KISAH MASUKNYA AGAMA YAHUDI DAN NASRANI DI JAZIRAH ARAB
Sampai raja Dzu Nuwas ketakutan. Lalu berkatalah anak muda ini, “Kalau
engkau ingin membunuhku, hai raja Dzu Nuwas, maka satu-satunya cara
adalah engkau memanah diriku dengan anak panahku ini dengan mengucapkan
‘Bismillaahi Robbul Ghulam’ (Dengan nama Allah, tuhannya anak muda ini).
Baru saya bisa mati. Tapi syaratnya, engkau harus mengumpulkan seluruh
masyarakat Yaman di sebuah lapangan yang luas kemudian engkau lakukan
apa yang saya bilang, baru engkau bisa membunuhku.”
Dzu Nuwas karena waktu itu penasaran, “Baik kalau begitu, saya akan lakukan”. Dia tidak berpikir efeknya.
Dikumpulkanlah seluruh masyarakat Yaman. Diiklankan ‘Raja Dzu Nuwas
akan membunuh anak muda yang tadinya belajar dengan tukang sihirnya’.
Dikumpulkanlah di tengah padang yang sangat luas. Orang semua datang.
Anak muda itu diikat di sebuah batang pohon lalu raja Dzu Nuwas
mengambil anak panah anak muda tersebut lalu mengeraskan suaranya
mengatakan “Bismillaahi Robbul Ghulam” (dengan nama Allah, tuhannya anak
muda ini). Dilepas. Kena anak muda itu lalu mati. Waktu anak muda itu
mati gara-gara ucapan “Bismillaahi Robbul Ghulam”, maka 20.000 dari
jumlah masyarakat Yaman, SEMUA menganut agama Nasrani. Pindah dari agama
Yahudi ke agama Nasrani, karena kasus anak muda tadi ini.
***Tentu ini kisah ummat sebelum kita. Jangan sampai kita sekarang
datang, ambil busur panah, lalu bilang suruh bunuh saya. Bukan. Jadi,
ini kisah sebelum kita, dan semua kisah orang-orang sebelum kita itu
menjadi ibroh/pelajaran saja. Itu adalah pelajaran bagi orang-orang yang
punya pandangan mata. Kisah ashabul kahfi, kisah kaumnya nabi Syu’aib,
nabi Sholeh, nabi Luth dan seterusnya, adalah pelajaran saja. Tidak
perlu repot-repot lagi cari tau ashabul kahfi dimana guanya, bagaimana
mukanya, anjingnya warna apa, dan seterusnya. Seperti sekarang, banyak
orang menyibukkan diri dengan masalah itu. Sampai masalah kejahilan
terjadi, nama-nama ashabul kahfi dikarang-karang, ditempel di rumah,
katanya bisa menyelamatkan rumah dari pencuri, bisa ini bisa itu, ini
banyak sekali ditemukan. Jadi kalau kita temukan ada orang yang mengaku
kiyai atau ustadz apalagi di Indonesia, dukun berkedok seperti itu,
bahasa Arab, gambar pedang, gambar bintang, huruf hijaiyah
dibolak-balik, itu semua tidak benar. Tidak pernah nabi shallallaahu
'alaihi wasallam mengajarkan seperti itu.***
Akhirnya, raja Dzu
Nuwas makin marah. Dia menyuruh pasukannya membuat parit yang sangat
besar kemudian dibakar api sepanjang parit itu. Dan satu persatu dari
20.000 masyarakat Yaman yang beriman kepada Allah subhanahu wata'ala
yang memeluk agama Nasrani, dilemparkan ke api tersebut. Pokoknya kalau
tidak mau kembali ke agama Yahudi, dibakar. Maka satu persatu dibunuh
(di lempar ke parit).
***Dalam riwayat Bukhari yang lain diceritakan, ada tiga anak bayi yang berbicara di buaian.
Yang pertama adalah nabi Isa 'alaihissalaam.
Yang kedua, kisah bayi Juraij. Juraij ini adalah seseorang yang
terkenal ibadahnya. Tapi akhirnya, ada seorang wanita nakal yang hamil
karena berzina dengan satu orang penggembala, tapi dia mengatakan ini
anaknya Juraij. Wanita ini ingin merusak namanya Juraij. Juraij datang,
menekan perut anak bayi tersebut lalu mengatakan “Siapa ayahmu?”, bayi
itu bicara “Ayah saya si penggembala kambing Fulan”. Ini kisah nyata.
Lalu yang ketiga adalah anak bayi yang digendong oleh ibunya di kisah
Ashaabul Ukhdud, kisahnya raja Dzu Nuwas ini. Dari 20.000 orang yang
dibakar tadi, ada satu ibu yang lagi gendong bayinya. Ibu itu ragu
“Lempar gak ya dirinya ke api”. Anak bayi itu lalu bicara dan
mengatakan, “Hai ibuku, jangan kau ragu.”, maksudnya loncat saja ke api
ini. “Sesungguhnya kita sedang menuju ke syurga”. Lalu ibu itu loncat
dengan anaknya.***
Ini kisah nyata dan termasuk kisah yang disebutkan dalam alQur’an (surah Al Buruj : 4-8)
“Binasa dan terlaknatlah orang-orang yang membuat parit”, ingatlah
kisah Ashabul Ukhdud tadi, raja Dzu Nuwas yang bangun parit, ada api.
“Api yang dinyalakan dengan sangat besar.”
“Ketika mereka duduk di sekitarnya”, ingatlah waktu raja Dzu Nuwas
dengan pengawalnya, semuanya duduk dekat api menyaksikan orang yang
dibakar. Ini luar biasa kedzolimannya.
“Sedang mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang yang beriman.”
“Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan karena
orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah yang Maha Perkasa lagi Maha
Terpuji.”
Inilah kisah Ashabul Ukhdud yang disebutkan dalam alQur’an
dan kisah anak muda serta bagaimana masuknya agama Nasrani di Jazirah
Arab.
Berkembanglah kisah lagi. Dari 20.000 orang tadi yang mau
dibakar dalam parit itu, semuanya terbakar mati (ulama sepakat mereka
mati syahid di jalan Allah subhanahu wata'ala) KECUALI satu orang, ada
yang selamat. Ada satu yang sempat selamat dari pembakaran itu. Orang
yang selamat ini bernama Daus Dzi Tsa’laban. Daus Dzi Tsa’laban ini
waktu mau didorong oleh pengawal raja Dzu Nuwas, dia sempat lari dan
dikejar. Sampai akhirnya dia berhasil menyelamatkan diri dengan cara dia
turun ke laut merah, lalu dia berenang semampunya dan tidak bisa lagi
dikejar oleh pengawal raja Dzu Nuwas. Karena dianggap cuma satu orang,
tidak bisa berbuat apa-apa, lalu ditinggalkanlah. Hingga selamatlah Daus
ini.
Apa yang terjadi? Karena dia agama Nasrani, dia pergi minta
tolong kepada Kaisar. Kaisar ini raja Nasrani yang ada di wilayah Rum
(Turki, wilayah Syam ke atas itu semua sampai ke Eropa, itu kerajaan
Romawi, dan Nasrani yang kuat). Dia datang ke sana, dia sampaikan “Kami
agama Nasrani, begini, begini, begini dan dibantai dan seterusnya oleh
Dzu Nuwas yang beragama Yahudi, dan seterusnya”. Maka Kaisar marah waktu
itu. Karena tempatnya jauh, Kaisar berada di wilayah Eropa, maka dia
menulis surat ke Najasyi. Najasyi ini raja Nasrani di Afrika, kerajaan
besar juga. Najasyi ini lebih dekat ke Yaman. Maka diutuslah Daus ini
menuju ke Najasyi, tepatnya di Ethopia (dekat sekali dengan Yaman, cuma
batas dengan laut merah saja).
Waktu sampai berita ke Najasyi,
Najasyi pun marah, “Kok bisa, orang Nasrani karena beriman kepada Allah
dibantai begitu saja, dengan 20.000 orang mati, kecuali satu orang ini
yang selamat”. Maka Najasyi pun mengutus 70.000 pasukan dari Ethopia
menuju ke Yaman, untuk menyerang Yaman. Kita sekarang mulai masuk ke
bentroknya agama ini, bagaimana peperangan yang terjadi di antara
mereka.
Maka Najasyi mengutus pasukan yang jumlahnya 70.000
pasukan dan dipimpin oleh dua orang; yang pertama Iryadh, ini pemimpin
pasukan, Jendralnya. Kemudian wakilnya Iryadh ini bernama Abrahah (orang
yang kita kenal dalam kisah Ashabul Fiil. Pelan-pelan, kita akan masuk
nanti bagaimana kisah sampai ke Abrahah mau menyerang Ka’bah dan cerita
akhirnya hingga Allah hancurkan).
Pasukan ini pun masuk, dan
terjadilah peperangan antara pasukan Iryadh dan Abrahah dengan raja Dzu
Nuwas di Yaman. Peperangan terus terjadi sampai akhirnya, kisah
ringkasnya, dimenangkan oleh kekuatan yang datang dari Ethopia (Iryadh
dan Abrahah menang) dan raja Dzu Nuwas lari, dikejar, hingga raja Dzu
Nuwas berenang di laut merah dan tenggelam. Dengan matinya Dzu Nuwas,
raja Yaman yang beragama Yahudi ini, maka seluruh Yaman jatuh dibawah
kekuasaan Najasyi yang beragama Nasrani.
Sekarang kita masuk ke
wilayah Yaman. Setelah Dzu Nuwas tidak ada, otomatis yang berkuasa
adalah Iryadh, jendral atau pimpinan pasukan tadi dari Najasyi. Dia
berkuasa. Tapi Iryadh ini orangnya dzolim (dalam sejarah dikatakan).
Sampai banyak masyarakat yang tidak suka dengan dia, baik orang Ethopia
sendiri atau orang Yaman. Akhirnya dinasehati tidak mau, diluruskan
tidak mau. Abrahah ini, orangnya sebenarnya baik. Apa yang dia bilang?
“Kalau begitu, kita harus menurunkan si Iryadh ini dari jabatannya
secara paksa. Kalau tidak, dia terus berbuat dzolim.” Didukung oleh
banyak sekali pasukan dari Ethopia, akhirnya terbentuklah dua pasukan
besar dari Najasyi (Ethopia), satu dipimpin oleh Iryadh, satu dipimpin
oleh Abrahah. Tujuannya untuk menurunkan Iryadh dari kepemimpinannya,
karena dia berbuat dzolim. Jadi orang Ethopia saja terganggu, apalagi
orang Yaman yang sedang dikuasai wilayahnya.
Terjadilah pertemuan
dua pasukan besar. Setelah melihat pasukan ini sangat besar, maka
Abrahah mengirim surat kepada Iryadh, “Begini saja, daripada pasukan
Najasyi dari Ethopia ini semuanya berperang, dan kita hancur, akhirnya
Yaman juga lepas dari tangan kita setelah direbut, lebih baik saya dan
kamu duel.” Abrahah mengajak Iryadh untuk duel berdua. Siapa yang
menang, dia yang memimpin. Iryadh setuju. Iryadh ini jauh lebih kuat
daripada Abrahah, sebenarnya.
Terjadilah duel antara Abrahah dan
‘Iryadh. Peperangan sengit terjadi diantara mereka berdua. Karena Iryadh
lebih kuat, hingga akhirnya hidung Abrahah terpotong (makanya Abrahah
yang menyerang Ka’bah dikenal dengan Asyrom [terpotong hidungnya]).
Ketika terpotong hidungnya, ‘Iryadh kira sudah menang. Dia lalai dan
sempat teriak-teriak dengan pasukannya, hingga akhirnya ‘Iryadh ditusuk
oleh Abrahah dan mati. ‘Iryhad mati, otomatis yang memimpin Yaman adalah
Abrahah. Abrahah sekarang kalau dalam sejarah Yaman dikatakan raja
Yaman. Tapi dia sebenarnya adalah gubernur atau utusan daripada Najasyi.
Berkembanglah berita ini sampai ke Ethopia (Najasyi). Najasyi marah,
kok bisa pasukan Ethopia perang dan kok bisa ‘Iryadh dibunuh tanpa dia
tahu. Najasyi bersumpah akan datang menginjakkan telapak kakinya di
Yaman dan akan menggundul rambutnya Abrahah sebagai bentuk penghinaan,
kenapa dia berani membunuh pimpinan pasukannya. Sampai berita ini ke
Abrahah. Abrahah ketakutan karena Najasyi raja yang kuat.
Sebelum Najasyi beranjak dari Ethopia/Habasyah, apa yang terjadi?
Abrahah mengambil sebuah peti, diisi tanah dari Yaman kemudian dia
gundul rambutnya, ditaruh dalam peti itu dan dikirim ke Ethopia beserta
surat kepada raja Najasyi di dalamnya. Kebetulan Najasyi memang belum
keluar dari Ethopia. Isi suratnya adalah “Hai Najasyi, Anda kan sudah
niat mau injakkan kaki ke Yaman, sudah sumpah. Ini tanah Yaman saya
kirim, jadi gak usah kesini. Injak saja tanah ini, selesai. Rambut saya
mau digundul, ini rambut saya, sudah digundul. Dan saya tetap patuh pada
Anda, saya tetap ini, saya tetap ini...” sampai Najasyi tidak jadi ke
Yaman. Karena Najasyi pikir, kalau memang dia tunduk, ya sudah.
Tapi, Abrahah ini berkecamuk dalam dirinya ketakutan, jangan sampai
nanti dia tetap diserang oleh Najasyi. Nah, untuk membuat agar Najasyi
ini ridho, maka dia membangun sebuah gereja besar bernama Qulais.
Abrahah bertanya kepada semua masyarakat Yaman, bagaimana caranya
memanggil orang-orang Jazirah Arab untuk datang dan mereka beribadah ke
gereja ini, agar sampai berita ke Najasyi sehingga Najasyi akhirnya
yakin agama Nasrani tersebar ke Jazirah Arab.
Mereka semua sepakat mengatakan, “Susah untuk memanggil orang Arab ini”.
“Kenapa?”
“Karena orang Arab ini sudah punya rumah yang mereka muliakan”, itu adalah Ka’bah.
Abrahah tidak mengerti, lalu bertanya “Apa itu Ka’bah?”
“Ada rumah disini, kami juga Cuma dengar itu seperti rumahnya Allah.”
“Kok saya tidak pernah dengar. Dimana tempatnya?”
“Di wilayah Mekkah”
“Dimana Mekkah?”, waktu itu banyak orang belum tahu. Di Yaman pun
begitu. Karena Mekkah adalah sebuah kota kecil. Mereka dengar bisa
dilewati, tapi harus dicari.
Ditanya lagi sama Abrahah, “Mereka ngapain di rumah itu?”
“Tawaf, keliling rumah itu 7 kali”.
Abrahah karena penasaran, dia lalu mengirimkan pasukannya, menyebarkan
berita bahwasanya seluruh orang Arab wajib datang. Dia tulis surat,
dikirim kepada semua kepala suku Arab waktu itu di Jazirah Arab, mereka
wajib untuk datang dan tawaf di Qulais. Jadi, mereka harus pindah dari
Ka’bah ke Qulais. Ini ijtihad atau upayanya Abrahah.
Waktu itu, di Mekkah, ada satu kelompok namanya Ahlun Nasi’.
Note : ***Apa itu Nasi’? Allah mengatakan dalam AlQur’an dalam surah At-Taubah (9) ayat 37.
Nasi’ itu perbuatan yang menambah kekufuran mereka. Nasi’ ini artinya
dalam bahasa Arab, secara etimologi/bahasa/lughowiyah itu artinya
at-ta’khir (menerlambatkan). Jadi begini, orang-orang arab itu dari
ajaran nabi Ibrahim 'alaihissalaam dan sampai sekarang juga (ajaran nabi
Muhammad shallallaahu 'alaihi wasallam) itu sama, ada penghormatan
terhadap asyhurul hurum. Apa itu asyhur? Jamak dari kata syahr yang
berarti bulan, asyhur artinya bulan-bulan. Hurum artinya yang
dimuliakan. Asyhurul hurum = bulan-bulan yang dimuliakan.
Kembali ke surah At-Taubah (9) ayat 36, Allah ceritakan tentang asyhurul
hurum itu. Kata Allah subhanahu wata'ala, “Sesungguhnya di sisi Allah
subhanahu wata'ala ada 12 bulan”, itu dari Muharram-Dzulhijjah
(bulan-bulan Hijriyah).
“Yang telah Allah tentukan dari awal
diciptakan langit dan bumi, diantaranya ada empat bulan yang
dimuliakan”. Empat bulan yang dimuliakan ini itu disebutkan dalam sebuah
hadits shohih riwayat imam Ahmad yang berbunyi “Bulan Rajab, yang
berada diantara bulan Djumadil Akhir dan bulan Sya’ban. Dan tiga bulan
berturut-turut; Dzulqa’dah, Dzulhijjah dan Muharram”. Jadi empat bulan
dari bulan-bulan Hijriyah, bulan yang dimuliakan, artinya siapapun
beramal sholeh di empat bulan ini akan dilipatgandakan pahalanya, siapa
yang berbuat dosa maka akan dilipatgandakan hukumannya (sebagaimana
dinukil dalam banyak buku-buku tafsir diantaranya dinukil dari ibnu
Katsir dan beberapa ulama tafsir yang lain pada saat menafsirkan surah
At-Taubah ayat 36). Intinya adalah, ayat ini sedang membahas tentang
bulan-bulan Hijriyah dan ada bulan yang dimuliakan. Empat bulan yang
dimuliakan ini merupakan hukum dalam suhuf (buku-buku) nabi Ibrahim
'alaihissalaam dimana tidak boleh berperang di bulan-bulan itu, karena
dimuliakan.
Salah satu ajaran nabi Ibrahim yang masih bertahan
di zaman orang-orang Quraisy adalah haji (walaupun haji ini sudah
dicampurbaurkan oleh mereka dengan sembah berhala) dan menghormati
bulan-bulan yang dimuliakan ini (mereka tidak boleh perang). Tetapi,
orang-orang Arab dulu, karena mereka masih fanatik dengan kesukuan, maka
mereka hidupnya dari peperangan. Nah, kalau tiba bulan Muharram
misalnya, bulan Muharram termasuk bulan hurum (tidak boleh berperang),
tapi mereka butuh harus perang. Bagaimana caranya untuk menghalalkan?
Mereka buat seperti orang-orang Yahudi. Caranya adalah mereka bentuk
orang-orang yang ditokohkan di Mekkah yang boleh mengambil keputusan,
mutlak mengubah hukum itu. Itu namanya Ahlun Nasi’. Maksudnya bagaimana?
Misalnya pas bulan Muharram mau perang, agar bisa perang di bulan itu,
ahlun Nasi’ bilang “Bulan ini kita ganti namanya, bulan Safar saja.
Muharram nanti bulan depan”. Itulah Ahlun Nasi’.
Makanya Allah
mengatakan, “Sesungguhnya Nasi’ itu (mengubah-ubah nama bulan karena
kebutuhan mau perang), itu menambah kekufuran mereka.” Apa yang terjadi?
Allah katakan, “Itu akan tambah menyesatkan orang-orang kafir di Mekkah
tadi, mereka menghalalkan bulan-bulan Haram itu satu tahun, dan mereka
mengharamkan kembali lagi tahun depannya.” Misalnya, tahun ini Muharram
diganti jadi Safar, mereka boleh perang, tahun depan kembali lagi
Muharram gak apa-apa. Seperti itu mereka lakukan. “Agar mereka bisa
menghalalkan apa yang telah Allah haramkan, lalu mereka akhirnya
menghalalkan apa yang telah Allah haramkan. Syetan telah menghiasi
amal-amal mereka itu, dan Allah tidak pernah memberikan hidayah kepada
orang-orang yang kafir”. Bukan ayat ini bahasan kita. Ini Cuma sekedar
mempertegas. Tapi kita kembali ke masalah Ahlun Nasi’.***
Di
Mekkah ada Ahlun Nasi’. Ahlun Nasi’ ini yang tadinya mereka buruk
(karena mengubah-ubah bulan), tapi mereka punya satu kelebihan. Apa
kelebihannya? Mereka sangat menghormati Ka’bah, luar biasa cintanya,
mereka siap mati untuk Ka’bah.
Nah, sebelum kita masuk ke kisah
bagaimana Ahlun Nasi’ ini dengan Abrahah, ada juga sedikit tambahan
dalam sejarah. Semua peperangan yang terjadi di bulan yang diharamkan
tadi namanya Harbu Fujar, maksudnya peperangan yang diisi dengan
kefajiran/kesalahan. Kan tidak boleh perang, tapi karena mereka ngotot
mau perang, maka dikatakan peperangan yang bermaksiat. Nabi shallallaahu
'alaihi wasallam pernah hadir di salah satu peperangan itu, tapi waktu
itu bukan orang Quraisy yang salah, karena pas tepatnya bulan Muharram
ada pasukan orang Arab yang lain yang datang ke Mekkah mau menyerang,
berarti orang Quraisy dalam kondisi benar waktu itu. Tidak boleh perang
sebenarnya, semua yang menganut agama nabi Ibrahim tidak boleh perang
bulan itu, tapi mereka diserang. Maka Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam
ikut membela Mekkah waktu itu, dan beliau mengatakan dalam hadits
shohih “Dulu waktu perang fujar terjadi, saya pernah membantu
paman-paman saya”.
Kembali ke Ahlun Nasi’.
Ahlun Nasi’ ini
waktu dengar ada perintah dari Abrahah, raja Yaman waktu itu, yang
menyuruh seluruh orang Arab pindah tawaf ke Qulais, sementara mereka ini
sangat menghormati Ka’bah, maka Ahlun Nasi’ marah. Apa yang terjadi?
Salah satu dari ahlun Nasi’ datang ke Yaman sendirian, naik kuda, sampai
tiba di Yaman, kemudian dia –‘aazzakumullaah- buang air besar dan buang
air kecil di Qulais. Setelah itu, kotorannya diambil, dikotor-kotori
temboknya. Lalu dia pulang ke Mekkah. Besok paginya, Abrahah dengar,
lihat Qulais dikotori.
“Siapa yang kotori?”
“Ada orang dari Mekkah”
“Mekkah itu dimana?”
“Yang ada Ka’bah.”
“Ka’bah itu apa?”
“Itu tempat tawafnya yang Anda suruh pindah.”
Nah, karena kejadian ini, ABRAHAH BENTUK PASUKAN GAJAH.
Bersambung...
(Sumber: ditranskrip dari ceramah Ust. Dr. Khalid Basalamah hafidzahullaah)
#sirahnabawiyah
Hanya berisi sepenggal pengalaman yang Allah takdirkan terjadi padaku. Semoga qt bisa mengambil pelajaran dan hikmah...
Sabtu, 13 Februari 2016
SIRAH NABAWIYAH (12)
KISAH MASUKNYA AGAMA YAHUDI DAN NASRANI DI JAZIRAH ARAB
Dalam kondisi kacau di Yaman, stabilitas ekonominya tidak stabil dan terganggu dengan adanya perang saudara tadi, maka muncullah satu orang perampok di negeri Yaman. Dia punya pasukan-pasukan tapi dia suka merampas hartanya orang, menawan musafir di jalanan, intinya perampok. Dia melihat kondisi stabilitas politik di Yaman lagi kacau, maka dia membentuk pasukannya kemudian dia langsung menyerang dan akhirnya merebut istana.
Orang ini bernama Hunai’ah Dzii Syanaatiq, seorang perampok, datang, merebut kekuasaan di Yaman dalam kondisi stabilitas politik lagi kacau.
Akhirnya, tiba-tiba dia menjadi pemimpin/raja di Yaman, tapi dia orangnya terkenal fajir, orang yang sangat jahat, dzolim, suka foya-foya, minum khamr, memperkosa banyak perempuan, berbuat banyak kekacauan. Dalam kondisi tersebut, banyak masyarakat yang tidak menyenanginya, dan akhirnya sampai muncul salah satu daripada anak Tabban As'ad, saudaranya Hassan sama Amr, salah satu yang terkenal bernama Dzu An-Nuwas (ini digaris bawahi, nama ini penting, nama-nama sebelumnya berkisar lintas dalam buku sejarah, tapi Dzu Nuwas punya pengaruh). Siapa Dzu Nuwas ini? Adiknya Amr dan Hassan, anaknya Tabban As'ad.
Waktu itu, Hunai’ah Dzii Syanatiq merebut kekuasaan Yaman dengan cara paksa, setelah beberapa bulan berjalan, Dzu Nuwas datang dan karena masyarakat juga mendukungnya, dan Yaman memang dalam kondisi tidak stabil, maka dia masuk ke istana kerajaan Yaman (yang sebelumnya direbut oleh Hunai’ah Dzii Syanaatiq) kemudian dia membunuh Hunai’ah. Setelah Hunai’ah terbunuh, pasukannya semua tertawan, maka akhirnya Yaman kembali kepada anak-anak Tabban As'ad, tepatnya di tangan Dzu Nuwas. Ini kisah keadaan Yaman dan agama Yahudi di Yaman.
Bagaimana agama Nasrani masuk ke Jazirah Arab dan bagaimana nanti ada hubungannya antara masuknya Nasrani dengan Yahudi dan adanya bentrok di antara mereka di Jazirah Arab. Ini nanti akan disebutkan, ada riwayat yang panjang dalam riwayat Bukhari tentang kisah Ghulam, kisah seorang anak yang masih muda dan sholeh, itu berhubungan dengan raja Dzu Nuwas.
Perlu diketahui satu poin dulu, Dzu Nuwas ini anak Tabban As'ad, itu beragama Yahudi. Tapi dia bukan orang yang patuh dan bukan orang yang paham tentang isi Taurat. Hanya seperti umumnya kita, ada muslimin yang lahir dalam keadaan Islam, kalau orang sholat dia sholat, kalau tidak ya tidak, jadi umum saja.
Kita sekarang masuk ke agama Nasrani. Ada seorang pendeta Nasrani bernama Fimyun. Fimyun ini seorang pendeta yang keluar dari negeri Syam (sekarang Libanon, Syiria, Palestin dan Yordania. Ke atas (lihat peta), Turki, sampai ke wilayah Eropa terkenal dengan kerajaan Romawiyah yang beragama Nasrani). Ada satu pendeta yang keluar dari sana niatnya mau mendakwahkan agama nasrani (walaupun sebenarnya mereka tidak punya kewajiban mendakwahkan agama Nasrani). Dia keluar menuju ke arah Afrika (***kalau dilihat Jazirah Arab di peta, kotak gambarnya, itu adanya di Asia. Negeri Syam juga nanti masuk di wilayah Asia. Atas sedikit, Turki setengahnya masuk Asia setengahnya lagi Eropa. Di bawah, di sebelah baratnya, ada Afrika. Jazirah Afrika atau kepulauan Afrika (benua Afrika) ini sangat besar. Mungkin Afrika sebesar dengan Asia***).
Waktu itu, Fimyun datang dari Asia (dari Syam) menuju ke Afrika. Di Afrika, waktu dia lagi dalam perjalanan, ada perampok yang datang kemudian menyerang kafilah mereka sampai akhirnya Fimyun ini menjadi tawanan, direbut dan diperjual belikan di pasar. Akhirnya dia menjadi salah satu budak yang diperjualbelikan. Disebutkan dalam sejarah, orangnya sangat suka ibadah malam, sangat ‘alim (pada saat itu yang benar adalah agama Nasrani, karena memang mereka beriman pada nabi Isa yang belum ada nabi setelahnya, belum datang nabi Muhammad shallallaahu 'alaihi wasallam).
Fimyun ini terkenal karena ahli ibadah, ia punya karomat, ada hal-hal yang Allah berikan kelebihan kepadanya. Satu hari, pernah, tuannya datang dan masuk ke kamarnya kemudian ditemukan di atas kepalanya ada seperti cahaya yang terang.
Lalu tuannya bertanya, “Agama apa yang kau anut ini, hai Fimyun?”
Fimyun mengatakan, “Saya agama Nasrani.” Diceritakanlah apa itu Nasrani, seperti ini, seperti itu, Allah itu apa, Isa itu siapa dan seterusnya.
Tapi tuannya ragu. Kemudian berkatalah si Fimyun, “Bagaimana tuanku, untuk meyakinkan Anda bahwasanya Tuhan saya benar, Allah itu benar dan ada, yang menciptakan langit dan bumi.”
Tuannya bilang, “Saya gak tau”.
“Baik. Mana Tuhan Anda?
Tuannya bilang, “Itu pohon yang besar. Semuanya orang tiap hari menyembah kesitu”. (Waktu itu kebetulan di wilayah Afrika, tepatnya ada wilayah namanya Najran. Disitu dulu orang menyembah pohon besar).
Lalu kata Fimyun, “Bagaimana kalau seandainya Tuhan saya, Allah, menghancurkan Tuhan Anda, apakah Anda akan beriman dengan Tuhan saya?
Kata tuannya, “Tentu saja. Kalau Tuhanmu mengalahkan Tuhan saya, saya akan beriman kepada Tuhanmu”.
Akhirnya Fimyun mengatakan, “Kalau begitu, coba kumpulkan semuanya orang (seluruh masyarakat Najran, sebagian besar wilayah Afrika) lalu berkumpul di pohon tersebut. Saya akan meminta kepada tuhan saya, Allah, menghancurkan tuhan kalian”.
Maka, tuannya pun mengumpulkan seluruh masyarakat pada saat itu. Kemudian Fimyun terus berdoa kepada Allah ‘azza wa jalla agar Allah membuktikan kebenarannya, sampai Allah menurunkan petir dari langit yang akhirnya menghantam pohon besar tersebut sampai hangus (disebutkan dalam beberapa buku sejarah, pohon tersebut sangat besar, diameternya sangat besar, sehingga memang orang-orang yang mendekatinya menganggapnya sangat agung). Karena masalah ini, akhirnya satu wilayah Najran (wilayah besar di Afrika) masuk agama Nasrani. Ini wilayah Afrika.
Lalu bagaimana agama Nasrani masuk ke Jazirah Arab?
Berkembanglah agama Nasrani di wilayah Najran, yang tadinya mereka menyembah pohon. Ada beberapa orang yang sudah paham agama Nasrani di daerah Najran ini keluar lagi, ingin berdakwah. Mereka masuk ke wilayah Jazirah Arab, tepatnya mereka masuk wilayah Yaman (***Jadi kalau kita lihat Afrika (di peta) di pinggirannya itu ada Mesir. Kemudian turun, ada Ethopia dst. Nah, ini dulu wilayah Najran. Afrika ini kalau kita lihat batasnya dengan jazirah Arab Cuma laut merah, tempat Fir’aun ditenggelamkan oleh Allah ‘azza wa jalla. Menyeberang saja laut merah, mereka sudah sampai ke Yaman***).
Ada pendeta Nasrani yang bernama Abdullah bin Samir. Dia menyeberang ke negeri Yaman untuk menyebarkan agama Nasrani. Waktu itu, Yaman rajanya adalah Dzu Nuwas (tadi yang dibahas). Dzu Nuwas ini beragama Yahudi. Abdullah bin Samir ini mencoba berdakwah disana, tapi ditolak. Dan raja Dzu Nuwas akhirnya menyerang dia. Sampai akhirnya Abdullah bin Samir ini sembunyi dalam sebuah gua.
Raja Dzu Nuwas, raja Yaman tadi yang beragama Yahudi, dia tidak terlalu dekat dengan agamanya dan dia lebih percaya dengan penyihir dan dukun. Ada seorang penyihirnya, sangat kuat di Yaman, dan itu yang membuat raja Dzu Nuwas disegani. Masyarakat Yaman walaupun beragama Yahudi, mereka tidak menjalankan Taurat, mereka lebih banyak juga percaya dengan dukun dan peramal, terutama penyihirnya si raja Dzu Nuwas ini. Kalau sudah mulai ada masyarakatnya yang mau memberontak, maka langsung penyihirnya yang turun tangan.
Penyihir ini sudah tua. Suatu hari dia bilang ke Raja Nuwas, “Coba buat sayembara agar ada anak-anak muda di Yaman, yang cerdas dan pintar, yang saya didik nanti, saya ajarkan ilmu sihir, yang kalau saya mati, bisa jadi pengganti saya dan bisa menjadi penyihir buat Anda.”
Raja Dzu Nuwas setuju, “Baik kalau begitu”.
Dikumpulkanlah semua anak-anak muda. Pada saat semuanya berkumpul, ada satu anak muda yang terkenal dengan kepintarannya, lolos dalam tes dan akhirnya mulai belajar sihir dengan penyihirnya raja Dzu Nuwas. Antara rumah dia dengan penyihirnya Dzu Nuwas itu jauh, melewati gunung, itu tiap hari dilewati. Setiap kali dia lewat ke gunung itu, dia melewati gua dimana pendeta Nasrani, Abdullah bin Samir, ada. Setiap kali dia lewat, dia mampir. Dia dengar ada orang, ngobrol, kenalan sama Abdullah bin Samir, mulai juga dia belajar isi Injil. Maka anak muda ini mempelajari Injil dan juga belajar Sihir. Terus begitu, berjalan, sampai akhirnya ilmunya tentang Injil sangat tinggi dan ilmunya dengan sihir juga sangat tinggi. Maka dia bingung, yang mana dia harus ikuti. Dalam riwayat Bukhori, disebutkan kisah masyhur yang sangat panjang (mungkin haditsnya 3 lembar) tentang kisah Ghulam, anak yang sholeh ini.
Suatu waktu dia pulang dari tempatnya penyihir ini, dia lewat di tempatnya Abdullah Samir, setelah pamit, dia pulang. Waktu dia pulang ke kota yang adanya raja Dzu Nuwas tadi, di tengah jalan ada seekor Daabbah. Daabbah itu hewan yang besar (sebagian atsar mengatakan gajah, mungkin badak, pokoknya hewan yang besar). Hewan itu mengamuk, mengganggu jalannya orang (orang dulu lereng-lereng saja jalanannya/jalanan-jalanan kecil, gak sama sekarang banyak jalanan). Maka anak ini mengambil batu kecil dan mengatakan, “Hari ini saya akan buktikan, ilmunya penyihir yang benar atau beriman kepada Allah (ilmunya Abdullah bin Samir)”. Dia ambil batu dan mengatakan, “Dengan namaMu ya Allah, aku melempar ini. Kalau benar, maka tentu matikanlah hewan ini”. Dilemparlah dengan mengatakan “Bismillah” ke hewan tersebut. Dengan batu sangat kecil, gajah/hewan besar tadi jatuh dan mati.
Masyarakat yang ada di sekitar situ, taunya anak muda ini adalah muridnya penyihirnya raja Dzu Nuwas. Mereka mengatakan, “Sungguh, ilmu sihirnya anak ini sudah sangat luar biasa”. Anak muda itu mengatakan, “Bukan. Saya malah telah kufur dengan apa yang diajarkan oleh penyihir. Dan saya beriman kepada tuhan Allah, tuhan alam semesta. Yang telah mematikan hewan tadi adalah Allah. Saya menyebutkan “Bismillah”, maka matilah”. Mulai hari itu, anak muda tadi berubah, tadinya setengah-setengah, berubah murni menjadi da’i di jalan Allah subhanahu wata'ala.
Dalam riwayat Bukhari diceritakan bagaimana dia terus berdakwah di masyarakat Yaman waktu itu dan cukup banyak orang yang akhirnya beriman dengan agama Nasrani di tangan anak muda ini, sampai di dengar oleh raja Dzu Nuwas. Raja Dzu Nuwas marah. Kemudian dipanggillah penyihir tua tadi, mereka kumpul di istana, lalu didatangkanlah anak muda ini dan ditanya,
“Hai anak muda, kamu kan saya utus untuk belajar dengan penyihir ini. Kenapa kok tiba-tiba sekarang kau membawa ajaran baru.”
Anak muda itu mengatakan, “Saya sudah membuktikan kebenarannya.”
Lalu penyihir itu coba menakut-nakuti dia (anak muda) waktu itu, menunjukkan dirinya menjadi ular yang besar dan seterusnya, tapi tidak berhasil menakut-nakuti anak muda ini. Dan akhirnya ilmunya penyihir itu tidak bisa mempan.
Ada satu menterinya raja Dzu Nuwas ini, buta matanya. Anak muda ini, rupanya, Allah beri karomah/kelebihan. Apa kelebihannya? Dia bisa menyembuhkan orang sakit. Maka menteri itu datang dan mengatakan, “Hai anak muda, saya dengar, engkau bisa menyembuhkan orang sakit. Mata saya sudah lama buta.” Kata anak muda itu, “Bukan saya yang menyembuhkan, tapi Allah. Kalau Anda yakin kepada Allah, saya akan berdoa, Allah akan sembuhkan matanya”. Dia bilang, “Baiklah, saya yakin, saya beriman”. Lalu berdo’alah anak muda tersebut sampai akhirnya matanya menteri Dzu Nuwas sembuh. Waktu sembuh, dia beriman. Dan dia langsung ke istana Dzu Nuwas menceritakan, “Anak muda itu begini, begini, begini dan betul, setelah saya beriman, mata saya sembuh”. Malah, menteri itu (yang beriman tadi) dibunuh oleh Dzu Nuwas.
Keesokan harinya, Dzu Nuwas memanggil anak muda tersebut, datang ke istana lalu didatangkan beberapa pasukannya dan dikatakan, “Bawa anak muda ini ke tengah lautan kemudian ikat dia di batang pohon dan tenggelamkan di tengah lautan. Jangan kalian tinggalkan kecuali dia sudah ditenggelamkan.”
Dibawalah anak muda tersebut, tiba di tengah lautan, lalu anak muda ini mendakwahi mereka (pengawal-pengawal raja), “Berimanlah kalian kepada Allah.. Allah mampu membalikkan semua kejadian ini menjadi kejadian yang tidak bisa kalian bayangkan”.
“Ah, kami tidak mau yakin. Kami tetap yakin kepada raja Dzu Nuwas, dan seterusnya.”
Maka apa yang terjadi? Anak muda ini berdo’a, dalam riwayat Bukhori dikatakan, “Ya Allah, saya menyerahkan urusan mereka kepadamu”. Tiba-tiba saja Allah mendatangkan ombak yang besar kemudian menghantam kapal tersebut. Semuanya tenggelam kecuali anak muda ini.
Lalu anak muda ini kembali lagi. Dia sampai di pinggiran lautan kemudian dia kembali ke istananya raja Dzu Nuwas. Raja Dzu Nuwas kaget. Ditanya, “Mana pasukan saya?”.
Kata anak muda itu, “Allah sudah hancurkan”.
Raja Dzu Nuwas belum yakin. Dipanggil lagi pasukan yang lebih besar, banyak, mengawal anak muda ini. Dikatakan “Bawa anak muda ini ke gunung yang tertinggi di Yaman, kemudian lempar dari atas. Pastikan dia mati.” Dikawallah dengan pasukan tersebut pergi ke atas gunung. Di tengah jalan, anak muda ini berdakwah juga. “Kalian, jangan sampai terjadi hal-hal yang tidak kalian inginkan. Allah bisa menghancurkan kalian. Berimanlah kepadanya...”. Didakwahi tapi mereka tidak mau yakin. Lalu anak muda ini berdo’a lagi. Sama. “Ya Allah, aku serahkan urusan mereka kepadamu”. Lalu, Allah datangkan angin yang sangat besar menghantam semua pasukan-pasukan tersebut, tidak tertinggal satupun kecuali anak muda ini yang selamat.
Anak muda ini kembali lagi ke istana. Raja Dzu Nuwas lihat lagi anak muda itu muncul. Ditanya, “Mana pasukan saya?”.
Kata anak muda itu, “Allah sudah hancurkan”.
Sampai raja Dzu Nuwas ketakutan. Lalu berkatalah anak muda ini, “Kalau engkau ingin membunuhku, hai raja Dzu Nuwas, maka satu-satunya cara adalah..........
Bersambung...
(Sumber: ditranskrip dari ceramah Ust. Dr. Khalid Basalamah hafidzahullaah)
#sirahnabawiyah
Dalam kondisi kacau di Yaman, stabilitas ekonominya tidak stabil dan terganggu dengan adanya perang saudara tadi, maka muncullah satu orang perampok di negeri Yaman. Dia punya pasukan-pasukan tapi dia suka merampas hartanya orang, menawan musafir di jalanan, intinya perampok. Dia melihat kondisi stabilitas politik di Yaman lagi kacau, maka dia membentuk pasukannya kemudian dia langsung menyerang dan akhirnya merebut istana.
Orang ini bernama Hunai’ah Dzii Syanaatiq, seorang perampok, datang, merebut kekuasaan di Yaman dalam kondisi stabilitas politik lagi kacau.
Akhirnya, tiba-tiba dia menjadi pemimpin/raja di Yaman, tapi dia orangnya terkenal fajir, orang yang sangat jahat, dzolim, suka foya-foya, minum khamr, memperkosa banyak perempuan, berbuat banyak kekacauan. Dalam kondisi tersebut, banyak masyarakat yang tidak menyenanginya, dan akhirnya sampai muncul salah satu daripada anak Tabban As'ad, saudaranya Hassan sama Amr, salah satu yang terkenal bernama Dzu An-Nuwas (ini digaris bawahi, nama ini penting, nama-nama sebelumnya berkisar lintas dalam buku sejarah, tapi Dzu Nuwas punya pengaruh). Siapa Dzu Nuwas ini? Adiknya Amr dan Hassan, anaknya Tabban As'ad.
Waktu itu, Hunai’ah Dzii Syanatiq merebut kekuasaan Yaman dengan cara paksa, setelah beberapa bulan berjalan, Dzu Nuwas datang dan karena masyarakat juga mendukungnya, dan Yaman memang dalam kondisi tidak stabil, maka dia masuk ke istana kerajaan Yaman (yang sebelumnya direbut oleh Hunai’ah Dzii Syanaatiq) kemudian dia membunuh Hunai’ah. Setelah Hunai’ah terbunuh, pasukannya semua tertawan, maka akhirnya Yaman kembali kepada anak-anak Tabban As'ad, tepatnya di tangan Dzu Nuwas. Ini kisah keadaan Yaman dan agama Yahudi di Yaman.
Bagaimana agama Nasrani masuk ke Jazirah Arab dan bagaimana nanti ada hubungannya antara masuknya Nasrani dengan Yahudi dan adanya bentrok di antara mereka di Jazirah Arab. Ini nanti akan disebutkan, ada riwayat yang panjang dalam riwayat Bukhari tentang kisah Ghulam, kisah seorang anak yang masih muda dan sholeh, itu berhubungan dengan raja Dzu Nuwas.
Perlu diketahui satu poin dulu, Dzu Nuwas ini anak Tabban As'ad, itu beragama Yahudi. Tapi dia bukan orang yang patuh dan bukan orang yang paham tentang isi Taurat. Hanya seperti umumnya kita, ada muslimin yang lahir dalam keadaan Islam, kalau orang sholat dia sholat, kalau tidak ya tidak, jadi umum saja.
Kita sekarang masuk ke agama Nasrani. Ada seorang pendeta Nasrani bernama Fimyun. Fimyun ini seorang pendeta yang keluar dari negeri Syam (sekarang Libanon, Syiria, Palestin dan Yordania. Ke atas (lihat peta), Turki, sampai ke wilayah Eropa terkenal dengan kerajaan Romawiyah yang beragama Nasrani). Ada satu pendeta yang keluar dari sana niatnya mau mendakwahkan agama nasrani (walaupun sebenarnya mereka tidak punya kewajiban mendakwahkan agama Nasrani). Dia keluar menuju ke arah Afrika (***kalau dilihat Jazirah Arab di peta, kotak gambarnya, itu adanya di Asia. Negeri Syam juga nanti masuk di wilayah Asia. Atas sedikit, Turki setengahnya masuk Asia setengahnya lagi Eropa. Di bawah, di sebelah baratnya, ada Afrika. Jazirah Afrika atau kepulauan Afrika (benua Afrika) ini sangat besar. Mungkin Afrika sebesar dengan Asia***).
Waktu itu, Fimyun datang dari Asia (dari Syam) menuju ke Afrika. Di Afrika, waktu dia lagi dalam perjalanan, ada perampok yang datang kemudian menyerang kafilah mereka sampai akhirnya Fimyun ini menjadi tawanan, direbut dan diperjual belikan di pasar. Akhirnya dia menjadi salah satu budak yang diperjualbelikan. Disebutkan dalam sejarah, orangnya sangat suka ibadah malam, sangat ‘alim (pada saat itu yang benar adalah agama Nasrani, karena memang mereka beriman pada nabi Isa yang belum ada nabi setelahnya, belum datang nabi Muhammad shallallaahu 'alaihi wasallam).
Fimyun ini terkenal karena ahli ibadah, ia punya karomat, ada hal-hal yang Allah berikan kelebihan kepadanya. Satu hari, pernah, tuannya datang dan masuk ke kamarnya kemudian ditemukan di atas kepalanya ada seperti cahaya yang terang.
Lalu tuannya bertanya, “Agama apa yang kau anut ini, hai Fimyun?”
Fimyun mengatakan, “Saya agama Nasrani.” Diceritakanlah apa itu Nasrani, seperti ini, seperti itu, Allah itu apa, Isa itu siapa dan seterusnya.
Tapi tuannya ragu. Kemudian berkatalah si Fimyun, “Bagaimana tuanku, untuk meyakinkan Anda bahwasanya Tuhan saya benar, Allah itu benar dan ada, yang menciptakan langit dan bumi.”
Tuannya bilang, “Saya gak tau”.
“Baik. Mana Tuhan Anda?
Tuannya bilang, “Itu pohon yang besar. Semuanya orang tiap hari menyembah kesitu”. (Waktu itu kebetulan di wilayah Afrika, tepatnya ada wilayah namanya Najran. Disitu dulu orang menyembah pohon besar).
Lalu kata Fimyun, “Bagaimana kalau seandainya Tuhan saya, Allah, menghancurkan Tuhan Anda, apakah Anda akan beriman dengan Tuhan saya?
Kata tuannya, “Tentu saja. Kalau Tuhanmu mengalahkan Tuhan saya, saya akan beriman kepada Tuhanmu”.
Akhirnya Fimyun mengatakan, “Kalau begitu, coba kumpulkan semuanya orang (seluruh masyarakat Najran, sebagian besar wilayah Afrika) lalu berkumpul di pohon tersebut. Saya akan meminta kepada tuhan saya, Allah, menghancurkan tuhan kalian”.
Maka, tuannya pun mengumpulkan seluruh masyarakat pada saat itu. Kemudian Fimyun terus berdoa kepada Allah ‘azza wa jalla agar Allah membuktikan kebenarannya, sampai Allah menurunkan petir dari langit yang akhirnya menghantam pohon besar tersebut sampai hangus (disebutkan dalam beberapa buku sejarah, pohon tersebut sangat besar, diameternya sangat besar, sehingga memang orang-orang yang mendekatinya menganggapnya sangat agung). Karena masalah ini, akhirnya satu wilayah Najran (wilayah besar di Afrika) masuk agama Nasrani. Ini wilayah Afrika.
Lalu bagaimana agama Nasrani masuk ke Jazirah Arab?
Berkembanglah agama Nasrani di wilayah Najran, yang tadinya mereka menyembah pohon. Ada beberapa orang yang sudah paham agama Nasrani di daerah Najran ini keluar lagi, ingin berdakwah. Mereka masuk ke wilayah Jazirah Arab, tepatnya mereka masuk wilayah Yaman (***Jadi kalau kita lihat Afrika (di peta) di pinggirannya itu ada Mesir. Kemudian turun, ada Ethopia dst. Nah, ini dulu wilayah Najran. Afrika ini kalau kita lihat batasnya dengan jazirah Arab Cuma laut merah, tempat Fir’aun ditenggelamkan oleh Allah ‘azza wa jalla. Menyeberang saja laut merah, mereka sudah sampai ke Yaman***).
Ada pendeta Nasrani yang bernama Abdullah bin Samir. Dia menyeberang ke negeri Yaman untuk menyebarkan agama Nasrani. Waktu itu, Yaman rajanya adalah Dzu Nuwas (tadi yang dibahas). Dzu Nuwas ini beragama Yahudi. Abdullah bin Samir ini mencoba berdakwah disana, tapi ditolak. Dan raja Dzu Nuwas akhirnya menyerang dia. Sampai akhirnya Abdullah bin Samir ini sembunyi dalam sebuah gua.
Raja Dzu Nuwas, raja Yaman tadi yang beragama Yahudi, dia tidak terlalu dekat dengan agamanya dan dia lebih percaya dengan penyihir dan dukun. Ada seorang penyihirnya, sangat kuat di Yaman, dan itu yang membuat raja Dzu Nuwas disegani. Masyarakat Yaman walaupun beragama Yahudi, mereka tidak menjalankan Taurat, mereka lebih banyak juga percaya dengan dukun dan peramal, terutama penyihirnya si raja Dzu Nuwas ini. Kalau sudah mulai ada masyarakatnya yang mau memberontak, maka langsung penyihirnya yang turun tangan.
Penyihir ini sudah tua. Suatu hari dia bilang ke Raja Nuwas, “Coba buat sayembara agar ada anak-anak muda di Yaman, yang cerdas dan pintar, yang saya didik nanti, saya ajarkan ilmu sihir, yang kalau saya mati, bisa jadi pengganti saya dan bisa menjadi penyihir buat Anda.”
Raja Dzu Nuwas setuju, “Baik kalau begitu”.
Dikumpulkanlah semua anak-anak muda. Pada saat semuanya berkumpul, ada satu anak muda yang terkenal dengan kepintarannya, lolos dalam tes dan akhirnya mulai belajar sihir dengan penyihirnya raja Dzu Nuwas. Antara rumah dia dengan penyihirnya Dzu Nuwas itu jauh, melewati gunung, itu tiap hari dilewati. Setiap kali dia lewat ke gunung itu, dia melewati gua dimana pendeta Nasrani, Abdullah bin Samir, ada. Setiap kali dia lewat, dia mampir. Dia dengar ada orang, ngobrol, kenalan sama Abdullah bin Samir, mulai juga dia belajar isi Injil. Maka anak muda ini mempelajari Injil dan juga belajar Sihir. Terus begitu, berjalan, sampai akhirnya ilmunya tentang Injil sangat tinggi dan ilmunya dengan sihir juga sangat tinggi. Maka dia bingung, yang mana dia harus ikuti. Dalam riwayat Bukhori, disebutkan kisah masyhur yang sangat panjang (mungkin haditsnya 3 lembar) tentang kisah Ghulam, anak yang sholeh ini.
Suatu waktu dia pulang dari tempatnya penyihir ini, dia lewat di tempatnya Abdullah Samir, setelah pamit, dia pulang. Waktu dia pulang ke kota yang adanya raja Dzu Nuwas tadi, di tengah jalan ada seekor Daabbah. Daabbah itu hewan yang besar (sebagian atsar mengatakan gajah, mungkin badak, pokoknya hewan yang besar). Hewan itu mengamuk, mengganggu jalannya orang (orang dulu lereng-lereng saja jalanannya/jalanan-jalanan kecil, gak sama sekarang banyak jalanan). Maka anak ini mengambil batu kecil dan mengatakan, “Hari ini saya akan buktikan, ilmunya penyihir yang benar atau beriman kepada Allah (ilmunya Abdullah bin Samir)”. Dia ambil batu dan mengatakan, “Dengan namaMu ya Allah, aku melempar ini. Kalau benar, maka tentu matikanlah hewan ini”. Dilemparlah dengan mengatakan “Bismillah” ke hewan tersebut. Dengan batu sangat kecil, gajah/hewan besar tadi jatuh dan mati.
Masyarakat yang ada di sekitar situ, taunya anak muda ini adalah muridnya penyihirnya raja Dzu Nuwas. Mereka mengatakan, “Sungguh, ilmu sihirnya anak ini sudah sangat luar biasa”. Anak muda itu mengatakan, “Bukan. Saya malah telah kufur dengan apa yang diajarkan oleh penyihir. Dan saya beriman kepada tuhan Allah, tuhan alam semesta. Yang telah mematikan hewan tadi adalah Allah. Saya menyebutkan “Bismillah”, maka matilah”. Mulai hari itu, anak muda tadi berubah, tadinya setengah-setengah, berubah murni menjadi da’i di jalan Allah subhanahu wata'ala.
Dalam riwayat Bukhari diceritakan bagaimana dia terus berdakwah di masyarakat Yaman waktu itu dan cukup banyak orang yang akhirnya beriman dengan agama Nasrani di tangan anak muda ini, sampai di dengar oleh raja Dzu Nuwas. Raja Dzu Nuwas marah. Kemudian dipanggillah penyihir tua tadi, mereka kumpul di istana, lalu didatangkanlah anak muda ini dan ditanya,
“Hai anak muda, kamu kan saya utus untuk belajar dengan penyihir ini. Kenapa kok tiba-tiba sekarang kau membawa ajaran baru.”
Anak muda itu mengatakan, “Saya sudah membuktikan kebenarannya.”
Lalu penyihir itu coba menakut-nakuti dia (anak muda) waktu itu, menunjukkan dirinya menjadi ular yang besar dan seterusnya, tapi tidak berhasil menakut-nakuti anak muda ini. Dan akhirnya ilmunya penyihir itu tidak bisa mempan.
Ada satu menterinya raja Dzu Nuwas ini, buta matanya. Anak muda ini, rupanya, Allah beri karomah/kelebihan. Apa kelebihannya? Dia bisa menyembuhkan orang sakit. Maka menteri itu datang dan mengatakan, “Hai anak muda, saya dengar, engkau bisa menyembuhkan orang sakit. Mata saya sudah lama buta.” Kata anak muda itu, “Bukan saya yang menyembuhkan, tapi Allah. Kalau Anda yakin kepada Allah, saya akan berdoa, Allah akan sembuhkan matanya”. Dia bilang, “Baiklah, saya yakin, saya beriman”. Lalu berdo’alah anak muda tersebut sampai akhirnya matanya menteri Dzu Nuwas sembuh. Waktu sembuh, dia beriman. Dan dia langsung ke istana Dzu Nuwas menceritakan, “Anak muda itu begini, begini, begini dan betul, setelah saya beriman, mata saya sembuh”. Malah, menteri itu (yang beriman tadi) dibunuh oleh Dzu Nuwas.
Keesokan harinya, Dzu Nuwas memanggil anak muda tersebut, datang ke istana lalu didatangkan beberapa pasukannya dan dikatakan, “Bawa anak muda ini ke tengah lautan kemudian ikat dia di batang pohon dan tenggelamkan di tengah lautan. Jangan kalian tinggalkan kecuali dia sudah ditenggelamkan.”
Dibawalah anak muda tersebut, tiba di tengah lautan, lalu anak muda ini mendakwahi mereka (pengawal-pengawal raja), “Berimanlah kalian kepada Allah.. Allah mampu membalikkan semua kejadian ini menjadi kejadian yang tidak bisa kalian bayangkan”.
“Ah, kami tidak mau yakin. Kami tetap yakin kepada raja Dzu Nuwas, dan seterusnya.”
Maka apa yang terjadi? Anak muda ini berdo’a, dalam riwayat Bukhori dikatakan, “Ya Allah, saya menyerahkan urusan mereka kepadamu”. Tiba-tiba saja Allah mendatangkan ombak yang besar kemudian menghantam kapal tersebut. Semuanya tenggelam kecuali anak muda ini.
Lalu anak muda ini kembali lagi. Dia sampai di pinggiran lautan kemudian dia kembali ke istananya raja Dzu Nuwas. Raja Dzu Nuwas kaget. Ditanya, “Mana pasukan saya?”.
Kata anak muda itu, “Allah sudah hancurkan”.
Raja Dzu Nuwas belum yakin. Dipanggil lagi pasukan yang lebih besar, banyak, mengawal anak muda ini. Dikatakan “Bawa anak muda ini ke gunung yang tertinggi di Yaman, kemudian lempar dari atas. Pastikan dia mati.” Dikawallah dengan pasukan tersebut pergi ke atas gunung. Di tengah jalan, anak muda ini berdakwah juga. “Kalian, jangan sampai terjadi hal-hal yang tidak kalian inginkan. Allah bisa menghancurkan kalian. Berimanlah kepadanya...”. Didakwahi tapi mereka tidak mau yakin. Lalu anak muda ini berdo’a lagi. Sama. “Ya Allah, aku serahkan urusan mereka kepadamu”. Lalu, Allah datangkan angin yang sangat besar menghantam semua pasukan-pasukan tersebut, tidak tertinggal satupun kecuali anak muda ini yang selamat.
Anak muda ini kembali lagi ke istana. Raja Dzu Nuwas lihat lagi anak muda itu muncul. Ditanya, “Mana pasukan saya?”.
Kata anak muda itu, “Allah sudah hancurkan”.
Sampai raja Dzu Nuwas ketakutan. Lalu berkatalah anak muda ini, “Kalau engkau ingin membunuhku, hai raja Dzu Nuwas, maka satu-satunya cara adalah..........
Bersambung...
(Sumber: ditranskrip dari ceramah Ust. Dr. Khalid Basalamah hafidzahullaah)
#sirahnabawiyah
SIRAH NABAWIYAH (11)
KISAH MASUKNYA AGAMA YAHUDI DAN NASRANI DI JAZIRAH ARAB
Lanjutan bahasan sirah masih di masalah masuknya agama Yahudi dan Nasrani di Jazirah, dan bahasan yang terakhir berhubungan dengan masalah agama Yahudi masuk di Jazirah Arab, dan kita akan masuk hari ini di agama Nasrani, bagaimana bisa masuk ke Jazirah Arab.
Sedikit review, kita sudah jelaskan ada julukan raja di Yaman yang bernama Tubba’, diambil dari namanya Tabban As'ad, seorang raja yang dulunya pernah ke Madinah kemudian anaknya dititipkan disana. Setelah itu terjadi cekcok antara anak Tabban As'ad dengan masyarakat Madinah dan akhirnya terbunuhlah anaknya Tabban As'ad ini. Lalu dia membentuk pasukan dan dia masuk ke madinah ingin menghancurkannya.
Setelah beberapa hari mengepung Madinah, keluarlah dua pendeta Yahudi dari Madinah kemudian menanyakan kepada raja Tabban yang waktu itu berkuasa di Yaman. “Apa yang Anda inginkan disini?”. Kata Tabban As'ad, “Saya ingin menghancurkan kota ini”. Lalu berkata kedua pendeta Yahudi tersebut, “Engkau tidak akan bisa”. Maka raja Tabban bertanya, waktu itu memang dia tidak ada agamanya, atheis, penyembah api malah di Yaman.
Maka, kedua pendeta tersebut mengatakan “Karena ini adalah Mahjarun Nabi. Ini tempat hijrahnya nabi, nanti. Dan nanti disini dia akan memenangkan agama Allah”. Tabban As'ad pun bertanya, apa itu nabi, siapa itu Tuhan, sampai akhirnya dia mengimani Allah ‘azza wa jalla dan masuk menganut agama Yahudi. Karena itu dia tidak jadi memerangi kota Madinah serta memaafkan masyarakatnya.
Setelah itu, ringkas cerita, dia ke Mekkah. Ingin pulang ke Yaman, melewati Mekkah, kemudian ada satu suku Arab disana namanya Huzail. Suku Huzail ini adalah suku yang tidak senang dengan masyarakat Yaman dan tidak senang juga dengan masyarakat Mekkah. Maka dia ingin mengadu domba keduanya. Dia mengatakan kepada Tabban As'ad,
“Apakah Engkau mau harta yang tertimbun dan tidak butuh kekuatan untuk mengambilnya”.
Tabban As'ad mengatakan “Iya, tentu saya mau”.
Maka suku Huzail mengatakan, “Disana, di kota ini (Mekkah), ada sebuah rumah (maksudnya adalah Ka’bah) yang kalau seandainya Engkau membongkarnya, dibawahnya itu banyak sekali harta yang tertimbun.” (Memang benar, orang-orang Arab dulu karena terlalu menghormati Ka’bah, maka mereka meletakkan atau menanam emas-emas dan banyak sekali perhiasan mereka di bawah Ka’bah).
Tabban As'ad pun akhirnya tamak dan membentuk pasukan ingin menyerang kota Mekkah. Waktu melihat pasukan sudah siap semua, dua pendeta Yahudi bertanya
“Mau kemana Anda, hai Tabban?”.
Tabban As'ad mengatakan “Saya ingin masuk ke kota ini dan mengambil harta yang tertimbun di rumahnya, katanya ada rumah disana”. Dia belum tau kalau Ka’bah itu adalah rumah Allah.
Maka dua pendeta Yahudi tadi mengatakan “Demi Allah, wahai Tabban, sesungguhnya suku Huzail ingin menghancurkanmu (dengan isu itu). Kami tidak pernah tau ada rumah Allah di muka bumi kecuali ini. Jadi tidak mungkin, Allah pasti akan menghancurkanmu.”
Maka, ditanya oleh Tabban, “Lalu, apa yang kalian sarankan kepada saya?”
Kata dua pendeta tersebut, “Tawaflah di rumah itu dan hormatilah”.
Tabban As'ad berkata, “Lalu kalian bagaimana? Kalian kan pendeta.”
Kata mereka, “Kami adalah pendeta-pendeta yang tidak layak untuk tawaf disitu sementara banyak patung”, karena di sekitar Ka’bah sudah banyak patung, dari kisah yang sebelumnya sudah disampaikan dari hari-hari Amru bin Luhay, orang yang pertama memasukkan patung ke Jazirah Arab.
Lalu, Tabban As'ad akhirnya tawaf dan tidur di dekat Ka’bah, lalu dia mimpi dia meletakkan kain di atas Ka’bah yang dikenal dengan Qiswah. Dan Tabban As'ad adalah orang pertama yang meletakkan Qiswah di Ka’bah. Setelah beberapa hari, dia meletakkan kain yang lebih bagus lagi sampai akhirnya Qiswah itu terus berjalan dan diletakkan di Ka’bah sampai sekarang. Karena nabi shallallaahu 'alaihi wasallam tidak memungkirinya, maka para sahabat dan sampai hari ini ulama pun menjalankan apa yang telah dilakukan oleh Tabban As'ad jauh sebelum nabi shallallaahu 'alaihi wasallam lahir.
Lalu Tabban As'ad balik ke Yaman membawa dua pendeta tersebut untuk mengajak agar masyarakat Yaman semuanya menganut agama Yahudi, tapi mereka menolak. Pada saat itu memang mereka penyembah api. Di Yaman ada sebuah tempat yang sangat besar, apinya selama 24 jam menyala terus, karena mereka selalu memasukkan kayu-kayu bakar, dan tempatnya sangat besar, ditutup dengan pintu besi. Setiap kali mereka punya masalah, mereka berhukum kepada api itu dengan cara pintu besinya dibuka, pada saat dibuka, maka api akan keluar. Siapa yang pertama terbakar dengan api tersebut, berarti dia yang dzolim/salah. Dan ini kejahilan di zaman itu.
Setelah Tabban As'ad mendakwahkan agama Yahudi kepada masyarakat Yaman, ternyata mereka menolak, mereka tetap ingin menyembah api sampai terjadi kesepakatan, bagaimana kalau seandainya kedua pendeta Yahudi itu kita ajukan di depan rumah api dan mengajukan juga di sebelah mereka itu pemimpin-pemimpin penyembah api. Siapa yang dilalap oleh api pertama, berarti dia yang salah. Yang tidak dilalap oleh api berarti dia yang benar (agamanya), itu yang diikuti.
Maka Tabban As'ad bertanya kepada kedua pendeta Yahudi tersebut, pendeta mengatakan “Lakukan saja, Allah pasti akan memenangkan agamaNya”. Lalu berdirilah dua pendeta tersebut di depan pintu rumah api, berdiri juga pemimpin-pemimpin penyembah api di sebelah kiri mereka. Pada saat dibuka pintu, ternyata api langsung menyerang kedua pemimpin penyembah api itu. Sempat mereka lari di awalnya, dalam sejarah dikatakan, masyarakat mereka marah, dipaksa untuk kembali. Pada saat dibuka yang kedua kalinya, akhirnya api menghanguskan kedua pimpinan penyembah api tersebut. Maka semenjak hari itu, seluruh Yaman masuk ke agama Yahudi.
Ini terakhir bahasa kita, bahwasanya agama Yahudi masuk ke Jazirah Arab karena ada alasan, tepatnya tadi karena kisah Tabban As'ad dengan kedua pendeta yang ada di Madinah. Dan sudah dijelaskan kenapa orang-orang Yahudi ada di Madinah, karena mereka menemukan dalam Taurat, Madinah itu kota yang akan dihijrahi oleh nabi yang terakhir. Sementara pada saat nabi shallallaahu 'alaihi wasallam keluar disitu (hijrah), mereka tidak mau beriman, alasannya hanya karena fanatisme. Mereka mengatakan kami berharap nabi terakhir yang keluar dari bani Israil, dari turunan Ishaq atau Ya’qub, ternyata yang keluar terakhir dari turunan Ismail, yaitu nabi kita Muhammad shallallaahu 'alaihi wasallam.
Sekarang, bagaimana agama Nasrani ada di Jazirah Arab? Kalau tadi kita sudah tahu kenapa orang Arab ada yang Yahudi, termasuk diantaranya Abdullah ibn Saba’ (pendiri paham Syi’ah, itu dari Yaman, orang Yahudi Yaman, yang pura-pura masuk Islam di zaman Umar dan Utsman radhiyallahu ‘anhuma).
Setelah Tabban As'ad wafat, datang anaknya yang memimpin setelahnya bernama Hassan. Jadi raja Yaman sekarang setelah Tabban As'ad wafat adalah Hassan. Dan Hassan ini kerajaannya sudah mulai makin meluas, makin kuat, tapi kata sebagian ahli sejarah, dia mulai merasa sombong dengan dirinya, maka dia berpikir untuk menyerang atau memperluas/ekspansi wilayahnya dan ingin mencoba untuk memerangi seluruh orang-orang Arab yang ada di jazirah Arab dan memerangi kedua kerajaan besar pada zaman itu; Faris (Furs) dan Rum, dua kerajaan yang sangat besar dan tidak mungkin Yaman bisa mengalahkan sebenarnya. Tapi kata ahli sejarah, Hassan ini punya kepercayaan diri yang sangat tinggi, tapi dia juga dari sisi lain, tidak punya pertimbangan yang matang.
Maka apa yang terjadi? Dia mengatakan dalam istilah atau kalimat yang dia ucapkan dan dinukil dalam buku-buku sejarah “Saya akan memerangi mulai hari ini orang-orang Arab semuanya dan juga orang-orang Ajam (selain orang Arab), agar saya satu-satunya pemimpin di muka bumi.” Ini anaknya Tabban As'ad yang bernama Hassan, dan pada saat itu dia beragama Yahudi.
Maka, dia berkata kepada para pengawalnya, “Mana negara yang paling kuat sekarang? Yang paling terkenal kekuatan militernya yang mana?”. Mereka mengatakan, “Furs”. (***Furs itu kalau sekarang, masuk seluruh wilayah Rusia, sebagian wilayah Cina, sebagian besar wilayah India, juga Iran dan Irak, itu semua dulu wilayah Furs namanya. Jadi wilayahnya sangat besar sekali dan kekuatan militer mereka sangat kuat***)
Hassan berkata, “Kalau begitu, saya akan mulai memerangi mereka”. Kalau kita lihat di peta Jazirah Arab, itu di daerah selatannya ada wilayah Yaman, Yaman sangat kecil. Dibandingkan dengan Furs, mungkin Yaman cuma sepersepuluhnya Furs. Tapi Hassan tetap percaya diri ingin memerangi Furs dan menguasai wilayah tersebut.
Maka pada saat itu, semuanya, menteri-menterinya, pengawal-pengawalnya, sebenarnya merasa terganggu. Mereka yakin tidak bisa menang. Tapi Hassan tetap ngotot dan terpaksa keluar membentuk pasukan. Di tengah jalan, sebelum tiba di wilayah Furs, maka, seluruhnya akhirnya musyawarah tanpa melibatkan Hassan, ini kira-kira bagaimana jalan keluarnya, karena kalau kita paksakan diri malah berbahaya. Hassan ini orangnya sangat jeli. Di kemah dia, tidak boleh orang lain masuk kecuali satu saja saudaranya yang bernama Amr. Itupun diperiksa semua badannya apakah bawa senjata atau tidak, dan seterusnya.
Akhirnya, seluruh pengawal-pengawalnya terutama menteri-menteri dia, sepakat mengajak Amr berdiskusi dan mengatakan “Hai Amr, kalau seandainya Engkau bisa membunuh saudaramu, Hassan, maka kami akan nobatkan Engkau menjadi raja setelahnya, langsung. Karena Hassan ini terlalu berlebihan, menyuruh, memaksa kami untuk memerangi Furs, sudah diajak berhenti tidak mau.”
Amr pun akhirnya tamak terhadap kerajaan dan dia setuju.
Semua menteri-menteri Hassan setuju untuk menobatkan Amr dan setuju agar Hassan dibunuh, kecuali satu orang. Ada satu orang yang bernama Dzuuru ‘Ain. Dzuuru ‘Ain ini punya kisah tersendiri, ringkas, sederhana saja, dia meminta agar Amr tidak membunuh kakaknya karena tidak ada gunanya. Dia mengatakan “Hai Amr, ingatlah, tidak ada orang yang membunuh saudara kandungnya sendiri kecuali dia akan terus tertimpa kesedihan sepanjang hidupnya.” Tapi Amr tetap tidak mau. Maka, Dzuuru ‘Ain mengatakan “Kalau begitu, tolong tuliskan surat untuk saya bahwasanya saya tidak ikut-ikutan dalam masalah ini”.
Ditulislah oleh Amr. Kemudian Amr akhirnya membunuh saudaranya sendiri, waktu dia masuk dalam kemahnya, kemudian dia bunuh, akhirnya terbunuhlah Hassan. Dan secara otomatis, Amr, yang tadi membunuh saudaranya dinobatkan menjadi raja oleh masyarakat Yaman sesuai dengan kesepakatan para menteri-menteri.
Setelah berjalan beberapa waktu, Amr ini merasa sedih sekali, sumpek, apa yang harus dia lakukan. Dia merasa terganggu dengan proses waktu dia bunuh saudaranya. Maka dia akhirnya bermusyawarah dengan orang-orang yang ada di sekitarnya. Ada yang mengatakan kepada dia,
“Hai Amr, kesedihan yang terjadi pada dirimu ini karena engkau membunuh Hassan”.
“Lalu bagaimana caranya supaya kesedihan saya hilang?”
“Satu-satunya cara, engkau harus membunuh semua orang yang menyuruh kamu membunuh saudaramu.”
Ini kisah masyhur di Yaman. Apa yang terjadi? Maka Amr akhirnya membunuh semuanya, orang-orang yang tadinya menyuruh dia membunuh saudaranya Hassan, sampai tiba di Dzuuru ‘Ain (satu-satunya menteri yang tidak setuju). Waktu Dzuuru ‘Ain mau dibunuh, Dzuuru ‘Ain mengatakan “Hai Amr, masih ingat? Ini ada surat saya. Saya sudah sepakat dengan kamu bahwasanya saya menyarankan agar jangan membunuh saudaramu dan saya tidak ikut-ikutan”. Maka dengan surat itu, Dzuuru ‘Ain selamat. Setelah itu, ternyata Amr memang merasa lebih tenang dalam kehidupannya. Ini sedikit ringkasan tentang masalah kondisi Yaman setelah Tabban As'ad wafat.
Jadi kita membahas Tabban As'ad (raja Yaman yang beragama Yahudi), kemudian datang anaknya, Hassan, Hassan dibunuh oleh saudaranya Amr, kemudian Amr menjadi pemimpin di Yaman. Setelah Amr meninggal dunia, maka anak-anak daripada Tabban As'ad (kembali lagi, karena Amr sama Hassan punya saudara banyak, tapi yang paling kuat tadinya adalah mereka), saudara-saudara Hassan dan Amr mulai berebut kekuasaan di Yaman dan akhirnya terjadilah perang saudara di Yaman.
Dalam kondisi kacau di Yaman, stabilitas ekonominya tidak stabil dan terganggu dengan adanya perang saudara tadi, maka muncullah satu orang perampok di negeri Yaman.
Bersambung...
(Sumber: ditranskrip dari ceramah Ust. Dr. Khalid Basalamah hafidzahullaah)
#sirahnabawiyah
Lanjutan bahasan sirah masih di masalah masuknya agama Yahudi dan Nasrani di Jazirah, dan bahasan yang terakhir berhubungan dengan masalah agama Yahudi masuk di Jazirah Arab, dan kita akan masuk hari ini di agama Nasrani, bagaimana bisa masuk ke Jazirah Arab.
Sedikit review, kita sudah jelaskan ada julukan raja di Yaman yang bernama Tubba’, diambil dari namanya Tabban As'ad, seorang raja yang dulunya pernah ke Madinah kemudian anaknya dititipkan disana. Setelah itu terjadi cekcok antara anak Tabban As'ad dengan masyarakat Madinah dan akhirnya terbunuhlah anaknya Tabban As'ad ini. Lalu dia membentuk pasukan dan dia masuk ke madinah ingin menghancurkannya.
Setelah beberapa hari mengepung Madinah, keluarlah dua pendeta Yahudi dari Madinah kemudian menanyakan kepada raja Tabban yang waktu itu berkuasa di Yaman. “Apa yang Anda inginkan disini?”. Kata Tabban As'ad, “Saya ingin menghancurkan kota ini”. Lalu berkata kedua pendeta Yahudi tersebut, “Engkau tidak akan bisa”. Maka raja Tabban bertanya, waktu itu memang dia tidak ada agamanya, atheis, penyembah api malah di Yaman.
Maka, kedua pendeta tersebut mengatakan “Karena ini adalah Mahjarun Nabi. Ini tempat hijrahnya nabi, nanti. Dan nanti disini dia akan memenangkan agama Allah”. Tabban As'ad pun bertanya, apa itu nabi, siapa itu Tuhan, sampai akhirnya dia mengimani Allah ‘azza wa jalla dan masuk menganut agama Yahudi. Karena itu dia tidak jadi memerangi kota Madinah serta memaafkan masyarakatnya.
Setelah itu, ringkas cerita, dia ke Mekkah. Ingin pulang ke Yaman, melewati Mekkah, kemudian ada satu suku Arab disana namanya Huzail. Suku Huzail ini adalah suku yang tidak senang dengan masyarakat Yaman dan tidak senang juga dengan masyarakat Mekkah. Maka dia ingin mengadu domba keduanya. Dia mengatakan kepada Tabban As'ad,
“Apakah Engkau mau harta yang tertimbun dan tidak butuh kekuatan untuk mengambilnya”.
Tabban As'ad mengatakan “Iya, tentu saya mau”.
Maka suku Huzail mengatakan, “Disana, di kota ini (Mekkah), ada sebuah rumah (maksudnya adalah Ka’bah) yang kalau seandainya Engkau membongkarnya, dibawahnya itu banyak sekali harta yang tertimbun.” (Memang benar, orang-orang Arab dulu karena terlalu menghormati Ka’bah, maka mereka meletakkan atau menanam emas-emas dan banyak sekali perhiasan mereka di bawah Ka’bah).
Tabban As'ad pun akhirnya tamak dan membentuk pasukan ingin menyerang kota Mekkah. Waktu melihat pasukan sudah siap semua, dua pendeta Yahudi bertanya
“Mau kemana Anda, hai Tabban?”.
Tabban As'ad mengatakan “Saya ingin masuk ke kota ini dan mengambil harta yang tertimbun di rumahnya, katanya ada rumah disana”. Dia belum tau kalau Ka’bah itu adalah rumah Allah.
Maka dua pendeta Yahudi tadi mengatakan “Demi Allah, wahai Tabban, sesungguhnya suku Huzail ingin menghancurkanmu (dengan isu itu). Kami tidak pernah tau ada rumah Allah di muka bumi kecuali ini. Jadi tidak mungkin, Allah pasti akan menghancurkanmu.”
Maka, ditanya oleh Tabban, “Lalu, apa yang kalian sarankan kepada saya?”
Kata dua pendeta tersebut, “Tawaflah di rumah itu dan hormatilah”.
Tabban As'ad berkata, “Lalu kalian bagaimana? Kalian kan pendeta.”
Kata mereka, “Kami adalah pendeta-pendeta yang tidak layak untuk tawaf disitu sementara banyak patung”, karena di sekitar Ka’bah sudah banyak patung, dari kisah yang sebelumnya sudah disampaikan dari hari-hari Amru bin Luhay, orang yang pertama memasukkan patung ke Jazirah Arab.
Lalu, Tabban As'ad akhirnya tawaf dan tidur di dekat Ka’bah, lalu dia mimpi dia meletakkan kain di atas Ka’bah yang dikenal dengan Qiswah. Dan Tabban As'ad adalah orang pertama yang meletakkan Qiswah di Ka’bah. Setelah beberapa hari, dia meletakkan kain yang lebih bagus lagi sampai akhirnya Qiswah itu terus berjalan dan diletakkan di Ka’bah sampai sekarang. Karena nabi shallallaahu 'alaihi wasallam tidak memungkirinya, maka para sahabat dan sampai hari ini ulama pun menjalankan apa yang telah dilakukan oleh Tabban As'ad jauh sebelum nabi shallallaahu 'alaihi wasallam lahir.
Lalu Tabban As'ad balik ke Yaman membawa dua pendeta tersebut untuk mengajak agar masyarakat Yaman semuanya menganut agama Yahudi, tapi mereka menolak. Pada saat itu memang mereka penyembah api. Di Yaman ada sebuah tempat yang sangat besar, apinya selama 24 jam menyala terus, karena mereka selalu memasukkan kayu-kayu bakar, dan tempatnya sangat besar, ditutup dengan pintu besi. Setiap kali mereka punya masalah, mereka berhukum kepada api itu dengan cara pintu besinya dibuka, pada saat dibuka, maka api akan keluar. Siapa yang pertama terbakar dengan api tersebut, berarti dia yang dzolim/salah. Dan ini kejahilan di zaman itu.
Setelah Tabban As'ad mendakwahkan agama Yahudi kepada masyarakat Yaman, ternyata mereka menolak, mereka tetap ingin menyembah api sampai terjadi kesepakatan, bagaimana kalau seandainya kedua pendeta Yahudi itu kita ajukan di depan rumah api dan mengajukan juga di sebelah mereka itu pemimpin-pemimpin penyembah api. Siapa yang dilalap oleh api pertama, berarti dia yang salah. Yang tidak dilalap oleh api berarti dia yang benar (agamanya), itu yang diikuti.
Maka Tabban As'ad bertanya kepada kedua pendeta Yahudi tersebut, pendeta mengatakan “Lakukan saja, Allah pasti akan memenangkan agamaNya”. Lalu berdirilah dua pendeta tersebut di depan pintu rumah api, berdiri juga pemimpin-pemimpin penyembah api di sebelah kiri mereka. Pada saat dibuka pintu, ternyata api langsung menyerang kedua pemimpin penyembah api itu. Sempat mereka lari di awalnya, dalam sejarah dikatakan, masyarakat mereka marah, dipaksa untuk kembali. Pada saat dibuka yang kedua kalinya, akhirnya api menghanguskan kedua pimpinan penyembah api tersebut. Maka semenjak hari itu, seluruh Yaman masuk ke agama Yahudi.
Ini terakhir bahasa kita, bahwasanya agama Yahudi masuk ke Jazirah Arab karena ada alasan, tepatnya tadi karena kisah Tabban As'ad dengan kedua pendeta yang ada di Madinah. Dan sudah dijelaskan kenapa orang-orang Yahudi ada di Madinah, karena mereka menemukan dalam Taurat, Madinah itu kota yang akan dihijrahi oleh nabi yang terakhir. Sementara pada saat nabi shallallaahu 'alaihi wasallam keluar disitu (hijrah), mereka tidak mau beriman, alasannya hanya karena fanatisme. Mereka mengatakan kami berharap nabi terakhir yang keluar dari bani Israil, dari turunan Ishaq atau Ya’qub, ternyata yang keluar terakhir dari turunan Ismail, yaitu nabi kita Muhammad shallallaahu 'alaihi wasallam.
Sekarang, bagaimana agama Nasrani ada di Jazirah Arab? Kalau tadi kita sudah tahu kenapa orang Arab ada yang Yahudi, termasuk diantaranya Abdullah ibn Saba’ (pendiri paham Syi’ah, itu dari Yaman, orang Yahudi Yaman, yang pura-pura masuk Islam di zaman Umar dan Utsman radhiyallahu ‘anhuma).
Setelah Tabban As'ad wafat, datang anaknya yang memimpin setelahnya bernama Hassan. Jadi raja Yaman sekarang setelah Tabban As'ad wafat adalah Hassan. Dan Hassan ini kerajaannya sudah mulai makin meluas, makin kuat, tapi kata sebagian ahli sejarah, dia mulai merasa sombong dengan dirinya, maka dia berpikir untuk menyerang atau memperluas/ekspansi wilayahnya dan ingin mencoba untuk memerangi seluruh orang-orang Arab yang ada di jazirah Arab dan memerangi kedua kerajaan besar pada zaman itu; Faris (Furs) dan Rum, dua kerajaan yang sangat besar dan tidak mungkin Yaman bisa mengalahkan sebenarnya. Tapi kata ahli sejarah, Hassan ini punya kepercayaan diri yang sangat tinggi, tapi dia juga dari sisi lain, tidak punya pertimbangan yang matang.
Maka apa yang terjadi? Dia mengatakan dalam istilah atau kalimat yang dia ucapkan dan dinukil dalam buku-buku sejarah “Saya akan memerangi mulai hari ini orang-orang Arab semuanya dan juga orang-orang Ajam (selain orang Arab), agar saya satu-satunya pemimpin di muka bumi.” Ini anaknya Tabban As'ad yang bernama Hassan, dan pada saat itu dia beragama Yahudi.
Maka, dia berkata kepada para pengawalnya, “Mana negara yang paling kuat sekarang? Yang paling terkenal kekuatan militernya yang mana?”. Mereka mengatakan, “Furs”. (***Furs itu kalau sekarang, masuk seluruh wilayah Rusia, sebagian wilayah Cina, sebagian besar wilayah India, juga Iran dan Irak, itu semua dulu wilayah Furs namanya. Jadi wilayahnya sangat besar sekali dan kekuatan militer mereka sangat kuat***)
Hassan berkata, “Kalau begitu, saya akan mulai memerangi mereka”. Kalau kita lihat di peta Jazirah Arab, itu di daerah selatannya ada wilayah Yaman, Yaman sangat kecil. Dibandingkan dengan Furs, mungkin Yaman cuma sepersepuluhnya Furs. Tapi Hassan tetap percaya diri ingin memerangi Furs dan menguasai wilayah tersebut.
Maka pada saat itu, semuanya, menteri-menterinya, pengawal-pengawalnya, sebenarnya merasa terganggu. Mereka yakin tidak bisa menang. Tapi Hassan tetap ngotot dan terpaksa keluar membentuk pasukan. Di tengah jalan, sebelum tiba di wilayah Furs, maka, seluruhnya akhirnya musyawarah tanpa melibatkan Hassan, ini kira-kira bagaimana jalan keluarnya, karena kalau kita paksakan diri malah berbahaya. Hassan ini orangnya sangat jeli. Di kemah dia, tidak boleh orang lain masuk kecuali satu saja saudaranya yang bernama Amr. Itupun diperiksa semua badannya apakah bawa senjata atau tidak, dan seterusnya.
Akhirnya, seluruh pengawal-pengawalnya terutama menteri-menteri dia, sepakat mengajak Amr berdiskusi dan mengatakan “Hai Amr, kalau seandainya Engkau bisa membunuh saudaramu, Hassan, maka kami akan nobatkan Engkau menjadi raja setelahnya, langsung. Karena Hassan ini terlalu berlebihan, menyuruh, memaksa kami untuk memerangi Furs, sudah diajak berhenti tidak mau.”
Amr pun akhirnya tamak terhadap kerajaan dan dia setuju.
Semua menteri-menteri Hassan setuju untuk menobatkan Amr dan setuju agar Hassan dibunuh, kecuali satu orang. Ada satu orang yang bernama Dzuuru ‘Ain. Dzuuru ‘Ain ini punya kisah tersendiri, ringkas, sederhana saja, dia meminta agar Amr tidak membunuh kakaknya karena tidak ada gunanya. Dia mengatakan “Hai Amr, ingatlah, tidak ada orang yang membunuh saudara kandungnya sendiri kecuali dia akan terus tertimpa kesedihan sepanjang hidupnya.” Tapi Amr tetap tidak mau. Maka, Dzuuru ‘Ain mengatakan “Kalau begitu, tolong tuliskan surat untuk saya bahwasanya saya tidak ikut-ikutan dalam masalah ini”.
Ditulislah oleh Amr. Kemudian Amr akhirnya membunuh saudaranya sendiri, waktu dia masuk dalam kemahnya, kemudian dia bunuh, akhirnya terbunuhlah Hassan. Dan secara otomatis, Amr, yang tadi membunuh saudaranya dinobatkan menjadi raja oleh masyarakat Yaman sesuai dengan kesepakatan para menteri-menteri.
Setelah berjalan beberapa waktu, Amr ini merasa sedih sekali, sumpek, apa yang harus dia lakukan. Dia merasa terganggu dengan proses waktu dia bunuh saudaranya. Maka dia akhirnya bermusyawarah dengan orang-orang yang ada di sekitarnya. Ada yang mengatakan kepada dia,
“Hai Amr, kesedihan yang terjadi pada dirimu ini karena engkau membunuh Hassan”.
“Lalu bagaimana caranya supaya kesedihan saya hilang?”
“Satu-satunya cara, engkau harus membunuh semua orang yang menyuruh kamu membunuh saudaramu.”
Ini kisah masyhur di Yaman. Apa yang terjadi? Maka Amr akhirnya membunuh semuanya, orang-orang yang tadinya menyuruh dia membunuh saudaranya Hassan, sampai tiba di Dzuuru ‘Ain (satu-satunya menteri yang tidak setuju). Waktu Dzuuru ‘Ain mau dibunuh, Dzuuru ‘Ain mengatakan “Hai Amr, masih ingat? Ini ada surat saya. Saya sudah sepakat dengan kamu bahwasanya saya menyarankan agar jangan membunuh saudaramu dan saya tidak ikut-ikutan”. Maka dengan surat itu, Dzuuru ‘Ain selamat. Setelah itu, ternyata Amr memang merasa lebih tenang dalam kehidupannya. Ini sedikit ringkasan tentang masalah kondisi Yaman setelah Tabban As'ad wafat.
Jadi kita membahas Tabban As'ad (raja Yaman yang beragama Yahudi), kemudian datang anaknya, Hassan, Hassan dibunuh oleh saudaranya Amr, kemudian Amr menjadi pemimpin di Yaman. Setelah Amr meninggal dunia, maka anak-anak daripada Tabban As'ad (kembali lagi, karena Amr sama Hassan punya saudara banyak, tapi yang paling kuat tadinya adalah mereka), saudara-saudara Hassan dan Amr mulai berebut kekuasaan di Yaman dan akhirnya terjadilah perang saudara di Yaman.
Dalam kondisi kacau di Yaman, stabilitas ekonominya tidak stabil dan terganggu dengan adanya perang saudara tadi, maka muncullah satu orang perampok di negeri Yaman.
Bersambung...
(Sumber: ditranskrip dari ceramah Ust. Dr. Khalid Basalamah hafidzahullaah)
#sirahnabawiyah
SIRAH NABAWIYAH (10)
KISAH MASUKNYA AGAMA YAHUDI DAN NASRANI DI JAZIRAH ARAB
Tabban As'ad adalah seorang raja yang luar biasa, saking luasnya kekuasaannya dan kuatnya kekuatan militer dan ekonominya, maka semua raja Yaman setelahnya diberikan julukan dari namanya dia, Tabban As'ad atau biasa disebut dengan Tubba’. Dalam alQuran ada dikatakan “Wa qoumi Tubba’” (dan kaumnya Tubba’), artinya Tubba’ ini julukan bagi raja-raja Yaman.
Waktu itu memang banyak julukan-julukan, seperti kerajaan Romawi diberikan julukan Kaisar (rajanya), itu bukan nama rajanya tapi julukannya, nanti setelahnya ada namanya, Kaisar siapa.
Kemudian wilayah Faris, yang kita tau ada Kisra. Kemudian ada di Ethopia yang bernama Najasyi. Jauh sebelumnya, di Mesir ada Fir’aun. Fir’aun itu julukan bagi raja-raja Mesir, bukan namanya, nanti ada nama yang lain. Seperti terkadang ada Ramsis I, kemudian ada si fulan, seperti itu kurang lebih gambarannya.
Tabban As'ad ini karena masyhurnya sampai-sampai akhirnya raja Yaman diberikan julukan dari nama dia, Tubba’. Raja ini terkenal dengan kekuatannya dan luar biasa, punya power yang besar dan dia suka berniaga.
Suatu hari, dia mengadakan perjalanan bisnis, Tabban As'ad ini dari Yaman, kemudian dia melewati kota Madinah. Lalu dia membiarkan anaknya di kota Madinah (waktu itu Madinah namanya Yatsrib, dan kita tidak boleh sekarang menyebut Yatsrib, nabi shallallaahu 'alaihi wasallam melarang kita mengatakan Madinah Yatsrib tapi menggantinya dengan Madinah Munawwarah atau Thooba atau Thoyyibah, itu nama kota Madinah). Akhirnya, anaknya ditinggalkan di kota Madinah/kota Yatsrib.
Setelah itu, terjadi perselisihan antara anak Tabban As'ad dengan masyarakat Madinah, cekcok, akhirnya terbunuhlah anaknya Tabban As'ad. Tabban As'ad ini karena dia raja di Yaman sementara Madinah/Yatsrib adalah kota yang kecil, lalu dia mengutus pasukan untuk mengepung Madinah, diserang karena dia ingin balas dendam kenapa anaknya dibunuh disana.
Terjadilah peperangan antara Tabban As'ad dengan masyarakat Madinah.
Sementara terjadi peperangan, Tabban As'ad kaget dengan perilaku masyarakat Madinah yang nantinya masyarakat Madinah ini yang menjadi kaum Anshor (sahabat-sahabat Nabi dari Madinah disebut Anshor, terdiri dari 2 suku besar; Aus dan Khazraj, ini nanti dua suku besar yang digabung menjadi Anshor, yang Allah mengatakan “Assaabiqunal Awwaluuna minal Muhaajiriina wal Anshor”, orang-orang yang pertama masuk Islam dari Muhajirin di Mekkah dan Anshor di Madinah).
Awalnya kisah-kisah orang Anshor ini (Aus dan Khazraj) berperang dengan Tabban As'ad. Tabban As'ad ini ingin balas dendam atas kematian anaknya.
Yang paling pertama membuat Tabban As'ad kagum waktu itu adalah karomnya masyarakat Madinah. Apa itu karom? Kemuliaannya, ringan tangan. Belum pernah ada dalam sejarah (sampai sekarang), ada orang yang berperang pada pagi hari, kemudian pada saat istirahat di malam hari, masyarakat Yatsrib Madinah mengirimkan makanan untuk Tabban As'ad dan pasukannya serta membantu mengobati orang-orang yang luka. Lalu, Tabban As'ad tetap saja “Saya tetap harus memerangi kota ini dan tidak ada yang menjelaskan kenapa masyarakat Madinah begitu”.
Tidak lama kemudian, keluarlah dua orang pendeta Yahudi dari Madinah. Jadi, sudah ada pendeta Yahudi di Madinah. Dua pendeta Yahudi ini ternyata dari keturunan orang-orang Yahudi yang sudah lama datang ke kota madinah (alasannya nanti akan dijelaskan pada saat pendeta ini bertemu dengan Tabban As'ad, kenapa mereka ada di Madinah).
Kedua pendeta ini keluar lalu bertemu dengan Tabban As'ad, permisi, pamit, masuk ke kemahnya lalu ditanya
“Apa tujuan Anda, wahai Raja Tabban?”.
Dia bilang “Tujuan saya ingin membumi hanguskan Madinah ini, semua saya mau bunuh, saya mau hancurkan kota ini”.
Apa kata kedua pendeta tersebut? “Engkau tidak akan mampu dan kalaupun kau terus mau melakukan itu, Allah akan menghancurkanmu”.
Lalu Tabban As'ad bingung, “Kenapa kalian bilang seperti itu? Apa alasannya?”.
Kedua pendeta Yahudi ini mengatakan “Karena kota ini Mahjarun Nabi, ini nanti akan menjadi tempat hijrahnya nabi terakhir”.
Jadi alasan orang-orang Yahudi datang ke Madinah (awalnya mereka ada di Jazirah Arab), karena mereka dapatkan dalam kitab Taurat, ada kota di Jazirah Arab, tepatnya kota Madinah, nanti akan dihijrahi oleh nabi terakhir. Jadi mereka sudah tahu. Anehnya, setelah nabi shallallaahu 'alaihi wasallam diutus mereka tidak beriman.
Sampai beberapa sahabat nabi dari Anshor waktu terjadi Ba’iat Aqobah (nanti akan dibahas), waktu nabi shallallaahu 'alaihi wasallam berdakwah di Mekkah, kemudian di musim haji ketemu dengan banyak utusan-utusan suku diantaranya suku Aus dan Khazraj dari Madinah, lalu nabi shallallaahu 'alaihi wasallam jelaskan “Saya seorang nabi, saya utusan Allah, Allah mengajarkan begini, tidak boleh zina, tidak boleh bohong, mentauhidkan Allah...”, lalu orang-orang Anshor ini bilang “Sepertinya orang ini yang orang-orang Yahudi di Madinah ceritakan kepada kita”.
Apa ceritanya orang Yahudi di Madinah? Mereka bilang “Hai Aus dan Khazraj (yang nanti jadi kaum Anshor), nanti akan keluar nabi terakhir disini, kami orang pertama beriman kepadanya, dan kami akan memerangi kalian kalau kalian tidak beriman, kami akan bumi hanguskan kalian seperti kaum ‘Aad dan Iram”. (***istilah kaum ‘Aad dan Iram ini, peperangan yang terjadi antara dua suku sampai semuanya habis, tidak tersisa satu pun, semua terbunuh***). Maka, orang-orang Anshor (dari Madinah) mengatakan “Kalau begitu, kita harus beriman kepada nabi ini sebelum Yahudi duluan”.
Kembali kepada kisah tadi, lalu si Tabban As'ad ini bertanya “Siapa itu Allah, siapa kalian ini?”. Lalu orang-orang Yahudi (kedua pendeta) ini menceritakan, “Yahudi itu begini, pengikut nabi Musa, ada kitabnya Allah (Taurat)...”, dijelaskan semuanya sampai Tabban As'ad akhirnya masuk agama Yahudi pada saat itu. Lalu, Tabban As'ad memaafkan masyarakat Madinah kemudian dia ingin kembali ke Yaman. Waktu ingin kembali ke Yaman, dua pendeta Yahudi ini dibawa dengan tujuan agar dua pendeta Yahudi ini mengajarkan agama mereka untuk masyarakat Yaman.
Pergilah keduanya, jalan, melewati Mekkah (menuju Yaman). Pada saat akan tiba di Mekkah, mereka bertemu dengan satu suku di sekitar Mekkah bernama Huzail. Suku Huzail ini tidak suka sama Tabban As'ad (dari Yaman), tidak suka juga dengan masyarakat Mekkah. Maka mereka (suku Huzail) mau sebarkan fitnah, mereka bilang
“Hai Tabban, Anda kan raja dari Yaman, Anda pasti keluar dengan pasukan sebanyak ini untuk mencari kekayaan”.
Tabban mengatakan “Iya”.
Mereka mengatakan “Mau gak kami tunjukkan kepada Anda kekayaan yang banyak sekali? Gampang ambilnya.”
Tabban mengatakan kepada suku Huzail, “Tentu”.
Suku Huzail, karena mereka tidak suka sama Tabban dan masyarakat Mekkah (kejadian ini sekitar kota Mekkah, belum sampai di Mekkah), maka mereka bilang “Di dalam kota ini, di Mekkah, ada satu rumah yang diagungkan oleh masyarakatnya (mereka tidak bilang Ka’bah), dibawahnya itu banyak harta karun terpendam, banyak emas”. Memang dulu zaman itu, dari zaman nabi Ibrahim 'alaihissalaam setelah meninggal, karena mengagungkan Mekkah, masyarakat Arab banyak menaruh emasnya di Ka’bah, ada bahkan pernah dibuat patung rusa itu dari emas dan ditaruh di Ka’bah. Banyak harta.
“Ambil saja. Gampang. Hancurkan rumah itu, ambil hartanya.”
Tabban As'ad yang belum banyak belajar tentang Allah, belum paham tentang agama Allah, lalu menyiapkan pasukannya. Kedua pendeta Yahudi mendekati Tabban “Anda mau kemana siapkan pasukan perang? Tiba-tiba begini”. Tabban bilang “Saya ingin masuk ke kota ini (Mekkah), disana katanya ada rumah, dibawah rumah itu banyak harta karun. Saya ingin ambil”.
Maka apa kata dua pendeta Yahudi? “Demi Allah hai Tabban, sesungguhnya suku Huzail, yang menyuruh kamu tadi itu, ingin menghancurkanmu. Kami tidak tau ada rumah Allah di muka bumi kecuali ini. Kalau kau berusaha menyerangnya, maka kau akan dihancurkan.” Ini perkataan siapa? Orang-orang Yahudi. Jadi, sampai hari ini orang Yahudi tahu Ka’bah itu rumahnya Allah.
Maka Tabban As'ad balik bertanya, “Lalu, apa saran kalian?”
Kata dua pendeta Yahudi ini, “Saran saya, Anda mengagungkan Ka’bah itu lalu Anda tawaf di sekitarnya”. Kata Tabban, “Bagaimana dengan kalian? Kenapa kalian tidak tawaf? Kenapa Cuma suruh saya saja? Bagaimaan itu tawaf? dst”. Kata pendeta, “Kami ini para ulama Yahudi, kami tidak pantas tawaf disitu kalau ada patung-patung, sementara banyak patung disitu”. Maka Tabban pun akhirnya masuk, kemudian dia tawaf di Ka’bah.
Setelah dia tawaf di Ka’bah, Tabban As'ad mimpi meletakkan kain di fisiknya Ka’bah, itulah yang akhirnya dikenal dengan Qiswah. Jadi awal kisahnya Qiswah ini dari Tabban As'ad. Tabban As'ad akhirnya bangun, dia ceritakan kepada pendeta itu, lalu pendeta mengatakan “Letakkanlah kain”. Disuruhlah buat kain yang bagus, dipakaikan di Ka’bah (seperti sekarang, tapi modelnya tentu berbeda, zaman dulu wallahu a’lam bagaimana, yang jelas sekarang sudah berubah/beda, karena di zaman Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam juga itu sifatnya kain-kain biasa yang ditumpuk).
Lalu, beberapa hari kemudian Tabban As'ad pun menyuruh untuk mengganti dengan kain yang lebih bagus dari Yaman. Setelah itu, mulailah Qiswah atau kain Ka’bah berjalan sampai zaman Abdul Muththolib (kakek Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam) dan waktu itu Qiswah Ka’bah ditumpuk-tumpuk. Satu kain, begitu sudah tua, usang (mungkin setahun dua tahun), lalu ditumpuk lagi kain, ditumpuk lagi kain, sampai Ka’bah jadi berat dan hampir saja bangunannya rubuh. Setelah itu baru disepakati oleh orang-orang Quraisy diletakkan satu kain saja (akan dibahas di kisah Abdul Muththalib).
Yang perlu digarisbawahi, Qiswah Ka’bah itu hanya HIASAN Ka’bah. Bukan apa-apa. Kenapa disinggung? Karena banyak jamaah haji bawa gunting menuju ke Ka’bah bukan untuk tahallul (cukur rambut) karena perintah Allah, tapi menggunting Qiswahnya Ka’bah, lalu dibawa pulang dijadikan jimat. Ini ajaran dari mana, kain bisa berubah jadi jimat? Sudah dibahas, hati-hati dengan perbuatan syirik, itu semua adalah benda-benda makhluknya Allah.
Kembali ke kisah...
Pulanglah Tabban As'ad ini ke Yaman. Di Yaman, kebetulan seluruh masyarakatnya awalnya menyembah api. Dan ada satu api besar sekali yang mereka bakar di suatu tempat, rumah yang sangat luas dan memiliki pintu-pintu dari besi, dan mereka sembah disitu. Kalau ada orang yang berbuat salah, diberdirikan di pintu besinya kemudian dibuka. Misalnya ada dua orang yang lagi bertengkar, si A dan si B. Kalau dua-duanya tidak ada yang mau mengaku salah, diberdirikan di pintu rumah itu kemudian di buka pintu itu lalu api menyambar. Siapa yang pertama disambar oleh api, dialah orang yang salah. KEJAHILAN. Ini, mereka Cuma buka pintu, kebetulan apinya menyerang si A dianggap si A yang salah. Ini keyakinan orang Yaman.
Lalu apa yang terjadi? Tabban As'ad pulang dan mendakwahkan agama Yahudi ke masyarakat Yaman. Ternyata, mayoritas masyarakat Yaman menolak, tidak mau, apalagi mereka disuruh tinggalkan sembah api. Lalu, berdialoglah antara tokoh-tokoh agama penyembah api dan pendeta-pendeta Yahudi ini, mereka sepakat, “Begini saja, keyakinan masyarakat sini kan siapa yang salah bisa disambar api. Coba, pendeta ini berdiri di pintu kemudian tokohnya penyembah api juga berdiri disitu. Siapa yang disambar api duluan, berarti dia salah”. Raja Tabban As'ad ini sampaikan kepada pendeta “Bagaimana pendapat kalian”, disepakati “Tidak apa-apa. Pasti Allah akan tolong kita”.
Berdirilah pendeta tersebut dua orang dan dua orang juga dari tokoh penyembah api. Waktu dibuka, apinya tiba-tiba menyerang kedua tokoh penyembah api. Mereka lari. Waktu mereka lari, disebutkan dalam sejarah, seluruh masyarakatnya marah. Harus kembali, tidak boleh tidak, kita mau cari kebenaran. Waktu dikembalikan, kemudian dibuka kedua kali, api menyambar tokoh penyembah api dan mereka hangus terbakar. Karena kejadian ini, satu negeri Yaman masuk agama Yahudi di zaman itu. Makanya, Abdullah ibn Saba’, yang dikenal dengan pendiri pemahaman Syi’ah, itu dari Yahudi Yaman, yang asalnya dari ini tadi.
Inilah kurang lebih kisah bagaimana bisa agama Yahudi ada di Jazirah Arab. Asalnya mereka ke Madinah karena alasan tempat hijrahnya nabi dan bagaimana mereka bisa masuk ke Jazirah Arab umumnya di negeri Yaman yang waktu itu punya kekuatan besar, masuknya adalah karena Tabban As'ad. Dan sampai sini kisah Yahudi selesai.
Biidznillahi ta’ala, kita akan lanjutkan nanti bagaimana Nasrani masuk ke Jazirah Arab.
Bersambung
(Sumber: ditranskrip dari ceramah Ust. Dr. Khalid Basalamah hafidzahullaah)
#sirahnabawiyah
Tabban As'ad adalah seorang raja yang luar biasa, saking luasnya kekuasaannya dan kuatnya kekuatan militer dan ekonominya, maka semua raja Yaman setelahnya diberikan julukan dari namanya dia, Tabban As'ad atau biasa disebut dengan Tubba’. Dalam alQuran ada dikatakan “Wa qoumi Tubba’” (dan kaumnya Tubba’), artinya Tubba’ ini julukan bagi raja-raja Yaman.
Waktu itu memang banyak julukan-julukan, seperti kerajaan Romawi diberikan julukan Kaisar (rajanya), itu bukan nama rajanya tapi julukannya, nanti setelahnya ada namanya, Kaisar siapa.
Kemudian wilayah Faris, yang kita tau ada Kisra. Kemudian ada di Ethopia yang bernama Najasyi. Jauh sebelumnya, di Mesir ada Fir’aun. Fir’aun itu julukan bagi raja-raja Mesir, bukan namanya, nanti ada nama yang lain. Seperti terkadang ada Ramsis I, kemudian ada si fulan, seperti itu kurang lebih gambarannya.
Tabban As'ad ini karena masyhurnya sampai-sampai akhirnya raja Yaman diberikan julukan dari nama dia, Tubba’. Raja ini terkenal dengan kekuatannya dan luar biasa, punya power yang besar dan dia suka berniaga.
Suatu hari, dia mengadakan perjalanan bisnis, Tabban As'ad ini dari Yaman, kemudian dia melewati kota Madinah. Lalu dia membiarkan anaknya di kota Madinah (waktu itu Madinah namanya Yatsrib, dan kita tidak boleh sekarang menyebut Yatsrib, nabi shallallaahu 'alaihi wasallam melarang kita mengatakan Madinah Yatsrib tapi menggantinya dengan Madinah Munawwarah atau Thooba atau Thoyyibah, itu nama kota Madinah). Akhirnya, anaknya ditinggalkan di kota Madinah/kota Yatsrib.
Setelah itu, terjadi perselisihan antara anak Tabban As'ad dengan masyarakat Madinah, cekcok, akhirnya terbunuhlah anaknya Tabban As'ad. Tabban As'ad ini karena dia raja di Yaman sementara Madinah/Yatsrib adalah kota yang kecil, lalu dia mengutus pasukan untuk mengepung Madinah, diserang karena dia ingin balas dendam kenapa anaknya dibunuh disana.
Terjadilah peperangan antara Tabban As'ad dengan masyarakat Madinah.
Sementara terjadi peperangan, Tabban As'ad kaget dengan perilaku masyarakat Madinah yang nantinya masyarakat Madinah ini yang menjadi kaum Anshor (sahabat-sahabat Nabi dari Madinah disebut Anshor, terdiri dari 2 suku besar; Aus dan Khazraj, ini nanti dua suku besar yang digabung menjadi Anshor, yang Allah mengatakan “Assaabiqunal Awwaluuna minal Muhaajiriina wal Anshor”, orang-orang yang pertama masuk Islam dari Muhajirin di Mekkah dan Anshor di Madinah).
Awalnya kisah-kisah orang Anshor ini (Aus dan Khazraj) berperang dengan Tabban As'ad. Tabban As'ad ini ingin balas dendam atas kematian anaknya.
Yang paling pertama membuat Tabban As'ad kagum waktu itu adalah karomnya masyarakat Madinah. Apa itu karom? Kemuliaannya, ringan tangan. Belum pernah ada dalam sejarah (sampai sekarang), ada orang yang berperang pada pagi hari, kemudian pada saat istirahat di malam hari, masyarakat Yatsrib Madinah mengirimkan makanan untuk Tabban As'ad dan pasukannya serta membantu mengobati orang-orang yang luka. Lalu, Tabban As'ad tetap saja “Saya tetap harus memerangi kota ini dan tidak ada yang menjelaskan kenapa masyarakat Madinah begitu”.
Tidak lama kemudian, keluarlah dua orang pendeta Yahudi dari Madinah. Jadi, sudah ada pendeta Yahudi di Madinah. Dua pendeta Yahudi ini ternyata dari keturunan orang-orang Yahudi yang sudah lama datang ke kota madinah (alasannya nanti akan dijelaskan pada saat pendeta ini bertemu dengan Tabban As'ad, kenapa mereka ada di Madinah).
Kedua pendeta ini keluar lalu bertemu dengan Tabban As'ad, permisi, pamit, masuk ke kemahnya lalu ditanya
“Apa tujuan Anda, wahai Raja Tabban?”.
Dia bilang “Tujuan saya ingin membumi hanguskan Madinah ini, semua saya mau bunuh, saya mau hancurkan kota ini”.
Apa kata kedua pendeta tersebut? “Engkau tidak akan mampu dan kalaupun kau terus mau melakukan itu, Allah akan menghancurkanmu”.
Lalu Tabban As'ad bingung, “Kenapa kalian bilang seperti itu? Apa alasannya?”.
Kedua pendeta Yahudi ini mengatakan “Karena kota ini Mahjarun Nabi, ini nanti akan menjadi tempat hijrahnya nabi terakhir”.
Jadi alasan orang-orang Yahudi datang ke Madinah (awalnya mereka ada di Jazirah Arab), karena mereka dapatkan dalam kitab Taurat, ada kota di Jazirah Arab, tepatnya kota Madinah, nanti akan dihijrahi oleh nabi terakhir. Jadi mereka sudah tahu. Anehnya, setelah nabi shallallaahu 'alaihi wasallam diutus mereka tidak beriman.
Sampai beberapa sahabat nabi dari Anshor waktu terjadi Ba’iat Aqobah (nanti akan dibahas), waktu nabi shallallaahu 'alaihi wasallam berdakwah di Mekkah, kemudian di musim haji ketemu dengan banyak utusan-utusan suku diantaranya suku Aus dan Khazraj dari Madinah, lalu nabi shallallaahu 'alaihi wasallam jelaskan “Saya seorang nabi, saya utusan Allah, Allah mengajarkan begini, tidak boleh zina, tidak boleh bohong, mentauhidkan Allah...”, lalu orang-orang Anshor ini bilang “Sepertinya orang ini yang orang-orang Yahudi di Madinah ceritakan kepada kita”.
Apa ceritanya orang Yahudi di Madinah? Mereka bilang “Hai Aus dan Khazraj (yang nanti jadi kaum Anshor), nanti akan keluar nabi terakhir disini, kami orang pertama beriman kepadanya, dan kami akan memerangi kalian kalau kalian tidak beriman, kami akan bumi hanguskan kalian seperti kaum ‘Aad dan Iram”. (***istilah kaum ‘Aad dan Iram ini, peperangan yang terjadi antara dua suku sampai semuanya habis, tidak tersisa satu pun, semua terbunuh***). Maka, orang-orang Anshor (dari Madinah) mengatakan “Kalau begitu, kita harus beriman kepada nabi ini sebelum Yahudi duluan”.
Kembali kepada kisah tadi, lalu si Tabban As'ad ini bertanya “Siapa itu Allah, siapa kalian ini?”. Lalu orang-orang Yahudi (kedua pendeta) ini menceritakan, “Yahudi itu begini, pengikut nabi Musa, ada kitabnya Allah (Taurat)...”, dijelaskan semuanya sampai Tabban As'ad akhirnya masuk agama Yahudi pada saat itu. Lalu, Tabban As'ad memaafkan masyarakat Madinah kemudian dia ingin kembali ke Yaman. Waktu ingin kembali ke Yaman, dua pendeta Yahudi ini dibawa dengan tujuan agar dua pendeta Yahudi ini mengajarkan agama mereka untuk masyarakat Yaman.
Pergilah keduanya, jalan, melewati Mekkah (menuju Yaman). Pada saat akan tiba di Mekkah, mereka bertemu dengan satu suku di sekitar Mekkah bernama Huzail. Suku Huzail ini tidak suka sama Tabban As'ad (dari Yaman), tidak suka juga dengan masyarakat Mekkah. Maka mereka (suku Huzail) mau sebarkan fitnah, mereka bilang
“Hai Tabban, Anda kan raja dari Yaman, Anda pasti keluar dengan pasukan sebanyak ini untuk mencari kekayaan”.
Tabban mengatakan “Iya”.
Mereka mengatakan “Mau gak kami tunjukkan kepada Anda kekayaan yang banyak sekali? Gampang ambilnya.”
Tabban mengatakan kepada suku Huzail, “Tentu”.
Suku Huzail, karena mereka tidak suka sama Tabban dan masyarakat Mekkah (kejadian ini sekitar kota Mekkah, belum sampai di Mekkah), maka mereka bilang “Di dalam kota ini, di Mekkah, ada satu rumah yang diagungkan oleh masyarakatnya (mereka tidak bilang Ka’bah), dibawahnya itu banyak harta karun terpendam, banyak emas”. Memang dulu zaman itu, dari zaman nabi Ibrahim 'alaihissalaam setelah meninggal, karena mengagungkan Mekkah, masyarakat Arab banyak menaruh emasnya di Ka’bah, ada bahkan pernah dibuat patung rusa itu dari emas dan ditaruh di Ka’bah. Banyak harta.
“Ambil saja. Gampang. Hancurkan rumah itu, ambil hartanya.”
Tabban As'ad yang belum banyak belajar tentang Allah, belum paham tentang agama Allah, lalu menyiapkan pasukannya. Kedua pendeta Yahudi mendekati Tabban “Anda mau kemana siapkan pasukan perang? Tiba-tiba begini”. Tabban bilang “Saya ingin masuk ke kota ini (Mekkah), disana katanya ada rumah, dibawah rumah itu banyak harta karun. Saya ingin ambil”.
Maka apa kata dua pendeta Yahudi? “Demi Allah hai Tabban, sesungguhnya suku Huzail, yang menyuruh kamu tadi itu, ingin menghancurkanmu. Kami tidak tau ada rumah Allah di muka bumi kecuali ini. Kalau kau berusaha menyerangnya, maka kau akan dihancurkan.” Ini perkataan siapa? Orang-orang Yahudi. Jadi, sampai hari ini orang Yahudi tahu Ka’bah itu rumahnya Allah.
Maka Tabban As'ad balik bertanya, “Lalu, apa saran kalian?”
Kata dua pendeta Yahudi ini, “Saran saya, Anda mengagungkan Ka’bah itu lalu Anda tawaf di sekitarnya”. Kata Tabban, “Bagaimana dengan kalian? Kenapa kalian tidak tawaf? Kenapa Cuma suruh saya saja? Bagaimaan itu tawaf? dst”. Kata pendeta, “Kami ini para ulama Yahudi, kami tidak pantas tawaf disitu kalau ada patung-patung, sementara banyak patung disitu”. Maka Tabban pun akhirnya masuk, kemudian dia tawaf di Ka’bah.
Setelah dia tawaf di Ka’bah, Tabban As'ad mimpi meletakkan kain di fisiknya Ka’bah, itulah yang akhirnya dikenal dengan Qiswah. Jadi awal kisahnya Qiswah ini dari Tabban As'ad. Tabban As'ad akhirnya bangun, dia ceritakan kepada pendeta itu, lalu pendeta mengatakan “Letakkanlah kain”. Disuruhlah buat kain yang bagus, dipakaikan di Ka’bah (seperti sekarang, tapi modelnya tentu berbeda, zaman dulu wallahu a’lam bagaimana, yang jelas sekarang sudah berubah/beda, karena di zaman Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam juga itu sifatnya kain-kain biasa yang ditumpuk).
Lalu, beberapa hari kemudian Tabban As'ad pun menyuruh untuk mengganti dengan kain yang lebih bagus dari Yaman. Setelah itu, mulailah Qiswah atau kain Ka’bah berjalan sampai zaman Abdul Muththolib (kakek Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam) dan waktu itu Qiswah Ka’bah ditumpuk-tumpuk. Satu kain, begitu sudah tua, usang (mungkin setahun dua tahun), lalu ditumpuk lagi kain, ditumpuk lagi kain, sampai Ka’bah jadi berat dan hampir saja bangunannya rubuh. Setelah itu baru disepakati oleh orang-orang Quraisy diletakkan satu kain saja (akan dibahas di kisah Abdul Muththalib).
Yang perlu digarisbawahi, Qiswah Ka’bah itu hanya HIASAN Ka’bah. Bukan apa-apa. Kenapa disinggung? Karena banyak jamaah haji bawa gunting menuju ke Ka’bah bukan untuk tahallul (cukur rambut) karena perintah Allah, tapi menggunting Qiswahnya Ka’bah, lalu dibawa pulang dijadikan jimat. Ini ajaran dari mana, kain bisa berubah jadi jimat? Sudah dibahas, hati-hati dengan perbuatan syirik, itu semua adalah benda-benda makhluknya Allah.
Kembali ke kisah...
Pulanglah Tabban As'ad ini ke Yaman. Di Yaman, kebetulan seluruh masyarakatnya awalnya menyembah api. Dan ada satu api besar sekali yang mereka bakar di suatu tempat, rumah yang sangat luas dan memiliki pintu-pintu dari besi, dan mereka sembah disitu. Kalau ada orang yang berbuat salah, diberdirikan di pintu besinya kemudian dibuka. Misalnya ada dua orang yang lagi bertengkar, si A dan si B. Kalau dua-duanya tidak ada yang mau mengaku salah, diberdirikan di pintu rumah itu kemudian di buka pintu itu lalu api menyambar. Siapa yang pertama disambar oleh api, dialah orang yang salah. KEJAHILAN. Ini, mereka Cuma buka pintu, kebetulan apinya menyerang si A dianggap si A yang salah. Ini keyakinan orang Yaman.
Lalu apa yang terjadi? Tabban As'ad pulang dan mendakwahkan agama Yahudi ke masyarakat Yaman. Ternyata, mayoritas masyarakat Yaman menolak, tidak mau, apalagi mereka disuruh tinggalkan sembah api. Lalu, berdialoglah antara tokoh-tokoh agama penyembah api dan pendeta-pendeta Yahudi ini, mereka sepakat, “Begini saja, keyakinan masyarakat sini kan siapa yang salah bisa disambar api. Coba, pendeta ini berdiri di pintu kemudian tokohnya penyembah api juga berdiri disitu. Siapa yang disambar api duluan, berarti dia salah”. Raja Tabban As'ad ini sampaikan kepada pendeta “Bagaimana pendapat kalian”, disepakati “Tidak apa-apa. Pasti Allah akan tolong kita”.
Berdirilah pendeta tersebut dua orang dan dua orang juga dari tokoh penyembah api. Waktu dibuka, apinya tiba-tiba menyerang kedua tokoh penyembah api. Mereka lari. Waktu mereka lari, disebutkan dalam sejarah, seluruh masyarakatnya marah. Harus kembali, tidak boleh tidak, kita mau cari kebenaran. Waktu dikembalikan, kemudian dibuka kedua kali, api menyambar tokoh penyembah api dan mereka hangus terbakar. Karena kejadian ini, satu negeri Yaman masuk agama Yahudi di zaman itu. Makanya, Abdullah ibn Saba’, yang dikenal dengan pendiri pemahaman Syi’ah, itu dari Yahudi Yaman, yang asalnya dari ini tadi.
Inilah kurang lebih kisah bagaimana bisa agama Yahudi ada di Jazirah Arab. Asalnya mereka ke Madinah karena alasan tempat hijrahnya nabi dan bagaimana mereka bisa masuk ke Jazirah Arab umumnya di negeri Yaman yang waktu itu punya kekuatan besar, masuknya adalah karena Tabban As'ad. Dan sampai sini kisah Yahudi selesai.
Biidznillahi ta’ala, kita akan lanjutkan nanti bagaimana Nasrani masuk ke Jazirah Arab.
Bersambung
(Sumber: ditranskrip dari ceramah Ust. Dr. Khalid Basalamah hafidzahullaah)
#sirahnabawiyah
SIRAH NABAWIYAH (9)
KISAH MASUKNYA AGAMA YAHUDI DAN NASRANI DI JAZIRAH ARAB
Makna Yahudi dan Nasrani
Yahudi, asalnya, diambil dari kata-kata “Huda” yang berarti taubat. Dari mana asal kisahnya? Waktu nabi Musa 'alaihissalaam pergi menerima kitab Taurat di Gunung Thur Sina (tepatnya sekarang di daerah Mesir, wilayah perbatasan Mesir dan Israel, terkenal dengan gunung-gunung batunya yang besar). Nabi musa 'alaihissalaam waktu pergi menerima Taurat disana selama empat puluh hari empat puluh malam (dalam alQuran diceritakan), dia meninggalkan adiknya, nabi Harun 'alaihissalaam, untuk menjaga kaumnya. Tapi nabi Harun 'alaihissalaam bukan figur orang yang seperti Musa (disegani oleh bani Israil).
Diantara bani Israil ini, ada satu orang yang bernama Samiriy. Samiriy ini tokoh masyarakat, orang kaya, salah satu kepala suku, terkenal. Dia melihat bahwasanya Musa lagi tidak ada, dulunya dia sebelum nabi Musa 'alaihissalaam datang, dia ditokohkan. Maka dia ingin kembalikan kejayaan dia dulu. Lalu dia buat patung sapi dari emas karena dia kaya raya lalu dia bilang kepada bani Israil, “Musa juga menyuruh kita menyembah ini, perantara dengan Allah”. Lalu, pengikut bani Israil mengikutinya.. Nabi Harun coba ingatkan, tapi tidak mau diikuti. Lalu mereka sepakat mengatakan “Nanti saja, kalau seandainya Musa kembali kepada kami, baru kami mau tanya Musa, kalau kamu (Harun) kami tidak mau ikuti”.
Empat puluh hari kemudian, nabi Musa kembali. Nabi Musa kaget melihat sudah ada patung, ditaruh api di sekitarnya dan disembah. Nabi Musa langsung kumpulkan bani Israil “Ada apa dengan kalian? Dari mana ini?”. Kisahnya dari Samiriy, mereka semua menunjuk Samiriy. Ditanya Samiriy di depan bani Israil, “Kenapa kau lakukan ini?”. Samiriy menjawab, “Ya, tiba-tiba terlintas di benak saya, saya pikir ini bagian dari wahyu kenabian”. Maka kata nabi Musa 'alaihissalaam, “Sungguh yang kamu buat ini akan kami hancurkan, karena dia adalah perbuatan syirik kepada Allah dan kamu akan kami hukum. Sekarang, keluarlah!”. Samiriy disuruh pergi.
Ringkas ceritanya, setelah dijelaskan oleh nabi Musa ini perbuatan syirik, bani Israil waktu itu merasa bersalah. Mereka bertanya, “Hai Musa, apa yang harus kami lakukan?”. Nabi Musa mengatakan “Harus taubat kepada Allah”. Lalu, mereka (Bani Israil) mengucapkan kalimat dalam alQur’an “Innaa hudna ilaik” (kami BERTAUBAT kepadaMu, ya Allah). Semenjak hari itu, keluarlah istilah YAHUDI. Itu maknanya bagus sebenarnya, orang-orang yang bertaubat. Asalnya begitu. Ini akar kata Yahudi. Siapapun yang mengaku pengikut nabi Musa sampai hari kiamat, dan tidak mau mengimani nabi yang datang setelah Musa (Isa dan Muhammad ‘alaihissholatu wassalam), maka dikatakan Yahudi.
NASRANI
Siapa itu Nasrani? Nabi Isa 'alaihissalaam ketika butuh membentuk pasukan untuk berjihad di jalan Allah, maka nabi Isa (sebagaimana dalam alQuran) mengatakan “Man Anshorii ilallah”, Anshor berarti penolong. Jadi kata-kata Nashara itu diambil dari kata-kata Nashoro Yanshuru artinya memenangkan atau menolong. Akar kata yang baik juga sebenarnya. Karena nabi Isa 'alaihissalaam mengatakan “Siapa yang mau menjadi PENOLONG agamanya Allah?”. Qoolal Hawaariyyuna “Nahnu Anshoorullaah” (Berkatalah Hawaariyyun (sahabat-sahabat nabi Isa 'alaihissalaam), ‘Kami akan menjadi penolong agama Allah’). Keluarlah istilah Nashoro dari situ.
Dari dua kelompok ini, Yahudi dan Nashrani, ini yang disebutkan oleh Abdullah ibn Abbas radhiyallahu ‘anhum dalam tafsir surah Al Fatihah. Abdullah ibn Abbas mengatakan, kalimat yang kita baca di akhir alFatihah “Ghairil Maghdubi ‘alaihim Waladh Dhoolliiiin”, bukan orang-orang yang Engkau murkai, ya Allah, mereka adalah Yahudi. Walad Dhooolliin, bukan orang yang sesat, ya Allah, siapa mereka? Nashrani. Apa sebabnya? Padahal tadi akar katanya bagus, taubat dan penolong Allah, kenapa ibnu Abbas mengatakan begini?
Jawabannya adalah, karena orang-orang Yahudi itu mereka mengenal nabi Muhammad shallallaahu 'alaihi wasallam, tau risalahnya, tapi tidak mau beriman. Alasannya apa? Cuma satu, kebodohan, fanatisme. Mereka bilang apa? Mereka berharap, nabi terakhir nanti yang keluar di jazirah Arab, tepatnya di kota Madinah, itu harusnya dari keturunan bani Israil, berarti dari jalurnya Sarah, anaknya Ishaq, Ya’qub (setelah Ya’qub, datang Yusuf, Musa, Daud, Sulaiman, Isa, namanya nabi-nabi bani Israil). Mereka berharap (dengan pikiran mereka), nabi terakhir setelah Isa nanti, itu akan datang dari bani Israil.
Ternyata nabi Muhammad shallallaahu 'alaihi wasallam datang dari jalur yang kedua, sama dari Ibrahim 'alaihissalaam juga (Hajar), Ismail, dari Ismail tidak ada keturunannya nabi, sampai tibanya nabi Muhammad shallallaahu 'alaihi wasallam. Nabi Muhammad shallallaahu 'alaihi wasallam adalah keturunannya Ismail. Apa fanatisme bodohnya orang Yahudi? Mereka (Yahudi) bilang, Muhammad turunannya Ismail, Ismail ibunya Hajar, Hajar ini bekas budaknya Sarah. Mestinya dari turunan Sarah. Kekonyolan. Makanya Allah mengatakan dalam alQuran tentang sifat mereka “Orang-orang Yahudi itu mengenal nabi Muhammad shallallaahu 'alaihi wasallam seperti mereka mengenal anak mereka sendiri”. Mereka tau ini Muhammad, dan beliau adalah seorang nabi. (***Ini dibahas sebagai Muqoddimah agar nantinya kita paham kisah Yahudi di Madinah, kenapa mereka bisa ada di Madinah. Karena kisah yang nantinya akan disampaikan tentang Yahudi, adalah kisah bagaimana mereka pertama kali tiba di jazirah Arab, tepatnya di kota Madinah. Jauh sebelum nabi shallallaahu 'alaihi wasallam lahir, mereka sudah ada di Madinah***).
“Walad Dhoolliiin” (orang yang sesat) yang dimaksud Nashrani, karena mereka mau mendakwahkan agama mereka tapi mereka tidak paham. Pernah disampaikan sebuah hadits yang shohih riwayat Imam Muslim yang berbunyi “Semua nabi-nabi sebelumku (kata nabi Muhammad shallallaahu 'alaihi wasallam) di utus KHUSUS untuk kaumnya, dan aku diutus untuk SELURUH ALAM SEMESTA”. Maksudnya apa? Lokasi dakwah Nabi sebelum nabi shallallaahu 'alaihi wasallam itu khusus untuk kaum-kaumnya saja, termasuk nabi Isa 'alaihissalaam itu khusus untuk bani Israil.
Jadi tidak ada perintah agama Nashrani itu dibawa ke Indonesia, karena memang nabinya khusus untuk bani Israil saja. Nabi-nabi sebelum nabi shallallaahu 'alaihi wasallam itu diutus, kadang-kadang sezaman dengan nabi-nabi yang lain, sebagaimana sudah dijelaskan, nabi Isa sezaman dengan nabi Zakariyya, nabi Yahya. Nabi Musa sezaman dengan Harun, Khidir. Nabi Ibrahim 'alaihissalaam sezaman dengan anaknya Ismail, sezaman dengan nabi Luth, keponakannya. Dan banyak sekali kisah. Tapi nabi Muhammad shallallaahu 'alaihi wasallam tidak, memang beliau sendiri dan beliau diutus untuk semuanya. Nah, orang-orang Nashrani tidak paham kalau agama mereka sebenarnya (nabi Isa) itu untuk bani Israil, bukan untuk disebarkan ke seluruh dunia. Makanya Abdullah ibn Abbas mengatakan dalam tafsirnya “Walad Dholliin”, orang-orang yang sesat. Kenapa sesat? Karena mereka tidak paham, mau menyebarkan agama tapi tidak paham kalau ini bukan agama untuk disebarkan kemana-mana.
Ini kurang lebih gambaran umumnya dulu. Kita tidak bahas Yahudi dan Nasrani secara khusus, tapi disini yang diinginkan adalah kosa katanya, kemudian kita akan masuk ke kisahnya. Kita mulai dulu dari kisah orang Yahudi, bagaimana bisa masuk ke Jazirah Arab. Dan ini cukup panjang, kita akan coba rincikan.
Semua ulama hampir sepakat, dari ahli sejarah, dari Ibnu Atsir, ibnu Katsir dan banyak sekali ahli-ahli sejarah menyebutkan dan hampir semuanya mengangkat kisah ini. Bermula dari kisah seseorang yang bernama Rabi’ah ibn Nashr. Dia adalah salah satu raja di Yaman. Rabiah ibn Nashr ini, pernah satu waktu, dia mimpi melihat keluarganya dikepung dan diserang oleh kelompok orang. Zaman itu, orang mempercayai dukun dan peramal, belum ada iman kepada Allah. Maka apa yang terjadi? Waktu bangun, Rabiah ibn Nashr tanya kepada para dukun dan peramalnya, lalu mereka mengatakan “Makna mimpi Anda, nanti akan ada suku Ahabisy (suku Ahabisy ini suku dari Ethopia, waktu itu memang ada kerajaan besar di Ethopia), itu akan menyerang Yaman dan akan merebut kekuasaan dari Anda serta akan membantai keluarga Anda”. Rabiah bin Nashr ini karena ketakutan, maka ia bertanya “Kira-kira berapa lama kejadian itu?”, peramalnya bilang “Belum jelas. Yang jelas itu nanti akan terjadi.”
Karena khawatir dan dia percaya dengan ramalan (***dalam Islam, tentu kita tidak boleh percaya ramalan, tapi ini sejarah, disampaikan agar paham tentang kisahnya saja, bukan kita diperintahkan untuk mempercayai ramalan dan orang ini bukan orang yang beriman, awalnya***), dia mengutus keluarganya (mayoritasnya, 70-80%) untuk pindah ke wilayah Babilonia (sekarang Irak). Mereka berkuasa di sekitar Irak. (***dan sampai hari ini kebanyakan orang-orang di Irak itu dari keturunannya Rabiah ibn Nashr. Ini asal mula berkembangnya masyarakat yang ada di sekitar Irak. Di antaranya yang masyhur dalam buku-buku sejarah, ada seseorang dari keturunannya nanti yang bernama Nu’man bin Mundzir, seorang raja yang masyhur di wilayah Irak dan itu keturunan dari Rabi’ah ibn Nashr***).
Ringkas ceritanya, berjalanlah kerajaan Rabi’ah ibn Nashr di Yaman, keturunannya juga berkembang di Irak. Dan seterusnya. Setelah beberapa tahun dia (Rabi’ah) meninggal, keturunannya mulai menjadi raja, menjadi raja, menjadi raja, sampai tiba kepada salah satu anak cucu dia yang bernama Tabban As’ad. Tabban As’ad ini yang punya hubungan dengan Yahudi.
Bersambung...
(Sumber: ditranskrip dari ceramah Ust. Dr. Khalid Basalamah hafidzahullaah)
#sirahnabawiyah
Makna Yahudi dan Nasrani
Yahudi, asalnya, diambil dari kata-kata “Huda” yang berarti taubat. Dari mana asal kisahnya? Waktu nabi Musa 'alaihissalaam pergi menerima kitab Taurat di Gunung Thur Sina (tepatnya sekarang di daerah Mesir, wilayah perbatasan Mesir dan Israel, terkenal dengan gunung-gunung batunya yang besar). Nabi musa 'alaihissalaam waktu pergi menerima Taurat disana selama empat puluh hari empat puluh malam (dalam alQuran diceritakan), dia meninggalkan adiknya, nabi Harun 'alaihissalaam, untuk menjaga kaumnya. Tapi nabi Harun 'alaihissalaam bukan figur orang yang seperti Musa (disegani oleh bani Israil).
Diantara bani Israil ini, ada satu orang yang bernama Samiriy. Samiriy ini tokoh masyarakat, orang kaya, salah satu kepala suku, terkenal. Dia melihat bahwasanya Musa lagi tidak ada, dulunya dia sebelum nabi Musa 'alaihissalaam datang, dia ditokohkan. Maka dia ingin kembalikan kejayaan dia dulu. Lalu dia buat patung sapi dari emas karena dia kaya raya lalu dia bilang kepada bani Israil, “Musa juga menyuruh kita menyembah ini, perantara dengan Allah”. Lalu, pengikut bani Israil mengikutinya.. Nabi Harun coba ingatkan, tapi tidak mau diikuti. Lalu mereka sepakat mengatakan “Nanti saja, kalau seandainya Musa kembali kepada kami, baru kami mau tanya Musa, kalau kamu (Harun) kami tidak mau ikuti”.
Empat puluh hari kemudian, nabi Musa kembali. Nabi Musa kaget melihat sudah ada patung, ditaruh api di sekitarnya dan disembah. Nabi Musa langsung kumpulkan bani Israil “Ada apa dengan kalian? Dari mana ini?”. Kisahnya dari Samiriy, mereka semua menunjuk Samiriy. Ditanya Samiriy di depan bani Israil, “Kenapa kau lakukan ini?”. Samiriy menjawab, “Ya, tiba-tiba terlintas di benak saya, saya pikir ini bagian dari wahyu kenabian”. Maka kata nabi Musa 'alaihissalaam, “Sungguh yang kamu buat ini akan kami hancurkan, karena dia adalah perbuatan syirik kepada Allah dan kamu akan kami hukum. Sekarang, keluarlah!”. Samiriy disuruh pergi.
Ringkas ceritanya, setelah dijelaskan oleh nabi Musa ini perbuatan syirik, bani Israil waktu itu merasa bersalah. Mereka bertanya, “Hai Musa, apa yang harus kami lakukan?”. Nabi Musa mengatakan “Harus taubat kepada Allah”. Lalu, mereka (Bani Israil) mengucapkan kalimat dalam alQur’an “Innaa hudna ilaik” (kami BERTAUBAT kepadaMu, ya Allah). Semenjak hari itu, keluarlah istilah YAHUDI. Itu maknanya bagus sebenarnya, orang-orang yang bertaubat. Asalnya begitu. Ini akar kata Yahudi. Siapapun yang mengaku pengikut nabi Musa sampai hari kiamat, dan tidak mau mengimani nabi yang datang setelah Musa (Isa dan Muhammad ‘alaihissholatu wassalam), maka dikatakan Yahudi.
NASRANI
Siapa itu Nasrani? Nabi Isa 'alaihissalaam ketika butuh membentuk pasukan untuk berjihad di jalan Allah, maka nabi Isa (sebagaimana dalam alQuran) mengatakan “Man Anshorii ilallah”, Anshor berarti penolong. Jadi kata-kata Nashara itu diambil dari kata-kata Nashoro Yanshuru artinya memenangkan atau menolong. Akar kata yang baik juga sebenarnya. Karena nabi Isa 'alaihissalaam mengatakan “Siapa yang mau menjadi PENOLONG agamanya Allah?”. Qoolal Hawaariyyuna “Nahnu Anshoorullaah” (Berkatalah Hawaariyyun (sahabat-sahabat nabi Isa 'alaihissalaam), ‘Kami akan menjadi penolong agama Allah’). Keluarlah istilah Nashoro dari situ.
Dari dua kelompok ini, Yahudi dan Nashrani, ini yang disebutkan oleh Abdullah ibn Abbas radhiyallahu ‘anhum dalam tafsir surah Al Fatihah. Abdullah ibn Abbas mengatakan, kalimat yang kita baca di akhir alFatihah “Ghairil Maghdubi ‘alaihim Waladh Dhoolliiiin”, bukan orang-orang yang Engkau murkai, ya Allah, mereka adalah Yahudi. Walad Dhooolliin, bukan orang yang sesat, ya Allah, siapa mereka? Nashrani. Apa sebabnya? Padahal tadi akar katanya bagus, taubat dan penolong Allah, kenapa ibnu Abbas mengatakan begini?
Jawabannya adalah, karena orang-orang Yahudi itu mereka mengenal nabi Muhammad shallallaahu 'alaihi wasallam, tau risalahnya, tapi tidak mau beriman. Alasannya apa? Cuma satu, kebodohan, fanatisme. Mereka bilang apa? Mereka berharap, nabi terakhir nanti yang keluar di jazirah Arab, tepatnya di kota Madinah, itu harusnya dari keturunan bani Israil, berarti dari jalurnya Sarah, anaknya Ishaq, Ya’qub (setelah Ya’qub, datang Yusuf, Musa, Daud, Sulaiman, Isa, namanya nabi-nabi bani Israil). Mereka berharap (dengan pikiran mereka), nabi terakhir setelah Isa nanti, itu akan datang dari bani Israil.
Ternyata nabi Muhammad shallallaahu 'alaihi wasallam datang dari jalur yang kedua, sama dari Ibrahim 'alaihissalaam juga (Hajar), Ismail, dari Ismail tidak ada keturunannya nabi, sampai tibanya nabi Muhammad shallallaahu 'alaihi wasallam. Nabi Muhammad shallallaahu 'alaihi wasallam adalah keturunannya Ismail. Apa fanatisme bodohnya orang Yahudi? Mereka (Yahudi) bilang, Muhammad turunannya Ismail, Ismail ibunya Hajar, Hajar ini bekas budaknya Sarah. Mestinya dari turunan Sarah. Kekonyolan. Makanya Allah mengatakan dalam alQuran tentang sifat mereka “Orang-orang Yahudi itu mengenal nabi Muhammad shallallaahu 'alaihi wasallam seperti mereka mengenal anak mereka sendiri”. Mereka tau ini Muhammad, dan beliau adalah seorang nabi. (***Ini dibahas sebagai Muqoddimah agar nantinya kita paham kisah Yahudi di Madinah, kenapa mereka bisa ada di Madinah. Karena kisah yang nantinya akan disampaikan tentang Yahudi, adalah kisah bagaimana mereka pertama kali tiba di jazirah Arab, tepatnya di kota Madinah. Jauh sebelum nabi shallallaahu 'alaihi wasallam lahir, mereka sudah ada di Madinah***).
“Walad Dhoolliiin” (orang yang sesat) yang dimaksud Nashrani, karena mereka mau mendakwahkan agama mereka tapi mereka tidak paham. Pernah disampaikan sebuah hadits yang shohih riwayat Imam Muslim yang berbunyi “Semua nabi-nabi sebelumku (kata nabi Muhammad shallallaahu 'alaihi wasallam) di utus KHUSUS untuk kaumnya, dan aku diutus untuk SELURUH ALAM SEMESTA”. Maksudnya apa? Lokasi dakwah Nabi sebelum nabi shallallaahu 'alaihi wasallam itu khusus untuk kaum-kaumnya saja, termasuk nabi Isa 'alaihissalaam itu khusus untuk bani Israil.
Jadi tidak ada perintah agama Nashrani itu dibawa ke Indonesia, karena memang nabinya khusus untuk bani Israil saja. Nabi-nabi sebelum nabi shallallaahu 'alaihi wasallam itu diutus, kadang-kadang sezaman dengan nabi-nabi yang lain, sebagaimana sudah dijelaskan, nabi Isa sezaman dengan nabi Zakariyya, nabi Yahya. Nabi Musa sezaman dengan Harun, Khidir. Nabi Ibrahim 'alaihissalaam sezaman dengan anaknya Ismail, sezaman dengan nabi Luth, keponakannya. Dan banyak sekali kisah. Tapi nabi Muhammad shallallaahu 'alaihi wasallam tidak, memang beliau sendiri dan beliau diutus untuk semuanya. Nah, orang-orang Nashrani tidak paham kalau agama mereka sebenarnya (nabi Isa) itu untuk bani Israil, bukan untuk disebarkan ke seluruh dunia. Makanya Abdullah ibn Abbas mengatakan dalam tafsirnya “Walad Dholliin”, orang-orang yang sesat. Kenapa sesat? Karena mereka tidak paham, mau menyebarkan agama tapi tidak paham kalau ini bukan agama untuk disebarkan kemana-mana.
Ini kurang lebih gambaran umumnya dulu. Kita tidak bahas Yahudi dan Nasrani secara khusus, tapi disini yang diinginkan adalah kosa katanya, kemudian kita akan masuk ke kisahnya. Kita mulai dulu dari kisah orang Yahudi, bagaimana bisa masuk ke Jazirah Arab. Dan ini cukup panjang, kita akan coba rincikan.
Semua ulama hampir sepakat, dari ahli sejarah, dari Ibnu Atsir, ibnu Katsir dan banyak sekali ahli-ahli sejarah menyebutkan dan hampir semuanya mengangkat kisah ini. Bermula dari kisah seseorang yang bernama Rabi’ah ibn Nashr. Dia adalah salah satu raja di Yaman. Rabiah ibn Nashr ini, pernah satu waktu, dia mimpi melihat keluarganya dikepung dan diserang oleh kelompok orang. Zaman itu, orang mempercayai dukun dan peramal, belum ada iman kepada Allah. Maka apa yang terjadi? Waktu bangun, Rabiah ibn Nashr tanya kepada para dukun dan peramalnya, lalu mereka mengatakan “Makna mimpi Anda, nanti akan ada suku Ahabisy (suku Ahabisy ini suku dari Ethopia, waktu itu memang ada kerajaan besar di Ethopia), itu akan menyerang Yaman dan akan merebut kekuasaan dari Anda serta akan membantai keluarga Anda”. Rabiah bin Nashr ini karena ketakutan, maka ia bertanya “Kira-kira berapa lama kejadian itu?”, peramalnya bilang “Belum jelas. Yang jelas itu nanti akan terjadi.”
Karena khawatir dan dia percaya dengan ramalan (***dalam Islam, tentu kita tidak boleh percaya ramalan, tapi ini sejarah, disampaikan agar paham tentang kisahnya saja, bukan kita diperintahkan untuk mempercayai ramalan dan orang ini bukan orang yang beriman, awalnya***), dia mengutus keluarganya (mayoritasnya, 70-80%) untuk pindah ke wilayah Babilonia (sekarang Irak). Mereka berkuasa di sekitar Irak. (***dan sampai hari ini kebanyakan orang-orang di Irak itu dari keturunannya Rabiah ibn Nashr. Ini asal mula berkembangnya masyarakat yang ada di sekitar Irak. Di antaranya yang masyhur dalam buku-buku sejarah, ada seseorang dari keturunannya nanti yang bernama Nu’man bin Mundzir, seorang raja yang masyhur di wilayah Irak dan itu keturunan dari Rabi’ah ibn Nashr***).
Ringkas ceritanya, berjalanlah kerajaan Rabi’ah ibn Nashr di Yaman, keturunannya juga berkembang di Irak. Dan seterusnya. Setelah beberapa tahun dia (Rabi’ah) meninggal, keturunannya mulai menjadi raja, menjadi raja, menjadi raja, sampai tiba kepada salah satu anak cucu dia yang bernama Tabban As’ad. Tabban As’ad ini yang punya hubungan dengan Yahudi.
Bersambung...
(Sumber: ditranskrip dari ceramah Ust. Dr. Khalid Basalamah hafidzahullaah)
#sirahnabawiyah
SIRAH NABAWIYAH (8)
Ketika Mekkah Dikuasai oleh Orang-orang Zalim
Dan yang paling luar biasa, ini kata para ahli sejarah menunjukkan memang di zaman itu wajar dikatakan zaman Jahiliyah, ada dua patung yang bernama Isaf dan Naaila. Isaf dan Naaila ini punya kisah tersendiri.
Isaf ini nama seorang laki-laki dan Naaila nama seorang perempuan. Dulunya, sebelum zaman Amru bin Luhay, jauh sebelumnya, Isaf dan Naaila ini saling suka ceritanya, kemudian Isaf melamar Naaila dari orang tuanya, orang tuanya Naaila nolak, tidak diterima.
Zaman itu, caranya orang kalau ingin ketemu lebih mudah, janjian di musim haji. Jadi di musim haji mereka kumpul di Mekkah semuanya, maka Isaf dan Naaila janjian dari Yaman ketemu di Mekkah. Mereka niatnya mau pergi haji. Setelah itu, mereka lalai di depan Ka’bah di malam hari. (bukan seperti sekarang, 24 jam ada orang tawaf. Dulu kalau malam, di zaman itu, jika sudah terbenam matahari Ka'bah sudah kosong).
Lalu dia berhubungan biologis atau berzina dengan Naaila. Jadi, Isaf dan Naaila berzina di depan Ka’bah. Sudah zina dosa besar, depan Ka’bah lagi. Apa yang terjadi? Allah KUTUK mereka menjadi batu. Semua ahli sejarah mengangkat kisah ini.
Keesokan harinya, masyarakat Mekkah dikagetkan. Akhirnya mereka mengambil sebagai ibroh, Patung Isaf yang dikutuk tadi ditaruh oleh masyarakat Mekkah di gunung Shafa kemudian Naaila itu ditaruh patungnya di Marwah, agar setiap kali orang sa’i (yang pergi haji atau umrah) itu melihat, oh ternyata ini, hati-hati kalau berbuat dosa di depan Ka’bah, Allah bisa kutuk langsung.
Pada zaman Amru bin Luhay, orang sudah banyak lupa kisahnya Isaf dan Naaila (karena kejadiannya jauh sebelumnya). Lalu, Amru bin Luhay mengeluarkan keputusan agar patungnya (Isaf dan Naaila) dibawa dekat Ka’bah lalu disembah. Ini satu keanehan. Orang yang dikutuk karena berzina, disembah oleh mereka.
Ada sebuah kisah berhubungan dengan masalah penyembahan berhala dan kejahilan ini. Riwayat shohih menjelaskan tentang kisah Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu. Di zaman khilafahnya Umar bin Khattab radhiyallaahu ‘anhu, itu beliau kadang-kadang tiba-tiba menangis, kadang-kadang beliau tiba-tiba tertawa. Tapi teman-temannya ini tidak ada yang berani nanya. Satu waktu ada yang berani menanyakan mengatakan“Hai Amirul Mukminin (pemimpin orang-orang beriman), kenapa kadang-kadang Anda nangis, kadang-kadang Anda ketawa, apa sebabnya, bisa kami tau gak?”
Lalu Umar berkata “Dulu kami di zaman jahiliyah, ada sebuah doktrin/pemahaman di tengah masyarakat Mekkah, yaitu kalau ada anak perempuan berarti Aib buatnya. Akhirnya kami membenci sekali anak perempuan. Setiap kali ada anak perempuan, kami bunuh. Yang hidup paling dua atau tiga orang untuk melanjutkan generasi. Selebihnya tidak.”
Umar mengatakan, “Suatu hari pernah saya mendapat informasi/berita tentang lahirnya anak perempuan saya. Saya sayang (pada anaknya) tapi tekanan-tekanan dari masyarakat menganggap itu aib, berat sekali. Dan saya sabar sampai umur anak itu 6 tahun. Setelah itu, lalu saya membawanya ke padang pasir, saya gali dan saya tanam dia hidup-hidup, maka saya sedih kenapa itu terjadi”. Itu zaman jahiliyah, tidak ada hisabnya. Allah subhanahu wata'ala tidak akan menyalahkan itu karena Umar sudah masuk Islam tentunya dan akhirnya sebagaimana dalam hadits nabi shallallaahu 'alaihi wasallam, kalau orang masuk Islam, maka perilaku dia yang lalu diubah menjadi pahala.
Lanjutannya, ditanya lagi, “Lalu kenapa Anda tertawa?”,
Ini berhubungan dengan apa yang Amru bin Luhay sudah lakukan, itu bekasnya sampai ke sahabat-sahabat sebelum mereka masuk Islam. Ia mengubah semua (mayoritas) ajaran nabi Ibrahim dan berubah di tangannya dia (Amru bin Luhay).
Dia (Umar) bilang, “Di zaman jahiliyah juga dulu, ada keputusan di Mekkah [tapi tidak disebutkan dari Amru bin Luhay], keyakinan masyarakat Mekkah bahwasanya semua masyarakat Mekkah wajib menyembah berhala/patung, termasuk kalau mereka keluar dari Mekkah itu mereka harus/wajib membawa patung dari Mekkah.” Disini memang, Amru bin Luhay pernah mengeluarkan keputusan di zamannya, setelah menyuruh seluruh suku punya patung di tempat pemukiman mereka, lalu keputusan setelahnya, semua masyarakat Mekkah dan jamaah haji yang datang itu wajib punya patung, tapi patung itu buatan orang Mekkah. Apa efeknya? Membuat seluruh masyarakat Mekkah buat patung, karena bisnis, dijual kepada jemaah haji dan orang pada beli. Dianggap itu patung, berkah dari Mekkah dan inilah yang harus disembah.
Umar bin Khattab lalu mengatakan, “Saya dulu pernah satu waktu keluar ingin mengadakan perjalanan (safar). Apa yang terjadi? Saya lupa bawa patung dari Mekkah.” Ini sebabnya Umar tertawa.
Dia bilang, “Setelah di tengah jalan, saya ingin menyembah tuhan saya, saya ingin meminta pertolongan, ingin keselamatan, saya lupa bawa batu. Di padang pasir gak ada batu. Tiba-tiba saya liat, saya punya bekal, karena kan syaratnya harus dari Mekkah, saya liat tidak ada dari Mekkah kecuali bekal makanan saya (ada kurma). Lalu saya buat patung dari kurma, lalu saya sembah patung itu. Setelah selesai saya sembah, saya lapar. Lalu saya potong kepala tuhan saya dan saya makan.”
Bisa dibayangkan bagaimana jahilnya orang pada saat itu. Bagaimana mereka tidak menyadari bahwasanya itu adalah makhluk-makhluk Allah juga. Tapi kalau kita mau lihat, zaman sekarang dengan teknologi canggih pun masih ada orang yang jahil bahkan lebih jahil daripada itu. Pergi kuburan minta-minta; menganggap keris bisa keramat, memberikan keselamatan; tanduk sapi; jimat-jimat; beragam macam, ini semua sama.
Menggantungkan nasib dengan benda-benda, itu juga makhluk Allah. Kita harusnya minta langsung pada Allah. Gak boleh kita bergantung terutama pada benda-benda mati. Kalau itu manusia masih hidup, orang sholeh, Anda bilang tolong doakan saya, gak masalah kalau dia masih hidup. Tapi kalau sudah mati? Sampai para ulama Salaf menukil dalam buku-buku Aqidah “Saya heran melihat orang yang datang ke kuburan yang dianggap itu orang ‘alim, minta kepada kuburan tersebut padahal kuburannya makhluknya Allah, di dalamnya juga manusia itu makhluk Allah, dan sudah jadi tulang, gak bisa memberikan apa-apa. Kalau Anda yakin kuburan itu bisa memberikan manfaat; pohon, keris, jimat dan segalanya, maka Tuhannya itu semua lebih mampu.”
Minta kepada Allah subhanahu wata'ala, bukan minta kepada makhluk tersebut. Kita boleh menggunakan mereka sebagai fasilitas saja, untuk kehidupan, kebutuhan dan segalanya, sifatnya bukan hak ilahiyah, tapi kalau sudah sampai hak ilahiyah, itu tidak boleh lagi. Memberikan kesembuhan, memberikan keselamatan, menghidupkan, mematikan, menyelamatkan dari musibah, itu semua tidak boleh sama sekali. Mutlak. Dan inilah yang membuat orang-orang kafir di Mekkah atau orang-orang Mekkah di cap oleh Allah sebagai orang Musyrik.
Yang kedua, yang Amru bin Luhay lakukan (mengubah ajaran nabi Ibrahim 'alaihissalaam) adalah mengubah talbiyah. Talbiyah haji itu ditambahkan oleh dia. Talbiyah yang masyhur dari zaman nabi Ibrahim 'alaihissalaam dan akhirnya menjadi syariat nabi Muhammad shallallaahu 'alaihi wasallam adalah yang kita sudah hafal sama-sama, “Labbaikallaahumma labbaik”.
Kata-kata Labbaik ini berarti saya menjawab panggilanmu ya Allah dengan sopan (anjuran yang sangat ditekankan, untuk mengajarkan kepada anak-anak, kalau kita panggil namanya misalnya, biarkan mereka mengatakan ‘Labbaik’ karena kata-kata Labbaik itu sebenarnya bagus sekali, artinya saya menjawab panggilan Anda dengan sopan dan santun), makanya kita mengatakan “Labbaik Allahumma” (saya menjawab panggilanmu, ya Allah), “Labbaik” (benar-benar saya patuh dan siap untuk diperintah). “Labbaika Laa Syariika laka Labbaik” (saya menjawab panggilanmu, ya Allah, dengan tunduk, dengan patuh, tidak ada sekutu bagiMu dan saya pasti datang untuk menjawab panggilanmu). “Innal Hamda wan Ni’mata” (sesungguhnya puji-pujian dan ni’mat), “Laka” (milikmu), “Wal Mulk” (juga kerajaan), “Laa Syariikalak” (tidak ada sekutu bagiMu). Tidak ada yang boleh disamakan denganNya, apapun sifatnya, dari makhluk, tidak boleh sama dengan Allah, atau dipartisipasikan dengan Allah, itulah namanya musyrik.
Apa yang terjadi? Amru bin Luhay, karena dia ingin membenarkan perilakunya mendatangkan patung dan patung disuruh jadi perantara dengan Allah maka dia menambah, setelah “Laa Syariikalak”, dia tambah “Illaa syariikan huwa lak, tamlikuhu wa maa malak”. Artinya “Illa syariikan huwa lak” (kecuali sekutu, ya Allah, milikmu), “tamlikuhu” (yang engkau kuasai), “wa maa malak” (dan apapun yang ia miliki). Kalimat ini secara dzohir biasa, tapi mengandung kalimat syirik, artinya boleh berbuat syirik, gak masalah, ada manusia kita anggap bagus, dia berkuasa, punya kelebihan, kita boleh partisipasikan dengan Allah, yang penting kita yakini dia adalah makhluknya Allah. TIDAK BISA. Allah MUTLAK tidak boleh dipartisipasikan, tidak boleh musyaarokah, tidak boleh syirik (mempartisipasikan Allah dengan makhluknya).
Yang ketiga adalah, yang terjadi juga, akhirnya menjadi sebuah syariat di Mekkah: Pensakralan hewan-hewan tertentu yang disebutkan dengan istilah dalam alquran “Bahiiroh, Saaibah, Wasiilah dan Ham”, nanti disebutkan ayatnya dan insya Allah tidak aneh-aneh bagi Anda, karena ini, awalnya saja kalau baru dengar mungkin kaget, tapi kalau kita sudah baca ayat dan terjemahannya, Anda akan paham nanti apa itu Bahiroh, apa itu Saaibah, apa itu Wasiilah dan apa itu Ham. Amru bin Luhay mensyariatkan bagi masyarakat Mekkah, setelah mulai orang patuh sama dia, sembah berhala, lalu dia bilang “Kita harus mensakralkan hewan tertentu”.
Kita baca ayatnya, Allah ‘azza wa jalla menceritakan kasusnya dalam surah Al-Maidah (5) : 103.
“Allah sekali-sekali tidak pernah mensyariatkan Bahiroh”, apa itu Bahiroh? Itu tadi, ajarannya Amru bin Luhay, Bahiroh adalah unta betina yang telah beranak lima kali dan anak kelimanya itu jantan. Lalu unta betina itu dibelah telinganya dan dilepaskan, tidak boleh ditunggangi lagi, tidak boleh diambil air susunya, tidak boleh ada yang ganggu, disakralkan. Ini namanya Bahiroh.
Juga “Saaibah”. Saaibah itu adalah unta betina yang dibiarkan pergi kemana saja karena sesuatu nazar. Jadi kalau masyarakat Mekkah misalnya, dia mau mengadakan perjalanan, dia bilang “Kalau saya selamat/berhasil, maka unta betina saya ini saya jadikan Saaibah”. Saaibah itu artinya dibiarkan, disakralkan, tidak boleh ada yang ganggu, tidak boleh ditunggangi, jadi biar sampai mati unta itu.
Juga “Wasiilah”, Allah tidak pernah mensyariatkan “Wasiilah”. Apa itu Wasiilah? Seekor domba betina yang melahirkan anak kembar dan terdiri dari jantan dan betina, maka yang jantan itu disebut Wasiilah, tidak boleh disembelih tapi khusus diserahkan untuk berhala.
Allah juga tidak pernah memerintahkan “Ham”. Apa itu Ham? Unta jantan yang tidak boleh diganggu gugat karena dia telah membuntingkan unta betina sepuluh kali.
Kejahilan, tidak ada sama sekali hubungannya. Lalu apa kata Allah? “Akan tetapi orang-orang kafir itu membuat-buat kedustaan terhadap Allah dan kebanyakan mereka tidak mengerti”. Lama-lama, karena Amru bin Luhay yang terapkan, ada sebagian masyarakat Mekkah yang bilang, oh mungkin ini hukumnya Allah. Maka Allah bantah dalam ayat ini.
Perilaku yang sangat buruk yang juga dilakukan oleh Amru bin Luhay adalah mengatakan orang kalau tawaf di Ka’bah itu tidak boleh menggunakan baju kecuali baju dari Mekkah. Sehingga masyarakat yang datang dari luar Mekkah, yang tidak punya uang, maka tawafnya telanjang. Sampai pembebasan kota Mekkah tahun 8 Hijriah, itu di Mekkah masih tawaf telanjang. Dan itu jelas sekali mereka lakukan itu.
Makanya dalam riwayat yang shohih, nabi shallallaahu 'alaihi wasallam waktu membebaskan kota Mekkah, menghancurkan berhala-berhala, melarang orang musyrik menginjak Mekkah tahun itu, dan juga melarang tawaf sambil telanjang. Karena memang mereka lakukan itu, karena baju-baju yang dipakai tawaf dijual mahal di Mekkah, maka hanya orang mampu saja yang beli. Kemudian mereka pelan-pelan terubah juga talbiyahnya, yang tadinya mengucapkan talbiyah, awal mau masuk Ka’bah mereka talbiyah, akhirnya begitu mulai tawaf mereka bingung mau baca apa. Lalu dalam AlQur’an dikatakan, “Muka aw wa Tasdiyah” (mereka bersiul dan menepuk tangan). Berubah semuanya. Ini perilaku-perilaku yang dibuat oleh Amru bin Luhay.
Akhirnya, sesuai dengan sabda nabi shallallaahu 'alaihi wasallam tadi yang menceritakan bagaimana dia disiksa di api neraka karena perilakunya tadi.
Inilah kisah, bagaimana keadaan Mekkah masyarakat awalnya, darimana asal muasal mereka, penduduk pertamanya, bagaimana keadaan agama Ibrahim 'alaihissalaam, lalu bagaimana berubah agama nabi Ibrahim 'alaihissalaam di Mekkah.
Biidznillah, nanti kita akan masuk sebuah sub judul yang lain yang berjudul “Kisah masuknya agama Yahudi dan Nasrani di Jazirah Arab”. Ini masih jauh dari lahirnya nabi, kita belum bahas. Kita juga akan bahas tentang kisah Madinah, kemudian juga akan kita singgung sedikit masalah Mekkah, bagaimana rentetan sejarah sebelum nabi shallallaahu 'alaihi wasallam lahir dan hijrah kesana kemudian bagaimana bisa ada orang Arab tapi agamanya Nasrani, kok bisa?
Awalnya orang Arab menyembah Allah subhanahu wata'ala, mengikuti ajaran nabi Ibrahim, kalaupun yang ada di Mekkah mereka sembah berhala, tapi ternyata, sampai hari ini pun ada yang beragama nasrani ada yang beragama Yahudi. Darimana asalnya bisa agama Nasrani dan Yahudi masuk ke Jazirah Arab?
Bersambung...
(Sumber: ditranskrip dari ceramah Ust. Dr. Khalid Basalamah hafidzahullaah)
#sirah nabawiyah
Dan yang paling luar biasa, ini kata para ahli sejarah menunjukkan memang di zaman itu wajar dikatakan zaman Jahiliyah, ada dua patung yang bernama Isaf dan Naaila. Isaf dan Naaila ini punya kisah tersendiri.
Isaf ini nama seorang laki-laki dan Naaila nama seorang perempuan. Dulunya, sebelum zaman Amru bin Luhay, jauh sebelumnya, Isaf dan Naaila ini saling suka ceritanya, kemudian Isaf melamar Naaila dari orang tuanya, orang tuanya Naaila nolak, tidak diterima.
Zaman itu, caranya orang kalau ingin ketemu lebih mudah, janjian di musim haji. Jadi di musim haji mereka kumpul di Mekkah semuanya, maka Isaf dan Naaila janjian dari Yaman ketemu di Mekkah. Mereka niatnya mau pergi haji. Setelah itu, mereka lalai di depan Ka’bah di malam hari. (bukan seperti sekarang, 24 jam ada orang tawaf. Dulu kalau malam, di zaman itu, jika sudah terbenam matahari Ka'bah sudah kosong).
Lalu dia berhubungan biologis atau berzina dengan Naaila. Jadi, Isaf dan Naaila berzina di depan Ka’bah. Sudah zina dosa besar, depan Ka’bah lagi. Apa yang terjadi? Allah KUTUK mereka menjadi batu. Semua ahli sejarah mengangkat kisah ini.
Keesokan harinya, masyarakat Mekkah dikagetkan. Akhirnya mereka mengambil sebagai ibroh, Patung Isaf yang dikutuk tadi ditaruh oleh masyarakat Mekkah di gunung Shafa kemudian Naaila itu ditaruh patungnya di Marwah, agar setiap kali orang sa’i (yang pergi haji atau umrah) itu melihat, oh ternyata ini, hati-hati kalau berbuat dosa di depan Ka’bah, Allah bisa kutuk langsung.
Pada zaman Amru bin Luhay, orang sudah banyak lupa kisahnya Isaf dan Naaila (karena kejadiannya jauh sebelumnya). Lalu, Amru bin Luhay mengeluarkan keputusan agar patungnya (Isaf dan Naaila) dibawa dekat Ka’bah lalu disembah. Ini satu keanehan. Orang yang dikutuk karena berzina, disembah oleh mereka.
Ada sebuah kisah berhubungan dengan masalah penyembahan berhala dan kejahilan ini. Riwayat shohih menjelaskan tentang kisah Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu. Di zaman khilafahnya Umar bin Khattab radhiyallaahu ‘anhu, itu beliau kadang-kadang tiba-tiba menangis, kadang-kadang beliau tiba-tiba tertawa. Tapi teman-temannya ini tidak ada yang berani nanya. Satu waktu ada yang berani menanyakan mengatakan“Hai Amirul Mukminin (pemimpin orang-orang beriman), kenapa kadang-kadang Anda nangis, kadang-kadang Anda ketawa, apa sebabnya, bisa kami tau gak?”
Lalu Umar berkata “Dulu kami di zaman jahiliyah, ada sebuah doktrin/pemahaman di tengah masyarakat Mekkah, yaitu kalau ada anak perempuan berarti Aib buatnya. Akhirnya kami membenci sekali anak perempuan. Setiap kali ada anak perempuan, kami bunuh. Yang hidup paling dua atau tiga orang untuk melanjutkan generasi. Selebihnya tidak.”
Umar mengatakan, “Suatu hari pernah saya mendapat informasi/berita tentang lahirnya anak perempuan saya. Saya sayang (pada anaknya) tapi tekanan-tekanan dari masyarakat menganggap itu aib, berat sekali. Dan saya sabar sampai umur anak itu 6 tahun. Setelah itu, lalu saya membawanya ke padang pasir, saya gali dan saya tanam dia hidup-hidup, maka saya sedih kenapa itu terjadi”. Itu zaman jahiliyah, tidak ada hisabnya. Allah subhanahu wata'ala tidak akan menyalahkan itu karena Umar sudah masuk Islam tentunya dan akhirnya sebagaimana dalam hadits nabi shallallaahu 'alaihi wasallam, kalau orang masuk Islam, maka perilaku dia yang lalu diubah menjadi pahala.
Lanjutannya, ditanya lagi, “Lalu kenapa Anda tertawa?”,
Ini berhubungan dengan apa yang Amru bin Luhay sudah lakukan, itu bekasnya sampai ke sahabat-sahabat sebelum mereka masuk Islam. Ia mengubah semua (mayoritas) ajaran nabi Ibrahim dan berubah di tangannya dia (Amru bin Luhay).
Dia (Umar) bilang, “Di zaman jahiliyah juga dulu, ada keputusan di Mekkah [tapi tidak disebutkan dari Amru bin Luhay], keyakinan masyarakat Mekkah bahwasanya semua masyarakat Mekkah wajib menyembah berhala/patung, termasuk kalau mereka keluar dari Mekkah itu mereka harus/wajib membawa patung dari Mekkah.” Disini memang, Amru bin Luhay pernah mengeluarkan keputusan di zamannya, setelah menyuruh seluruh suku punya patung di tempat pemukiman mereka, lalu keputusan setelahnya, semua masyarakat Mekkah dan jamaah haji yang datang itu wajib punya patung, tapi patung itu buatan orang Mekkah. Apa efeknya? Membuat seluruh masyarakat Mekkah buat patung, karena bisnis, dijual kepada jemaah haji dan orang pada beli. Dianggap itu patung, berkah dari Mekkah dan inilah yang harus disembah.
Umar bin Khattab lalu mengatakan, “Saya dulu pernah satu waktu keluar ingin mengadakan perjalanan (safar). Apa yang terjadi? Saya lupa bawa patung dari Mekkah.” Ini sebabnya Umar tertawa.
Dia bilang, “Setelah di tengah jalan, saya ingin menyembah tuhan saya, saya ingin meminta pertolongan, ingin keselamatan, saya lupa bawa batu. Di padang pasir gak ada batu. Tiba-tiba saya liat, saya punya bekal, karena kan syaratnya harus dari Mekkah, saya liat tidak ada dari Mekkah kecuali bekal makanan saya (ada kurma). Lalu saya buat patung dari kurma, lalu saya sembah patung itu. Setelah selesai saya sembah, saya lapar. Lalu saya potong kepala tuhan saya dan saya makan.”
Bisa dibayangkan bagaimana jahilnya orang pada saat itu. Bagaimana mereka tidak menyadari bahwasanya itu adalah makhluk-makhluk Allah juga. Tapi kalau kita mau lihat, zaman sekarang dengan teknologi canggih pun masih ada orang yang jahil bahkan lebih jahil daripada itu. Pergi kuburan minta-minta; menganggap keris bisa keramat, memberikan keselamatan; tanduk sapi; jimat-jimat; beragam macam, ini semua sama.
Menggantungkan nasib dengan benda-benda, itu juga makhluk Allah. Kita harusnya minta langsung pada Allah. Gak boleh kita bergantung terutama pada benda-benda mati. Kalau itu manusia masih hidup, orang sholeh, Anda bilang tolong doakan saya, gak masalah kalau dia masih hidup. Tapi kalau sudah mati? Sampai para ulama Salaf menukil dalam buku-buku Aqidah “Saya heran melihat orang yang datang ke kuburan yang dianggap itu orang ‘alim, minta kepada kuburan tersebut padahal kuburannya makhluknya Allah, di dalamnya juga manusia itu makhluk Allah, dan sudah jadi tulang, gak bisa memberikan apa-apa. Kalau Anda yakin kuburan itu bisa memberikan manfaat; pohon, keris, jimat dan segalanya, maka Tuhannya itu semua lebih mampu.”
Minta kepada Allah subhanahu wata'ala, bukan minta kepada makhluk tersebut. Kita boleh menggunakan mereka sebagai fasilitas saja, untuk kehidupan, kebutuhan dan segalanya, sifatnya bukan hak ilahiyah, tapi kalau sudah sampai hak ilahiyah, itu tidak boleh lagi. Memberikan kesembuhan, memberikan keselamatan, menghidupkan, mematikan, menyelamatkan dari musibah, itu semua tidak boleh sama sekali. Mutlak. Dan inilah yang membuat orang-orang kafir di Mekkah atau orang-orang Mekkah di cap oleh Allah sebagai orang Musyrik.
Yang kedua, yang Amru bin Luhay lakukan (mengubah ajaran nabi Ibrahim 'alaihissalaam) adalah mengubah talbiyah. Talbiyah haji itu ditambahkan oleh dia. Talbiyah yang masyhur dari zaman nabi Ibrahim 'alaihissalaam dan akhirnya menjadi syariat nabi Muhammad shallallaahu 'alaihi wasallam adalah yang kita sudah hafal sama-sama, “Labbaikallaahumma labbaik”.
Kata-kata Labbaik ini berarti saya menjawab panggilanmu ya Allah dengan sopan (anjuran yang sangat ditekankan, untuk mengajarkan kepada anak-anak, kalau kita panggil namanya misalnya, biarkan mereka mengatakan ‘Labbaik’ karena kata-kata Labbaik itu sebenarnya bagus sekali, artinya saya menjawab panggilan Anda dengan sopan dan santun), makanya kita mengatakan “Labbaik Allahumma” (saya menjawab panggilanmu, ya Allah), “Labbaik” (benar-benar saya patuh dan siap untuk diperintah). “Labbaika Laa Syariika laka Labbaik” (saya menjawab panggilanmu, ya Allah, dengan tunduk, dengan patuh, tidak ada sekutu bagiMu dan saya pasti datang untuk menjawab panggilanmu). “Innal Hamda wan Ni’mata” (sesungguhnya puji-pujian dan ni’mat), “Laka” (milikmu), “Wal Mulk” (juga kerajaan), “Laa Syariikalak” (tidak ada sekutu bagiMu). Tidak ada yang boleh disamakan denganNya, apapun sifatnya, dari makhluk, tidak boleh sama dengan Allah, atau dipartisipasikan dengan Allah, itulah namanya musyrik.
Apa yang terjadi? Amru bin Luhay, karena dia ingin membenarkan perilakunya mendatangkan patung dan patung disuruh jadi perantara dengan Allah maka dia menambah, setelah “Laa Syariikalak”, dia tambah “Illaa syariikan huwa lak, tamlikuhu wa maa malak”. Artinya “Illa syariikan huwa lak” (kecuali sekutu, ya Allah, milikmu), “tamlikuhu” (yang engkau kuasai), “wa maa malak” (dan apapun yang ia miliki). Kalimat ini secara dzohir biasa, tapi mengandung kalimat syirik, artinya boleh berbuat syirik, gak masalah, ada manusia kita anggap bagus, dia berkuasa, punya kelebihan, kita boleh partisipasikan dengan Allah, yang penting kita yakini dia adalah makhluknya Allah. TIDAK BISA. Allah MUTLAK tidak boleh dipartisipasikan, tidak boleh musyaarokah, tidak boleh syirik (mempartisipasikan Allah dengan makhluknya).
Yang ketiga adalah, yang terjadi juga, akhirnya menjadi sebuah syariat di Mekkah: Pensakralan hewan-hewan tertentu yang disebutkan dengan istilah dalam alquran “Bahiiroh, Saaibah, Wasiilah dan Ham”, nanti disebutkan ayatnya dan insya Allah tidak aneh-aneh bagi Anda, karena ini, awalnya saja kalau baru dengar mungkin kaget, tapi kalau kita sudah baca ayat dan terjemahannya, Anda akan paham nanti apa itu Bahiroh, apa itu Saaibah, apa itu Wasiilah dan apa itu Ham. Amru bin Luhay mensyariatkan bagi masyarakat Mekkah, setelah mulai orang patuh sama dia, sembah berhala, lalu dia bilang “Kita harus mensakralkan hewan tertentu”.
Kita baca ayatnya, Allah ‘azza wa jalla menceritakan kasusnya dalam surah Al-Maidah (5) : 103.
“Allah sekali-sekali tidak pernah mensyariatkan Bahiroh”, apa itu Bahiroh? Itu tadi, ajarannya Amru bin Luhay, Bahiroh adalah unta betina yang telah beranak lima kali dan anak kelimanya itu jantan. Lalu unta betina itu dibelah telinganya dan dilepaskan, tidak boleh ditunggangi lagi, tidak boleh diambil air susunya, tidak boleh ada yang ganggu, disakralkan. Ini namanya Bahiroh.
Juga “Saaibah”. Saaibah itu adalah unta betina yang dibiarkan pergi kemana saja karena sesuatu nazar. Jadi kalau masyarakat Mekkah misalnya, dia mau mengadakan perjalanan, dia bilang “Kalau saya selamat/berhasil, maka unta betina saya ini saya jadikan Saaibah”. Saaibah itu artinya dibiarkan, disakralkan, tidak boleh ada yang ganggu, tidak boleh ditunggangi, jadi biar sampai mati unta itu.
Juga “Wasiilah”, Allah tidak pernah mensyariatkan “Wasiilah”. Apa itu Wasiilah? Seekor domba betina yang melahirkan anak kembar dan terdiri dari jantan dan betina, maka yang jantan itu disebut Wasiilah, tidak boleh disembelih tapi khusus diserahkan untuk berhala.
Allah juga tidak pernah memerintahkan “Ham”. Apa itu Ham? Unta jantan yang tidak boleh diganggu gugat karena dia telah membuntingkan unta betina sepuluh kali.
Kejahilan, tidak ada sama sekali hubungannya. Lalu apa kata Allah? “Akan tetapi orang-orang kafir itu membuat-buat kedustaan terhadap Allah dan kebanyakan mereka tidak mengerti”. Lama-lama, karena Amru bin Luhay yang terapkan, ada sebagian masyarakat Mekkah yang bilang, oh mungkin ini hukumnya Allah. Maka Allah bantah dalam ayat ini.
Perilaku yang sangat buruk yang juga dilakukan oleh Amru bin Luhay adalah mengatakan orang kalau tawaf di Ka’bah itu tidak boleh menggunakan baju kecuali baju dari Mekkah. Sehingga masyarakat yang datang dari luar Mekkah, yang tidak punya uang, maka tawafnya telanjang. Sampai pembebasan kota Mekkah tahun 8 Hijriah, itu di Mekkah masih tawaf telanjang. Dan itu jelas sekali mereka lakukan itu.
Makanya dalam riwayat yang shohih, nabi shallallaahu 'alaihi wasallam waktu membebaskan kota Mekkah, menghancurkan berhala-berhala, melarang orang musyrik menginjak Mekkah tahun itu, dan juga melarang tawaf sambil telanjang. Karena memang mereka lakukan itu, karena baju-baju yang dipakai tawaf dijual mahal di Mekkah, maka hanya orang mampu saja yang beli. Kemudian mereka pelan-pelan terubah juga talbiyahnya, yang tadinya mengucapkan talbiyah, awal mau masuk Ka’bah mereka talbiyah, akhirnya begitu mulai tawaf mereka bingung mau baca apa. Lalu dalam AlQur’an dikatakan, “Muka aw wa Tasdiyah” (mereka bersiul dan menepuk tangan). Berubah semuanya. Ini perilaku-perilaku yang dibuat oleh Amru bin Luhay.
Akhirnya, sesuai dengan sabda nabi shallallaahu 'alaihi wasallam tadi yang menceritakan bagaimana dia disiksa di api neraka karena perilakunya tadi.
Inilah kisah, bagaimana keadaan Mekkah masyarakat awalnya, darimana asal muasal mereka, penduduk pertamanya, bagaimana keadaan agama Ibrahim 'alaihissalaam, lalu bagaimana berubah agama nabi Ibrahim 'alaihissalaam di Mekkah.
Biidznillah, nanti kita akan masuk sebuah sub judul yang lain yang berjudul “Kisah masuknya agama Yahudi dan Nasrani di Jazirah Arab”. Ini masih jauh dari lahirnya nabi, kita belum bahas. Kita juga akan bahas tentang kisah Madinah, kemudian juga akan kita singgung sedikit masalah Mekkah, bagaimana rentetan sejarah sebelum nabi shallallaahu 'alaihi wasallam lahir dan hijrah kesana kemudian bagaimana bisa ada orang Arab tapi agamanya Nasrani, kok bisa?
Awalnya orang Arab menyembah Allah subhanahu wata'ala, mengikuti ajaran nabi Ibrahim, kalaupun yang ada di Mekkah mereka sembah berhala, tapi ternyata, sampai hari ini pun ada yang beragama nasrani ada yang beragama Yahudi. Darimana asalnya bisa agama Nasrani dan Yahudi masuk ke Jazirah Arab?
Bersambung...
(Sumber: ditranskrip dari ceramah Ust. Dr. Khalid Basalamah hafidzahullaah)
#sirah nabawiyah
Jumat, 12 Februari 2016
SIRAH NABAWIYAH (7)
Ketika Mekkah Dikuasai oleh Orang-orang Zalim
Bagaimana kisahnya?
Suatu hari, Amru bin Luhay ini pergi ke negeri Syam (***tadi sudah disebutkan, Syam itu di utara Jazirah Arab, tepatnya sekarang ada Syiria, Libanon, Yordania dan Palestin. Empat ini dulu namanya wilayah Syam. Dan ini perlu dihafal karena memang sangat berentetan dengan buku-buku sejarah kita, dan juga berhubungan dengan hukum Syar’i, diantaranya, nanti di akhir zaman, Islam akan berkumpul lagi di Syam, dan kekuatan (kaum muslimin) banyak di wilayah Syam. Itu ada bahasan tersendiri dan tidak dibahas sekarang. Tapi yang jelas, wilayah Syam ini adalah wilayah yang punya pengaruh besar dalam Islam***).
Waktu itu Amru bin Luhay mengadakan perjalanan perniagaan dari Mekkah ke Syam. Kemudian dia temukan ada satu suku yang bernama Amalik. Suku Amalik ini adalah suku asli negeri Syam. Mereka juga mendengarkan tentang ajaran nabi Ibrahim tapi setengah-setengah dan mereka mempartisipasikan berhala-berhala yang mereka sembah dengan Allah, itulah perbuatan syirik. Jadi mereka buat patung, patungnya ditaruh di rumahnya, kemudian untuk menyembah Allah, mereka merasa tidak bisa langsung, harus melalui patung-patung ini.
Pada saat suku Amalik ini lagi berdoa di depan patung, Amru bin Luhay datang dan mengatakan apa yang kalian sedang lakukan? Mereka mengatakan, “Patung-patung inilah yang memberikan kami makan, memberikan kami minum, memberikan kami kekuatan, memudahkan kami keluar dari permasalahan kalau kami sedang ada masalah, dan (yang paling penting kata mereka) bisa mendekatkan kami kepada Allah”. Jadi, mereka menganggap patung-patung ini adalah perantara dengan Allah ‘azza wa jalla.
Dan sudah selalu dititik beratkan, ALLAH TIDAK BUTUH PERANTARA. Allah ‘azza wa jalla telah mendidik kita dalam hukum-hukum wahyu yang diturunkan agar langsung connect kepada Allah. Makanya pada saat kita keluar, semua hidup kita dituntun doa. Apa itu doa? Komunikasi dengan Allah. Keluar dari rumah, baca “Bismillahi tawakkaltu ‘alallaah” (Ya Allah, dengan namamu saya menyerahkan diri), mau makan “Bismillah”, habis makan “Alhamdulillah”, masuk kamar mandi juga membaca doa “Allahumma inni a’udzubika minal khubutsi wal khobaaits” (Ya Allah, jauhkan kami dari syetan laki-laki dan syetan perempuan [atau lebih tepatnya, keburukan atau kejahatan]. Lalu keluar dari kamar mandi, baca “Ghufroonak” (PengampunanMu, wahai Tuhanku). Mau tidur baca doa, bangun tidur baca doa, mau apa saja baca doa.
Maksudnya apa? Agar kita paham, terlatih dan terbiasa untuk langsung komunikasi dengan Allah, gak butuh perantara. Terlebih lagi kalau perantaranya itu memang benda mati.
Orang pergi ke kuburan, seringkali ada orang yang jadi imam atau sholat, dalam sholatnya mengatakan “Iyyaa ka na’budu, wa iyyaa ka nasta’in” (Hanya kepadamu ya Allah kami menyembah, hanya kepadamu ya Allah kami minta tolong), begitu selesai salam, pergi sebelah mesjid, minta. Mana konsekuensi pernyataan tadi pada saat Anda mengucapkan ‘iyyaaka’ dan ‘iyaaka’. Ternyata, orang-orang kafir Quraisy di Mekkah pun sama konsepnya. Allah ceritakan dalam alQur’an “Hai Muhammad, kalau engkau tanya orang-orang kafir Quraisy, siapa yang menciptakan langit dan bumi? Siapa yang telah mengatur matahari dan bulan? Maka mereka akan mengatakan ‘Ada tuhan namanya Allah.” Lalu ditanya, “Kenapa kalian sembah berhala-berhala ini, untuk apa?”, lalu mereka menjawab dan Allah kekalkan juga dalam alquran “Kami tidak menyembah berhala-berhala ini kecuali kami jadikan perantara antara kami dengan Allah”. Sementara Allah ‘azza wa jalla tidak membutuhkan perantara. Para sahabat nabi, kalau sendal mereka putus, mereka mengangkat tangan ke langit mengatakan, “Ya Allah, sendal saya putus, gantikanlah”, langsung konek dengan Allah. Memang Allah, kalau menjawab doa hambanya itu dalam bentuk SINYAL.
“Ya Allah sembukan saya”, Allah tidak mungkin lemparkan obat dari langit.
“Ya Allah beri saya jodoh”, Allah tidak akan lempar manusia dari langit.
“Ya Allah mudahkan rezki saya”, Allah tidak akan lemparkan uang dari langit. Tapi, apa yang terjadi? Allah akan berikan sinyal. Pada saat saya mengatakan “Ya Allah, sembuhkan saya” dan ternyata Allah terima, mungkin besok tiba-tiba setelah berdoa malamnya, kita ketemu dengan teman/kerabat lalu saya tanyakan “Saya sakit A, B, C”, lalu dia bilang “Saya tau, ada dokter yang bagus disana”, kita ke dokter tersebut, konsultasinya cocok, resep yang dikasi cocok, sembuh. Apakah dokter sama resep yang sembuhkan? Jawabannya TIDAK. Allah yang sembuhkan, Cuma itu jawaban dari doa Anda.
“Ya Allah mudahkan rezeki saya”, Allah gak lemparkan duit tapi Allah akan membuat sinyal-sinyal datang. Tiba-tiba besok ada teman yang datang, nawarin kerja, nawarin kerja sama, beragam macam, kalau kita tangkap sinyal itu, itu rezki dari Allah.
Jodoh. Konyol kalau orang bilang jodoh saya tidak datang-datang, berapa banyak orang yang dia tolak, berapa banyak orang yang dia tidak mau, dan seterusnya. Tugasnya istikharah kemudian dia pilih salah satunya, biidznillah, dia tangkap sinyal itu.
Jadi jelas sekali, ALLAH TIDAK MEMBUTUHKAN PERANTARA. Panjang lebar dijabarkan agar kita tau kenapa Amru bin Luhay ini salah. Karena dia, akhirnya mengambil patung itu, dia mengatakan kepada orang-orang Amalik tadi, suku yang ada di Syam, “Coba berikan kepada saya satu patung, saya ingin beli patung itu, yang paling besar, yang paling kuat (menurut dia; suku Amalik), saya ingin bawa ke Mekkah karena kami di Mekkah tidak punya air”. Tadi kasusnya kenapa? Karena sumur zam-zam ditimbun oleh suku Jurhum. Lalu Amru bin Luhay membawa patung ke Jazirah Arab kemudian ke Mekkah, dan patung yang paling pertama masuk di Mekkah dan ini patung yang paling besar serta patung yang paling dihormati oleh orang-orang Quraisy nantinya, itu patung yang diberi nama Hubal. Dan inilah nanti patung pertama yang dihancurkan oleh nabi shallallaahu 'alaihi wasallam pada saat pembebasan kota Mekkah di tahun 8 Hijriah (nanti kita akan sampai pada sejarah itu biidznillahi ta’ala).
Dan apa yang terjadi? Karena Amru bin Luhay ini sangat baik orangnya, adil, bijaksana di Mekkah, maka kata para ahli sejarah, apa yang dia ucapkan, apa yang dia putuskan, dianggap syariat oleh masyarakat Mekkah. Dia bawalah patung Hubal ini masuk ke Mekkah kemudian dia perintahkan seluruh masyarakat Mekkah untuk menyembah patung itu. Masyarakat Mekkah mayoritasnya (kecuali sedikit sekali) semuanya ikut. Dia tidak mengatakan “Sembahlah ini” begitu saja, tapi “Patung ini bisa menjadi perantara antara kita dengan Allah”. “Ayo kita minta kepada Allah tapi sebutkan namanya ini”. Pertama mereka cuma mengatakan “Hai Hubal, sampaikan hajat kami kepada Allah”, “Hai Hubal, begini”, “Hai Hubal, begitu”, lama-lama sudah tidak ada lagi “Allah”-nya. Sedangkan ada saja “Allah”nya masih syirik, apalagi sudah tidak ada sama sekali. Akhirnya mereka sujud dan menyembah Hubal.
Lebih parah lagi daripada itu, Amru bin Luhay ternyata merasa bahwasanya mungkin ini baik(godaan syetan sudah mulai masuk kepadanya). Lalu dia mendatangkan banyak patung-patung dan memerintahkan setiap suku yang ada di Mekkah (***jadi tadinya induknya suku di Mekkah itu ada dua; Jurhum dan Khuza’ah saja. Setiap suku kalau sudah mulai besar, siapa yang ditokohkan diantara mereka itu bisa membentuk suku baru. Misalnya, dari suku Jurhum sendiri, nanti kita tau, Quraisy itu sendiri nama orang, nama kakek nabi shallallaahu 'alaihi wasallam, salah satu kakeknya namanya Quraisy, dari turunan Jurhum. Karena Quraisy ini orang yang sangat kuat secara fisik, punya pengaruh di masyarakat, kaya raya, punya keturunan banyak, maka dia ditokohkan, dinisbatkanlah di namanya dia suku. Awalnya dia dari Jurhum, jadi ini cabang. Jadi setiap suku induk itu punya cabang-cabang suku yang lain. Nah, ini diantaranya, suku-suku sudah mulai banyak berkembang dari Jurhum dan Khuza’ah di Mekkah***).
Lalu Amru bin Luhay memberikan keputusan setiap suku itu wajib hukumnya memiliki patung masing-masing. Jadi suku A, punya patung di pintu masuk pemukiman mereka (dulu, misalnya suku A, itu tinggal satu lokasi, jadi misalnya 100 Kepala Keluarga KK / 200 KK, orang tau ini suku A. Wilayah sebelah sana ada suku B, dan seterusnya). Maka setiap suku punya patung masing-masing yang mereka sembah.
Lalu yang lebih besar lagi daripada itu, Amru bin Luhay memasukkan dan menambah patung-patung bukan cuma di Mekkah tapi juga di Jazirah Arab karena pada tahun pertama dia memasukkan patung-patung itu, banyak jemaah haji yang datang dari seluruh pelosok muka bumi yang beriman kepada Allah pada saat itu, kemudian melihat masyarakat Mekkah sembah patung. Mereka pun tidak tau apa itu, lalu mereka menganggap itu kebaikan. Mulailah diikuti.
Maka mulailah tersebar patung-patung besar di Jazirah Arab yang mereka buat sendiri, diantaranya ada patung Wud, patung ini banyak disembah oleh suku Kalb (suku yang termasuk besar di Jazirah Arab), kemudian ada patung Suwa’ (nama patung yang disembah oleh suku Hudzail), kemudian ada patung Yaghuts (disembah oleh suku Ghuthaif, dan umumnya penduduk wilayah Jurasy, ini semua wilayah Jazirah Arab), kemudian ada Ya’uq (disembah oleh penduduk wilayah Hamadzan) dan Yazar (disembah oleh masyarakat Yaman). Ini semua nama-nama patung yang disebutkan dalam alQur’an.
Dan yang paling luar biasa, ini kata para ahli sejarah menunjukkan memang di zaman itu wajar dikatakan zaman Jahiliyah, ada dua patung yang bernama Isaf dan Naaila. Isaf dan Naaila ini punya kisah tersendiri.
Bersambung...
(Sumber: ditranskrip dari ceramah Ust. Dr. Khalid Basalamah hafidzahullaah)
#sirahnabawiyah
Bagaimana kisahnya?
Suatu hari, Amru bin Luhay ini pergi ke negeri Syam (***tadi sudah disebutkan, Syam itu di utara Jazirah Arab, tepatnya sekarang ada Syiria, Libanon, Yordania dan Palestin. Empat ini dulu namanya wilayah Syam. Dan ini perlu dihafal karena memang sangat berentetan dengan buku-buku sejarah kita, dan juga berhubungan dengan hukum Syar’i, diantaranya, nanti di akhir zaman, Islam akan berkumpul lagi di Syam, dan kekuatan (kaum muslimin) banyak di wilayah Syam. Itu ada bahasan tersendiri dan tidak dibahas sekarang. Tapi yang jelas, wilayah Syam ini adalah wilayah yang punya pengaruh besar dalam Islam***).
Waktu itu Amru bin Luhay mengadakan perjalanan perniagaan dari Mekkah ke Syam. Kemudian dia temukan ada satu suku yang bernama Amalik. Suku Amalik ini adalah suku asli negeri Syam. Mereka juga mendengarkan tentang ajaran nabi Ibrahim tapi setengah-setengah dan mereka mempartisipasikan berhala-berhala yang mereka sembah dengan Allah, itulah perbuatan syirik. Jadi mereka buat patung, patungnya ditaruh di rumahnya, kemudian untuk menyembah Allah, mereka merasa tidak bisa langsung, harus melalui patung-patung ini.
Pada saat suku Amalik ini lagi berdoa di depan patung, Amru bin Luhay datang dan mengatakan apa yang kalian sedang lakukan? Mereka mengatakan, “Patung-patung inilah yang memberikan kami makan, memberikan kami minum, memberikan kami kekuatan, memudahkan kami keluar dari permasalahan kalau kami sedang ada masalah, dan (yang paling penting kata mereka) bisa mendekatkan kami kepada Allah”. Jadi, mereka menganggap patung-patung ini adalah perantara dengan Allah ‘azza wa jalla.
Dan sudah selalu dititik beratkan, ALLAH TIDAK BUTUH PERANTARA. Allah ‘azza wa jalla telah mendidik kita dalam hukum-hukum wahyu yang diturunkan agar langsung connect kepada Allah. Makanya pada saat kita keluar, semua hidup kita dituntun doa. Apa itu doa? Komunikasi dengan Allah. Keluar dari rumah, baca “Bismillahi tawakkaltu ‘alallaah” (Ya Allah, dengan namamu saya menyerahkan diri), mau makan “Bismillah”, habis makan “Alhamdulillah”, masuk kamar mandi juga membaca doa “Allahumma inni a’udzubika minal khubutsi wal khobaaits” (Ya Allah, jauhkan kami dari syetan laki-laki dan syetan perempuan [atau lebih tepatnya, keburukan atau kejahatan]. Lalu keluar dari kamar mandi, baca “Ghufroonak” (PengampunanMu, wahai Tuhanku). Mau tidur baca doa, bangun tidur baca doa, mau apa saja baca doa.
Maksudnya apa? Agar kita paham, terlatih dan terbiasa untuk langsung komunikasi dengan Allah, gak butuh perantara. Terlebih lagi kalau perantaranya itu memang benda mati.
Orang pergi ke kuburan, seringkali ada orang yang jadi imam atau sholat, dalam sholatnya mengatakan “Iyyaa ka na’budu, wa iyyaa ka nasta’in” (Hanya kepadamu ya Allah kami menyembah, hanya kepadamu ya Allah kami minta tolong), begitu selesai salam, pergi sebelah mesjid, minta. Mana konsekuensi pernyataan tadi pada saat Anda mengucapkan ‘iyyaaka’ dan ‘iyaaka’. Ternyata, orang-orang kafir Quraisy di Mekkah pun sama konsepnya. Allah ceritakan dalam alQur’an “Hai Muhammad, kalau engkau tanya orang-orang kafir Quraisy, siapa yang menciptakan langit dan bumi? Siapa yang telah mengatur matahari dan bulan? Maka mereka akan mengatakan ‘Ada tuhan namanya Allah.” Lalu ditanya, “Kenapa kalian sembah berhala-berhala ini, untuk apa?”, lalu mereka menjawab dan Allah kekalkan juga dalam alquran “Kami tidak menyembah berhala-berhala ini kecuali kami jadikan perantara antara kami dengan Allah”. Sementara Allah ‘azza wa jalla tidak membutuhkan perantara. Para sahabat nabi, kalau sendal mereka putus, mereka mengangkat tangan ke langit mengatakan, “Ya Allah, sendal saya putus, gantikanlah”, langsung konek dengan Allah. Memang Allah, kalau menjawab doa hambanya itu dalam bentuk SINYAL.
“Ya Allah sembukan saya”, Allah tidak mungkin lemparkan obat dari langit.
“Ya Allah beri saya jodoh”, Allah tidak akan lempar manusia dari langit.
“Ya Allah mudahkan rezki saya”, Allah tidak akan lemparkan uang dari langit. Tapi, apa yang terjadi? Allah akan berikan sinyal. Pada saat saya mengatakan “Ya Allah, sembuhkan saya” dan ternyata Allah terima, mungkin besok tiba-tiba setelah berdoa malamnya, kita ketemu dengan teman/kerabat lalu saya tanyakan “Saya sakit A, B, C”, lalu dia bilang “Saya tau, ada dokter yang bagus disana”, kita ke dokter tersebut, konsultasinya cocok, resep yang dikasi cocok, sembuh. Apakah dokter sama resep yang sembuhkan? Jawabannya TIDAK. Allah yang sembuhkan, Cuma itu jawaban dari doa Anda.
“Ya Allah mudahkan rezeki saya”, Allah gak lemparkan duit tapi Allah akan membuat sinyal-sinyal datang. Tiba-tiba besok ada teman yang datang, nawarin kerja, nawarin kerja sama, beragam macam, kalau kita tangkap sinyal itu, itu rezki dari Allah.
Jodoh. Konyol kalau orang bilang jodoh saya tidak datang-datang, berapa banyak orang yang dia tolak, berapa banyak orang yang dia tidak mau, dan seterusnya. Tugasnya istikharah kemudian dia pilih salah satunya, biidznillah, dia tangkap sinyal itu.
Jadi jelas sekali, ALLAH TIDAK MEMBUTUHKAN PERANTARA. Panjang lebar dijabarkan agar kita tau kenapa Amru bin Luhay ini salah. Karena dia, akhirnya mengambil patung itu, dia mengatakan kepada orang-orang Amalik tadi, suku yang ada di Syam, “Coba berikan kepada saya satu patung, saya ingin beli patung itu, yang paling besar, yang paling kuat (menurut dia; suku Amalik), saya ingin bawa ke Mekkah karena kami di Mekkah tidak punya air”. Tadi kasusnya kenapa? Karena sumur zam-zam ditimbun oleh suku Jurhum. Lalu Amru bin Luhay membawa patung ke Jazirah Arab kemudian ke Mekkah, dan patung yang paling pertama masuk di Mekkah dan ini patung yang paling besar serta patung yang paling dihormati oleh orang-orang Quraisy nantinya, itu patung yang diberi nama Hubal. Dan inilah nanti patung pertama yang dihancurkan oleh nabi shallallaahu 'alaihi wasallam pada saat pembebasan kota Mekkah di tahun 8 Hijriah (nanti kita akan sampai pada sejarah itu biidznillahi ta’ala).
Dan apa yang terjadi? Karena Amru bin Luhay ini sangat baik orangnya, adil, bijaksana di Mekkah, maka kata para ahli sejarah, apa yang dia ucapkan, apa yang dia putuskan, dianggap syariat oleh masyarakat Mekkah. Dia bawalah patung Hubal ini masuk ke Mekkah kemudian dia perintahkan seluruh masyarakat Mekkah untuk menyembah patung itu. Masyarakat Mekkah mayoritasnya (kecuali sedikit sekali) semuanya ikut. Dia tidak mengatakan “Sembahlah ini” begitu saja, tapi “Patung ini bisa menjadi perantara antara kita dengan Allah”. “Ayo kita minta kepada Allah tapi sebutkan namanya ini”. Pertama mereka cuma mengatakan “Hai Hubal, sampaikan hajat kami kepada Allah”, “Hai Hubal, begini”, “Hai Hubal, begitu”, lama-lama sudah tidak ada lagi “Allah”-nya. Sedangkan ada saja “Allah”nya masih syirik, apalagi sudah tidak ada sama sekali. Akhirnya mereka sujud dan menyembah Hubal.
Lebih parah lagi daripada itu, Amru bin Luhay ternyata merasa bahwasanya mungkin ini baik(godaan syetan sudah mulai masuk kepadanya). Lalu dia mendatangkan banyak patung-patung dan memerintahkan setiap suku yang ada di Mekkah (***jadi tadinya induknya suku di Mekkah itu ada dua; Jurhum dan Khuza’ah saja. Setiap suku kalau sudah mulai besar, siapa yang ditokohkan diantara mereka itu bisa membentuk suku baru. Misalnya, dari suku Jurhum sendiri, nanti kita tau, Quraisy itu sendiri nama orang, nama kakek nabi shallallaahu 'alaihi wasallam, salah satu kakeknya namanya Quraisy, dari turunan Jurhum. Karena Quraisy ini orang yang sangat kuat secara fisik, punya pengaruh di masyarakat, kaya raya, punya keturunan banyak, maka dia ditokohkan, dinisbatkanlah di namanya dia suku. Awalnya dia dari Jurhum, jadi ini cabang. Jadi setiap suku induk itu punya cabang-cabang suku yang lain. Nah, ini diantaranya, suku-suku sudah mulai banyak berkembang dari Jurhum dan Khuza’ah di Mekkah***).
Lalu Amru bin Luhay memberikan keputusan setiap suku itu wajib hukumnya memiliki patung masing-masing. Jadi suku A, punya patung di pintu masuk pemukiman mereka (dulu, misalnya suku A, itu tinggal satu lokasi, jadi misalnya 100 Kepala Keluarga KK / 200 KK, orang tau ini suku A. Wilayah sebelah sana ada suku B, dan seterusnya). Maka setiap suku punya patung masing-masing yang mereka sembah.
Lalu yang lebih besar lagi daripada itu, Amru bin Luhay memasukkan dan menambah patung-patung bukan cuma di Mekkah tapi juga di Jazirah Arab karena pada tahun pertama dia memasukkan patung-patung itu, banyak jemaah haji yang datang dari seluruh pelosok muka bumi yang beriman kepada Allah pada saat itu, kemudian melihat masyarakat Mekkah sembah patung. Mereka pun tidak tau apa itu, lalu mereka menganggap itu kebaikan. Mulailah diikuti.
Maka mulailah tersebar patung-patung besar di Jazirah Arab yang mereka buat sendiri, diantaranya ada patung Wud, patung ini banyak disembah oleh suku Kalb (suku yang termasuk besar di Jazirah Arab), kemudian ada patung Suwa’ (nama patung yang disembah oleh suku Hudzail), kemudian ada patung Yaghuts (disembah oleh suku Ghuthaif, dan umumnya penduduk wilayah Jurasy, ini semua wilayah Jazirah Arab), kemudian ada Ya’uq (disembah oleh penduduk wilayah Hamadzan) dan Yazar (disembah oleh masyarakat Yaman). Ini semua nama-nama patung yang disebutkan dalam alQur’an.
Dan yang paling luar biasa, ini kata para ahli sejarah menunjukkan memang di zaman itu wajar dikatakan zaman Jahiliyah, ada dua patung yang bernama Isaf dan Naaila. Isaf dan Naaila ini punya kisah tersendiri.
Bersambung...
(Sumber: ditranskrip dari ceramah Ust. Dr. Khalid Basalamah hafidzahullaah)
#sirahnabawiyah
Langganan:
Postingan (Atom)