bisa kutuk langsung.
Pada zaman Amru bin Luhay, orang sudah banyak lupa kisahnya Isaf dan
Naaila (karena kejadiannya jauh sebelumnya). Lalu, Amru bin Luhay mengeluarkan
keputusan agar patungnya (Isaf dan Naaila) dibawa dekat Ka’bah lalu
disembah. Ini satu keanehan. Orang yang dikutuk karena berzina, disembah
oleh mereka.
Ada sebuah kisah berhubungan dengan masalah
penyembahan berhala dan kejahilan ini. Riwayat shohih menjelaskan
tentang kisah Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu. Di zaman khilafahnya
Umar bin Khattab radhiyallaahu ‘anhu, itu beliau kadang-kadang tiba-tiba
menangis, kadang-kadang beliau tiba-tiba tertawa. Tapi teman-temannya
ini tidak ada yang berani nanya. Satu waktu ada yang berani menanyakan
mengatakan“Hai Amirul Mukminin (pemimpin orang-orang beriman), kenapa
kadang-kadang Anda nangis, kadang-kadang Anda ketawa, apa sebabnya, bisa
kami tau gak?”
Lalu Umar berkata “Dulu kami di zaman jahiliyah, ada sebuah doktrin/pemahaman di tengah masyarakat Mekkah, yaitu kalau ada anak perempuan berarti Aib buatnya. Akhirnya kami membenci sekali anak
perempuan. Setiap kali ada anak perempuan, kami bunuh. Yang hidup paling
dua atau tiga orang untuk melanjutkan generasi. Selebihnya tidak.”
Umar
mengatakan, “Suatu hari pernah saya mendapat informasi/berita tentang
lahirnya anak perempuan saya. Saya sayang (pada anaknya) tapi
tekanan-tekanan dari masyarakat menganggap itu aib, berat sekali. Dan
saya sabar sampai umur anak itu 6 tahun. Setelah itu, lalu saya
membawanya ke padang pasir, saya gali dan saya tanam dia hidup-hidup,
maka saya sedih kenapa itu terjadi”. Itu zaman jahiliyah, tidak ada
hisabnya. Allah subhanahu wata'ala tidak akan menyalahkan itu karena
Umar sudah masuk Islam tentunya dan akhirnya sebagaimana dalam hadits
nabi shallallaahu 'alaihi wasallam, kalau orang masuk Islam, maka
perilaku dia yang lalu diubah menjadi pahala.
Lanjutannya,
ditanya lagi, “Lalu kenapa Anda tertawa?”,
Ini berhubungan dengan apa yang Amru bin Luhay sudah lakukan, itu
bekasnya sampai ke sahabat-sahabat sebelum mereka masuk Islam. Ia
mengubah semua (mayoritas) ajaran nabi Ibrahim dan berubah di
tangannya dia (Amru bin Luhay).
Dia (Umar) bilang, “Di zaman jahiliyah juga dulu, ada keputusan di
Mekkah [tapi tidak disebutkan dari Amru bin Luhay], keyakinan masyarakat
Mekkah bahwasanya semua masyarakat Mekkah wajib menyembah
berhala/patung, termasuk kalau mereka keluar dari Mekkah itu mereka
harus/wajib membawa patung dari Mekkah.” Disini memang, Amru bin Luhay pernah
mengeluarkan keputusan di zamannya, setelah menyuruh seluruh suku
punya patung di tempat pemukiman mereka, lalu keputusan setelahnya,
semua masyarakat Mekkah dan jamaah haji yang datang itu wajib punya
patung, tapi patung itu buatan orang Mekkah. Apa efeknya? Membuat
seluruh masyarakat Mekkah buat patung, karena bisnis, dijual kepada
jemaah haji dan orang pada beli. Dianggap itu patung, berkah dari Mekkah
dan inilah yang harus disembah.
Umar bin Khattab lalu
mengatakan, “Saya dulu pernah satu waktu keluar ingin mengadakan
perjalanan (safar). Apa yang terjadi? Saya lupa bawa patung dari
Mekkah.” Ini sebabnya Umar tertawa.
Dia bilang, “Setelah di tengah
jalan, saya ingin menyembah tuhan saya, saya ingin meminta pertolongan,
ingin keselamatan, saya lupa bawa batu. Di padang pasir gak ada batu.
Tiba-tiba saya liat, saya punya bekal, karena kan syaratnya harus dari
Mekkah, saya liat tidak ada dari Mekkah kecuali bekal makanan saya (ada
kurma). Lalu saya buat patung dari kurma, lalu saya sembah patung itu.
Setelah selesai saya sembah, saya lapar. Lalu saya potong kepala tuhan
saya dan saya makan.”
Bisa dibayangkan bagaimana jahilnya orang
pada saat itu. Bagaimana mereka tidak menyadari bahwasanya itu adalah
makhluk-makhluk Allah juga. Tapi kalau kita mau lihat, zaman sekarang
dengan teknologi canggih pun masih ada orang yang jahil bahkan lebih
jahil daripada itu. Pergi kuburan minta-minta; menganggap keris bisa
keramat, memberikan keselamatan; tanduk sapi; jimat-jimat; beragam
macam, ini semua sama.
Menggantungkan nasib dengan benda-benda, itu juga
makhluk Allah. Kita harusnya minta langsung pada Allah. Gak boleh kita
bergantung terutama pada benda-benda mati. Kalau itu manusia masih
hidup, orang sholeh, Anda bilang tolong doakan saya, gak masalah kalau
dia masih hidup. Tapi kalau sudah mati? Sampai para ulama Salaf menukil
dalam buku-buku Aqidah “Saya heran melihat orang yang datang ke kuburan
yang dianggap itu orang ‘alim, minta kepada kuburan tersebut padahal
kuburannya makhluknya Allah, di dalamnya juga manusia itu makhluk Allah,
dan sudah jadi tulang, gak bisa memberikan apa-apa. Kalau Anda yakin
kuburan itu bisa memberikan manfaat; pohon, keris, jimat dan segalanya,
maka Tuhannya itu semua lebih mampu.”
Minta kepada Allah subhanahu
wata'ala, bukan minta kepada makhluk tersebut. Kita boleh menggunakan
mereka sebagai fasilitas saja, untuk kehidupan, kebutuhan dan segalanya,
sifatnya bukan hak ilahiyah, tapi kalau sudah sampai hak ilahiyah, itu
tidak boleh lagi. Memberikan kesembuhan, memberikan keselamatan,
menghidupkan, mematikan, menyelamatkan dari musibah, itu semua tidak
boleh sama sekali. Mutlak. Dan inilah yang membuat orang-orang kafir di
Mekkah atau orang-orang Mekkah di cap oleh Allah sebagai orang Musyrik.
Yang kedua, yang Amru bin Luhay lakukan (mengubah ajaran nabi Ibrahim
'alaihissalaam) adalah mengubah talbiyah. Talbiyah haji itu ditambahkan
oleh dia. Talbiyah yang masyhur dari zaman nabi Ibrahim 'alaihissalaam
dan akhirnya menjadi syariat nabi Muhammad shallallaahu 'alaihi wasallam
adalah yang kita sudah hafal sama-sama, “Labbaikallaahumma labbaik”.
Kata-kata Labbaik ini berarti saya menjawab panggilanmu ya Allah dengan
sopan (anjuran yang sangat ditekankan, untuk mengajarkan kepada
anak-anak, kalau kita panggil namanya misalnya, biarkan mereka
mengatakan ‘Labbaik’ karena kata-kata Labbaik itu sebenarnya bagus
sekali, artinya saya menjawab panggilan Anda dengan sopan dan santun),
makanya kita mengatakan “Labbaik Allahumma” (saya menjawab panggilanmu,
ya Allah), “Labbaik” (benar-benar saya patuh dan siap untuk diperintah).
“Labbaika Laa Syariika laka Labbaik” (saya menjawab panggilanmu, ya
Allah, dengan tunduk, dengan patuh, tidak ada sekutu bagiMu dan saya
pasti datang untuk menjawab panggilanmu). “Innal Hamda wan Ni’mata”
(sesungguhnya puji-pujian dan ni’mat), “Laka” (milikmu), “Wal Mulk”
(juga kerajaan), “Laa Syariikalak” (tidak ada sekutu bagiMu). Tidak ada
yang boleh disamakan denganNya, apapun sifatnya, dari makhluk, tidak
boleh sama dengan Allah, atau dipartisipasikan dengan Allah, itulah
namanya musyrik.
Apa yang terjadi? Amru bin Luhay, karena dia
ingin membenarkan perilakunya mendatangkan patung dan patung disuruh
jadi perantara dengan Allah maka dia menambah, setelah “Laa
Syariikalak”, dia tambah “Illaa syariikan huwa lak, tamlikuhu wa maa
malak”. Artinya “Illa syariikan huwa lak” (kecuali sekutu, ya Allah,
milikmu), “tamlikuhu” (yang engkau kuasai), “wa maa malak” (dan apapun
yang ia miliki). Kalimat ini secara dzohir biasa, tapi mengandung
kalimat syirik, artinya boleh berbuat syirik, gak masalah, ada manusia
kita anggap bagus, dia berkuasa, punya kelebihan, kita boleh
partisipasikan dengan Allah, yang penting kita yakini dia adalah
makhluknya Allah. TIDAK BISA. Allah MUTLAK tidak boleh dipartisipasikan,
tidak boleh musyaarokah, tidak boleh syirik (mempartisipasikan Allah
dengan makhluknya).
Yang ketiga adalah, yang terjadi juga,
akhirnya menjadi sebuah syariat di Mekkah: Pensakralan hewan-hewan
tertentu yang disebutkan dengan istilah dalam alquran “Bahiiroh,
Saaibah, Wasiilah dan Ham”, nanti disebutkan ayatnya dan insya Allah
tidak aneh-aneh bagi Anda, karena ini, awalnya saja kalau baru dengar
mungkin kaget, tapi kalau kita sudah baca ayat dan terjemahannya, Anda
akan paham nanti apa itu Bahiroh, apa itu Saaibah, apa itu Wasiilah dan
apa itu Ham. Amru bin Luhay mensyariatkan bagi masyarakat Mekkah,
setelah mulai orang patuh sama dia, sembah berhala, lalu dia bilang
“Kita harus mensakralkan hewan tertentu”.
Kita baca ayatnya, Allah ‘azza wa jalla menceritakan kasusnya dalam surah Al-Maidah (5) : 103.
“Allah sekali-sekali tidak pernah mensyariatkan Bahiroh”, apa itu
Bahiroh? Itu tadi, ajarannya Amru bin Luhay, Bahiroh adalah unta betina
yang telah beranak lima kali dan anak kelimanya itu jantan. Lalu unta
betina itu dibelah telinganya dan dilepaskan, tidak boleh ditunggangi
lagi, tidak boleh diambil air susunya, tidak boleh ada yang ganggu,
disakralkan. Ini namanya Bahiroh.
Juga “Saaibah”. Saaibah itu adalah
unta betina yang dibiarkan pergi kemana saja karena sesuatu nazar. Jadi
kalau masyarakat Mekkah misalnya, dia mau mengadakan perjalanan, dia
bilang “Kalau saya selamat/berhasil, maka unta betina saya ini saya
jadikan Saaibah”. Saaibah itu artinya dibiarkan, disakralkan, tidak
boleh ada yang ganggu, tidak boleh ditunggangi, jadi biar sampai mati
unta itu.
Juga “Wasiilah”, Allah tidak pernah mensyariatkan
“Wasiilah”. Apa itu Wasiilah? Seekor domba betina yang melahirkan anak
kembar dan terdiri dari jantan dan betina, maka yang jantan itu disebut
Wasiilah, tidak boleh disembelih tapi khusus diserahkan untuk berhala.
Allah juga tidak pernah memerintahkan “Ham”. Apa itu Ham? Unta jantan
yang tidak boleh diganggu gugat karena dia telah membuntingkan unta
betina sepuluh kali.
Kejahilan, tidak ada sama sekali
hubungannya. Lalu apa kata Allah? “Akan tetapi orang-orang kafir itu
membuat-buat kedustaan terhadap Allah dan kebanyakan mereka tidak
mengerti”. Lama-lama, karena Amru bin Luhay yang terapkan, ada sebagian
masyarakat Mekkah yang bilang, oh mungkin ini hukumnya Allah. Maka Allah
bantah dalam ayat ini.
Perilaku yang sangat buruk yang juga
dilakukan oleh Amru bin Luhay adalah mengatakan orang kalau tawaf di
Ka’bah itu tidak boleh menggunakan baju kecuali baju dari Mekkah.
Sehingga masyarakat yang datang dari luar Mekkah, yang tidak punya uang,
maka tawafnya telanjang. Sampai pembebasan kota Mekkah tahun 8 Hijriah,
itu di Mekkah masih tawaf telanjang. Dan itu jelas sekali mereka
lakukan itu.
Makanya dalam riwayat yang shohih, nabi shallallaahu
'alaihi wasallam waktu membebaskan kota Mekkah, menghancurkan
berhala-berhala, melarang orang musyrik menginjak Mekkah tahun itu, dan
juga melarang tawaf sambil telanjang. Karena memang mereka lakukan itu,
karena baju-baju yang dipakai tawaf dijual mahal di Mekkah, maka hanya
orang mampu saja yang beli. Kemudian mereka pelan-pelan terubah juga
talbiyahnya, yang tadinya mengucapkan talbiyah, awal mau masuk Ka’bah
mereka talbiyah, akhirnya begitu mulai tawaf mereka bingung mau baca
apa. Lalu dalam AlQur’an dikatakan, “Muka aw wa Tasdiyah” (mereka
bersiul dan menepuk tangan). Berubah semuanya. Ini perilaku-perilaku
yang dibuat oleh Amru bin Luhay.
Akhirnya, sesuai dengan sabda nabi
shallallaahu 'alaihi wasallam tadi yang menceritakan bagaimana dia
disiksa di api neraka karena perilakunya tadi.
Inilah kisah,
bagaimana keadaan Mekkah masyarakat awalnya, darimana asal muasal
mereka, penduduk pertamanya, bagaimana keadaan agama Ibrahim
'alaihissalaam, lalu bagaimana berubah agama nabi Ibrahim 'alaihissalaam
di Mekkah.
Biidznillah, nanti kita akan masuk sebuah sub judul
yang lain yang berjudul “Kisah masuknya agama Yahudi dan Nasrani di
Jazirah Arab”. Ini masih jauh dari lahirnya nabi, kita belum bahas. Kita
juga akan bahas tentang kisah Madinah, kemudian juga akan kita singgung
sedikit masalah Mekkah, bagaimana rentetan sejarah sebelum nabi
shallallaahu 'alaihi wasallam lahir dan hijrah kesana kemudian bagaimana
bisa ada orang Arab tapi agamanya Nasrani, kok bisa?
Awalnya orang Arab
menyembah Allah subhanahu wata'ala, mengikuti ajaran nabi Ibrahim,
kalaupun yang ada di Mekkah mereka sembah berhala, tapi ternyata, sampai
hari ini pun ada yang beragama nasrani ada yang beragama Yahudi.
Darimana asalnya bisa agama Nasrani dan Yahudi masuk ke Jazirah Arab?
Bersambung...
(Sumber: ditranskrip dari ceramah Ust. Dr. Khalid Basalamah hafidzahullaah)
#sirah nabawiyah
Hanya berisi sepenggal pengalaman yang Allah takdirkan terjadi padaku. Semoga qt bisa mengambil pelajaran dan hikmah...
Sabtu, 13 Februari 2016
Jumat, 12 Februari 2016
SIRAH NABAWIYAH (7)
Ketika Mekkah Dikuasai oleh Orang-orang Zalim
Bagaimana kisahnya?
Suatu hari, Amru bin Luhay ini pergi ke negeri Syam (***tadi sudah disebutkan, Syam itu di utara Jazirah Arab, tepatnya sekarang ada Syiria, Libanon, Yordania dan Palestin. Empat ini dulu namanya wilayah Syam. Dan ini perlu dihafal karena memang sangat berentetan dengan buku-buku sejarah kita, dan juga berhubungan dengan hukum Syar’i, diantaranya, nanti di akhir zaman, Islam akan berkumpul lagi di Syam, dan kekuatan (kaum muslimin) banyak di wilayah Syam. Itu ada bahasan tersendiri dan tidak dibahas sekarang. Tapi yang jelas, wilayah Syam ini adalah wilayah yang punya pengaruh besar dalam Islam***).
Waktu itu Amru bin Luhay mengadakan perjalanan perniagaan dari Mekkah ke Syam. Kemudian dia temukan ada satu suku yang bernama Amalik. Suku Amalik ini adalah suku asli negeri Syam. Mereka juga mendengarkan tentang ajaran nabi Ibrahim tapi setengah-setengah dan mereka mempartisipasikan berhala-berhala yang mereka sembah dengan Allah, itulah perbuatan syirik. Jadi mereka buat patung, patungnya ditaruh di rumahnya, kemudian untuk menyembah Allah, mereka merasa tidak bisa langsung, harus melalui patung-patung ini.
Pada saat suku Amalik ini lagi berdoa di depan patung, Amru bin Luhay datang dan mengatakan apa yang kalian sedang lakukan? Mereka mengatakan, “Patung-patung inilah yang memberikan kami makan, memberikan kami minum, memberikan kami kekuatan, memudahkan kami keluar dari permasalahan kalau kami sedang ada masalah, dan (yang paling penting kata mereka) bisa mendekatkan kami kepada Allah”. Jadi, mereka menganggap patung-patung ini adalah perantara dengan Allah ‘azza wa jalla.
Dan sudah selalu dititik beratkan, ALLAH TIDAK BUTUH PERANTARA. Allah ‘azza wa jalla telah mendidik kita dalam hukum-hukum wahyu yang diturunkan agar langsung connect kepada Allah. Makanya pada saat kita keluar, semua hidup kita dituntun doa. Apa itu doa? Komunikasi dengan Allah. Keluar dari rumah, baca “Bismillahi tawakkaltu ‘alallaah” (Ya Allah, dengan namamu saya menyerahkan diri), mau makan “Bismillah”, habis makan “Alhamdulillah”, masuk kamar mandi juga membaca doa “Allahumma inni a’udzubika minal khubutsi wal khobaaits” (Ya Allah, jauhkan kami dari syetan laki-laki dan syetan perempuan [atau lebih tepatnya, keburukan atau kejahatan]. Lalu keluar dari kamar mandi, baca “Ghufroonak” (PengampunanMu, wahai Tuhanku). Mau tidur baca doa, bangun tidur baca doa, mau apa saja baca doa.
Maksudnya apa? Agar kita paham, terlatih dan terbiasa untuk langsung komunikasi dengan Allah, gak butuh perantara. Terlebih lagi kalau perantaranya itu memang benda mati.
Orang pergi ke kuburan, seringkali ada orang yang jadi imam atau sholat, dalam sholatnya mengatakan “Iyyaa ka na’budu, wa iyyaa ka nasta’in” (Hanya kepadamu ya Allah kami menyembah, hanya kepadamu ya Allah kami minta tolong), begitu selesai salam, pergi sebelah mesjid, minta. Mana konsekuensi pernyataan tadi pada saat Anda mengucapkan ‘iyyaaka’ dan ‘iyaaka’. Ternyata, orang-orang kafir Quraisy di Mekkah pun sama konsepnya. Allah ceritakan dalam alQur’an “Hai Muhammad, kalau engkau tanya orang-orang kafir Quraisy, siapa yang menciptakan langit dan bumi? Siapa yang telah mengatur matahari dan bulan? Maka mereka akan mengatakan ‘Ada tuhan namanya Allah.” Lalu ditanya, “Kenapa kalian sembah berhala-berhala ini, untuk apa?”, lalu mereka menjawab dan Allah kekalkan juga dalam alquran “Kami tidak menyembah berhala-berhala ini kecuali kami jadikan perantara antara kami dengan Allah”. Sementara Allah ‘azza wa jalla tidak membutuhkan perantara. Para sahabat nabi, kalau sendal mereka putus, mereka mengangkat tangan ke langit mengatakan, “Ya Allah, sendal saya putus, gantikanlah”, langsung konek dengan Allah. Memang Allah, kalau menjawab doa hambanya itu dalam bentuk SINYAL.
“Ya Allah sembukan saya”, Allah tidak mungkin lemparkan obat dari langit.
“Ya Allah beri saya jodoh”, Allah tidak akan lempar manusia dari langit.
“Ya Allah mudahkan rezki saya”, Allah tidak akan lemparkan uang dari langit. Tapi, apa yang terjadi? Allah akan berikan sinyal. Pada saat saya mengatakan “Ya Allah, sembuhkan saya” dan ternyata Allah terima, mungkin besok tiba-tiba setelah berdoa malamnya, kita ketemu dengan teman/kerabat lalu saya tanyakan “Saya sakit A, B, C”, lalu dia bilang “Saya tau, ada dokter yang bagus disana”, kita ke dokter tersebut, konsultasinya cocok, resep yang dikasi cocok, sembuh. Apakah dokter sama resep yang sembuhkan? Jawabannya TIDAK. Allah yang sembuhkan, Cuma itu jawaban dari doa Anda.
“Ya Allah mudahkan rezeki saya”, Allah gak lemparkan duit tapi Allah akan membuat sinyal-sinyal datang. Tiba-tiba besok ada teman yang datang, nawarin kerja, nawarin kerja sama, beragam macam, kalau kita tangkap sinyal itu, itu rezki dari Allah.
Jodoh. Konyol kalau orang bilang jodoh saya tidak datang-datang, berapa banyak orang yang dia tolak, berapa banyak orang yang dia tidak mau, dan seterusnya. Tugasnya istikharah kemudian dia pilih salah satunya, biidznillah, dia tangkap sinyal itu.
Jadi jelas sekali, ALLAH TIDAK MEMBUTUHKAN PERANTARA. Panjang lebar dijabarkan agar kita tau kenapa Amru bin Luhay ini salah. Karena dia, akhirnya mengambil patung itu, dia mengatakan kepada orang-orang Amalik tadi, suku yang ada di Syam, “Coba berikan kepada saya satu patung, saya ingin beli patung itu, yang paling besar, yang paling kuat (menurut dia; suku Amalik), saya ingin bawa ke Mekkah karena kami di Mekkah tidak punya air”. Tadi kasusnya kenapa? Karena sumur zam-zam ditimbun oleh suku Jurhum. Lalu Amru bin Luhay membawa patung ke Jazirah Arab kemudian ke Mekkah, dan patung yang paling pertama masuk di Mekkah dan ini patung yang paling besar serta patung yang paling dihormati oleh orang-orang Quraisy nantinya, itu patung yang diberi nama Hubal. Dan inilah nanti patung pertama yang dihancurkan oleh nabi shallallaahu 'alaihi wasallam pada saat pembebasan kota Mekkah di tahun 8 Hijriah (nanti kita akan sampai pada sejarah itu biidznillahi ta’ala).
Dan apa yang terjadi? Karena Amru bin Luhay ini sangat baik orangnya, adil, bijaksana di Mekkah, maka kata para ahli sejarah, apa yang dia ucapkan, apa yang dia putuskan, dianggap syariat oleh masyarakat Mekkah. Dia bawalah patung Hubal ini masuk ke Mekkah kemudian dia perintahkan seluruh masyarakat Mekkah untuk menyembah patung itu. Masyarakat Mekkah mayoritasnya (kecuali sedikit sekali) semuanya ikut. Dia tidak mengatakan “Sembahlah ini” begitu saja, tapi “Patung ini bisa menjadi perantara antara kita dengan Allah”. “Ayo kita minta kepada Allah tapi sebutkan namanya ini”. Pertama mereka cuma mengatakan “Hai Hubal, sampaikan hajat kami kepada Allah”, “Hai Hubal, begini”, “Hai Hubal, begitu”, lama-lama sudah tidak ada lagi “Allah”-nya. Sedangkan ada saja “Allah”nya masih syirik, apalagi sudah tidak ada sama sekali. Akhirnya mereka sujud dan menyembah Hubal.
Lebih parah lagi daripada itu, Amru bin Luhay ternyata merasa bahwasanya mungkin ini baik(godaan syetan sudah mulai masuk kepadanya). Lalu dia mendatangkan banyak patung-patung dan memerintahkan setiap suku yang ada di Mekkah (***jadi tadinya induknya suku di Mekkah itu ada dua; Jurhum dan Khuza’ah saja. Setiap suku kalau sudah mulai besar, siapa yang ditokohkan diantara mereka itu bisa membentuk suku baru. Misalnya, dari suku Jurhum sendiri, nanti kita tau, Quraisy itu sendiri nama orang, nama kakek nabi shallallaahu 'alaihi wasallam, salah satu kakeknya namanya Quraisy, dari turunan Jurhum. Karena Quraisy ini orang yang sangat kuat secara fisik, punya pengaruh di masyarakat, kaya raya, punya keturunan banyak, maka dia ditokohkan, dinisbatkanlah di namanya dia suku. Awalnya dia dari Jurhum, jadi ini cabang. Jadi setiap suku induk itu punya cabang-cabang suku yang lain. Nah, ini diantaranya, suku-suku sudah mulai banyak berkembang dari Jurhum dan Khuza’ah di Mekkah***).
Lalu Amru bin Luhay memberikan keputusan setiap suku itu wajib hukumnya memiliki patung masing-masing. Jadi suku A, punya patung di pintu masuk pemukiman mereka (dulu, misalnya suku A, itu tinggal satu lokasi, jadi misalnya 100 Kepala Keluarga KK / 200 KK, orang tau ini suku A. Wilayah sebelah sana ada suku B, dan seterusnya). Maka setiap suku punya patung masing-masing yang mereka sembah.
Lalu yang lebih besar lagi daripada itu, Amru bin Luhay memasukkan dan menambah patung-patung bukan cuma di Mekkah tapi juga di Jazirah Arab karena pada tahun pertama dia memasukkan patung-patung itu, banyak jemaah haji yang datang dari seluruh pelosok muka bumi yang beriman kepada Allah pada saat itu, kemudian melihat masyarakat Mekkah sembah patung. Mereka pun tidak tau apa itu, lalu mereka menganggap itu kebaikan. Mulailah diikuti.
Maka mulailah tersebar patung-patung besar di Jazirah Arab yang mereka buat sendiri, diantaranya ada patung Wud, patung ini banyak disembah oleh suku Kalb (suku yang termasuk besar di Jazirah Arab), kemudian ada patung Suwa’ (nama patung yang disembah oleh suku Hudzail), kemudian ada patung Yaghuts (disembah oleh suku Ghuthaif, dan umumnya penduduk wilayah Jurasy, ini semua wilayah Jazirah Arab), kemudian ada Ya’uq (disembah oleh penduduk wilayah Hamadzan) dan Yazar (disembah oleh masyarakat Yaman). Ini semua nama-nama patung yang disebutkan dalam alQur’an.
Dan yang paling luar biasa, ini kata para ahli sejarah menunjukkan memang di zaman itu wajar dikatakan zaman Jahiliyah, ada dua patung yang bernama Isaf dan Naaila. Isaf dan Naaila ini punya kisah tersendiri.
Bersambung...
(Sumber: ditranskrip dari ceramah Ust. Dr. Khalid Basalamah hafidzahullaah)
#sirahnabawiyah
Bagaimana kisahnya?
Suatu hari, Amru bin Luhay ini pergi ke negeri Syam (***tadi sudah disebutkan, Syam itu di utara Jazirah Arab, tepatnya sekarang ada Syiria, Libanon, Yordania dan Palestin. Empat ini dulu namanya wilayah Syam. Dan ini perlu dihafal karena memang sangat berentetan dengan buku-buku sejarah kita, dan juga berhubungan dengan hukum Syar’i, diantaranya, nanti di akhir zaman, Islam akan berkumpul lagi di Syam, dan kekuatan (kaum muslimin) banyak di wilayah Syam. Itu ada bahasan tersendiri dan tidak dibahas sekarang. Tapi yang jelas, wilayah Syam ini adalah wilayah yang punya pengaruh besar dalam Islam***).
Waktu itu Amru bin Luhay mengadakan perjalanan perniagaan dari Mekkah ke Syam. Kemudian dia temukan ada satu suku yang bernama Amalik. Suku Amalik ini adalah suku asli negeri Syam. Mereka juga mendengarkan tentang ajaran nabi Ibrahim tapi setengah-setengah dan mereka mempartisipasikan berhala-berhala yang mereka sembah dengan Allah, itulah perbuatan syirik. Jadi mereka buat patung, patungnya ditaruh di rumahnya, kemudian untuk menyembah Allah, mereka merasa tidak bisa langsung, harus melalui patung-patung ini.
Pada saat suku Amalik ini lagi berdoa di depan patung, Amru bin Luhay datang dan mengatakan apa yang kalian sedang lakukan? Mereka mengatakan, “Patung-patung inilah yang memberikan kami makan, memberikan kami minum, memberikan kami kekuatan, memudahkan kami keluar dari permasalahan kalau kami sedang ada masalah, dan (yang paling penting kata mereka) bisa mendekatkan kami kepada Allah”. Jadi, mereka menganggap patung-patung ini adalah perantara dengan Allah ‘azza wa jalla.
Dan sudah selalu dititik beratkan, ALLAH TIDAK BUTUH PERANTARA. Allah ‘azza wa jalla telah mendidik kita dalam hukum-hukum wahyu yang diturunkan agar langsung connect kepada Allah. Makanya pada saat kita keluar, semua hidup kita dituntun doa. Apa itu doa? Komunikasi dengan Allah. Keluar dari rumah, baca “Bismillahi tawakkaltu ‘alallaah” (Ya Allah, dengan namamu saya menyerahkan diri), mau makan “Bismillah”, habis makan “Alhamdulillah”, masuk kamar mandi juga membaca doa “Allahumma inni a’udzubika minal khubutsi wal khobaaits” (Ya Allah, jauhkan kami dari syetan laki-laki dan syetan perempuan [atau lebih tepatnya, keburukan atau kejahatan]. Lalu keluar dari kamar mandi, baca “Ghufroonak” (PengampunanMu, wahai Tuhanku). Mau tidur baca doa, bangun tidur baca doa, mau apa saja baca doa.
Maksudnya apa? Agar kita paham, terlatih dan terbiasa untuk langsung komunikasi dengan Allah, gak butuh perantara. Terlebih lagi kalau perantaranya itu memang benda mati.
Orang pergi ke kuburan, seringkali ada orang yang jadi imam atau sholat, dalam sholatnya mengatakan “Iyyaa ka na’budu, wa iyyaa ka nasta’in” (Hanya kepadamu ya Allah kami menyembah, hanya kepadamu ya Allah kami minta tolong), begitu selesai salam, pergi sebelah mesjid, minta. Mana konsekuensi pernyataan tadi pada saat Anda mengucapkan ‘iyyaaka’ dan ‘iyaaka’. Ternyata, orang-orang kafir Quraisy di Mekkah pun sama konsepnya. Allah ceritakan dalam alQur’an “Hai Muhammad, kalau engkau tanya orang-orang kafir Quraisy, siapa yang menciptakan langit dan bumi? Siapa yang telah mengatur matahari dan bulan? Maka mereka akan mengatakan ‘Ada tuhan namanya Allah.” Lalu ditanya, “Kenapa kalian sembah berhala-berhala ini, untuk apa?”, lalu mereka menjawab dan Allah kekalkan juga dalam alquran “Kami tidak menyembah berhala-berhala ini kecuali kami jadikan perantara antara kami dengan Allah”. Sementara Allah ‘azza wa jalla tidak membutuhkan perantara. Para sahabat nabi, kalau sendal mereka putus, mereka mengangkat tangan ke langit mengatakan, “Ya Allah, sendal saya putus, gantikanlah”, langsung konek dengan Allah. Memang Allah, kalau menjawab doa hambanya itu dalam bentuk SINYAL.
“Ya Allah sembukan saya”, Allah tidak mungkin lemparkan obat dari langit.
“Ya Allah beri saya jodoh”, Allah tidak akan lempar manusia dari langit.
“Ya Allah mudahkan rezki saya”, Allah tidak akan lemparkan uang dari langit. Tapi, apa yang terjadi? Allah akan berikan sinyal. Pada saat saya mengatakan “Ya Allah, sembuhkan saya” dan ternyata Allah terima, mungkin besok tiba-tiba setelah berdoa malamnya, kita ketemu dengan teman/kerabat lalu saya tanyakan “Saya sakit A, B, C”, lalu dia bilang “Saya tau, ada dokter yang bagus disana”, kita ke dokter tersebut, konsultasinya cocok, resep yang dikasi cocok, sembuh. Apakah dokter sama resep yang sembuhkan? Jawabannya TIDAK. Allah yang sembuhkan, Cuma itu jawaban dari doa Anda.
“Ya Allah mudahkan rezeki saya”, Allah gak lemparkan duit tapi Allah akan membuat sinyal-sinyal datang. Tiba-tiba besok ada teman yang datang, nawarin kerja, nawarin kerja sama, beragam macam, kalau kita tangkap sinyal itu, itu rezki dari Allah.
Jodoh. Konyol kalau orang bilang jodoh saya tidak datang-datang, berapa banyak orang yang dia tolak, berapa banyak orang yang dia tidak mau, dan seterusnya. Tugasnya istikharah kemudian dia pilih salah satunya, biidznillah, dia tangkap sinyal itu.
Jadi jelas sekali, ALLAH TIDAK MEMBUTUHKAN PERANTARA. Panjang lebar dijabarkan agar kita tau kenapa Amru bin Luhay ini salah. Karena dia, akhirnya mengambil patung itu, dia mengatakan kepada orang-orang Amalik tadi, suku yang ada di Syam, “Coba berikan kepada saya satu patung, saya ingin beli patung itu, yang paling besar, yang paling kuat (menurut dia; suku Amalik), saya ingin bawa ke Mekkah karena kami di Mekkah tidak punya air”. Tadi kasusnya kenapa? Karena sumur zam-zam ditimbun oleh suku Jurhum. Lalu Amru bin Luhay membawa patung ke Jazirah Arab kemudian ke Mekkah, dan patung yang paling pertama masuk di Mekkah dan ini patung yang paling besar serta patung yang paling dihormati oleh orang-orang Quraisy nantinya, itu patung yang diberi nama Hubal. Dan inilah nanti patung pertama yang dihancurkan oleh nabi shallallaahu 'alaihi wasallam pada saat pembebasan kota Mekkah di tahun 8 Hijriah (nanti kita akan sampai pada sejarah itu biidznillahi ta’ala).
Dan apa yang terjadi? Karena Amru bin Luhay ini sangat baik orangnya, adil, bijaksana di Mekkah, maka kata para ahli sejarah, apa yang dia ucapkan, apa yang dia putuskan, dianggap syariat oleh masyarakat Mekkah. Dia bawalah patung Hubal ini masuk ke Mekkah kemudian dia perintahkan seluruh masyarakat Mekkah untuk menyembah patung itu. Masyarakat Mekkah mayoritasnya (kecuali sedikit sekali) semuanya ikut. Dia tidak mengatakan “Sembahlah ini” begitu saja, tapi “Patung ini bisa menjadi perantara antara kita dengan Allah”. “Ayo kita minta kepada Allah tapi sebutkan namanya ini”. Pertama mereka cuma mengatakan “Hai Hubal, sampaikan hajat kami kepada Allah”, “Hai Hubal, begini”, “Hai Hubal, begitu”, lama-lama sudah tidak ada lagi “Allah”-nya. Sedangkan ada saja “Allah”nya masih syirik, apalagi sudah tidak ada sama sekali. Akhirnya mereka sujud dan menyembah Hubal.
Lebih parah lagi daripada itu, Amru bin Luhay ternyata merasa bahwasanya mungkin ini baik(godaan syetan sudah mulai masuk kepadanya). Lalu dia mendatangkan banyak patung-patung dan memerintahkan setiap suku yang ada di Mekkah (***jadi tadinya induknya suku di Mekkah itu ada dua; Jurhum dan Khuza’ah saja. Setiap suku kalau sudah mulai besar, siapa yang ditokohkan diantara mereka itu bisa membentuk suku baru. Misalnya, dari suku Jurhum sendiri, nanti kita tau, Quraisy itu sendiri nama orang, nama kakek nabi shallallaahu 'alaihi wasallam, salah satu kakeknya namanya Quraisy, dari turunan Jurhum. Karena Quraisy ini orang yang sangat kuat secara fisik, punya pengaruh di masyarakat, kaya raya, punya keturunan banyak, maka dia ditokohkan, dinisbatkanlah di namanya dia suku. Awalnya dia dari Jurhum, jadi ini cabang. Jadi setiap suku induk itu punya cabang-cabang suku yang lain. Nah, ini diantaranya, suku-suku sudah mulai banyak berkembang dari Jurhum dan Khuza’ah di Mekkah***).
Lalu Amru bin Luhay memberikan keputusan setiap suku itu wajib hukumnya memiliki patung masing-masing. Jadi suku A, punya patung di pintu masuk pemukiman mereka (dulu, misalnya suku A, itu tinggal satu lokasi, jadi misalnya 100 Kepala Keluarga KK / 200 KK, orang tau ini suku A. Wilayah sebelah sana ada suku B, dan seterusnya). Maka setiap suku punya patung masing-masing yang mereka sembah.
Lalu yang lebih besar lagi daripada itu, Amru bin Luhay memasukkan dan menambah patung-patung bukan cuma di Mekkah tapi juga di Jazirah Arab karena pada tahun pertama dia memasukkan patung-patung itu, banyak jemaah haji yang datang dari seluruh pelosok muka bumi yang beriman kepada Allah pada saat itu, kemudian melihat masyarakat Mekkah sembah patung. Mereka pun tidak tau apa itu, lalu mereka menganggap itu kebaikan. Mulailah diikuti.
Maka mulailah tersebar patung-patung besar di Jazirah Arab yang mereka buat sendiri, diantaranya ada patung Wud, patung ini banyak disembah oleh suku Kalb (suku yang termasuk besar di Jazirah Arab), kemudian ada patung Suwa’ (nama patung yang disembah oleh suku Hudzail), kemudian ada patung Yaghuts (disembah oleh suku Ghuthaif, dan umumnya penduduk wilayah Jurasy, ini semua wilayah Jazirah Arab), kemudian ada Ya’uq (disembah oleh penduduk wilayah Hamadzan) dan Yazar (disembah oleh masyarakat Yaman). Ini semua nama-nama patung yang disebutkan dalam alQur’an.
Dan yang paling luar biasa, ini kata para ahli sejarah menunjukkan memang di zaman itu wajar dikatakan zaman Jahiliyah, ada dua patung yang bernama Isaf dan Naaila. Isaf dan Naaila ini punya kisah tersendiri.
Bersambung...
(Sumber: ditranskrip dari ceramah Ust. Dr. Khalid Basalamah hafidzahullaah)
#sirahnabawiyah
SIRAH NABAWIYAH (6)
Ketika Mekkah Dikuasai oleh Orang-orang Zalim
Kita menyambung kembali bahasan tentang Siroh Nabawiyah. Yang lalu kita sudah membahas tentang Nabi Ibrahim ‘alaihissalaam. Kenapa kita tidak mulai dari lahirnya nabi besar Muhammad shallallaahu 'alaihi wasallam? Karena memang kita ingin mengetahui bagaimana kondisi jazirah Arab juga kota mekkah secara khusus sebelum lahir dan diutusnya nabi besar Muhammad shallallaahu 'alaihi wasallam agar lebih jelas bagi kita bagaimana kiprah beliau dalam berdakwah, bagaimana keadaan masyarat Mekkah pada saat itu dan apa yang sedang mereka lakukan.
Juga jauh sebelumnya kita sudah membahas tentang darimana asalnya penduduk Mekkah yang tadinya Mekkah itu adalah sebuah lembah, kosong, tidak ada penduduk bahkan di dalam al-Quran diceritakan, Nabi Ibrahim mengatakan pada saat meninggalkan Hajar dan Ismail “Ya Allah, aku sudah meninggalkan keluargaku (Hajar dan Ismail) di sebuah lembah yang lembah itu sendiri tidak ada bahkan pohon sama sekali” (jangankan pohon hidup, ranting kering pun tidak ditemukan di lembah Mekkah).
Lalu Hajar dan Ismail tinggallah disana sebagaimana sudah dibahas panjang lebar, dijabarkan bagaimana Allah ‘azza wa jalla akhirnya mengeluarkan air zam-zam dari kepakan sayap Jibril 'alaihissalaam. Kemudian mereka berdua hidup disitu dan Allah subhanahu wata'ala mengutus golongan masyarakat pertama yang membentuk komunitas di Mekkah di zaman nabi Ibrahim 'alaihissalaam setelah Ismail dan Hajar, suku yang keluar dari wilayah Yaman yang pada saat itu di Yaman terjadi sebuah bencana besar karena bendungan mereka yang dikenal di dalam alQuran dan sunnah Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam dengan Saddul Ma’rib, bendungan yang telah ada di sana, kemudian Allah hancurkan bendungan tersebut karena mereka tidak beriman dan bersyukur kepada Allah.
Lalu keluarlah suku-suku Arab dari wilayah Yaman yang memang asalnya orang-orang Arab hanya di wilayah Yaman. Salah satu suku yang keluar dari Yaman untuk mencari tempat hidup yang baru adalah suku Jurhum. Suku Jurhum ini keluar dari wilayah Yaman dari selatan Jazirah Arab menuju ke utara jazirah Arab, negeri Syam (Libanon, Syria, Palestin dan Yordania sekarang). Di tengah jalan, dari selatan jazirah Arab menuju ke utaranya, mereka melewati sekitar Mekkah dan mereka dikagetkan karena melihat di atas wilayah Mekkah ada sekelompok burung yang sedang mengelilingi wilayah tersebut yang biasanya tanda-tanda bagi orang yang paham di padang pasir kalau ada burung yang beterbangan di sekitar lokasi tersebut berarti ada air disana.
Maka mereka pun mampir kesana kemudian menemukan ada Hajar dan Ismail yang duduk di sekitar air zam-zam. Dan sudah kita sebutkan juga bagaimana zam-zam itu berasal dari lisan Hajar ‘alaihassalaam, pada saat dia melihat air, karena dia ketakutan air itu nanti hilang, maka dia menggunakan bahasa asli orang Palestine “Zam-zam” yang berarti “berkumpullah, berkumpullah”. Karena Hajar ‘alaihissalaam takut air zam-zamnya mengalir dan hilang, maka dia membentuk atau menahan air tersebut dengan dua telapak tangannya kemudian dibuatlah gumpalan seperti bendungan kecil dari padang pasir sambil dia tetap terus mengucapkan “zam-zam” berarti “berkumpullah-berkumpullah”, jadi arti zam-zam sebenarnya dari kalimat ini. Dan kata para ulama, nilai imaniyahnya adalah, setiap kali diucapkan kalimat zam-zam, Hajar ‘alaihassalam bisa saja Allah berikan pahala karena kalimat itu berasal dari lisannya.
Begitu pula pada saat Hajar ‘alaihassalam mencari air dari gunung Shafa dan Marwah, dan akhirnya Allah jadikan salah satu bagian daripada rukun haji, Sai antara Shafa dan Marwah, menandakan juga selama orang mengerjakan sa’i tersebut, maka Hajar ‘alaihassalam panen pahalanya.
Lalu, ringkas cerita adalah, Jurhum pun datang dan pamit kepada Hajar untuk tinggal bersama-sama, akhirnya Hajar mengizinkan dan mereka sukarela dari diri mereka sendiri membayar upeti kepada Hajar. Terbentuklah komunitas pertama masyarakat di Mekkah dari Hajar dan Ismail serta suku Jurhum ini.
Ismail 'alaihissalaam pada saaat tumbuh besar, maka Ismail 'alaihissalaam menikah dengan salah satu anak kepala suku Jurhum, yang tadinya Ismail 'alaihissalaam tidak menggunakan bahasa Arab (karena nabi Ismail 'alaihissalaam bukan dari keturunan orang Arab), tapi karena dia menikah dengan anak suku Jurhum yang mereka adalah asli orang Arab, maka keluarlah istilah dari para ahli Sejarah, arab itu ada 2 macam, ada yang arab asli dan ada yang arab Musta’ribah. Ada orang turunan Arab yang asli itu dari Yaman, dan ada orang turunan Arab yang terarabkan karena mereka menggunakan bahasa Arab. Sebagaimana kita tahu sekarang ada wilayah di Afrika Utara; ada Mesir, mereka dari suku Qibti aslinya, ada Tunis, Jazair, Maroko itu semua mereka berasal dari suku Barbar, kemudian ada Libia, Sudan, semua itu juga suku-suku asli dari Afrika. Di daerah wilayah yang lain, timur Jazirah Arab ada Irak, itu juga bukan dari turunan Arab, mereka asli dari suku Babilonia, tetapi karena menggunakan bahasa Arab, maka dikatakan negara-negara Arab.
Nabi Ismail 'alaihissalaam menikah dengan keturunan Jurhum ini, akhirnya terus tumbuh besar sampai ringkas cerita nabi Ibrahim 'alaihissalaam datang kembali dan nabi Ibrahim 'alaihissalaam diperintahkan oleh Allah subhanahu wata'ala untuk menemui Ismail dan yang paling pertama datang setelah bertemu dengan Ismail adalah perintah dari Allah ‘azza wa jalla untuk menyembelih Ismail, anaknya.
Maka nabi Ibrahim 'alaihissalaam pun akhirnya melaksanakan perintah tersebut dengan meyakini mimpinya. Kemudian rentetan sejarahnya mulailah berjalan. Nabi Ibrahim 'alaihissalaam menyampaikan kepada Ismail bahwasanya saya mimpi melihat saya akan menyembelih kamu sebagaimana kisah yang masyhur. Sampai akhirnya Ismail setuju dan mengatakan “Lakukanlah hai ayahku, sesungguhnya engkau akan mendapatkan saya termasuk orang-orang yang sabar”. Lalu terjadilah proses pembawaan, nabi Ibrahim membawa Ismail 'alaihissalaam menuju ke wilayah Mina yang ada Jamroh sekarang, salah satu bagian daripada haji, istilahnya melempar syetan, karena waktu Ibrahim 'alaihissalaam ingin membawa Ismail menuju kesana, syetan mengganggu di tiga titik, lalu dilemparlah dengan batu kerikil oleh nabi Ibrahim 'alaihissalaam, akhirnya syetan tersebut pergi.
Dan pada saat akan disembelih Ismail, barulah Allah utus Jibril 'alaihissalaam datang membawa sembelihan yang besar, kemudian sembelihan tersebut menggantikan Ismail 'alaihissalaam dan jadilah juga bagian daripada ibadah haji harus ada penyembelihan di Idul Qurban.
Rentetan setelahnya adalah Allah subhanahu wata'ala memerintahkan nabi Ibrahim dan nabi Ismail ‘alaihimussalaam untuk membangun ka’bah. Lalu nabi Ibrahim 'alaihissalaam pun membangun ka’bah dengan Ismail sampai selesai seperti yang kita saksikan sekarang. Dan sudah dijelaskan juga bahwasanya ka’bah itu memang dasarnya sudah dibangun oleh Shith (anak nabi Adam 'alaihissalaam). Lalu runtuh dengan berjalannya waktu, dan dibangun kembali oleh nabi Ibrahim 'alaihissalaam dengan nabi Ismail 'alaihissalaam tentunya.
Selama membangun ka’bah, nabi Ibrahim 'alaihissalaam setelah menyusun batu selalu mundur ke belakang untuk melihat posisi batunya sudah pas atau belum, bangunannya sudah stabil atau belum. Kemudian Allah subhanahu wata'ala kekalkan telapak kaki nabi Ibrahim 'alaihissalaam untuk menjadi tanda-tanda kebesaran dan akhirnya menjadi pelajaran bagi manusia, membuktikan memang benar ini adalah rumahnya Allah dan benar nabi Ibrahim pernah membangun rumah ini dan ini bekas telapak kakinya. Sebagaimana Allah sebutkan dalam alquran “Ada tanda-tanda kebesaran Allah dengan adanya maqam Ibrahim”.
Tentu semua ini sudah dijelaskan sebelumnya, direviewkan kembali agar nyambung dengan kisah yang akan disampaikan. Nabi Ibrahim ‘alaihissalaam setelah membangun ka’bah, lalu datanglah kisah Hajar Aswad dimana nabi Ibrahim ‘alaihissalaam ingin meletakkan sebuah batu yang kuat di sudut ka’bah agar bangunan itu kokoh. Maka Nabi Ibrahim pun menyuruh nabi Ismail ‘alaihissalaam mencari batu dan akhirnya nabi Ismail pergi. Setelah kembali, dia membawa hajar aswad. Dan hajar aswad ini dibawa lalu ditanya oleh nabi Ibrahim 'alaihissalaam “darimana engkau dapatkan, hai Ismail?”. Ismail mengatakan “dari Allah”.
Lalu diletakkanlah batu tersebut di sudut ka’bah dan jadilah ka’bah seperti sekarang. Hanya saja yang perlu dititik beratkan disini, Ka’bah itu dasarnya dibangun oleh nabi Ibrahim 'alaihissalaam sangat besar, termasuk kalau kita lihat sekarang di sekitar ka’bah itu ada Hijr Ismail, ada batu yang melengkung, putih, marmer sekarang diletakkan tiga lampu, itu adalah bagian daripada Ka’bah. Jadi orang kalau sholat didalam situ sudah sholat di dalam Ka’bah sebenarnya. Dan kalau sudah iqomah sholat, selalu polisi menjaga di sekitar situ agar jangan sampai ada orang sholat di dalam (di sekitar lokasi Hijr Ismail) karena itu berarti di depan imam.
Tidak ada sesuatu yang berlebihan dalam poin ini. Tapi yang jelas, nabi Muhammad shallallaahu 'alaihi wasallam mengatakan dalam sebuah hadits yang shohih kepada ‘Aisyah radhiallahu ‘anha “Kalau seandainya bukan karena kaummu baru saja mengenal Islam”, maksudnya orang-orang Quraisy, “maka saya akan kembalikan ka’bah kepada poster Ibrahim 'alaihissalaam”, atau ukurannya jauh lebih besar sampai Hijr Ismail pun masuk ke dalamnya.
Setelah ka’bah dibangun, lalu Allah subhanahu wata'ala memerintahkan perintah yang ketiga kepada nabi Ibrahim 'alaihissalaam untuk mengumandangkan ibadah haji dengan suara yang lantang. Lalu nabi Ibrahim 'alaihissalaam sempat bertanya kepada Jibril “Bagaimana bisa suara saya bisa sampai ke seluruh manusia, sementara manusia-manusia ini sangat jauh”. Kata Jibril 'alaihissalaam “tugas kamu melaksanakan dan tugas kami menyampaikan”. Lalu Ibrahim 'alaihissalaam menuju ke padang arafah dan naik ke Jabal Rahmah dan berteriak mengumandangkan haji. Dengan izin Allah, suara Ibrahim 'alaihissalaam sampai ke seluruh pelosok muka bumi dan akhirnya orang-orang pun yang beriman kepada Allah datang dan mengerjakan ibadah haji.
Setelah itu, semua keadaan Mekkah dan jazirah arab dalam keadaan bertaauhid kepada Allah subhanahu wata'ala, mengesakan Allah subhanahu wata'ala. Semua kisah nabi Ibrahim 'alaihissalaam yang kita rentetkan atau ulangi tadi itu, bisa dibaca dalam surah Adz-Dzariat (51): 24-30, itu menceritakan tentang kisah awal nabi Ibrahim 'alaihissalaam mendapatkan berita gembira tentang akan melahirkannya istrinya Sarah (setelah mendapatkan anaknya Ismail) dan melahirkan Ishaq, ini juga sudah dijelaskan dulu.
Kemudian kisah tentang bagaimana nabi Ibrahim 'alaihissalaam akan menyembelih Ismail bisa dibaca dalam surah Ash-Shaffat (37) : 102-111. Ini cerita tentang bagaiamana nabi Ibrahim 'alaihissalaam diperintahkan untuk menyembelih anaknya, Ismail, dan akhirnya ditukar dengan sembelihan yang besar.
Lalu kisah tentang pembangunan ka’bah dan perintah agar memanggil orang-orang untuk haji, bisa dibaca dalam surah Al-Baqarah (2) : 125-129, juga bisa dibaca dalam surah Ali-Imran (3) : 97. Termasuk juga perintah Allah kepada Ibrahim agar menjaga ka’bah dari perbuatan musyrik agar selalu hanya orang tawaf dan ibadah yang ada disitu, disebutkan dalam surah Al-Hajj (22) : 26-29.
Ada titik poin penting kenapa direview kembali, karena ada sebuah kisah yang akan kita sampaikan adalah kisah seseorang yang bernama AMRU BIN LUHAY.
Siapa ini Amru bin Luhay?
Setelah syariat yang dibawa oleh nabi Ibrahim 'alaihissalaam diimani dan diamalkan di jazirah Arab terutama di Mekkah dan semua orang sudah mengetahui tidak bolehnya berbuat syirik dan mereka bertauhid (mengesakan Allah), rentetan sejarah mulai menyebutkan, setelah nabi Ibrahim 'alaihissalaam meninggal, nabi Ismail 'alaihissalaam meninggal, jauh setelahnya, suku Jurhum tadi mulai berkembang pesat dan akhirnya menjadi komunitas yang sangat besar di Mekkah, mencapai jumlahnya ribuan orang (suku yang kita bahas sebelumnya yaitu suku yang keluar dari Yaman dan berkembang biak dan nabi Ismail menikah dari mereka).
Ada beberapa dari suku-suku arab yang lain yang merasa Mekkah ini kekuatan yang luar biasa, ada sumber air zam-zam yang terkenal dan orang banyak meminumnya, kemudian ada setiap tahun masyarakat seluruh dunia datang, akhirnya Mekkah jadi ramai dan kalau dihidupkan bisnisnya maka akan berhasil. Mekkah juga mempunyai nama yang sangat harum karena disana ada syariat nabi Ibrahim dan Ismail ‘alaihimussalam.
Maka, ada satu suku Arab yang lain yang datang, bernama suku Khuza'ah (***tolong digaris bawahi dua suku ini, yang pertama Jurhum tadi, suku yang pertama sekali datang dan hidup bersama Hajar dan Ismail), setelah beberapa tahun kemudian (tidak disebutkan oleh sejarah berapa ratus tahun setelah itu, yang jelas jauh setelah meninggalnya nabi Ibrahim dan Ismail ‘alaihimussalam dan berkembang pesatnya Mekkah***).
Suku Khuza’ah ini datang dan masuk di sekitar Mekkah dengan kekuatan militer. Mereka datang ingin merebut kekuasaan Mekkah dari suku Jurhum tadi yang pertama. Ringkas cerita, terjadilah peperangan besar antara dua suku ini dalam hal Jurhum mempertahankan Mekkah dan Khuza’ah ingin merebut Mekkah. Setelah terjadi peperangan, beberapa bulan berlanjut dan dikepungnya kota Mekkah, akhirnya suku Khuza’ah memenangkan peperangan.
Pada saat memenangkan peperangan, suku Jurhum yang ada di Mekkah mayoritasnya keluar dari wilayah Mekkah dan yang sebagian lagi tinggal di Mekkah. Ada beberapa orang suku Jurhum, suku asli tadi yang tinggal di Mekkah bersama Ismail dan Hajar ‘alaihimussalaam itu MENIMBUN sumur zam-zam. Sehingga suku Khuza’ah yang berkuasa di Mekkah (ulama sejarah khilaf, antara kurang lebih 300-500 tahun) berkuasa di Mekkah tanpa ada air. Sumur zam-zam hilang selama 500 tahun, tidak ada yang ketahui selama suku Khuza’ah berkuasa dan nanti akan kita sebutkan sejarahnya bagaimana zam-zam ditemukan kembali di zaman Abdul Muththolib , kakek Nabi Muhammad shallallaahu 'alaihi wasallam, dan ini jauh setelahnya. Ini kita masih rentetan sejarah awal sebelum nabi Muhammad shallallaahu 'alaihi wasallam lahir, bahkan kakek-kakek nabi Muhammad shallallaahu 'alaihi wasallam pun belum lahir.
Suku Khuza’ah masuk dan menguasai Mekkah yang kemudian mereka mendatangkan air dari luar Mekkah. Pemimpin demi pemimpin dari suku Khuza’ah ini mulai memimpin, berjalanlah keadaan Mekkah seperti itu sampai datang seorang raja mereka, pimpinan suku Khuza’ah ini, yang bernama Amru bin Luhay.
Amru bin Luhay ini difokuskan sejarahnya oleh para ulama karena adanya hadits nabi Muhammad shallallaahu 'alaihi wasallam yang shohih berbunyi begini “Saya diperlihatkan Amru bin Luhay oleh Allah di neraka itu isi perutnya keluar (karena panasnya dan siksaan yang berat), karena dialah orang yang pertama mengganti agama Ibrahim”. Para ulama sejarah menulis judul dalam buku-buku sejarah mereka “Munculnya Kemusyrikan Pertama di Jazirah Arab di tangan Amru bin Luhay”.
Sekali lagi, Amru bin Luhay adalah raja atau pimpinan suku Khuza’ah yang masuk ke Mekkah yang tadinya merebut kekuasaan dari suku Jurhum. Amru bin Luhay ini adalah seseorang yang sangat baik, sebenarnya luar biasa. Tersebutkan dalam sejarahnya bahwasanya orangnya sangat karom (mulia), ringan tangan sampai dinukil dalam buku-buku sejarah, dia kaya raya dan orangnya sangat ringan tangan sampai dia membiayai dan memberikan makan dan minum seluruh jamaah haji pada saat itu, sendirian, tidak melibatkan orang. Kemudian dia berlaku adil di masyarakat Mekkah. Tetapi dia bukanlah orang yang memahami agamanya nabi Ibrahim 'alaihissalaam. Karena tadinya suku Khuza’ah ini memang bukan suku yang beriman kepada nabi Ibrahim dan nabi Ismail, datang saja dari luar ingin merebut kekuasaan Mekkah karena melihat Mekkah sangat potensi.
Kemudian setelah masuk ke Mekkah, dia liat keadaan masyarakat Mekkah seperti itu, mereka berbaur, ikut saja, oh, ada seorang nabi namanya Ibrahim, ada Ismail, kemudian ini haji, ini segalanya dan kegiatannya, rutinitasnya dikembangkanlah. Karena pemikiran Amru bin Luhay pada saat itu sederhana. Dia menganggap ini adalah kegiatan Mekkah dan haji itu adalah waktu berkumpulnya manusia, dimana Mekkah akan ramai, bisnisnya akan berkembang, dan seterusnya.
Amru bin Luhay tidak punya sebuah pemahaman yang lengkap tentang asas dari pada ajaran nabi Ibrahim 'alaihissalaam yaitu tauhid (mengesakan Allah subhanahu wata'ala). Lalu Amru bin Luhay dengan dangkalnya pemahaman dia tentang ajaran nabi Ibrahim, maka dia melakukan beberapa perbuatan yang membuat dia akhirnya MENGUBAH agama Tauhid Allah ‘azza wa jalla.
Yang paling pertama sekali dia lakukan adalah memasukkan patung-patung ke Jazirah Arab dan secara khusus Mekkah serta mengubah ibadahnya masyarakat Mekkah dan jazirah Arab dari bertauhid kepada Allah (mengikuti ajaran nabi Ibrahim) menjadi penyembah berhala. Inilah sebab utama kenapa Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam tadi mengatakan beliau diperlihatkan Amru bin Luhay di neraka dalam keadaan disiksa, karena panasnya, isi perutnya keluar, karena memang dia pertama yang mengganti ajaran nabi Ibrahim 'alaihissalaam.
Bagaimana kisahnya?
Bersambung...
(Sumber: ditranskrip dari ceramah Ust. Dr. Khalid Basalamah hafidzahullaah)
#sirahnabawiyah
Kita menyambung kembali bahasan tentang Siroh Nabawiyah. Yang lalu kita sudah membahas tentang Nabi Ibrahim ‘alaihissalaam. Kenapa kita tidak mulai dari lahirnya nabi besar Muhammad shallallaahu 'alaihi wasallam? Karena memang kita ingin mengetahui bagaimana kondisi jazirah Arab juga kota mekkah secara khusus sebelum lahir dan diutusnya nabi besar Muhammad shallallaahu 'alaihi wasallam agar lebih jelas bagi kita bagaimana kiprah beliau dalam berdakwah, bagaimana keadaan masyarat Mekkah pada saat itu dan apa yang sedang mereka lakukan.
Juga jauh sebelumnya kita sudah membahas tentang darimana asalnya penduduk Mekkah yang tadinya Mekkah itu adalah sebuah lembah, kosong, tidak ada penduduk bahkan di dalam al-Quran diceritakan, Nabi Ibrahim mengatakan pada saat meninggalkan Hajar dan Ismail “Ya Allah, aku sudah meninggalkan keluargaku (Hajar dan Ismail) di sebuah lembah yang lembah itu sendiri tidak ada bahkan pohon sama sekali” (jangankan pohon hidup, ranting kering pun tidak ditemukan di lembah Mekkah).
Lalu Hajar dan Ismail tinggallah disana sebagaimana sudah dibahas panjang lebar, dijabarkan bagaimana Allah ‘azza wa jalla akhirnya mengeluarkan air zam-zam dari kepakan sayap Jibril 'alaihissalaam. Kemudian mereka berdua hidup disitu dan Allah subhanahu wata'ala mengutus golongan masyarakat pertama yang membentuk komunitas di Mekkah di zaman nabi Ibrahim 'alaihissalaam setelah Ismail dan Hajar, suku yang keluar dari wilayah Yaman yang pada saat itu di Yaman terjadi sebuah bencana besar karena bendungan mereka yang dikenal di dalam alQuran dan sunnah Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam dengan Saddul Ma’rib, bendungan yang telah ada di sana, kemudian Allah hancurkan bendungan tersebut karena mereka tidak beriman dan bersyukur kepada Allah.
Lalu keluarlah suku-suku Arab dari wilayah Yaman yang memang asalnya orang-orang Arab hanya di wilayah Yaman. Salah satu suku yang keluar dari Yaman untuk mencari tempat hidup yang baru adalah suku Jurhum. Suku Jurhum ini keluar dari wilayah Yaman dari selatan Jazirah Arab menuju ke utara jazirah Arab, negeri Syam (Libanon, Syria, Palestin dan Yordania sekarang). Di tengah jalan, dari selatan jazirah Arab menuju ke utaranya, mereka melewati sekitar Mekkah dan mereka dikagetkan karena melihat di atas wilayah Mekkah ada sekelompok burung yang sedang mengelilingi wilayah tersebut yang biasanya tanda-tanda bagi orang yang paham di padang pasir kalau ada burung yang beterbangan di sekitar lokasi tersebut berarti ada air disana.
Maka mereka pun mampir kesana kemudian menemukan ada Hajar dan Ismail yang duduk di sekitar air zam-zam. Dan sudah kita sebutkan juga bagaimana zam-zam itu berasal dari lisan Hajar ‘alaihassalaam, pada saat dia melihat air, karena dia ketakutan air itu nanti hilang, maka dia menggunakan bahasa asli orang Palestine “Zam-zam” yang berarti “berkumpullah, berkumpullah”. Karena Hajar ‘alaihissalaam takut air zam-zamnya mengalir dan hilang, maka dia membentuk atau menahan air tersebut dengan dua telapak tangannya kemudian dibuatlah gumpalan seperti bendungan kecil dari padang pasir sambil dia tetap terus mengucapkan “zam-zam” berarti “berkumpullah-berkumpullah”, jadi arti zam-zam sebenarnya dari kalimat ini. Dan kata para ulama, nilai imaniyahnya adalah, setiap kali diucapkan kalimat zam-zam, Hajar ‘alaihassalam bisa saja Allah berikan pahala karena kalimat itu berasal dari lisannya.
Begitu pula pada saat Hajar ‘alaihassalam mencari air dari gunung Shafa dan Marwah, dan akhirnya Allah jadikan salah satu bagian daripada rukun haji, Sai antara Shafa dan Marwah, menandakan juga selama orang mengerjakan sa’i tersebut, maka Hajar ‘alaihassalam panen pahalanya.
Lalu, ringkas cerita adalah, Jurhum pun datang dan pamit kepada Hajar untuk tinggal bersama-sama, akhirnya Hajar mengizinkan dan mereka sukarela dari diri mereka sendiri membayar upeti kepada Hajar. Terbentuklah komunitas pertama masyarakat di Mekkah dari Hajar dan Ismail serta suku Jurhum ini.
Ismail 'alaihissalaam pada saaat tumbuh besar, maka Ismail 'alaihissalaam menikah dengan salah satu anak kepala suku Jurhum, yang tadinya Ismail 'alaihissalaam tidak menggunakan bahasa Arab (karena nabi Ismail 'alaihissalaam bukan dari keturunan orang Arab), tapi karena dia menikah dengan anak suku Jurhum yang mereka adalah asli orang Arab, maka keluarlah istilah dari para ahli Sejarah, arab itu ada 2 macam, ada yang arab asli dan ada yang arab Musta’ribah. Ada orang turunan Arab yang asli itu dari Yaman, dan ada orang turunan Arab yang terarabkan karena mereka menggunakan bahasa Arab. Sebagaimana kita tahu sekarang ada wilayah di Afrika Utara; ada Mesir, mereka dari suku Qibti aslinya, ada Tunis, Jazair, Maroko itu semua mereka berasal dari suku Barbar, kemudian ada Libia, Sudan, semua itu juga suku-suku asli dari Afrika. Di daerah wilayah yang lain, timur Jazirah Arab ada Irak, itu juga bukan dari turunan Arab, mereka asli dari suku Babilonia, tetapi karena menggunakan bahasa Arab, maka dikatakan negara-negara Arab.
Nabi Ismail 'alaihissalaam menikah dengan keturunan Jurhum ini, akhirnya terus tumbuh besar sampai ringkas cerita nabi Ibrahim 'alaihissalaam datang kembali dan nabi Ibrahim 'alaihissalaam diperintahkan oleh Allah subhanahu wata'ala untuk menemui Ismail dan yang paling pertama datang setelah bertemu dengan Ismail adalah perintah dari Allah ‘azza wa jalla untuk menyembelih Ismail, anaknya.
Maka nabi Ibrahim 'alaihissalaam pun akhirnya melaksanakan perintah tersebut dengan meyakini mimpinya. Kemudian rentetan sejarahnya mulailah berjalan. Nabi Ibrahim 'alaihissalaam menyampaikan kepada Ismail bahwasanya saya mimpi melihat saya akan menyembelih kamu sebagaimana kisah yang masyhur. Sampai akhirnya Ismail setuju dan mengatakan “Lakukanlah hai ayahku, sesungguhnya engkau akan mendapatkan saya termasuk orang-orang yang sabar”. Lalu terjadilah proses pembawaan, nabi Ibrahim membawa Ismail 'alaihissalaam menuju ke wilayah Mina yang ada Jamroh sekarang, salah satu bagian daripada haji, istilahnya melempar syetan, karena waktu Ibrahim 'alaihissalaam ingin membawa Ismail menuju kesana, syetan mengganggu di tiga titik, lalu dilemparlah dengan batu kerikil oleh nabi Ibrahim 'alaihissalaam, akhirnya syetan tersebut pergi.
Dan pada saat akan disembelih Ismail, barulah Allah utus Jibril 'alaihissalaam datang membawa sembelihan yang besar, kemudian sembelihan tersebut menggantikan Ismail 'alaihissalaam dan jadilah juga bagian daripada ibadah haji harus ada penyembelihan di Idul Qurban.
Rentetan setelahnya adalah Allah subhanahu wata'ala memerintahkan nabi Ibrahim dan nabi Ismail ‘alaihimussalaam untuk membangun ka’bah. Lalu nabi Ibrahim 'alaihissalaam pun membangun ka’bah dengan Ismail sampai selesai seperti yang kita saksikan sekarang. Dan sudah dijelaskan juga bahwasanya ka’bah itu memang dasarnya sudah dibangun oleh Shith (anak nabi Adam 'alaihissalaam). Lalu runtuh dengan berjalannya waktu, dan dibangun kembali oleh nabi Ibrahim 'alaihissalaam dengan nabi Ismail 'alaihissalaam tentunya.
Selama membangun ka’bah, nabi Ibrahim 'alaihissalaam setelah menyusun batu selalu mundur ke belakang untuk melihat posisi batunya sudah pas atau belum, bangunannya sudah stabil atau belum. Kemudian Allah subhanahu wata'ala kekalkan telapak kaki nabi Ibrahim 'alaihissalaam untuk menjadi tanda-tanda kebesaran dan akhirnya menjadi pelajaran bagi manusia, membuktikan memang benar ini adalah rumahnya Allah dan benar nabi Ibrahim pernah membangun rumah ini dan ini bekas telapak kakinya. Sebagaimana Allah sebutkan dalam alquran “Ada tanda-tanda kebesaran Allah dengan adanya maqam Ibrahim”.
Tentu semua ini sudah dijelaskan sebelumnya, direviewkan kembali agar nyambung dengan kisah yang akan disampaikan. Nabi Ibrahim ‘alaihissalaam setelah membangun ka’bah, lalu datanglah kisah Hajar Aswad dimana nabi Ibrahim ‘alaihissalaam ingin meletakkan sebuah batu yang kuat di sudut ka’bah agar bangunan itu kokoh. Maka Nabi Ibrahim pun menyuruh nabi Ismail ‘alaihissalaam mencari batu dan akhirnya nabi Ismail pergi. Setelah kembali, dia membawa hajar aswad. Dan hajar aswad ini dibawa lalu ditanya oleh nabi Ibrahim 'alaihissalaam “darimana engkau dapatkan, hai Ismail?”. Ismail mengatakan “dari Allah”.
Lalu diletakkanlah batu tersebut di sudut ka’bah dan jadilah ka’bah seperti sekarang. Hanya saja yang perlu dititik beratkan disini, Ka’bah itu dasarnya dibangun oleh nabi Ibrahim 'alaihissalaam sangat besar, termasuk kalau kita lihat sekarang di sekitar ka’bah itu ada Hijr Ismail, ada batu yang melengkung, putih, marmer sekarang diletakkan tiga lampu, itu adalah bagian daripada Ka’bah. Jadi orang kalau sholat didalam situ sudah sholat di dalam Ka’bah sebenarnya. Dan kalau sudah iqomah sholat, selalu polisi menjaga di sekitar situ agar jangan sampai ada orang sholat di dalam (di sekitar lokasi Hijr Ismail) karena itu berarti di depan imam.
Tidak ada sesuatu yang berlebihan dalam poin ini. Tapi yang jelas, nabi Muhammad shallallaahu 'alaihi wasallam mengatakan dalam sebuah hadits yang shohih kepada ‘Aisyah radhiallahu ‘anha “Kalau seandainya bukan karena kaummu baru saja mengenal Islam”, maksudnya orang-orang Quraisy, “maka saya akan kembalikan ka’bah kepada poster Ibrahim 'alaihissalaam”, atau ukurannya jauh lebih besar sampai Hijr Ismail pun masuk ke dalamnya.
Setelah ka’bah dibangun, lalu Allah subhanahu wata'ala memerintahkan perintah yang ketiga kepada nabi Ibrahim 'alaihissalaam untuk mengumandangkan ibadah haji dengan suara yang lantang. Lalu nabi Ibrahim 'alaihissalaam sempat bertanya kepada Jibril “Bagaimana bisa suara saya bisa sampai ke seluruh manusia, sementara manusia-manusia ini sangat jauh”. Kata Jibril 'alaihissalaam “tugas kamu melaksanakan dan tugas kami menyampaikan”. Lalu Ibrahim 'alaihissalaam menuju ke padang arafah dan naik ke Jabal Rahmah dan berteriak mengumandangkan haji. Dengan izin Allah, suara Ibrahim 'alaihissalaam sampai ke seluruh pelosok muka bumi dan akhirnya orang-orang pun yang beriman kepada Allah datang dan mengerjakan ibadah haji.
Setelah itu, semua keadaan Mekkah dan jazirah arab dalam keadaan bertaauhid kepada Allah subhanahu wata'ala, mengesakan Allah subhanahu wata'ala. Semua kisah nabi Ibrahim 'alaihissalaam yang kita rentetkan atau ulangi tadi itu, bisa dibaca dalam surah Adz-Dzariat (51): 24-30, itu menceritakan tentang kisah awal nabi Ibrahim 'alaihissalaam mendapatkan berita gembira tentang akan melahirkannya istrinya Sarah (setelah mendapatkan anaknya Ismail) dan melahirkan Ishaq, ini juga sudah dijelaskan dulu.
Kemudian kisah tentang bagaimana nabi Ibrahim 'alaihissalaam akan menyembelih Ismail bisa dibaca dalam surah Ash-Shaffat (37) : 102-111. Ini cerita tentang bagaiamana nabi Ibrahim 'alaihissalaam diperintahkan untuk menyembelih anaknya, Ismail, dan akhirnya ditukar dengan sembelihan yang besar.
Lalu kisah tentang pembangunan ka’bah dan perintah agar memanggil orang-orang untuk haji, bisa dibaca dalam surah Al-Baqarah (2) : 125-129, juga bisa dibaca dalam surah Ali-Imran (3) : 97. Termasuk juga perintah Allah kepada Ibrahim agar menjaga ka’bah dari perbuatan musyrik agar selalu hanya orang tawaf dan ibadah yang ada disitu, disebutkan dalam surah Al-Hajj (22) : 26-29.
Ada titik poin penting kenapa direview kembali, karena ada sebuah kisah yang akan kita sampaikan adalah kisah seseorang yang bernama AMRU BIN LUHAY.
Siapa ini Amru bin Luhay?
Setelah syariat yang dibawa oleh nabi Ibrahim 'alaihissalaam diimani dan diamalkan di jazirah Arab terutama di Mekkah dan semua orang sudah mengetahui tidak bolehnya berbuat syirik dan mereka bertauhid (mengesakan Allah), rentetan sejarah mulai menyebutkan, setelah nabi Ibrahim 'alaihissalaam meninggal, nabi Ismail 'alaihissalaam meninggal, jauh setelahnya, suku Jurhum tadi mulai berkembang pesat dan akhirnya menjadi komunitas yang sangat besar di Mekkah, mencapai jumlahnya ribuan orang (suku yang kita bahas sebelumnya yaitu suku yang keluar dari Yaman dan berkembang biak dan nabi Ismail menikah dari mereka).
Ada beberapa dari suku-suku arab yang lain yang merasa Mekkah ini kekuatan yang luar biasa, ada sumber air zam-zam yang terkenal dan orang banyak meminumnya, kemudian ada setiap tahun masyarakat seluruh dunia datang, akhirnya Mekkah jadi ramai dan kalau dihidupkan bisnisnya maka akan berhasil. Mekkah juga mempunyai nama yang sangat harum karena disana ada syariat nabi Ibrahim dan Ismail ‘alaihimussalam.
Maka, ada satu suku Arab yang lain yang datang, bernama suku Khuza'ah (***tolong digaris bawahi dua suku ini, yang pertama Jurhum tadi, suku yang pertama sekali datang dan hidup bersama Hajar dan Ismail), setelah beberapa tahun kemudian (tidak disebutkan oleh sejarah berapa ratus tahun setelah itu, yang jelas jauh setelah meninggalnya nabi Ibrahim dan Ismail ‘alaihimussalam dan berkembang pesatnya Mekkah***).
Suku Khuza’ah ini datang dan masuk di sekitar Mekkah dengan kekuatan militer. Mereka datang ingin merebut kekuasaan Mekkah dari suku Jurhum tadi yang pertama. Ringkas cerita, terjadilah peperangan besar antara dua suku ini dalam hal Jurhum mempertahankan Mekkah dan Khuza’ah ingin merebut Mekkah. Setelah terjadi peperangan, beberapa bulan berlanjut dan dikepungnya kota Mekkah, akhirnya suku Khuza’ah memenangkan peperangan.
Pada saat memenangkan peperangan, suku Jurhum yang ada di Mekkah mayoritasnya keluar dari wilayah Mekkah dan yang sebagian lagi tinggal di Mekkah. Ada beberapa orang suku Jurhum, suku asli tadi yang tinggal di Mekkah bersama Ismail dan Hajar ‘alaihimussalaam itu MENIMBUN sumur zam-zam. Sehingga suku Khuza’ah yang berkuasa di Mekkah (ulama sejarah khilaf, antara kurang lebih 300-500 tahun) berkuasa di Mekkah tanpa ada air. Sumur zam-zam hilang selama 500 tahun, tidak ada yang ketahui selama suku Khuza’ah berkuasa dan nanti akan kita sebutkan sejarahnya bagaimana zam-zam ditemukan kembali di zaman Abdul Muththolib , kakek Nabi Muhammad shallallaahu 'alaihi wasallam, dan ini jauh setelahnya. Ini kita masih rentetan sejarah awal sebelum nabi Muhammad shallallaahu 'alaihi wasallam lahir, bahkan kakek-kakek nabi Muhammad shallallaahu 'alaihi wasallam pun belum lahir.
Suku Khuza’ah masuk dan menguasai Mekkah yang kemudian mereka mendatangkan air dari luar Mekkah. Pemimpin demi pemimpin dari suku Khuza’ah ini mulai memimpin, berjalanlah keadaan Mekkah seperti itu sampai datang seorang raja mereka, pimpinan suku Khuza’ah ini, yang bernama Amru bin Luhay.
Amru bin Luhay ini difokuskan sejarahnya oleh para ulama karena adanya hadits nabi Muhammad shallallaahu 'alaihi wasallam yang shohih berbunyi begini “Saya diperlihatkan Amru bin Luhay oleh Allah di neraka itu isi perutnya keluar (karena panasnya dan siksaan yang berat), karena dialah orang yang pertama mengganti agama Ibrahim”. Para ulama sejarah menulis judul dalam buku-buku sejarah mereka “Munculnya Kemusyrikan Pertama di Jazirah Arab di tangan Amru bin Luhay”.
Sekali lagi, Amru bin Luhay adalah raja atau pimpinan suku Khuza’ah yang masuk ke Mekkah yang tadinya merebut kekuasaan dari suku Jurhum. Amru bin Luhay ini adalah seseorang yang sangat baik, sebenarnya luar biasa. Tersebutkan dalam sejarahnya bahwasanya orangnya sangat karom (mulia), ringan tangan sampai dinukil dalam buku-buku sejarah, dia kaya raya dan orangnya sangat ringan tangan sampai dia membiayai dan memberikan makan dan minum seluruh jamaah haji pada saat itu, sendirian, tidak melibatkan orang. Kemudian dia berlaku adil di masyarakat Mekkah. Tetapi dia bukanlah orang yang memahami agamanya nabi Ibrahim 'alaihissalaam. Karena tadinya suku Khuza’ah ini memang bukan suku yang beriman kepada nabi Ibrahim dan nabi Ismail, datang saja dari luar ingin merebut kekuasaan Mekkah karena melihat Mekkah sangat potensi.
Kemudian setelah masuk ke Mekkah, dia liat keadaan masyarakat Mekkah seperti itu, mereka berbaur, ikut saja, oh, ada seorang nabi namanya Ibrahim, ada Ismail, kemudian ini haji, ini segalanya dan kegiatannya, rutinitasnya dikembangkanlah. Karena pemikiran Amru bin Luhay pada saat itu sederhana. Dia menganggap ini adalah kegiatan Mekkah dan haji itu adalah waktu berkumpulnya manusia, dimana Mekkah akan ramai, bisnisnya akan berkembang, dan seterusnya.
Amru bin Luhay tidak punya sebuah pemahaman yang lengkap tentang asas dari pada ajaran nabi Ibrahim 'alaihissalaam yaitu tauhid (mengesakan Allah subhanahu wata'ala). Lalu Amru bin Luhay dengan dangkalnya pemahaman dia tentang ajaran nabi Ibrahim, maka dia melakukan beberapa perbuatan yang membuat dia akhirnya MENGUBAH agama Tauhid Allah ‘azza wa jalla.
Yang paling pertama sekali dia lakukan adalah memasukkan patung-patung ke Jazirah Arab dan secara khusus Mekkah serta mengubah ibadahnya masyarakat Mekkah dan jazirah Arab dari bertauhid kepada Allah (mengikuti ajaran nabi Ibrahim) menjadi penyembah berhala. Inilah sebab utama kenapa Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam tadi mengatakan beliau diperlihatkan Amru bin Luhay di neraka dalam keadaan disiksa, karena panasnya, isi perutnya keluar, karena memang dia pertama yang mengganti ajaran nabi Ibrahim 'alaihissalaam.
Bagaimana kisahnya?
Bersambung...
(Sumber: ditranskrip dari ceramah Ust. Dr. Khalid Basalamah hafidzahullaah)
#sirahnabawiyah
SIRAH NABAWIYAH (5)
Masa Sebelum Nabi Dilahirkan
Setelah ka’bah selesai dibangun, datanglah wahyu kepada nabi Ibrahim ‘alaihissalam.
“Perintahkanlah/kumandangkanlah agar orang-orang datang mengerjakan haji.”
Kapan itu mengerjakan haji? Bagaimana rukun dan syaratnya? Ada dalam suhuf Ibrahim. Tapi tidak dirincikan dalam riwayat kepada kita bagaimana perilaku pada saat itu, apakah mutlak sama dengan kita sekarang atau tidak. Tapi yang jelas, sai-tawaf di ka’bah-jamroh-sembelihan itu semua bagian daripada ajaran/syariat nabi Ibrahim ‘alaihissalaam di zaman itu. Alquran datang menyempurnakan syariat-syariat sebelum kita. Ada yang ditarik menjadi hukum kita, ada yang tidak, ada yang sudah terhapus.
Maka Nabi Ibrahim ‘alaihissalam menjawab kepada Jibril, “Bagaimana bisa suaraku ini sampai memanggil orang”, karena ini perintah Allah memanggil orang seluruh dunia.
Kata Jibril dalam riwayat shohih “Cukup bagimu menyampaikan saja, cari tempat yang tinggi teriak ‘Ayo Haji’, nanti Allah punya tugas menyampaikan [ke seluruh dunia]”. Nabi Ibrahim ‘alaihissalam patuh.
Ada beberapa atsar yang mengatakan, nabi Ibrahim naik di Arafah (Jabal Rahmah) kemudian mengangkat suaranya dengan keras “Haji...”. Maka suara nabi Ibrahim ‘alaihissalam dibawa –dengan izin Allah subhanahu wata’ala- ke seluruh pelosok muka bumi ini dan semua orang yang beriman kepada Allah yang hidup pada saat itu datang ke Mekkah untuk haji. Allah subhanahu wata’ala ceritakan itu dalam surah Al-Hajj ayat 26-29.
Ayat 26. “Dan ingatlah ketika kami tempatkan Ibrahim di tempat Baitullah”, maksudnya Allah jadikan ia berhasil membangun ka’bah dan akhirnya dia punya posisi/tempat di sekitar situ.
“Dan Kami katakan kepadanya ‘Janganlah engkau menyekutukan Aku”, jangan sampai ada kemusyrikan disini (Ka’bah). Ini rumah (Ka’bah) dibangun hanya sekedar sebagai tempat agar orang tau bahwa Allah punya rumah, selesai, gak ada apa-apanya disitu.
Note : ***Jangan bawa gunting pada saat tawaf, gunting qiswahnya ka’bah, gak ada hubungannya dengan berkah disitu, karena qiswah Ka’bah dibuat oleh kerajaan Saudi untuk memperindah Ka’bah itu sendiri (tentang Qiswah nanti ada kisahnya tersendiri). Qiswah ka’bah tidak perlu digunting, dibawa pulang, dijadikan jimat. Sama halnya kalau kita masuk di Hajar Aswad, pas cium Hajar Aswad, wangi sekali, sampai kopiahnya dicabut, digosok-gosok, jilbabnya digosok-gosok (ke Hajar Aswad), ditanya kenapa? Karena wangi. Iya, karena kerajaan Saudi beri minyak wangi. Tidak ada hubungannya disitu.
Makanya, Umar bin Khattab pada saat melihat hajar aswad, beliau berdiri. Karena orangnya tinggi besar, Umar bin Khattab kalau duduk di atas kuda, kakinya sampai di tanah, jadi tingginya 2m lebih. Beliau di zaman khilafahnya berdiri di depan hajar Aswad (jamaah haji waktu itu sampai di dadanya saja karena pendek), beliau berteriak dengan suara keras di musim haji waktu itu “Demi Allah, hai hajar aswad, saya tau kau hanya batu biasa, kalau bukan saya melihat Rasulullaah sallallaahu ‘alaihi wasallam mencium kau, saya tidak akan menciummu.” Artinya, Umar ingin memberi pelajaran kepada kita, perintahnya cium, cukup, gak ada gosok-gosok kopiah, jilbab. Itu Cuma batu, sebagai simbol.
Adanya Ka’bah juga simbolik, kita tidak sembah ka’bah, tapi kita sedang melakukan perintah Allah. Kalau perintah Allah kita sujud ke laut, ya kita ke laut, pohon ya ke pohon, ka’bah ya ke ka’bah. Jadi konsepnya jelas, jangan sampai berlebih-lebihan. Ini perlu dijaga.
Sama juga di mesjid Nabawi begitu, di kuburan Nabi sallallaahu ‘alaihi wasallam ada lubang. Perintahnya disitu kita cuma berikan salam, selesai. Berdo’a pun jangan disini (kuburan Nabi), tapi disana menghadap kiblat. Sekarang, ada yang bahkan kirim surat ke Nabi, suratnya dilempar ke lubang, kopiah di gosok-gosok di kubah emas, dll, kenapa? Karena berkah katanya. Siapa yang bilang? Pintu rumah nabi sallallaahu ‘alaihi wasallam itu pintu, dibuat oleh kerajaan Saudi, gak ada berkahnya. Berkah itu pada saat kita menjalankan perintah dan meninggalkan larangan beliau. Itu berkah. Bukan dengan besinya. Apa gunanya kita gosok-gosok kopiah di besi itu sementara kita melanggar sunnahnya? Yang terjadi pada saat selesai musim haji, di sapu kuburan nabi sallallaahu ‘alaihi wasallam, banyak sekali kertas (surat), bahasa Indonesia-Urdu-Afrika, dll. Apa isinya? Minta tolong kepada selain Allah. Bunyinya “Ya Rasulullah, sembuhkanlah penyakit saya” “Ya Rasulallaah, mudahkan jodoh saya” “Ya Rasulullaah, begini dan begitu”. Darimana ajaran ini?!
Nabi sallallaahu ‘alaihi wasallam mengatakan kepada Abdullah bin Abbas dalam hadits Bukhori “Hai anak kecil, kalau kau minta sesuatu, MINTALAH KEPADA ALLAH. Apapun yang kamu butuhkan, minta kepada Allah. Dan ingatlah, jika satu kaum ingin menyusahkanmu dan Allah tidak mau kau ditimpa musibah, maka itu tidak akan menimpamu. Dan kalau seandainya satu kaum mendukung kamu, sementara Allah mau musibah menimpamu, maka pasti kau kena. Sudah diangkat pulpen dan sudah kering.” Takdir sudah tercatatkan semuanya.
“Jangan menyekutukan Aku dengan apapun dan sucikanlah rumahKu ini bagi orang-orang yang tawaf, orang-orang yang beribadah serta orang-orang yang ruku’ dan sujud.” Artinya ini saja perilakunya, ibadah di ka’bah, gak ada apa-apa yang lain.
Ayat 27. “Dan serukanlah kepada manusia untuk mengerjakan haji,”, ini saksi bahasan kita, ini yang kita katakan tadi suaranya sampai ke seluruh pelosok muka bumi ini (hanya dengan teriak). “niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki atau mengendarai setiap unta yang kurus”, kenapa untanya kurus? Ulama tafsir mengatakan karena terlalu jauh perjalanannya. “Mereka datang dari segenap penjuru yang jauh”, seluruh penjuru bumi yang beriman waktu itu datang untuk haji.”
Apa gunanya mereka dipanggil haji?
Di ayat 28, “Agar mereka menyaksikan berbagai manfaat untuk mereka dan agar mereka menyebutkan nama Allah”, artinya mereka lihat nih, oh ini ada Ka’bah rumahnya Allah, begini cara ibadah, nabi Ibrahim ‘alaihissalaam mendakwahkan apa yang ada dalam suhufnya kepada manusia pada saat itu.
“pada beberapa hari yang ditentukan”, maksudnya haji.
“atas rezki yang Allah berikan kepada mereka berupa hewan ternak (dikurbankan), maka makanlah sebagian darinya”, berarti boleh memakan daging kurban, tidak harus semuanya dikasi ke orang. Sama dengan aqiqah, boleh diambil. Tapi ulama mengatakan paling tidak sepertiganya atau maksimal sepertiganya, selebihnya disedekahkan.
“Maka makanlah sebagian darinya, sebagian lagi berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir”, berarti afdholnya (daging kurban) diberikan kepada orang yang tidak mampu.
Ayat 29. “Kemudian hendaklah mereka menghilangkan kotoran yang ada di badan mereka”, artinya bersuci, mandi, memotong kuku, seperti kalau kita lagi mau pakai ihram. “dan hendaklah mereka menyempurnakan nazar-nazar mereka dan melakukan tawaf di sekitar Baitillah atau Ka’bah”.
Selesai semuanya, haji sudah diperintahkan, maka kita tutup dengan kisah yang sedikit menyimpulkan tentang Ibrahim ‘alaihissalam dan Ismail ini.
Nabi Ibrahim ‘alaihissalam sempat kembali ke Sarah. Dan Sarah ini, Allah subhanahu wata’ala berikan berkah kehidupannya. Setelah kejadian pembangunan ka’bah, haji sudah selesai, nabi Ibrahim ‘alaihissalam disuruh balik. Pada saat balik kesana, Sarah, ternyata Allah subhanahu wata’ala bukan cuma sekedar membuat dia melahirkan di umur tua dan mandul, tapi Allah memberkahi dia berhasil melihat anak cucunya. Jadi Ishaq akhirnya punya anak lagi namanya YA’QUB. Ya’qub ini nama lainnya ISRAIL. Jadi ISRAEL itu namanya Nabi Ya’qub sebenarnya. Kalau dikatakan, BANI ISRAIL berarti keturunannya nabi Ya’qub.
Nah, kenapa dikatakan disini Nabi Ibrahim sekali lagi adalah bapaknya para nabi? Ternyata, setelah nabi Ya’qub, datang lagi Yusuf, juga keturunan langsung Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Kata para ulama, semua nabi-nabi bani Israil, itu kembali kepada nabi Ibrahim. Daud, Sulaiman, Musa, Isa, Yahya, Zakariyya, itu semuanya keturunan nabi-nabi bani Israil.
Sebuah konsep yang penting. Di dunia ini agama samawiyah dikenal 3; Yahudi, Nasrani, Islam. Sebenarnya, semua orang yang beriman kepada Allah dikatakan MUSLIM, tapi harus sepenuhnya/seutuhnya.
YAHUDI.
Yahudi diambil dari kata-kata HUDA’, artinya TAUBAT. Kisahnya, waktu Nabi Musa ‘alaihissalaam pergi menerima wahyu (Taurat) selama 40 hari di Thur Sina, ada satu pengikutnya yang bernama Samiriy, membuat patung sapi dari emas. Ia (Samiriy) mengajak kaumnya (nabi Musa) untuk menyembah patung itu. Waktu itu, Musa ‘alaihissalam (ketika pergi menerima wahyu) meninggalkan saudara kandungnya dari ibunya, Harun ‘alaihissalam yang juga seorang nabi. Tapi Harun gak mampu untuk membendung kaumnya sampai nabi Musa kembali. Musa marah kepada Samiriy, diusir keluar dari kaum tersebut, dihancurkanlah patung itu. Setelah dihancurkan patung tadi, maka nabi Musa ‘alaihissalam lalu memerintahkan bani Israil untuk bertobat kepada Allah subhanahu wata’ala. Maka mereka semua mengatakan “Inna hudna ilaik” (kami semua berTOBAT kepada Allah). Kata-kata Hudna / Huda adalah akar kata Yahudi.
Jadi Yahudi sebenarnya artinya bertaubat (diambil dari kata Huda), bertaubat dari penyembahan berhala tadi. Semua yang beriman kepada nabi Musa di zaman nabi Musa sebelum meninggal, sebelum datang nabi setelahnya (yaitu Isa ‘alaihissalaam), dikatakan MUSLIM. Bahkan Allah mengatakan dalam alquran, yang menyebutkan kata-kata Islam pertama kali adalah Ibrahim ‘alaihissalaam. “Huwa sammaakum muslimin”, kata Allah. Ibrahim yang memberikan nama untuk kalian ‘orang-orang yang berislam (menyerahkan diri kepada Allah)’.
Setelah nabi Isa ‘alaihissalaam datang, maka siapapun yang hidup di zaman itu, dari bani Israil (saja), yang tidak beriman kepada Isa dikatakan KAFIR, walaupun pengikutnya nabi Musa. Kenapa tidak dikatakan lagi dia Muslim? Karena memang dia menolak nabi setelahnya yang diutus oleh Allah. Kita harus beriman kepada nabi yang diutus pada saat itu (yang khusus hidup pada zaman itu). Maka semua yang beriman kepada nabi Isa dan nabi-nabi sebelumnya (Musa dan seterusnya), yang menjalankan syariat nabi yang terakhir yaitu Isa ‘alaihissalaam dalam Injil, tidak menjalankan lagi Taurat (karena konseptualnya ini telah datang nabi Isa ‘alaihissalaam), maka dikatakan Muslim. Yang tidak beriman kepada nabi Isa, KAFIR. Makanya Nasrani mengatakan Yahudi kafir. Ini terjadi terus. Sampai datangnya nabi Muhammad ‘alaihissholatu wassalam.
Note: Nabi Isa hidup sezaman dengan nabi Zakariyya dan nabi Yahya, tapi beda lokasi dakwah, ada hukum masing-masing. Nabi Musa sezaman dengan nabi Syuaib, berbeda lokasi, dan berdakwah masing-masing di lokasinya.
Waktu Nabi sallallaahu ‘alaihi wasallam datang, semua nabi-nabi sebelumnya dan syariat/ajaran nabi Isa maupun Zakariyya dan Yahya dihapus, karena Rasulullaah diutus untuk seluruh umat manusia. Nah, yang beriman kepada Nabi Muhammad sallallaahu ‘alaihi wasallam DAN nabi-nabi sebelumnya dikatakan MUSLIM. Itulah sebabnya kita dikatakan Muslim. Dan kita tidak lagi mengatakan Nasrani muslim karena mereka masih MENOLAK satu nabi. Penolakan ini membuat mereka tidak lagi dikatakan Muslim, padahal sebenarnya Muslim juga (di zamannya).
Kalau kita kembali kepada alasan kenapa orang Yahudi tidak mau beriman? Alasannya sangat konyol. Kenapa dikatakan konyol? Karena mereka mengatakan “Kami tidak mau beriman kepada Muhammad dengan alasan fanatisme keturunan. Kami dari keturunannya Ya’qub (Israil) dan Ishaq. Ibunya Ishaq siapa? Sarah. Sarah itu dulu tuan. Nabi Muhammad sallallaahu ‘alaihi wasallam lahir darimana? Jalurnya nabi Ismail. Ibunya Ismail siapa? Hajar, bekas budak. Hanya itu saja. Jadi hanya mengatakan Muhammad tuh dari keturunan budak. Itu konyol. Tidak ada sesuatu yang harus mendesak seperti itu. Apalagi waktu Hajar dinikahi oleh nabi Ibrahim ‘alaihissalaam telah dimerdekakan sebelumnya kemudian dinikahi, gak ada lagi perbudakan disitu. Hanya itu alasannya mereka tidak beriman.
Makanya Ibnu Abbas mengatakan, tafsir Al-Fatihah “ghoiril maghdubi ‘alaihim” (bukan orang yang Kau murkai) yang dimaksud adalah Yahudi. Allah murka kepada Yahudi karena mereka tahu kebenaran tapi mereka gak mau imani, hanya karena fanatisme konyol. Kalau “dhooolliiin” (orang-orang sesat) adalah nasrani. Kenapa sesat? Mereka mau beribadah, mau menyebarkan agama tapi JAHIL (tidak tahu/tidak mengerti). Inilah tafsirnya.
Semoga bermanfaat dan akan kita lanjutkan di poin-poin yang lain.
Bersambung...
(Sumber: ditranskrip dari ceramah Ust. Dr. Khalid Basalamah hafidzahullaah)
#sirahnabawiyah
Setelah ka’bah selesai dibangun, datanglah wahyu kepada nabi Ibrahim ‘alaihissalam.
“Perintahkanlah/kumandangkanlah agar orang-orang datang mengerjakan haji.”
Kapan itu mengerjakan haji? Bagaimana rukun dan syaratnya? Ada dalam suhuf Ibrahim. Tapi tidak dirincikan dalam riwayat kepada kita bagaimana perilaku pada saat itu, apakah mutlak sama dengan kita sekarang atau tidak. Tapi yang jelas, sai-tawaf di ka’bah-jamroh-sembelihan itu semua bagian daripada ajaran/syariat nabi Ibrahim ‘alaihissalaam di zaman itu. Alquran datang menyempurnakan syariat-syariat sebelum kita. Ada yang ditarik menjadi hukum kita, ada yang tidak, ada yang sudah terhapus.
Maka Nabi Ibrahim ‘alaihissalam menjawab kepada Jibril, “Bagaimana bisa suaraku ini sampai memanggil orang”, karena ini perintah Allah memanggil orang seluruh dunia.
Kata Jibril dalam riwayat shohih “Cukup bagimu menyampaikan saja, cari tempat yang tinggi teriak ‘Ayo Haji’, nanti Allah punya tugas menyampaikan [ke seluruh dunia]”. Nabi Ibrahim ‘alaihissalam patuh.
Ada beberapa atsar yang mengatakan, nabi Ibrahim naik di Arafah (Jabal Rahmah) kemudian mengangkat suaranya dengan keras “Haji...”. Maka suara nabi Ibrahim ‘alaihissalam dibawa –dengan izin Allah subhanahu wata’ala- ke seluruh pelosok muka bumi ini dan semua orang yang beriman kepada Allah yang hidup pada saat itu datang ke Mekkah untuk haji. Allah subhanahu wata’ala ceritakan itu dalam surah Al-Hajj ayat 26-29.
Ayat 26. “Dan ingatlah ketika kami tempatkan Ibrahim di tempat Baitullah”, maksudnya Allah jadikan ia berhasil membangun ka’bah dan akhirnya dia punya posisi/tempat di sekitar situ.
“Dan Kami katakan kepadanya ‘Janganlah engkau menyekutukan Aku”, jangan sampai ada kemusyrikan disini (Ka’bah). Ini rumah (Ka’bah) dibangun hanya sekedar sebagai tempat agar orang tau bahwa Allah punya rumah, selesai, gak ada apa-apanya disitu.
Note : ***Jangan bawa gunting pada saat tawaf, gunting qiswahnya ka’bah, gak ada hubungannya dengan berkah disitu, karena qiswah Ka’bah dibuat oleh kerajaan Saudi untuk memperindah Ka’bah itu sendiri (tentang Qiswah nanti ada kisahnya tersendiri). Qiswah ka’bah tidak perlu digunting, dibawa pulang, dijadikan jimat. Sama halnya kalau kita masuk di Hajar Aswad, pas cium Hajar Aswad, wangi sekali, sampai kopiahnya dicabut, digosok-gosok, jilbabnya digosok-gosok (ke Hajar Aswad), ditanya kenapa? Karena wangi. Iya, karena kerajaan Saudi beri minyak wangi. Tidak ada hubungannya disitu.
Makanya, Umar bin Khattab pada saat melihat hajar aswad, beliau berdiri. Karena orangnya tinggi besar, Umar bin Khattab kalau duduk di atas kuda, kakinya sampai di tanah, jadi tingginya 2m lebih. Beliau di zaman khilafahnya berdiri di depan hajar Aswad (jamaah haji waktu itu sampai di dadanya saja karena pendek), beliau berteriak dengan suara keras di musim haji waktu itu “Demi Allah, hai hajar aswad, saya tau kau hanya batu biasa, kalau bukan saya melihat Rasulullaah sallallaahu ‘alaihi wasallam mencium kau, saya tidak akan menciummu.” Artinya, Umar ingin memberi pelajaran kepada kita, perintahnya cium, cukup, gak ada gosok-gosok kopiah, jilbab. Itu Cuma batu, sebagai simbol.
Adanya Ka’bah juga simbolik, kita tidak sembah ka’bah, tapi kita sedang melakukan perintah Allah. Kalau perintah Allah kita sujud ke laut, ya kita ke laut, pohon ya ke pohon, ka’bah ya ke ka’bah. Jadi konsepnya jelas, jangan sampai berlebih-lebihan. Ini perlu dijaga.
Sama juga di mesjid Nabawi begitu, di kuburan Nabi sallallaahu ‘alaihi wasallam ada lubang. Perintahnya disitu kita cuma berikan salam, selesai. Berdo’a pun jangan disini (kuburan Nabi), tapi disana menghadap kiblat. Sekarang, ada yang bahkan kirim surat ke Nabi, suratnya dilempar ke lubang, kopiah di gosok-gosok di kubah emas, dll, kenapa? Karena berkah katanya. Siapa yang bilang? Pintu rumah nabi sallallaahu ‘alaihi wasallam itu pintu, dibuat oleh kerajaan Saudi, gak ada berkahnya. Berkah itu pada saat kita menjalankan perintah dan meninggalkan larangan beliau. Itu berkah. Bukan dengan besinya. Apa gunanya kita gosok-gosok kopiah di besi itu sementara kita melanggar sunnahnya? Yang terjadi pada saat selesai musim haji, di sapu kuburan nabi sallallaahu ‘alaihi wasallam, banyak sekali kertas (surat), bahasa Indonesia-Urdu-Afrika, dll. Apa isinya? Minta tolong kepada selain Allah. Bunyinya “Ya Rasulullah, sembuhkanlah penyakit saya” “Ya Rasulallaah, mudahkan jodoh saya” “Ya Rasulullaah, begini dan begitu”. Darimana ajaran ini?!
Nabi sallallaahu ‘alaihi wasallam mengatakan kepada Abdullah bin Abbas dalam hadits Bukhori “Hai anak kecil, kalau kau minta sesuatu, MINTALAH KEPADA ALLAH. Apapun yang kamu butuhkan, minta kepada Allah. Dan ingatlah, jika satu kaum ingin menyusahkanmu dan Allah tidak mau kau ditimpa musibah, maka itu tidak akan menimpamu. Dan kalau seandainya satu kaum mendukung kamu, sementara Allah mau musibah menimpamu, maka pasti kau kena. Sudah diangkat pulpen dan sudah kering.” Takdir sudah tercatatkan semuanya.
“Jangan menyekutukan Aku dengan apapun dan sucikanlah rumahKu ini bagi orang-orang yang tawaf, orang-orang yang beribadah serta orang-orang yang ruku’ dan sujud.” Artinya ini saja perilakunya, ibadah di ka’bah, gak ada apa-apa yang lain.
Ayat 27. “Dan serukanlah kepada manusia untuk mengerjakan haji,”, ini saksi bahasan kita, ini yang kita katakan tadi suaranya sampai ke seluruh pelosok muka bumi ini (hanya dengan teriak). “niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki atau mengendarai setiap unta yang kurus”, kenapa untanya kurus? Ulama tafsir mengatakan karena terlalu jauh perjalanannya. “Mereka datang dari segenap penjuru yang jauh”, seluruh penjuru bumi yang beriman waktu itu datang untuk haji.”
Apa gunanya mereka dipanggil haji?
Di ayat 28, “Agar mereka menyaksikan berbagai manfaat untuk mereka dan agar mereka menyebutkan nama Allah”, artinya mereka lihat nih, oh ini ada Ka’bah rumahnya Allah, begini cara ibadah, nabi Ibrahim ‘alaihissalaam mendakwahkan apa yang ada dalam suhufnya kepada manusia pada saat itu.
“pada beberapa hari yang ditentukan”, maksudnya haji.
“atas rezki yang Allah berikan kepada mereka berupa hewan ternak (dikurbankan), maka makanlah sebagian darinya”, berarti boleh memakan daging kurban, tidak harus semuanya dikasi ke orang. Sama dengan aqiqah, boleh diambil. Tapi ulama mengatakan paling tidak sepertiganya atau maksimal sepertiganya, selebihnya disedekahkan.
“Maka makanlah sebagian darinya, sebagian lagi berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir”, berarti afdholnya (daging kurban) diberikan kepada orang yang tidak mampu.
Ayat 29. “Kemudian hendaklah mereka menghilangkan kotoran yang ada di badan mereka”, artinya bersuci, mandi, memotong kuku, seperti kalau kita lagi mau pakai ihram. “dan hendaklah mereka menyempurnakan nazar-nazar mereka dan melakukan tawaf di sekitar Baitillah atau Ka’bah”.
Selesai semuanya, haji sudah diperintahkan, maka kita tutup dengan kisah yang sedikit menyimpulkan tentang Ibrahim ‘alaihissalam dan Ismail ini.
Nabi Ibrahim ‘alaihissalam sempat kembali ke Sarah. Dan Sarah ini, Allah subhanahu wata’ala berikan berkah kehidupannya. Setelah kejadian pembangunan ka’bah, haji sudah selesai, nabi Ibrahim ‘alaihissalam disuruh balik. Pada saat balik kesana, Sarah, ternyata Allah subhanahu wata’ala bukan cuma sekedar membuat dia melahirkan di umur tua dan mandul, tapi Allah memberkahi dia berhasil melihat anak cucunya. Jadi Ishaq akhirnya punya anak lagi namanya YA’QUB. Ya’qub ini nama lainnya ISRAIL. Jadi ISRAEL itu namanya Nabi Ya’qub sebenarnya. Kalau dikatakan, BANI ISRAIL berarti keturunannya nabi Ya’qub.
Nah, kenapa dikatakan disini Nabi Ibrahim sekali lagi adalah bapaknya para nabi? Ternyata, setelah nabi Ya’qub, datang lagi Yusuf, juga keturunan langsung Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Kata para ulama, semua nabi-nabi bani Israil, itu kembali kepada nabi Ibrahim. Daud, Sulaiman, Musa, Isa, Yahya, Zakariyya, itu semuanya keturunan nabi-nabi bani Israil.
Sebuah konsep yang penting. Di dunia ini agama samawiyah dikenal 3; Yahudi, Nasrani, Islam. Sebenarnya, semua orang yang beriman kepada Allah dikatakan MUSLIM, tapi harus sepenuhnya/seutuhnya.
YAHUDI.
Yahudi diambil dari kata-kata HUDA’, artinya TAUBAT. Kisahnya, waktu Nabi Musa ‘alaihissalaam pergi menerima wahyu (Taurat) selama 40 hari di Thur Sina, ada satu pengikutnya yang bernama Samiriy, membuat patung sapi dari emas. Ia (Samiriy) mengajak kaumnya (nabi Musa) untuk menyembah patung itu. Waktu itu, Musa ‘alaihissalam (ketika pergi menerima wahyu) meninggalkan saudara kandungnya dari ibunya, Harun ‘alaihissalam yang juga seorang nabi. Tapi Harun gak mampu untuk membendung kaumnya sampai nabi Musa kembali. Musa marah kepada Samiriy, diusir keluar dari kaum tersebut, dihancurkanlah patung itu. Setelah dihancurkan patung tadi, maka nabi Musa ‘alaihissalam lalu memerintahkan bani Israil untuk bertobat kepada Allah subhanahu wata’ala. Maka mereka semua mengatakan “Inna hudna ilaik” (kami semua berTOBAT kepada Allah). Kata-kata Hudna / Huda adalah akar kata Yahudi.
Jadi Yahudi sebenarnya artinya bertaubat (diambil dari kata Huda), bertaubat dari penyembahan berhala tadi. Semua yang beriman kepada nabi Musa di zaman nabi Musa sebelum meninggal, sebelum datang nabi setelahnya (yaitu Isa ‘alaihissalaam), dikatakan MUSLIM. Bahkan Allah mengatakan dalam alquran, yang menyebutkan kata-kata Islam pertama kali adalah Ibrahim ‘alaihissalaam. “Huwa sammaakum muslimin”, kata Allah. Ibrahim yang memberikan nama untuk kalian ‘orang-orang yang berislam (menyerahkan diri kepada Allah)’.
Setelah nabi Isa ‘alaihissalaam datang, maka siapapun yang hidup di zaman itu, dari bani Israil (saja), yang tidak beriman kepada Isa dikatakan KAFIR, walaupun pengikutnya nabi Musa. Kenapa tidak dikatakan lagi dia Muslim? Karena memang dia menolak nabi setelahnya yang diutus oleh Allah. Kita harus beriman kepada nabi yang diutus pada saat itu (yang khusus hidup pada zaman itu). Maka semua yang beriman kepada nabi Isa dan nabi-nabi sebelumnya (Musa dan seterusnya), yang menjalankan syariat nabi yang terakhir yaitu Isa ‘alaihissalaam dalam Injil, tidak menjalankan lagi Taurat (karena konseptualnya ini telah datang nabi Isa ‘alaihissalaam), maka dikatakan Muslim. Yang tidak beriman kepada nabi Isa, KAFIR. Makanya Nasrani mengatakan Yahudi kafir. Ini terjadi terus. Sampai datangnya nabi Muhammad ‘alaihissholatu wassalam.
Note: Nabi Isa hidup sezaman dengan nabi Zakariyya dan nabi Yahya, tapi beda lokasi dakwah, ada hukum masing-masing. Nabi Musa sezaman dengan nabi Syuaib, berbeda lokasi, dan berdakwah masing-masing di lokasinya.
Waktu Nabi sallallaahu ‘alaihi wasallam datang, semua nabi-nabi sebelumnya dan syariat/ajaran nabi Isa maupun Zakariyya dan Yahya dihapus, karena Rasulullaah diutus untuk seluruh umat manusia. Nah, yang beriman kepada Nabi Muhammad sallallaahu ‘alaihi wasallam DAN nabi-nabi sebelumnya dikatakan MUSLIM. Itulah sebabnya kita dikatakan Muslim. Dan kita tidak lagi mengatakan Nasrani muslim karena mereka masih MENOLAK satu nabi. Penolakan ini membuat mereka tidak lagi dikatakan Muslim, padahal sebenarnya Muslim juga (di zamannya).
Kalau kita kembali kepada alasan kenapa orang Yahudi tidak mau beriman? Alasannya sangat konyol. Kenapa dikatakan konyol? Karena mereka mengatakan “Kami tidak mau beriman kepada Muhammad dengan alasan fanatisme keturunan. Kami dari keturunannya Ya’qub (Israil) dan Ishaq. Ibunya Ishaq siapa? Sarah. Sarah itu dulu tuan. Nabi Muhammad sallallaahu ‘alaihi wasallam lahir darimana? Jalurnya nabi Ismail. Ibunya Ismail siapa? Hajar, bekas budak. Hanya itu saja. Jadi hanya mengatakan Muhammad tuh dari keturunan budak. Itu konyol. Tidak ada sesuatu yang harus mendesak seperti itu. Apalagi waktu Hajar dinikahi oleh nabi Ibrahim ‘alaihissalaam telah dimerdekakan sebelumnya kemudian dinikahi, gak ada lagi perbudakan disitu. Hanya itu alasannya mereka tidak beriman.
Makanya Ibnu Abbas mengatakan, tafsir Al-Fatihah “ghoiril maghdubi ‘alaihim” (bukan orang yang Kau murkai) yang dimaksud adalah Yahudi. Allah murka kepada Yahudi karena mereka tahu kebenaran tapi mereka gak mau imani, hanya karena fanatisme konyol. Kalau “dhooolliiin” (orang-orang sesat) adalah nasrani. Kenapa sesat? Mereka mau beribadah, mau menyebarkan agama tapi JAHIL (tidak tahu/tidak mengerti). Inilah tafsirnya.
Semoga bermanfaat dan akan kita lanjutkan di poin-poin yang lain.
Bersambung...
(Sumber: ditranskrip dari ceramah Ust. Dr. Khalid Basalamah hafidzahullaah)
#sirahnabawiyah
Kamis, 11 Februari 2016
SIRAH NABAWIYAH (4)
Masa Sebelum Nabi Dilahirkan
Ada sebuah kasus yang terjadi pada saat itu. Masyarakat Arab yang dikatakan turunan asli, asalnya itu dari Yaman. Waktu itu tidak ada orang Arab selain di Yaman. Di Yaman dulu, ada sebuah bendungan yang sangat terkenal, namanya Ma’rib. Saddul Ma’rib. Saddul itu bendungan, Ma’rib itu nama kota atau lokasinya.
Masyarakat (Yaman) zaman dulu luar biasa kehidupannya, sangat makmur, tentram. Tapi, karena mereka kufur terhadap nikmat Allah subhanahu wata’ala, maka akhirnya bendungan tersebut dihancurkan oleh Allah (Ini ada kisah tersendiri, disebutkan juga dalam alQur’an). Pada saat bendungan tersebut hancur, sumber kehidupan orang-orang Arab ini tidak ada lagi. Mulailah suku-suku Arab Asli ini keluar dari Yaman, untuk mencari lokasi yang ada airnya (***karena kalau tidak ada air, mereka tidak bisa hidup. Makanya Allah subhanahu wata’ala mengatakan dalam alQur’an “Kami menjadikan segala sesuatu itu, dari air, bisa hidup”. Kalau makanan itu mungkin hanya sekedar menutupi rasa lapar, tapi kekurangan air, bisa meninggal. Ini sesuatu yang sangat penting.***).
Lalu keluarlah suku-suku Arab ini dari Yaman. Salah satu yang jadi saksi bahasan kita adalah satu suku besar bernama suku Jurhum. Ini suku yang masyhur sekali, termasuk besar. Suku Jurhum ini tujuannya mau ke negeri Syam.
Note: ***kalau kita melihat peta Jazirah Arab, berbentuk agak miring, kemudian ada sedikit lengkungan, ini Jazirah Arab. Kalau kita lihat Yaman, itu berada di Selatan Jazirah Arab, jadi Yaman lebih dekat dengan kita (Indonesia). Makanya, Nabi sallallaahu ‘alaihi wasallam menjadikan miqatnya (tempat niat) orang Asia Tenggara (Indonesia dan sekitarnya), itu Yalamlam namanya, di Yaman. Jadi kalau sudah dekat dengan Saudi, biasanya disampaikan oleh pramugari/pramugaranya, ini sudah lewat di atas Yalamlam, maksudnya tempat miqat yaitu di Yaman, di selatan Jazirah Arab (bagian bawah [lihat peta]). Kalau kita naik lagi (lihat peta), di utaranya Jazirah Arab itu ada negeri Syam (ada empat negara sekarang; Yordania, Palestin, Libanon dan Syiria). Ini punya rentetan sejarah yang sangat besar. Lokasi ini nanti akan sering kita sebutkan; Yaman, Jazirah Arab umumnya, kemudian negeri Syam.***
Ketika bendungan tadi hancur, suku Jurhum yang asalnya dari Yaman keluar dengan tujuan mau ke negeri Syam, karena Syam terkenal banyak laut, banyak sungai, kehidupannya bagus, tidak ada masalah disana. Pada saat mereka jalan, di tengah-tengah jazirah Arab itu ada kota Mekkah yang mereka lewati. Agar mereka bisa hidup sampai ke negeri Syam, di pinggiran Jazirah Arab itu ada laut merah (batas antara Asia dengan Afrika, Saudi dengan Mesir, tempat dimana Firaun ditenggelamkan oleh Allah ‘azza wa jalla). Lalu, lewatlah mereka di situ agar mereka bisa hidup dari laut tersebut. Mekkah, kebetulan sangat dekat dengan laut merah.
Maka, suku Jurhum lewat di sekitar itu, tujuannya agar bisa tetap hidup sampai ke negeri Syam, mengambil dari lautan tadi (ikannya, dll). Waktu mereka lewat di sekitar Mekkah, mereka tahu kalau dekat situ ada lembah, tapi mereka gak tau ada apa disitu. Mereka dikagetkan karena melihat di atas lembah (Ka’bah) itu, ada burung yang beterbangan dan mengelilingi lokasi itu. Biasanya, ini berarti ada AIR. Biasanya begitu. Maka pimpinannya mengatakan ini dari mana nih airnya, tidak pernah ada seperti ini sebelumnya. Coba utus orang deh, lihat, kok bisa ada air disana.
Diutuslah dua orang dari suku Jurhum ini datang ke sekitar lembah (Ka’bah). Mereka dikagetkan disana ada Hajar dan Ismail hidup di sekitar mata air tadi (sebelum ada bangunan-bangunan rumah). Karena doanya nabi Ibrahim ‘alaihissalam tadi, tiba-tiba kejadian ini semua terjadi. Maka datanglah mereka.
Pada saat mereka datang, karena mereka terkenal dengan akhlaknya yang mulia, mereka tidak merampas air itu tapi mereka mengatakan “Air ini adalah milik Anda, wahai Hajar. Kami suku ini keluar dari Yaman karena ceritanya seperti ini (kronologisnya). Kami hanya minta satu, kami akan tinggal disini, hidup dari mata air ini, dan kami akan bayar upeti”. Maka, Hajar setuju. Datanglah satu suku tersebut, semuanya.
Akhirnya mereka mulai membangun rumah-rumah, mulai membangun perekonomian di Mekkah, itu awalnya kisah Mekkah. Dari lembah tidak ada apa-apa sampai masuk suku Jurhum ini, kemudian mulailah hidup Hajar dan Ismail ‘alaihimussalaam. Lalu mereka hiduplah dari air tersebut dan Hajar hidup lebih berkembang lagi karena ada upeti yang dibayar (dari makanan, uang). Hiduplah suasana di Mekkah pada saat itu.
Mekkah berkembang dan Nabi Ibrahim belum pernah datang melihat/menjenguk. Ini karena Nabi Ibrahim ‘alaihissalaam menunggu wahyu kapan diperintahkan untuk kesana (karena semua yang dilakukan harus berdasarkan dengan wahyu, karena beliau seorang Nabi).
Sampai Nabi Ismail ‘alaihissalaam menikah dengan anak kepala suku Jurhum.
***Nabi Ismail yang tadinya tidak bisa bahasa Arab, menjadi bisa bahasa Arab, karena memang dia bergabung dan menikah dengan orang Araba asli. Maka dari sinilah keluar istilah ada Arab Asli dan ada Arab Musta’ribah (arab yang terarabkan), termasuk Nabi Ismail ‘alaihissalaam. Karena menikah dengan orang Arab tadi, kemudian punya keturunan, sampai keturunannya nanti ke Nabi Muhammad sallallaahu ‘alaihi wasallam.***
Ada sebuah riwayat shohih yang menjelaskan(sebenarnya banyak riwayat tapi tidak dijelaskan disini karena cukup panjang), diantaranya riwayat Bukhori bahwasanya Nabi Ibrahim ‘alaihissalaam mendapat perintah untuk datang ke Mekkah, menjenguk keluarganya. Pada saat datang ke Mekkah, Nabi Ismail ‘alaihissalaam sudah menikah. Lalu Nabi Ibrahim datangi rumah nabi Ismail (tentu dengan petunjuk dari Allah subhanahu wata’ala), memberikan salam kepada istrinya (nabi Ismail), lalu nabi Ibrahim tanya “Dimana suamimu (Ismail)?”.
Istrinya menjawab “Suami saya lagi pergi”.
Trus ditanya, “Bagaimana kehidupan kalian?”.
“Kehidupan kami susah, ....” (semua isinya adalah keluhan, bermasalah begini begitu, dll). Intinya adalah dia mempermasalahkan kehidupannya dengan Ismail yang selalu saja ada masalah.
Lalu Nabi Ibrahim setelah mendengar, ia mengatakan “Sampaikan kepada suamimu (Ismail), telah datang seseorang bernama Ibrahim [dia tidak mengatakan ayahnya], dan menitipkan pesan agar mengganti tiang rumahnya”.
Lalu pergilah Nabi Ibrahim ‘alaihissalaam.
Sebagian ulama mengatakan, waktu itu Nabi Ismail ‘alaihissalaam sudah menerima wahyu juga, sehingga ia juga sudah tahu ayahnya dia siapa (Nabi), bagaimana (beriman kepada Allah), dan seterusnya.
Maka, Ismail pun pulang dan bertanya, “Siapa yang datang?”
Istrinya mengatakan “Ibrahim”.
“Apa pesannya?”.
“Oh, pesannya agar mengganti tiang rumahmu”.
Maka, Nabi Ismail mengantar istrinya ke rumahnya dan diceraikan. Memang begitu kisahnya. Kalau para Nabi, perintahnya itu dari langit, bukan lagi main-main, bukan kayak kita masih menerka-nerka.
Nabi Ismail ‘alaihissalaam menikah lagi kedua kalinya dengan orang lain yang juga anak kepala suku dari Jurhum.
Nabi Ibrahim waktu itu sudah ketemu Hajar, kemudian pulang, dan datang lagi di waktu yang lain (tidak disebutkan berapa lama selisihnya). Kedatangannya yang kedua, beliau mendatangi lagi Ismail. Beliau memberi salam kepada istrinya dan menanyakan hal yang sama dengan istri pertama Ismail. Jawaban istrinya semuanya pujian, “Alhamdulillaah kehidupan kami begini, baik...”. Nabi Ibrahim mengatakan, “Baik, nanti kalau suamimu datang, beritahu, telah datang seseorang yang bernama Ibrahim dan pesankan bahwasanya pertahankan tiang rumahnya”.
Ketiika Nabi Ismail datang, ditanyakan siapa yang datang, istrinya menjawab bahwa ada seseorang yang bernama Ibrahim dan menunggu di rumah ibu Anda, Hajar, pesannya suruh pertahankan tiang rumah. Istrinya tidak tahu kalau dia disuruh pertahankan. Maka Ismail mengatakan itu ayah saya dan dia minta agar saya mempertahankan kehidupan dengannya. Lalu Nabi Ismail pergi menemui nabi Ibrahim ‘alaihissalaam (di rumah ibunya, Hajar).
Beberapa hari saja bertemu dengan Ismail (baru hitungan hari bertemu setelah beberapa tahun), tiba-tiba datang perintah, menyuruh nabi Ibrahim menyembelih anaknya, padahal baru saja ketemu setelah beberapa tahun. Anak ini (nabi Ismail) laki-laki, kuat, dan juga seorang nabi, ini cobaannya kok harus disembelih. Dan wahyu ini datang dari Allah hanya lewat mimpi.
***Perlu kita ketahui, Nabi Ibrahim ‘alaihissalaam dan semua nabi maupun semua manusia belum pernah bertemu dengan Allah. Jadi kita harus menyadari bahwa bukan cuma kita yang tidak pernah lihat Allah, para nabi pun tidak lihat Allah subhanahu wata’ala. Makanya, disini, waktu datang perintah pun untuk menyembelih anaknya, perintahnya melalui mimpi.***
Apa yang terjadi? Kita dengarkan kisahnya. Disebutkan dalam Alquran dalam surah Ash-Shaffaat (37) : 102-111.
Ayat 102. “Maka tatkala anak itu sampai pada umur sanggup (maksudnya si Ismail) berusaha bersama-sama dengan ayahnya (Ibrahim). Ibrahim berkata “Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwasanya aku menyembelihmu. Maka, fikirkanlah apa pendapatmu.” (artinya, berikan saya apa pendapatmu).
Disini ulama tafsir mengatakan, kalau Ismail belum kenal Allah, gak mungkin dia spontanitas mau menerima. Tapi, karena justru dia juga sudah ternobatkan menjadi nabi, maka dia siap.
“Ismail menjawab, “Hai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan Allah kepadamu, insya Allah Anda akan mendapati aku termasuk orang-orang yang sabar.”
Ayat 103. “Tatkala keduanya telah berserah diri”, artinya dibawalah Ismail ‘alaihissalaam ditempat yang telah ditunjuk oleh Jibril di sebuah gunung di sekitar Jamroh, di Mina.
(***Nanti ada Jamroh Aqobah, orang bilang lempar syetan, kecil-sedang-besar. Sebenarnya itu tidak ada setannya, jangan sampai Anda pikir ada syetannya sehingga mengambil sendal, kayu, batu besar lalu melempar. Padahal sunnahnya yang diambil adalah kerikil kecil. Karena Nabi Ibrahim ‘alaihissalaam pada saat membawa anaknya menuju ke tempat sasaran di Mina itu yang Allah suruh, di sebuah batu, diletakkan disitu, pada saat ditaruh, syetan datang menggoda agar tidak dilaksanakan. Maka Nabi Ibrahim ‘alaihissalaam membaca isti’adzah dan melemparnya tujuh kali dengan batu kerikil, melempari syetan tersebut.***)
Karena nabi Ibrahim ‘alaihissalaam sudah niat menyembelih anaknya karena perintah Allah, Nabi Ismail pun sudah menyerahkan dirinya, “Sembelihlah saya karena Allah yang suruh”,
“dan Ibrahim membaringkan anaknya di atas pelipisnya”, jadi sudah diletakkan dan diangkat dagunya untuk disembelih lehernya, sudah jelas dan tidak ada lagi keraguan.
“Nyatalah kesabaran keduanya”, Allah sudah tahu kesabaran keduanya.
Ayat 104. “Maka Kami panggil dia: Hai Ibrahim.”
Ayat 105. “Sesungguhnya kamu telah mempercayai mimpi itu”, artinya perintah untuk disuruh menyembelih. “Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan bagi orang-orang yang berbuat kebaikan.”
Ayat 106. “Sesungguhnya itu benar-benar suatu ujian yang berat”, cuma lihat mimpi saja tapi karena seorang Nabi, harus percaya.
Ayat 107. “Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar”, ini asas dari sembelihan idul Adha.
Ayat 108. “Kami abadikan untuk Ibrahim ujian tadi di kalangan orang-orang yang datang kemudian”, apa maksudnya? Kata ulama, seperti kasus Hajar tadi, selama orang sa’i, Hajar panen pahalanya. Selama Idul Adha ada, Ibrahim dan Ismail panen pahalanya. Jadi hikmah imaniyahnya disitu. Dikerjakan karena Allah, maka akan berbekas. Dan Subhanallah, tidak ada sesuatu yang dikerjakan karena Allah kecuali akan ada bekasnya dan sangat besar.
Ayat 109. “Yaitu Kesejahteraan dilimpahkan kepada Ibrahim”.
Ayat 110. “Demikianlah Kami memberikan balasan bagi orang-orang yang berbuat baik”.
Ayat 111. “Sesungguhnya, ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman”.
Lalu setelah itu, mulailah ada rentetan ibadah haji. Sa’i sudah selesai tadi di zaman Hajar, kemudian sembelihan juga sudah ada tinggal masalah Ka’bah (tawaf).
Maka Allah subhanahu wata’ala memerintahkan nabi Ibrahim ‘alaihissalaam untuk membangun Ka’bah (asas/pondasinya sudah ada). Lalu Nabi Ibrahim ‘alaihissalaam dan Nabi Ismail mulailah membangun Ka’bah, bekerjasama, hanya dua orang saja. Disini kebanyakan mereka berdua saja yang membangun karena perintah wahyu begitu. Dan ini pendapat yang paling rojih. Tidak dilibatkan masyarakat Mekkah waktu itu. Jadi, mereka berdua saja yang membangunnya, meletakkan batu demi batu, tentunya batu pada saat itu sangat sederhana, jadi tanah liat yang dibasahin kemudian dicetak, dibentuk, dikeringkan, sudah, jadi bisa runtuh setiap saat.
Maka dibuatlah batu-batu seperti itu kemudian disusunlah. Dan yang kita tau ada maqom Ibrahim (tempat telapak kaki nabi Ibrahim) itu bukan apa-apa, jangan jadi jahil disini, karena banyak orang mengganggap itu sakral. Dibungkus dengan kubah emas lah, bisa dipegang-pegang lah, ada berkahnya.. itu tidak ada sama sekali. Itu hanya sekedar telapak kaki nabi Ibrahim. Dalam sirah disebutkan, nabi Ibrahim ‘alaihissalaam waktu membangun ka’bah, setiap sudah mengatur bata-nya, beliau mundur untuk melihat apakah sudah stabil bangunannya atau belum. Hanya itu saja. Kenapa dikekalkan oleh Allah subhanahu wata’ala? Karena ketulusannya nabi Ibrahim, jadi orang bisa kenang. Salah satu perilaku dikekalkannya, tidak ada orang yang tawaf (umrah atau haji) kecuali harus sholat 2 rakaat di belakang maqom Ibrahim. Itu bagian dari tawaf itu sendiri (jika haji dan umrah).
Note: ***sholat di belakang maqom Ibrahim tidak harus pas dibelakangnya. Sampai ke tempat sa’i di belakang itu tempat sholat 2 rakaat. Jadi jangan ngotot di tempat tawaf sehingga kepalanya diinjak-injak oleh jemaah haji.***
Setelah ka’bah selesai dibangun, lalu ada wahyu datang kepada nabi Ibrahim ‘alaihissalam.
Bersambung...
(Sumber: ditranskrip langsung dari ceramah Ust. Dr. Khalid Basalamah hafidzahullaah)
#sirahnabawiyah
Ada sebuah kasus yang terjadi pada saat itu. Masyarakat Arab yang dikatakan turunan asli, asalnya itu dari Yaman. Waktu itu tidak ada orang Arab selain di Yaman. Di Yaman dulu, ada sebuah bendungan yang sangat terkenal, namanya Ma’rib. Saddul Ma’rib. Saddul itu bendungan, Ma’rib itu nama kota atau lokasinya.
Masyarakat (Yaman) zaman dulu luar biasa kehidupannya, sangat makmur, tentram. Tapi, karena mereka kufur terhadap nikmat Allah subhanahu wata’ala, maka akhirnya bendungan tersebut dihancurkan oleh Allah (Ini ada kisah tersendiri, disebutkan juga dalam alQur’an). Pada saat bendungan tersebut hancur, sumber kehidupan orang-orang Arab ini tidak ada lagi. Mulailah suku-suku Arab Asli ini keluar dari Yaman, untuk mencari lokasi yang ada airnya (***karena kalau tidak ada air, mereka tidak bisa hidup. Makanya Allah subhanahu wata’ala mengatakan dalam alQur’an “Kami menjadikan segala sesuatu itu, dari air, bisa hidup”. Kalau makanan itu mungkin hanya sekedar menutupi rasa lapar, tapi kekurangan air, bisa meninggal. Ini sesuatu yang sangat penting.***).
Lalu keluarlah suku-suku Arab ini dari Yaman. Salah satu yang jadi saksi bahasan kita adalah satu suku besar bernama suku Jurhum. Ini suku yang masyhur sekali, termasuk besar. Suku Jurhum ini tujuannya mau ke negeri Syam.
Note: ***kalau kita melihat peta Jazirah Arab, berbentuk agak miring, kemudian ada sedikit lengkungan, ini Jazirah Arab. Kalau kita lihat Yaman, itu berada di Selatan Jazirah Arab, jadi Yaman lebih dekat dengan kita (Indonesia). Makanya, Nabi sallallaahu ‘alaihi wasallam menjadikan miqatnya (tempat niat) orang Asia Tenggara (Indonesia dan sekitarnya), itu Yalamlam namanya, di Yaman. Jadi kalau sudah dekat dengan Saudi, biasanya disampaikan oleh pramugari/pramugaranya, ini sudah lewat di atas Yalamlam, maksudnya tempat miqat yaitu di Yaman, di selatan Jazirah Arab (bagian bawah [lihat peta]). Kalau kita naik lagi (lihat peta), di utaranya Jazirah Arab itu ada negeri Syam (ada empat negara sekarang; Yordania, Palestin, Libanon dan Syiria). Ini punya rentetan sejarah yang sangat besar. Lokasi ini nanti akan sering kita sebutkan; Yaman, Jazirah Arab umumnya, kemudian negeri Syam.***
Ketika bendungan tadi hancur, suku Jurhum yang asalnya dari Yaman keluar dengan tujuan mau ke negeri Syam, karena Syam terkenal banyak laut, banyak sungai, kehidupannya bagus, tidak ada masalah disana. Pada saat mereka jalan, di tengah-tengah jazirah Arab itu ada kota Mekkah yang mereka lewati. Agar mereka bisa hidup sampai ke negeri Syam, di pinggiran Jazirah Arab itu ada laut merah (batas antara Asia dengan Afrika, Saudi dengan Mesir, tempat dimana Firaun ditenggelamkan oleh Allah ‘azza wa jalla). Lalu, lewatlah mereka di situ agar mereka bisa hidup dari laut tersebut. Mekkah, kebetulan sangat dekat dengan laut merah.
Maka, suku Jurhum lewat di sekitar itu, tujuannya agar bisa tetap hidup sampai ke negeri Syam, mengambil dari lautan tadi (ikannya, dll). Waktu mereka lewat di sekitar Mekkah, mereka tahu kalau dekat situ ada lembah, tapi mereka gak tau ada apa disitu. Mereka dikagetkan karena melihat di atas lembah (Ka’bah) itu, ada burung yang beterbangan dan mengelilingi lokasi itu. Biasanya, ini berarti ada AIR. Biasanya begitu. Maka pimpinannya mengatakan ini dari mana nih airnya, tidak pernah ada seperti ini sebelumnya. Coba utus orang deh, lihat, kok bisa ada air disana.
Diutuslah dua orang dari suku Jurhum ini datang ke sekitar lembah (Ka’bah). Mereka dikagetkan disana ada Hajar dan Ismail hidup di sekitar mata air tadi (sebelum ada bangunan-bangunan rumah). Karena doanya nabi Ibrahim ‘alaihissalam tadi, tiba-tiba kejadian ini semua terjadi. Maka datanglah mereka.
Pada saat mereka datang, karena mereka terkenal dengan akhlaknya yang mulia, mereka tidak merampas air itu tapi mereka mengatakan “Air ini adalah milik Anda, wahai Hajar. Kami suku ini keluar dari Yaman karena ceritanya seperti ini (kronologisnya). Kami hanya minta satu, kami akan tinggal disini, hidup dari mata air ini, dan kami akan bayar upeti”. Maka, Hajar setuju. Datanglah satu suku tersebut, semuanya.
Akhirnya mereka mulai membangun rumah-rumah, mulai membangun perekonomian di Mekkah, itu awalnya kisah Mekkah. Dari lembah tidak ada apa-apa sampai masuk suku Jurhum ini, kemudian mulailah hidup Hajar dan Ismail ‘alaihimussalaam. Lalu mereka hiduplah dari air tersebut dan Hajar hidup lebih berkembang lagi karena ada upeti yang dibayar (dari makanan, uang). Hiduplah suasana di Mekkah pada saat itu.
Mekkah berkembang dan Nabi Ibrahim belum pernah datang melihat/menjenguk. Ini karena Nabi Ibrahim ‘alaihissalaam menunggu wahyu kapan diperintahkan untuk kesana (karena semua yang dilakukan harus berdasarkan dengan wahyu, karena beliau seorang Nabi).
Sampai Nabi Ismail ‘alaihissalaam menikah dengan anak kepala suku Jurhum.
***Nabi Ismail yang tadinya tidak bisa bahasa Arab, menjadi bisa bahasa Arab, karena memang dia bergabung dan menikah dengan orang Araba asli. Maka dari sinilah keluar istilah ada Arab Asli dan ada Arab Musta’ribah (arab yang terarabkan), termasuk Nabi Ismail ‘alaihissalaam. Karena menikah dengan orang Arab tadi, kemudian punya keturunan, sampai keturunannya nanti ke Nabi Muhammad sallallaahu ‘alaihi wasallam.***
Ada sebuah riwayat shohih yang menjelaskan(sebenarnya banyak riwayat tapi tidak dijelaskan disini karena cukup panjang), diantaranya riwayat Bukhori bahwasanya Nabi Ibrahim ‘alaihissalaam mendapat perintah untuk datang ke Mekkah, menjenguk keluarganya. Pada saat datang ke Mekkah, Nabi Ismail ‘alaihissalaam sudah menikah. Lalu Nabi Ibrahim datangi rumah nabi Ismail (tentu dengan petunjuk dari Allah subhanahu wata’ala), memberikan salam kepada istrinya (nabi Ismail), lalu nabi Ibrahim tanya “Dimana suamimu (Ismail)?”.
Istrinya menjawab “Suami saya lagi pergi”.
Trus ditanya, “Bagaimana kehidupan kalian?”.
“Kehidupan kami susah, ....” (semua isinya adalah keluhan, bermasalah begini begitu, dll). Intinya adalah dia mempermasalahkan kehidupannya dengan Ismail yang selalu saja ada masalah.
Lalu Nabi Ibrahim setelah mendengar, ia mengatakan “Sampaikan kepada suamimu (Ismail), telah datang seseorang bernama Ibrahim [dia tidak mengatakan ayahnya], dan menitipkan pesan agar mengganti tiang rumahnya”.
Lalu pergilah Nabi Ibrahim ‘alaihissalaam.
Sebagian ulama mengatakan, waktu itu Nabi Ismail ‘alaihissalaam sudah menerima wahyu juga, sehingga ia juga sudah tahu ayahnya dia siapa (Nabi), bagaimana (beriman kepada Allah), dan seterusnya.
Maka, Ismail pun pulang dan bertanya, “Siapa yang datang?”
Istrinya mengatakan “Ibrahim”.
“Apa pesannya?”.
“Oh, pesannya agar mengganti tiang rumahmu”.
Maka, Nabi Ismail mengantar istrinya ke rumahnya dan diceraikan. Memang begitu kisahnya. Kalau para Nabi, perintahnya itu dari langit, bukan lagi main-main, bukan kayak kita masih menerka-nerka.
Nabi Ismail ‘alaihissalaam menikah lagi kedua kalinya dengan orang lain yang juga anak kepala suku dari Jurhum.
Nabi Ibrahim waktu itu sudah ketemu Hajar, kemudian pulang, dan datang lagi di waktu yang lain (tidak disebutkan berapa lama selisihnya). Kedatangannya yang kedua, beliau mendatangi lagi Ismail. Beliau memberi salam kepada istrinya dan menanyakan hal yang sama dengan istri pertama Ismail. Jawaban istrinya semuanya pujian, “Alhamdulillaah kehidupan kami begini, baik...”. Nabi Ibrahim mengatakan, “Baik, nanti kalau suamimu datang, beritahu, telah datang seseorang yang bernama Ibrahim dan pesankan bahwasanya pertahankan tiang rumahnya”.
Ketiika Nabi Ismail datang, ditanyakan siapa yang datang, istrinya menjawab bahwa ada seseorang yang bernama Ibrahim dan menunggu di rumah ibu Anda, Hajar, pesannya suruh pertahankan tiang rumah. Istrinya tidak tahu kalau dia disuruh pertahankan. Maka Ismail mengatakan itu ayah saya dan dia minta agar saya mempertahankan kehidupan dengannya. Lalu Nabi Ismail pergi menemui nabi Ibrahim ‘alaihissalaam (di rumah ibunya, Hajar).
Beberapa hari saja bertemu dengan Ismail (baru hitungan hari bertemu setelah beberapa tahun), tiba-tiba datang perintah, menyuruh nabi Ibrahim menyembelih anaknya, padahal baru saja ketemu setelah beberapa tahun. Anak ini (nabi Ismail) laki-laki, kuat, dan juga seorang nabi, ini cobaannya kok harus disembelih. Dan wahyu ini datang dari Allah hanya lewat mimpi.
***Perlu kita ketahui, Nabi Ibrahim ‘alaihissalaam dan semua nabi maupun semua manusia belum pernah bertemu dengan Allah. Jadi kita harus menyadari bahwa bukan cuma kita yang tidak pernah lihat Allah, para nabi pun tidak lihat Allah subhanahu wata’ala. Makanya, disini, waktu datang perintah pun untuk menyembelih anaknya, perintahnya melalui mimpi.***
Apa yang terjadi? Kita dengarkan kisahnya. Disebutkan dalam Alquran dalam surah Ash-Shaffaat (37) : 102-111.
Ayat 102. “Maka tatkala anak itu sampai pada umur sanggup (maksudnya si Ismail) berusaha bersama-sama dengan ayahnya (Ibrahim). Ibrahim berkata “Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwasanya aku menyembelihmu. Maka, fikirkanlah apa pendapatmu.” (artinya, berikan saya apa pendapatmu).
Disini ulama tafsir mengatakan, kalau Ismail belum kenal Allah, gak mungkin dia spontanitas mau menerima. Tapi, karena justru dia juga sudah ternobatkan menjadi nabi, maka dia siap.
“Ismail menjawab, “Hai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan Allah kepadamu, insya Allah Anda akan mendapati aku termasuk orang-orang yang sabar.”
Ayat 103. “Tatkala keduanya telah berserah diri”, artinya dibawalah Ismail ‘alaihissalaam ditempat yang telah ditunjuk oleh Jibril di sebuah gunung di sekitar Jamroh, di Mina.
(***Nanti ada Jamroh Aqobah, orang bilang lempar syetan, kecil-sedang-besar. Sebenarnya itu tidak ada setannya, jangan sampai Anda pikir ada syetannya sehingga mengambil sendal, kayu, batu besar lalu melempar. Padahal sunnahnya yang diambil adalah kerikil kecil. Karena Nabi Ibrahim ‘alaihissalaam pada saat membawa anaknya menuju ke tempat sasaran di Mina itu yang Allah suruh, di sebuah batu, diletakkan disitu, pada saat ditaruh, syetan datang menggoda agar tidak dilaksanakan. Maka Nabi Ibrahim ‘alaihissalaam membaca isti’adzah dan melemparnya tujuh kali dengan batu kerikil, melempari syetan tersebut.***)
Karena nabi Ibrahim ‘alaihissalaam sudah niat menyembelih anaknya karena perintah Allah, Nabi Ismail pun sudah menyerahkan dirinya, “Sembelihlah saya karena Allah yang suruh”,
“dan Ibrahim membaringkan anaknya di atas pelipisnya”, jadi sudah diletakkan dan diangkat dagunya untuk disembelih lehernya, sudah jelas dan tidak ada lagi keraguan.
“Nyatalah kesabaran keduanya”, Allah sudah tahu kesabaran keduanya.
Ayat 104. “Maka Kami panggil dia: Hai Ibrahim.”
Ayat 105. “Sesungguhnya kamu telah mempercayai mimpi itu”, artinya perintah untuk disuruh menyembelih. “Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan bagi orang-orang yang berbuat kebaikan.”
Ayat 106. “Sesungguhnya itu benar-benar suatu ujian yang berat”, cuma lihat mimpi saja tapi karena seorang Nabi, harus percaya.
Ayat 107. “Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar”, ini asas dari sembelihan idul Adha.
Ayat 108. “Kami abadikan untuk Ibrahim ujian tadi di kalangan orang-orang yang datang kemudian”, apa maksudnya? Kata ulama, seperti kasus Hajar tadi, selama orang sa’i, Hajar panen pahalanya. Selama Idul Adha ada, Ibrahim dan Ismail panen pahalanya. Jadi hikmah imaniyahnya disitu. Dikerjakan karena Allah, maka akan berbekas. Dan Subhanallah, tidak ada sesuatu yang dikerjakan karena Allah kecuali akan ada bekasnya dan sangat besar.
Ayat 109. “Yaitu Kesejahteraan dilimpahkan kepada Ibrahim”.
Ayat 110. “Demikianlah Kami memberikan balasan bagi orang-orang yang berbuat baik”.
Ayat 111. “Sesungguhnya, ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman”.
Lalu setelah itu, mulailah ada rentetan ibadah haji. Sa’i sudah selesai tadi di zaman Hajar, kemudian sembelihan juga sudah ada tinggal masalah Ka’bah (tawaf).
Maka Allah subhanahu wata’ala memerintahkan nabi Ibrahim ‘alaihissalaam untuk membangun Ka’bah (asas/pondasinya sudah ada). Lalu Nabi Ibrahim ‘alaihissalaam dan Nabi Ismail mulailah membangun Ka’bah, bekerjasama, hanya dua orang saja. Disini kebanyakan mereka berdua saja yang membangun karena perintah wahyu begitu. Dan ini pendapat yang paling rojih. Tidak dilibatkan masyarakat Mekkah waktu itu. Jadi, mereka berdua saja yang membangunnya, meletakkan batu demi batu, tentunya batu pada saat itu sangat sederhana, jadi tanah liat yang dibasahin kemudian dicetak, dibentuk, dikeringkan, sudah, jadi bisa runtuh setiap saat.
Maka dibuatlah batu-batu seperti itu kemudian disusunlah. Dan yang kita tau ada maqom Ibrahim (tempat telapak kaki nabi Ibrahim) itu bukan apa-apa, jangan jadi jahil disini, karena banyak orang mengganggap itu sakral. Dibungkus dengan kubah emas lah, bisa dipegang-pegang lah, ada berkahnya.. itu tidak ada sama sekali. Itu hanya sekedar telapak kaki nabi Ibrahim. Dalam sirah disebutkan, nabi Ibrahim ‘alaihissalaam waktu membangun ka’bah, setiap sudah mengatur bata-nya, beliau mundur untuk melihat apakah sudah stabil bangunannya atau belum. Hanya itu saja. Kenapa dikekalkan oleh Allah subhanahu wata’ala? Karena ketulusannya nabi Ibrahim, jadi orang bisa kenang. Salah satu perilaku dikekalkannya, tidak ada orang yang tawaf (umrah atau haji) kecuali harus sholat 2 rakaat di belakang maqom Ibrahim. Itu bagian dari tawaf itu sendiri (jika haji dan umrah).
Note: ***sholat di belakang maqom Ibrahim tidak harus pas dibelakangnya. Sampai ke tempat sa’i di belakang itu tempat sholat 2 rakaat. Jadi jangan ngotot di tempat tawaf sehingga kepalanya diinjak-injak oleh jemaah haji.***
Setelah ka’bah selesai dibangun, lalu ada wahyu datang kepada nabi Ibrahim ‘alaihissalam.
Bersambung...
(Sumber: ditranskrip langsung dari ceramah Ust. Dr. Khalid Basalamah hafidzahullaah)
#sirahnabawiyah
Minggu, 07 Februari 2016
Ibarat Ayam
Bismillaah...
Ibarat ayam peliharaan
Pagi kau lepas, terserah dia mau kemana...
Sore harus pulang. Balik kembali ke kandangnya.
Tak perlu kau kepoin dia
Tak perlu kau tanyakan padanya,
"Kamu darimana?"
"Kamu tadi bikin apa?"
"Kamu kemana aja tadi?"
Lalu, ketika dia pun terlambat pulang
Kita tetap menyambutnya
Karena intinya, yang penting dia pulang
Kita tak kepoin dia
Kita pun tak tanyakan padanya,
"Kamu darimana?"
"Kamu tadi bikin apa?"
"Kenapa kamu terlambat pulang?"
Iya kan?
Iya...
Tak perlu kepo nanyain.
Cuekin saja....
Note : "Jika kamu tak ingin dikepoin, tak ingin ditanya-tanya, maka mungkin, kamu seperti ......"
Sinjai, 7 Februari 2016
@Sinjai
Ibarat ayam peliharaan
Pagi kau lepas, terserah dia mau kemana...
Sore harus pulang. Balik kembali ke kandangnya.
Tak perlu kau kepoin dia
Tak perlu kau tanyakan padanya,
"Kamu darimana?"
"Kamu tadi bikin apa?"
"Kamu kemana aja tadi?"
Lalu, ketika dia pun terlambat pulang
Kita tetap menyambutnya
Karena intinya, yang penting dia pulang
Kita tak kepoin dia
Kita pun tak tanyakan padanya,
"Kamu darimana?"
"Kamu tadi bikin apa?"
"Kenapa kamu terlambat pulang?"
Iya kan?
Iya...
Tak perlu kepo nanyain.
Cuekin saja....
Note : "Jika kamu tak ingin dikepoin, tak ingin ditanya-tanya, maka mungkin, kamu seperti ......"
Sinjai, 7 Februari 2016
@Sinjai
Jumat, 05 Februari 2016
SIRAH NABAWIYAH (3)
Masa Sebelum Nabi Dilahirkan
Waktu malaikat datang ke rumah Ibrahim ‘alaihissalaam, seperti apa sih kejadiannya?
Allah sebutkan dalam surah Adz Dzaariyat (surah ke 51) ayat 24-30:
“Sudah sampaikah kepadamu hai Muhammad cerita tentang tamunya Ibrahim?” (dua malaikat yang datang untuk menghancurkan kaum Luth).
Kisahnya bagaimana? Yaitu “Malaikat-malaikat yang dimuliakan” kata Allah di ayat 24.
Ayat 25 “Ingatlah, ketika mereka datang ke tempat nya Ibrahim dan mengucapkan ‘Salaamun’ atau keselamatan bagimu wahai Ibrahim”,
Ibrahim pun menjawab “Salaam (juga, artinya keselamatan untuk kalian), sesungguhnya kalian orang-orang yang tidak dikenal” kata Nabi Ibrahim kepada dua malaikat tadi. Ibrahim pun karena terkenal dengan karomnya, sangat ringan tangan, sangat suka dengan tamu, maka pada saat malaikat yang tidak dikenal ini datang, dipersilakan masuk, tidak ditanya siapa kalian, yang pertama Nabi Ibrahim ‘alaihissalam lakukan adalah beliau secara diam-diam menemui keluarganya di belakang (di dapur) kemudian dia menyembelih seekor anak sapi yang gemuk. Langsung dimasak dan dihidangkan kepada tamunya (tanpa menanyakan siapa kalian). Ini sebuah perilaku yang kata ulama tafsir mengatakan contoh yang sangat baik dari nabi Ibrahim ‘alaihissalaam. **Kalau sudah ada yang datang ke rumah, tidak usah dimulai dengan suudzon dulu (siapa orang ini dan segalanya), berikan sesuatu mungkin minuman atau makanan lalu ditanya ada apa kira-kira kebutuhannya.** Nabi Ibrahim ‘alaihissalaam melakukan itu dalam ayat ini.
Lalu, tatkala dihidangkan kepada dua malaikat tadi, Ibrahim lalu berkata “Silakan di makan”, ini ayat 27.
Ayat 28, “Tapi mereka tidak mau makan. Karena itu, Nabi Ibrahim merasa takut terhadap mereka.
Mereka (malaikat) berkata ‘Janganlah kamu takut’, dan menyampaikan berita gembira kepada Ibrahim tentang akan lahirnya seorang anak bagi Ibrahim yang bernama Ishaq”, inilah dari Sarah.
Ayat selanjutnya “Kemudian istrinya (Sarah) datang memekik lalu menepuk mukanya sendiri seraya berkata ‘Sesungguhnya aku seorang wanita yang tua dan mandul”.
Lalu para malaikat menjawab “Demikianlah Tuhan kalian memfirmankan, sesungguhnya Dialah yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui”. Artinya, Allah subhanahu wa ta’ala mampu membuat apapun bahkan Allah mampu membuat semua wanita hamil tanpa laki-laki kalau Allah mau, bisa melahirkan anak, bisa punya keturunan tidak harus berhubungan biologis antara suami istri, tapi itu kekuasaan Allah ‘azza wa jalla.
Akhirnya, Sarah hamil dan melahirkan seorang anak yang bernama Ishaq yang nantinya juga akan menjadi Nabi.
Inilah sebab Nabi Ibrahim ‘alaihissalam diberi julukan abul Anbiya’ (ayahnya para Nabi), karena dari dua istrinya, dua-dua anaknya nabi; Ismail dan Ishaq.
Setelah Sarah melahirkan, Allah ‘azza wa jalla memerintahkan Ibrahim ‘alaihissalam untuk membawa Hajar dan anaknya Ismail ke Mekkah. Waktu akan pergi, Nabi Ibrahim ‘alaihissalaam tidak menceritakan kepada Hajar dan anaknya Ismail (waktu itu Ismail masih kecil, masih menyusui). Dibawa saja naik unta sampai tiba di Mekkah.
***Mekkah waktu itu padang pasir, tidak ada pohon, tidak ada orang, lembah. Kalau kita liat gambar aslinya Ka’bah, itu ada pegunungan di sekelilingnya dan itu lembah. Itulah hikmahnya disana tidak pernah hujan. Satu kali hujan pasti banjir, karena memang lembah. Jadi kalau turun hujan dari gunung, pasti numpuk semua di Ka’bah, seperti kejadian beberapa tahun yang lalu, banjir sampai di pintu Ka’bah.
Mekkah waktu itu tidak ada pohon, tidak ada makanan, tidak ada orang, tidak ada kehidupan, padang pasir (lembah). Sebagian ulama mengatakan, memang asalnya Ka’bah itu asasnya sudah ada dan pernah Ka’bah itu dibangun oleh Adam ‘alaihissalam dengan anaknya (Shith) (yang banyak kita ketahui Habil dan Qabil, tapi ada lagi yang bernama Shith, jadi nabi Adam memiliki banyak anak). Shith ini anak yang sangat sholeh, tapi dia tidak diangkat menjadi nabi, karena sudah disepakati 10 abad dari zaman nabi Adam ‘alaihissalaam itu tidak ada syirik, tidak dibutuhkan nabi. Nanti setelah adanya kesyirikan barulah Allah subhanahu wa ta’ala mengutus Idris ‘alaihissalaam.***
Lalu dibawalah Ismail ‘alaihissalaam dengan ibunya Hajar, oleh Ibrahim, tiba di lembah lalu diletakkan saja, ditaruh “Silakan turun disini”.
Hajar bingung.
Dalam riwayat shohih, Hajar berkata “Hai Ibrohim, apakah Anda meletakkan kami di lembah ini, tidak ada kehidupan, tidak ada orang?” Kemudian Nabi Ibrahim waktu itu langsung mau jalan. Jadi tidak ada keterangan, tidak ada kejelasan, kita mau buat apa disini.
Nabi Ibrahim merasa sedih sebenarnya, tapi ini kan perintah, perintah Allah cuma datang, wahyunya apa? “Antar istrimu dan anakmu (Hajar dan Ismail) ke Mekkah, di lembah”, itu saja, selesai. Untuk apa disana tidak jelas. Ditaruh saja disitu, pokoknya perintah Allah begitu. Nabi Ibrahim patuh saja, taruh istri dan anaknya tanpa penjelasan. Karena dia merasa sedih, dia tidak melihat ke Hajar, dia terus membelakangi.
Hajar mengikuti dari belakang, “Hai Ibrohim, apakah engkau membiarkan kami di lembah ini?”.
Nabi Ibrahim tidak jawab, sampai tiga kali bertanya.
Akhirnya Hajar berkata, dalam riwayat Shohih menjelaskan bagaimana keimanan Hajar (Hajar tahu Ibrahim adalah seorang nabi Allah), ia mengatakan “Aaallaaahu amaroka bihadza” (Apakah Allah yang menyuruh engkau melakukan ini?), maka Nabi Ibrahim ‘alaihissalaam menganggukkan kepalanya sambil menangis (sedih).
Maka Hajar menjawab pertanyaan membesarkan jiwanya dan suaminya juga dan mengatakan dengan keyakinan luar biasa “Kalau begitu, Allah tidak akan membiarkan kami”.
Nabi Ibrahim ‘alaihissalam pun mengikuti wahyu, langsung pulang.
Hajar, kisahnya sendirian sama Ismail, lalu akhirnya dia duduk di padang pasir, tidak ada sebuah pohon pun yang menaunginya, menyusui anaknya. Setelah beberapa saat, dia merasa kekurangan, haus, panas, butuh air. Maka dia pun keliling mencari air. Tidak ditemukan di sekitar situ. Lalu akhirnya dia mendapati dua bukit yang sudah kita kenal; Shafa dan Marwah. Naiklah dia ke Shafa, sebuah gunung yang besar (*sekarang tentu sudah keliatan tidak besar karena sudah di keramik, dulu gunungnya sangat tinggi).
Kenapa Hajar naik ke Shafa? Karena di padang pasir, kalau tempat itu kering sekali, biasanya matahari itu sangat panas, nanti mataharinya itu bisa memantulkan cahaya air dari tempat lain (fatamorgana, yang nyatanya tidak ada). Itu sering terjadi karena panasnya cuaca.
Jadi, Hajar melihat dari Shafa , seakan-akan di gunung Marwah itu ada air. Mulailah Hajar sai, artinya berjalan, turun. Di tengah-tengah lembah, disitu mulai menukik ke bukit Marwah. Agar gampang naik ke atas, maka Hajar lari. Lari dulu supaya nanti naik ke atas (Marwah) itu bisa lebih gampang. Naiklah ke Marwah. Dilihat lagi ke arah Shafa seakan-akan ada air (padahal gak ada). Hajar turun lagi, ke Shafa, bolak balik sampai tujuh kali.
Apa sentuhan imaniyah dari peristiwa ini? Hajar ‘alaihassalaam karena memang patuh kepada Allah dan mengikuti perintah suaminya tadi, lalu, apapun yang dia kerjakan termasuk sa’i tadi mencari air untuk Ismail, niatnya hanya sebagai seorang ibu saja, karena dia tulus untuk itu, Allah jadikan selama orang sa’i sampai hari kiamat, Hajar PANEN pahalanya. Ini dari sisi imaniyah yang tidak disadari.
Apa pelajaran paling besar? Bahwasanya, siapapun yang mengerjakan sesuatu karena Allah (ex: berjalan ingin menjenguk orang tuanya, menjenguk saudaranya yang sakit, membantu orang), setiap langkah bernilai PAHALA di sisi Allah. Dan pasti ada bekasnya, selama ketulusan itu ada. Disini Hajar, hanya sekedar mau cari air buat anaknya, gak ada pikiran lain, tapi itu perilaku yang baik. Dan tadi itu dia patuh dengan perintah Allah, kepada suaminya, dan dia dukung suaminya untuk itu, maka Allah subhanahu wata’ala memudahkan. Selama sa’i, bayangkan nih kalau orang sa’i, jutaan orang disitu, berapa banyak tuh pahalanya. Kalau Allah catat satu pahala saja per orang, kali sekian juta, kali setiap hari sampai hari kiamat, itu berapa banyak pahala yang dipanen oleh Hajar ‘alaihassalaam. Berarti bentuk ketaatan kepada Allah dan suami itu sesuatu yang LUAR BIASA bagi seorang wanita.
Kita kembali ke poinnya.
Setelah tujuh kali ia berjalan, barulah Hajar menyadari ternyata tidak ada air disini. Dan Ismail itu ditinggal sendiri, karena tempatnya Ismail cukup jauh dari situ. Ternyata waktu Hajar sudah keletihan (capek) mencari (air) tapi tidak dapat, ada beberapa atsar, tapi yang paling rojih sebenarnya Jibril ‘alaihissalam datang, tapi tidak dilihat oleh Hajar, lalu mengebaskan sayapnya sehingga membuat tanah di padang pasir itu mengeluarkan mata air yang kita kenal dengan ZAM-ZAM.
Ada riwayat lain yang mengatakan air Zam-zam itu keluar dari bekas telapak kaki untanya nabi Ibrahim ‘alaihissalaam, tapi ini marjuh (pendapat yang tidak terlalu kuat). Lebih kuat tadi Jibril ‘alaihissalaam yang datang. Ada pendapat lain juga yang mengatakan bahwasanya keluar dari hentakan kaki nabi Ismail pada saat menangis. Tapi yang paling kuat adalah Jibril ‘alaihissalam datang dan mengebaskan dengan sayapnya sehingga keluarlah mata air tersebut.
Ada pertanyaan kecil, selama ini kita tahu Zam-zam itu namanya air, tau gak apa artinya Zam-Zam? Jadi, Zam-zam itu pada saat dilihat airnya oleh Hajar ‘alaihassalaam, karena gembiranya, maka beliau membuat seperti bendungan dari pasir yang dikumpulkan, takutnya airnya habis, karena ini padang pasir. Maka dikumpullah, sambil mengucapkan “ZAM-ZAM”, “berkumpullah, berkumpullah”. Jadi ZAM-ZAM artinya BERKUMPUL. Maka ditutuplah.
Kata Nabi sallallaahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits Bukhari Muslim, “Semoga Allah merahmati ibunya Ismail”, kalau dia biarkan, maka akan menjadi lautan yang luas. Tapi, karena ketakutannya seorang ibu, jangan sampai habis ini air, maka ditutuplah/ditahan. Jadi akhirnya dia Cuma sekedar seperti mata air.
Akhirnya, Hajar ‘alaihissalaam minum dari situ, mulailah hidup (karena yang paling penting air), dan SUBHANALLAH, sebagaimana dalam hadits shohih dikatakan, zam-zam bagi orang yang meminumnya, boleh niat apa saja.
Sebagaimana imam Syafi’i rahimahullah mengatakan “Saya minum Zam-zam dengan tiga niat; saya minta agar panahan saya tidak pernah meleset, dan itu berhasil (panahannya tidak pernah lagi meleset setelah minum zam-zam), kedua, saya (Imam Syafi’i) meminta agar menjadi ‘alimnya Muslimin (ulama), dan yang ketiga, saya meminta dimasukkan syurga dengan minum zam-zam. Jadi jangan minum zam-zam Cuma minta disembuhkan penyakit, itu kecil. Minta semuanya. Tapi zam-zam, bukan datang kepada orang yang dianggap pintar, akhirnya diludahi trus diminum. Itu penipuan terhadap masyarakat. Jangan pernah Anda minum air yang ditiup-tiup oleh orang, Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah melakukan itu (meniup-niup air apalagi meludah, baik kalau sikat gigi, kalau tidak?! :) bisa saja mentransfer penyakit). Kata Nabi sallallaahu ‘alaihi wa sallam “Zam-zam itu minuman sekaligus makanan yang mengenyangkan”. Itu hadits shohih. Makanya jika orang minum zam-zam itu sudah cukup walaupun tidak makan. Beberapa sahabat pernah selama tiga pekan di Mekkah, mereka tidak makan apa-apa, Cuma minum zam-zam dan tercukupkan. Itu karunia Allah ‘azza wa jalla kepada ummat ini.
Hiduplah Hajar pada saat itu. Nabi Ibrahim ‘alaihissalaam waktu pulang, dalam perjalanan, berdoa kepada Allah subhanahu wa ta’ala “Ya Allah, aku meninggalkan istri dan anakku di sebuah lembah, tidak ada sedikitpun pohonnya”, rumput pun tidak ada, kosong sama sekali. Kemudian Ibrahim melanjutkan “di lokasi/tempat rumahmu yang muharrom”, disini poinnya. Ini menandakan (kata ulama tafsir), ka’bah itu asasnya sudah ada dan mulailah mereka (ulama) menjabarkan dengan beberapa atsar yang menyebutkan bahwasanya pernah dibangun oleh Adam ‘alaihissalaam dan Shith, kemudian dengan berjalannya waktu, hancur. Nanti Nabi Ibrahim ‘alaihissalaam diperintahkan untuk membangun kembali ka’bah. Jadi Ka’bah bukan baru dibangun pada saat itu tapi pondasinya sudah ada sebelumnya, lalu dibangun kembali.
Lalu, Nabi Ibrahim pada saat berdoa, Nabi Ibrahim pun menyebutkan dalam do’anya yang masyhur yang mengatakan “Kirimlah orang-orang kepada istri dan anak saya, supaya mereka tidak sendirian”. Maka Allah subhanahu wa ta’ala pun menerima doanya.
Apa yang terjadi? Ada sebuah kasus yang terjadi pada saat itu.
Bersambung...
(Sumber: ditranskrip langsung dari ceramah Ust. Dr. Khalid Basalamah hafidzahullaah)
#sirahnabawiyah
Waktu malaikat datang ke rumah Ibrahim ‘alaihissalaam, seperti apa sih kejadiannya?
Allah sebutkan dalam surah Adz Dzaariyat (surah ke 51) ayat 24-30:
“Sudah sampaikah kepadamu hai Muhammad cerita tentang tamunya Ibrahim?” (dua malaikat yang datang untuk menghancurkan kaum Luth).
Kisahnya bagaimana? Yaitu “Malaikat-malaikat yang dimuliakan” kata Allah di ayat 24.
Ayat 25 “Ingatlah, ketika mereka datang ke tempat nya Ibrahim dan mengucapkan ‘Salaamun’ atau keselamatan bagimu wahai Ibrahim”,
Ibrahim pun menjawab “Salaam (juga, artinya keselamatan untuk kalian), sesungguhnya kalian orang-orang yang tidak dikenal” kata Nabi Ibrahim kepada dua malaikat tadi. Ibrahim pun karena terkenal dengan karomnya, sangat ringan tangan, sangat suka dengan tamu, maka pada saat malaikat yang tidak dikenal ini datang, dipersilakan masuk, tidak ditanya siapa kalian, yang pertama Nabi Ibrahim ‘alaihissalam lakukan adalah beliau secara diam-diam menemui keluarganya di belakang (di dapur) kemudian dia menyembelih seekor anak sapi yang gemuk. Langsung dimasak dan dihidangkan kepada tamunya (tanpa menanyakan siapa kalian). Ini sebuah perilaku yang kata ulama tafsir mengatakan contoh yang sangat baik dari nabi Ibrahim ‘alaihissalaam. **Kalau sudah ada yang datang ke rumah, tidak usah dimulai dengan suudzon dulu (siapa orang ini dan segalanya), berikan sesuatu mungkin minuman atau makanan lalu ditanya ada apa kira-kira kebutuhannya.** Nabi Ibrahim ‘alaihissalaam melakukan itu dalam ayat ini.
Lalu, tatkala dihidangkan kepada dua malaikat tadi, Ibrahim lalu berkata “Silakan di makan”, ini ayat 27.
Ayat 28, “Tapi mereka tidak mau makan. Karena itu, Nabi Ibrahim merasa takut terhadap mereka.
Mereka (malaikat) berkata ‘Janganlah kamu takut’, dan menyampaikan berita gembira kepada Ibrahim tentang akan lahirnya seorang anak bagi Ibrahim yang bernama Ishaq”, inilah dari Sarah.
Ayat selanjutnya “Kemudian istrinya (Sarah) datang memekik lalu menepuk mukanya sendiri seraya berkata ‘Sesungguhnya aku seorang wanita yang tua dan mandul”.
Lalu para malaikat menjawab “Demikianlah Tuhan kalian memfirmankan, sesungguhnya Dialah yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui”. Artinya, Allah subhanahu wa ta’ala mampu membuat apapun bahkan Allah mampu membuat semua wanita hamil tanpa laki-laki kalau Allah mau, bisa melahirkan anak, bisa punya keturunan tidak harus berhubungan biologis antara suami istri, tapi itu kekuasaan Allah ‘azza wa jalla.
Akhirnya, Sarah hamil dan melahirkan seorang anak yang bernama Ishaq yang nantinya juga akan menjadi Nabi.
Inilah sebab Nabi Ibrahim ‘alaihissalam diberi julukan abul Anbiya’ (ayahnya para Nabi), karena dari dua istrinya, dua-dua anaknya nabi; Ismail dan Ishaq.
Setelah Sarah melahirkan, Allah ‘azza wa jalla memerintahkan Ibrahim ‘alaihissalam untuk membawa Hajar dan anaknya Ismail ke Mekkah. Waktu akan pergi, Nabi Ibrahim ‘alaihissalaam tidak menceritakan kepada Hajar dan anaknya Ismail (waktu itu Ismail masih kecil, masih menyusui). Dibawa saja naik unta sampai tiba di Mekkah.
***Mekkah waktu itu padang pasir, tidak ada pohon, tidak ada orang, lembah. Kalau kita liat gambar aslinya Ka’bah, itu ada pegunungan di sekelilingnya dan itu lembah. Itulah hikmahnya disana tidak pernah hujan. Satu kali hujan pasti banjir, karena memang lembah. Jadi kalau turun hujan dari gunung, pasti numpuk semua di Ka’bah, seperti kejadian beberapa tahun yang lalu, banjir sampai di pintu Ka’bah.
Mekkah waktu itu tidak ada pohon, tidak ada makanan, tidak ada orang, tidak ada kehidupan, padang pasir (lembah). Sebagian ulama mengatakan, memang asalnya Ka’bah itu asasnya sudah ada dan pernah Ka’bah itu dibangun oleh Adam ‘alaihissalam dengan anaknya (Shith) (yang banyak kita ketahui Habil dan Qabil, tapi ada lagi yang bernama Shith, jadi nabi Adam memiliki banyak anak). Shith ini anak yang sangat sholeh, tapi dia tidak diangkat menjadi nabi, karena sudah disepakati 10 abad dari zaman nabi Adam ‘alaihissalaam itu tidak ada syirik, tidak dibutuhkan nabi. Nanti setelah adanya kesyirikan barulah Allah subhanahu wa ta’ala mengutus Idris ‘alaihissalaam.***
Lalu dibawalah Ismail ‘alaihissalaam dengan ibunya Hajar, oleh Ibrahim, tiba di lembah lalu diletakkan saja, ditaruh “Silakan turun disini”.
Hajar bingung.
Dalam riwayat shohih, Hajar berkata “Hai Ibrohim, apakah Anda meletakkan kami di lembah ini, tidak ada kehidupan, tidak ada orang?” Kemudian Nabi Ibrahim waktu itu langsung mau jalan. Jadi tidak ada keterangan, tidak ada kejelasan, kita mau buat apa disini.
Nabi Ibrahim merasa sedih sebenarnya, tapi ini kan perintah, perintah Allah cuma datang, wahyunya apa? “Antar istrimu dan anakmu (Hajar dan Ismail) ke Mekkah, di lembah”, itu saja, selesai. Untuk apa disana tidak jelas. Ditaruh saja disitu, pokoknya perintah Allah begitu. Nabi Ibrahim patuh saja, taruh istri dan anaknya tanpa penjelasan. Karena dia merasa sedih, dia tidak melihat ke Hajar, dia terus membelakangi.
Hajar mengikuti dari belakang, “Hai Ibrohim, apakah engkau membiarkan kami di lembah ini?”.
Nabi Ibrahim tidak jawab, sampai tiga kali bertanya.
Akhirnya Hajar berkata, dalam riwayat Shohih menjelaskan bagaimana keimanan Hajar (Hajar tahu Ibrahim adalah seorang nabi Allah), ia mengatakan “Aaallaaahu amaroka bihadza” (Apakah Allah yang menyuruh engkau melakukan ini?), maka Nabi Ibrahim ‘alaihissalaam menganggukkan kepalanya sambil menangis (sedih).
Maka Hajar menjawab pertanyaan membesarkan jiwanya dan suaminya juga dan mengatakan dengan keyakinan luar biasa “Kalau begitu, Allah tidak akan membiarkan kami”.
Nabi Ibrahim ‘alaihissalam pun mengikuti wahyu, langsung pulang.
Hajar, kisahnya sendirian sama Ismail, lalu akhirnya dia duduk di padang pasir, tidak ada sebuah pohon pun yang menaunginya, menyusui anaknya. Setelah beberapa saat, dia merasa kekurangan, haus, panas, butuh air. Maka dia pun keliling mencari air. Tidak ditemukan di sekitar situ. Lalu akhirnya dia mendapati dua bukit yang sudah kita kenal; Shafa dan Marwah. Naiklah dia ke Shafa, sebuah gunung yang besar (*sekarang tentu sudah keliatan tidak besar karena sudah di keramik, dulu gunungnya sangat tinggi).
Kenapa Hajar naik ke Shafa? Karena di padang pasir, kalau tempat itu kering sekali, biasanya matahari itu sangat panas, nanti mataharinya itu bisa memantulkan cahaya air dari tempat lain (fatamorgana, yang nyatanya tidak ada). Itu sering terjadi karena panasnya cuaca.
Jadi, Hajar melihat dari Shafa , seakan-akan di gunung Marwah itu ada air. Mulailah Hajar sai, artinya berjalan, turun. Di tengah-tengah lembah, disitu mulai menukik ke bukit Marwah. Agar gampang naik ke atas, maka Hajar lari. Lari dulu supaya nanti naik ke atas (Marwah) itu bisa lebih gampang. Naiklah ke Marwah. Dilihat lagi ke arah Shafa seakan-akan ada air (padahal gak ada). Hajar turun lagi, ke Shafa, bolak balik sampai tujuh kali.
Apa sentuhan imaniyah dari peristiwa ini? Hajar ‘alaihassalaam karena memang patuh kepada Allah dan mengikuti perintah suaminya tadi, lalu, apapun yang dia kerjakan termasuk sa’i tadi mencari air untuk Ismail, niatnya hanya sebagai seorang ibu saja, karena dia tulus untuk itu, Allah jadikan selama orang sa’i sampai hari kiamat, Hajar PANEN pahalanya. Ini dari sisi imaniyah yang tidak disadari.
Apa pelajaran paling besar? Bahwasanya, siapapun yang mengerjakan sesuatu karena Allah (ex: berjalan ingin menjenguk orang tuanya, menjenguk saudaranya yang sakit, membantu orang), setiap langkah bernilai PAHALA di sisi Allah. Dan pasti ada bekasnya, selama ketulusan itu ada. Disini Hajar, hanya sekedar mau cari air buat anaknya, gak ada pikiran lain, tapi itu perilaku yang baik. Dan tadi itu dia patuh dengan perintah Allah, kepada suaminya, dan dia dukung suaminya untuk itu, maka Allah subhanahu wata’ala memudahkan. Selama sa’i, bayangkan nih kalau orang sa’i, jutaan orang disitu, berapa banyak tuh pahalanya. Kalau Allah catat satu pahala saja per orang, kali sekian juta, kali setiap hari sampai hari kiamat, itu berapa banyak pahala yang dipanen oleh Hajar ‘alaihassalaam. Berarti bentuk ketaatan kepada Allah dan suami itu sesuatu yang LUAR BIASA bagi seorang wanita.
Kita kembali ke poinnya.
Setelah tujuh kali ia berjalan, barulah Hajar menyadari ternyata tidak ada air disini. Dan Ismail itu ditinggal sendiri, karena tempatnya Ismail cukup jauh dari situ. Ternyata waktu Hajar sudah keletihan (capek) mencari (air) tapi tidak dapat, ada beberapa atsar, tapi yang paling rojih sebenarnya Jibril ‘alaihissalam datang, tapi tidak dilihat oleh Hajar, lalu mengebaskan sayapnya sehingga membuat tanah di padang pasir itu mengeluarkan mata air yang kita kenal dengan ZAM-ZAM.
Ada riwayat lain yang mengatakan air Zam-zam itu keluar dari bekas telapak kaki untanya nabi Ibrahim ‘alaihissalaam, tapi ini marjuh (pendapat yang tidak terlalu kuat). Lebih kuat tadi Jibril ‘alaihissalaam yang datang. Ada pendapat lain juga yang mengatakan bahwasanya keluar dari hentakan kaki nabi Ismail pada saat menangis. Tapi yang paling kuat adalah Jibril ‘alaihissalam datang dan mengebaskan dengan sayapnya sehingga keluarlah mata air tersebut.
Ada pertanyaan kecil, selama ini kita tahu Zam-zam itu namanya air, tau gak apa artinya Zam-Zam? Jadi, Zam-zam itu pada saat dilihat airnya oleh Hajar ‘alaihassalaam, karena gembiranya, maka beliau membuat seperti bendungan dari pasir yang dikumpulkan, takutnya airnya habis, karena ini padang pasir. Maka dikumpullah, sambil mengucapkan “ZAM-ZAM”, “berkumpullah, berkumpullah”. Jadi ZAM-ZAM artinya BERKUMPUL. Maka ditutuplah.
Kata Nabi sallallaahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits Bukhari Muslim, “Semoga Allah merahmati ibunya Ismail”, kalau dia biarkan, maka akan menjadi lautan yang luas. Tapi, karena ketakutannya seorang ibu, jangan sampai habis ini air, maka ditutuplah/ditahan. Jadi akhirnya dia Cuma sekedar seperti mata air.
Akhirnya, Hajar ‘alaihissalaam minum dari situ, mulailah hidup (karena yang paling penting air), dan SUBHANALLAH, sebagaimana dalam hadits shohih dikatakan, zam-zam bagi orang yang meminumnya, boleh niat apa saja.
Sebagaimana imam Syafi’i rahimahullah mengatakan “Saya minum Zam-zam dengan tiga niat; saya minta agar panahan saya tidak pernah meleset, dan itu berhasil (panahannya tidak pernah lagi meleset setelah minum zam-zam), kedua, saya (Imam Syafi’i) meminta agar menjadi ‘alimnya Muslimin (ulama), dan yang ketiga, saya meminta dimasukkan syurga dengan minum zam-zam. Jadi jangan minum zam-zam Cuma minta disembuhkan penyakit, itu kecil. Minta semuanya. Tapi zam-zam, bukan datang kepada orang yang dianggap pintar, akhirnya diludahi trus diminum. Itu penipuan terhadap masyarakat. Jangan pernah Anda minum air yang ditiup-tiup oleh orang, Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah melakukan itu (meniup-niup air apalagi meludah, baik kalau sikat gigi, kalau tidak?! :) bisa saja mentransfer penyakit). Kata Nabi sallallaahu ‘alaihi wa sallam “Zam-zam itu minuman sekaligus makanan yang mengenyangkan”. Itu hadits shohih. Makanya jika orang minum zam-zam itu sudah cukup walaupun tidak makan. Beberapa sahabat pernah selama tiga pekan di Mekkah, mereka tidak makan apa-apa, Cuma minum zam-zam dan tercukupkan. Itu karunia Allah ‘azza wa jalla kepada ummat ini.
Hiduplah Hajar pada saat itu. Nabi Ibrahim ‘alaihissalaam waktu pulang, dalam perjalanan, berdoa kepada Allah subhanahu wa ta’ala “Ya Allah, aku meninggalkan istri dan anakku di sebuah lembah, tidak ada sedikitpun pohonnya”, rumput pun tidak ada, kosong sama sekali. Kemudian Ibrahim melanjutkan “di lokasi/tempat rumahmu yang muharrom”, disini poinnya. Ini menandakan (kata ulama tafsir), ka’bah itu asasnya sudah ada dan mulailah mereka (ulama) menjabarkan dengan beberapa atsar yang menyebutkan bahwasanya pernah dibangun oleh Adam ‘alaihissalaam dan Shith, kemudian dengan berjalannya waktu, hancur. Nanti Nabi Ibrahim ‘alaihissalaam diperintahkan untuk membangun kembali ka’bah. Jadi Ka’bah bukan baru dibangun pada saat itu tapi pondasinya sudah ada sebelumnya, lalu dibangun kembali.
Lalu, Nabi Ibrahim pada saat berdoa, Nabi Ibrahim pun menyebutkan dalam do’anya yang masyhur yang mengatakan “Kirimlah orang-orang kepada istri dan anak saya, supaya mereka tidak sendirian”. Maka Allah subhanahu wa ta’ala pun menerima doanya.
Apa yang terjadi? Ada sebuah kasus yang terjadi pada saat itu.
Bersambung...
(Sumber: ditranskrip langsung dari ceramah Ust. Dr. Khalid Basalamah hafidzahullaah)
#sirahnabawiyah
Langganan:
Postingan (Atom)