Bismillaah...
Jam menunjukkan pukul 20.20 waktu Jakarta. Seseorang yang menemaniku disini, yang setia di sampingku, sejak tadi sudah terlelap dalam tidurnya. Saya? Ah... sejak tadi pun mencoba untuk mengikuti jejaknya, memaksa diri agar bisa terbang ke alam mimpi, tapi tak bisa.
Ingatanku kembali terputar sejak pertama kali di tahun ini menginjakkan kembali kaki di ibu kota Indonesia ini. Berangkat dari rumah di samata pukul 04.30, meninggalkan Ziyadku yang tiba-tiba saja terbangun saat kami sementara siap-siap. Alhamdulillaah, kemudahan dari Allah, ia bisa ditinggal tanpa ada adegan teriak dan tangisan.
Berangkat bersama suami dan adikku, Mujtahid, yang ingin balik ke ma'hadnya, diantar oleh adikku, Musaddid, ke bandara. Perjalanan samata-bandara dini hari itu lancar, alhamdulillaah. Tiba di bandara, ternyata ramai. Pas mau turun saja, parkirannya penuh, macet. "Semua mau berangkat subuh karena takut kena macet". Ya, betul. Makassar terutama daerah dekat bandara, kalau siang-malam memang macetnya Subhanallaah, karena memang ada perbaikan jalan disitu.
Pas tiba di bandara, masuk ke dalam, check in oleh suami, dan menunggu di ruang tunggu. Naik ke pesawat CityLink di nomor kursi 24 D. Selama perjalanan, cuaca cerah. Namun, saya yang kali ke 3 ber-pesawat, lagi-lagi merasa terganggu dengan pendengaran. Suara pesawat begitu menusuk telinga ku. Tapi alhamdulillaah, masih bisa teratasi.
Tiba di Bandara Soetta, kami (saya-suami dan adikku) berpisah di terminal Damri. Karena arah adikku ke Bogor, sementara saya ke tanah abang, jalurnya berbeda. Awalnya, kami ingin naik Damri, yapi lihat tarif, sama aja dengan tarif grab. Lebih bagus grab, damri mesti transit dan pindah bus lagi sementara kami sangat buta dengan keadaan kota Jakarta.
Keberadaan grab bagi kami sangat membantu. Dari bandara ke tempat penginapan kami, tarifnya 112rb (di luar uang tol sekitar 15an). Waktu itu, supir grab nya namanya pak Iman. Baik orangnya. Suka cerita. Ia cerita pengalaman hidup, dulu kerja dimana, kajian dimana, dll. Cuma belum terlalu menguasai jalan, karena memang masih baru di Jakarta, "katanya".
#bersambung
tibatibangantuk
Jakarta, 14 April 2016
@wisma BHZ Al Zahra
Hanya berisi sepenggal pengalaman yang Allah takdirkan terjadi padaku. Semoga qt bisa mengambil pelajaran dan hikmah...
Kamis, 14 April 2016
Selasa, 12 April 2016
Hampa
Bismillaah..
The first time, hari ini, Senin 11 Maret 2016, pertama kalinya tidur malam tanpa Ziyad. Rasanya? Jangan ditanya.. sedih, hampa, gelisah, kepikiran terus sama Ziyad. Cuma bisa memandangi foto-fotonya yang dikirim sama orang rumah. Huhu....
Ternyata, hidup tanpa anak rasanya gini. Gak enak, banget, pake bangettt.
Walau mereka bikin repot, tapi kalau sudah capek gini, tetap aja bikin rindu dibuat repot sama mereka. Capek-capek begini, tanpa mereka, tetap saja capek. Tidak ada pelipur, tidak ada qurrotu a'yun, tidak ada yang bisa dimain-maini. Huu... sedih sekali
Rindu, betul-betul rindu. Baru sehari pisah sama mereka betul-betul bikin rindu. Semoga semuanya baik-baik saja
Sabar nak. Jum'at in sya Allah kita bertemu lagi.
Salam rindu untuk ketiga anakku tersayang; Faqih, Hannan, Ziyad.
Jakarta, 11 April 2016
@wisma HSB Al Zahra
The first time, hari ini, Senin 11 Maret 2016, pertama kalinya tidur malam tanpa Ziyad. Rasanya? Jangan ditanya.. sedih, hampa, gelisah, kepikiran terus sama Ziyad. Cuma bisa memandangi foto-fotonya yang dikirim sama orang rumah. Huhu....
Ternyata, hidup tanpa anak rasanya gini. Gak enak, banget, pake bangettt.
Walau mereka bikin repot, tapi kalau sudah capek gini, tetap aja bikin rindu dibuat repot sama mereka. Capek-capek begini, tanpa mereka, tetap saja capek. Tidak ada pelipur, tidak ada qurrotu a'yun, tidak ada yang bisa dimain-maini. Huu... sedih sekali
Rindu, betul-betul rindu. Baru sehari pisah sama mereka betul-betul bikin rindu. Semoga semuanya baik-baik saja
Sabar nak. Jum'at in sya Allah kita bertemu lagi.
Salam rindu untuk ketiga anakku tersayang; Faqih, Hannan, Ziyad.
Jakarta, 11 April 2016
@wisma HSB Al Zahra
Minggu, 03 April 2016
Nikmat yang Dicela
Bismillaah..
LAPAR. Sebagian orang jika sedang lapar, ia mengeluh "Aduh, saya lapar".
HAUS. Sebagian orang jika sedang haus, mengeluh, "Aduh, saya haus (sekali)".
CAPEK. Sebagian bahkan hampir setiap orang pernah merasakannya. Setelah bekerja mulai pagi sampai malam tanpa istirahat, setelah selesai, ia pasti akan merasakan CAPEK.
Tapi saudariku...
Pernahkah kita berpikir, kalau LAPAR, HAUS, CAPEK, itu juga adalah NIKMAT dari ALLAH??
Ya, ia adalah nikmat.
Kita bisa merasakan enaknya makan "tempe, nasi, sambel" ketika kita makan dalam keadaan lapar. Itu nikmat. Coba saja, seandainya kita tidak lapar, dihidangkan ayam goreng dan makanan enak lainnya, qt tidak bisa merasakan lezatnya, karena kita sudah tidak lapar.
Haus. Kita bisa merasakan nikmatnya minuman saat kita minum dalam keadaan haus.
Begitupun capek. Capek seharian bekerja dari pagi sampai malam. Malamnya, qt istirahat atau tertidur walau 2 jam, NIKMAT rasanya. Coba kalau dari pagi-malam kerja kita hanya istirahat/tidur, pas malam tiba kita disuruh tidur lagi, nikmat kah rasanya?
Lalu, disini, pantaskah kita MENGELUH? Pantaskah lisan kita kembali mengucapkan, "Aduh, saya lapar, haus, capek?"
Kunci Kebahagiaan adalah...
Jika kita diberi nikmat, maka bersyukurlah. Lihatlah orang dibawah kita, yang tidak diberi nikmat serupa dengan kita. Kita punya motor, BERSYUKUR, karena ada orang yang hanya punya sepeda. Punya sepeda, bersyukur, karena ada orang yang hanya jalan kaki. Kita hanya jalan kaki, tetap bersyukur, karena ada orang yang tidak bisa berjalan/tidak punya kaki. Syukuri... syukuri... syukuri, niscaya Allah akan tambah.
Dan sebaliknya...
Jika kita diberi cobaan, lihat orang yang ada diatas kita. Kita lagi flu, lihat, ada orang yang flu+demam. Kita lagi flu+demam, ada orang diluar sana yang lagi flu+demam+rematik. Begitu seterusnya, hingga kita bisa dapati diri kita akan BERSABAR dalam menghadapi cobaan dari Allah, karena ternyata, masih banyak orang yang mendapat cobaan lebih di atas kita.
Ya, kata kuncinya hanya BERSYUKUR dan BERSABAR, niscaya kamu akan BAHAGIA.
LAPAR. Sebagian orang jika sedang lapar, ia mengeluh "Aduh, saya lapar".
HAUS. Sebagian orang jika sedang haus, mengeluh, "Aduh, saya haus (sekali)".
CAPEK. Sebagian bahkan hampir setiap orang pernah merasakannya. Setelah bekerja mulai pagi sampai malam tanpa istirahat, setelah selesai, ia pasti akan merasakan CAPEK.
Tapi saudariku...
Pernahkah kita berpikir, kalau LAPAR, HAUS, CAPEK, itu juga adalah NIKMAT dari ALLAH??
Ya, ia adalah nikmat.
Kita bisa merasakan enaknya makan "tempe, nasi, sambel" ketika kita makan dalam keadaan lapar. Itu nikmat. Coba saja, seandainya kita tidak lapar, dihidangkan ayam goreng dan makanan enak lainnya, qt tidak bisa merasakan lezatnya, karena kita sudah tidak lapar.
Haus. Kita bisa merasakan nikmatnya minuman saat kita minum dalam keadaan haus.
Begitupun capek. Capek seharian bekerja dari pagi sampai malam. Malamnya, qt istirahat atau tertidur walau 2 jam, NIKMAT rasanya. Coba kalau dari pagi-malam kerja kita hanya istirahat/tidur, pas malam tiba kita disuruh tidur lagi, nikmat kah rasanya?
Lalu, disini, pantaskah kita MENGELUH? Pantaskah lisan kita kembali mengucapkan, "Aduh, saya lapar, haus, capek?"
Kunci Kebahagiaan adalah...
Jika kita diberi nikmat, maka bersyukurlah. Lihatlah orang dibawah kita, yang tidak diberi nikmat serupa dengan kita. Kita punya motor, BERSYUKUR, karena ada orang yang hanya punya sepeda. Punya sepeda, bersyukur, karena ada orang yang hanya jalan kaki. Kita hanya jalan kaki, tetap bersyukur, karena ada orang yang tidak bisa berjalan/tidak punya kaki. Syukuri... syukuri... syukuri, niscaya Allah akan tambah.
Dan sebaliknya...
Jika kita diberi cobaan, lihat orang yang ada diatas kita. Kita lagi flu, lihat, ada orang yang flu+demam. Kita lagi flu+demam, ada orang diluar sana yang lagi flu+demam+rematik. Begitu seterusnya, hingga kita bisa dapati diri kita akan BERSABAR dalam menghadapi cobaan dari Allah, karena ternyata, masih banyak orang yang mendapat cobaan lebih di atas kita.
Ya, kata kuncinya hanya BERSYUKUR dan BERSABAR, niscaya kamu akan BAHAGIA.
Selasa, 15 Maret 2016
Akhlakmu, Saudariku...
Bismillaah...
Baru saja euforia kesenangan saya rasakan beberapa hari yang lalu, karena ditelpon oleh seseorang yang sangat kusegani. Hampir 10 tahun kami tak pernah bertemu. Hari itu, tidak seperti biasanya, ia menelponku. Menanyakan keberadaanku dimana tapi tak memberi tahu kalau ia siapa. Saya disuruh menebak. Saya yang memang jarang menyimpan nomor, tentu tak bisa langsung tahu. Alhamdulillaah, lama kelamaan, mendengar suara tawanya yang khas, saya langsung menebak kalau ia adalah kak "WR", sebut saja begitu.
SURPRISE, kesan saya awalnya. Tapi, saya berpikir, mungkin ada keperluan. Ternyata betul. Tak berapa lama saya menebaknya, ia menyampaikan hajatnya. Ia butuh sesuatu. Sayangnya, sesuatu yg ia butuhkan itu berada di Sinjai, dan ia butuh cepat. Karena ipar saya juga pujya sesuatu itu, akhirnya saya mengalihkannya padanya.
Terhubunglah ia...
Dan hari ini, iparku menelpon. Ia curhat. Katanya, ia sudah memperlakukan kak "WR" dengan baik, membawakan sesuatu itu langsung ke rumahnya. Yang dibawa sangat banyak, karena kak WR memang meminta untuk dibawakan, semuanya. Sampai disana, ternyata tak ada satupun yang diambilnya. Ini kasus pertama.
Sesampai di rumahnya, iparku di telpon lagi. "Jual "ini" dek?"
"Iya, kak"
"Minta tolong dibawakan ke rumah"
"Saya tidak bisa, kak"
"Minta tolong sama pegawaita'"
Lanjut berlanjut. Dibawakanlah "ini" itu ke rumahnya sama pegawai iparku. Kak WR menyuruh untuk menyimpan barang itu. Katanya ingin dicoba dulu.
"Baiklah kalau begitu, kata iparku.
Esoknya, iparku sms "bagaimana, kak? Ada yang cocok?"
"Tidak ada yang saya suka, dek. Besok saya kembalikan ke toko ta'"
Dikembalikanlah "ini" itu ke toko iparku. TAPI, disini letak kesalahannya. Kak WR mengembalikan "ini" itu tidak seperti semula. Terbongkar-bongkar. Yang dalam dus sudah tidak berada dalam dusnya, dan lain lain, dan lain.
Trus, pas pengembaliannya pun sangat tidak sopan, katanya.
"Dek, ini di'. Buru2ka'...."
Tak ada kata maaf, katanya.
Subhanallaah...
Inikah akhlakmu, wahai saudariku?
Subhanallaah...
Andai itu dilakukan oleh orang yang tak berilmu, mungkin bisa dipahami.
Tapi, tidak.
Ia seorang yang sangat berilmu. Istri seorang yang sangat berilmu pula.
KECEWA, itu kata iparku.
Ternyata, tidak semua ummahat bisa dipercaya.
Tak semua, katanya.
Saya sebagai penghubung ia mengenalnya rasanya tidak enak sekali.
Qaddarullaah wa maa syaa a fa'ala.
Sinjai, 15 Maret 2016
Baru saja euforia kesenangan saya rasakan beberapa hari yang lalu, karena ditelpon oleh seseorang yang sangat kusegani. Hampir 10 tahun kami tak pernah bertemu. Hari itu, tidak seperti biasanya, ia menelponku. Menanyakan keberadaanku dimana tapi tak memberi tahu kalau ia siapa. Saya disuruh menebak. Saya yang memang jarang menyimpan nomor, tentu tak bisa langsung tahu. Alhamdulillaah, lama kelamaan, mendengar suara tawanya yang khas, saya langsung menebak kalau ia adalah kak "WR", sebut saja begitu.
SURPRISE, kesan saya awalnya. Tapi, saya berpikir, mungkin ada keperluan. Ternyata betul. Tak berapa lama saya menebaknya, ia menyampaikan hajatnya. Ia butuh sesuatu. Sayangnya, sesuatu yg ia butuhkan itu berada di Sinjai, dan ia butuh cepat. Karena ipar saya juga pujya sesuatu itu, akhirnya saya mengalihkannya padanya.
Terhubunglah ia...
Dan hari ini, iparku menelpon. Ia curhat. Katanya, ia sudah memperlakukan kak "WR" dengan baik, membawakan sesuatu itu langsung ke rumahnya. Yang dibawa sangat banyak, karena kak WR memang meminta untuk dibawakan, semuanya. Sampai disana, ternyata tak ada satupun yang diambilnya. Ini kasus pertama.
Sesampai di rumahnya, iparku di telpon lagi. "Jual "ini" dek?"
"Iya, kak"
"Minta tolong dibawakan ke rumah"
"Saya tidak bisa, kak"
"Minta tolong sama pegawaita'"
Lanjut berlanjut. Dibawakanlah "ini" itu ke rumahnya sama pegawai iparku. Kak WR menyuruh untuk menyimpan barang itu. Katanya ingin dicoba dulu.
"Baiklah kalau begitu, kata iparku.
Esoknya, iparku sms "bagaimana, kak? Ada yang cocok?"
"Tidak ada yang saya suka, dek. Besok saya kembalikan ke toko ta'"
Dikembalikanlah "ini" itu ke toko iparku. TAPI, disini letak kesalahannya. Kak WR mengembalikan "ini" itu tidak seperti semula. Terbongkar-bongkar. Yang dalam dus sudah tidak berada dalam dusnya, dan lain lain, dan lain.
Trus, pas pengembaliannya pun sangat tidak sopan, katanya.
"Dek, ini di'. Buru2ka'...."
Tak ada kata maaf, katanya.
Subhanallaah...
Inikah akhlakmu, wahai saudariku?
Subhanallaah...
Andai itu dilakukan oleh orang yang tak berilmu, mungkin bisa dipahami.
Tapi, tidak.
Ia seorang yang sangat berilmu. Istri seorang yang sangat berilmu pula.
KECEWA, itu kata iparku.
Ternyata, tidak semua ummahat bisa dipercaya.
Tak semua, katanya.
Saya sebagai penghubung ia mengenalnya rasanya tidak enak sekali.
Qaddarullaah wa maa syaa a fa'ala.
Sinjai, 15 Maret 2016
Minggu, 13 Maret 2016
Bergerak Tanpa Kata
Bismillaah
Selalu ilfeel sama orang yang kalau marah, tidak bisa mengendalikan dirinya. Maunya memukul atau apalah yang berbau kekerasan.
Dan yang paling sial, kalau itu menimpa kita. Saya dan kamu. Ah, semoga tidak terjadi padamu dan semoga kamu yang membacanya pun tidak berlaku demikian.
Saya, jangankan dipukul, dicubit, dilempari dan segala bentuk kekerasan lain, SAYA SUDAH KENYANG. Sisa dibunuh mungkin yang belum terjadi. Lebay? Saya rasa tidak..
Teruntuk anak-anakku kelak...
Berlalu lemah lembutlah kalian terhadap semua orang, nak..
Dalam keadaan senang, sedih, maupun marah..
Jangan pernah kalian lampiaskan kemarahan kalian dalam bentuk kekerasan, nak... Jangan!
Karena itu sangat menyakiti hati maupun fisik..
Pilihlah pasangan hidup yang tepat..
Jangan asal pilih.. Jangan asal cantik.. pun, jangan asal gagah, nak
Karena sesungguhnya perbuatan buruk itu menular, dan bisa menjangkiti siapapun yang berdekatan dengannya..
Jika kalian marah, nak.. beristighfarlah.
Diamlah, nak.. adukan semua pada Allah
Biarlah Allah yang membalasnya.
Jangan kau salurkan marahmu dalam bentuk kekerasan, nak... jangan! Sekali lagi, jangan!
Sinjai, 13 Maret 2016
Selalu ilfeel sama orang yang kalau marah, tidak bisa mengendalikan dirinya. Maunya memukul atau apalah yang berbau kekerasan.
Dan yang paling sial, kalau itu menimpa kita. Saya dan kamu. Ah, semoga tidak terjadi padamu dan semoga kamu yang membacanya pun tidak berlaku demikian.
Saya, jangankan dipukul, dicubit, dilempari dan segala bentuk kekerasan lain, SAYA SUDAH KENYANG. Sisa dibunuh mungkin yang belum terjadi. Lebay? Saya rasa tidak..
Teruntuk anak-anakku kelak...
Berlalu lemah lembutlah kalian terhadap semua orang, nak..
Dalam keadaan senang, sedih, maupun marah..
Jangan pernah kalian lampiaskan kemarahan kalian dalam bentuk kekerasan, nak... Jangan!
Karena itu sangat menyakiti hati maupun fisik..
Pilihlah pasangan hidup yang tepat..
Jangan asal pilih.. Jangan asal cantik.. pun, jangan asal gagah, nak
Karena sesungguhnya perbuatan buruk itu menular, dan bisa menjangkiti siapapun yang berdekatan dengannya..
Jika kalian marah, nak.. beristighfarlah.
Diamlah, nak.. adukan semua pada Allah
Biarlah Allah yang membalasnya.
Jangan kau salurkan marahmu dalam bentuk kekerasan, nak... jangan! Sekali lagi, jangan!
Sinjai, 13 Maret 2016
Jumat, 11 Maret 2016
Pilihannya Sendiri
Bismillaah..
Ada saatnya, tempat pakaian yang biasanya tersusun rapi, kini berhamburan tak sedap dipandang.
Ada kalanya, si baby yang biasanya pakaiannya diambilkan oleh sang ibu, kini bisa mengambil sendiri pakaiannya.
Ada masanya, si baby, yang pakaiannya dipilihkan oleh sang ibu, kini beranjak dewasa dan memilih sendiri pakaiannya.
Ia mulai menyukai satu atau beberapa jenis pakaian. Cuci, kering, pakai. Itulah jenis baju kesukaannya. Saat pakaian lain terlihat, ia cuek. Ia bahkan tak ingin dipakaikan atau memakainya.
Dan kini, ia pun mulai belajar memakai sendiri, pilihan sendiri.
Alhamdulillaah bini'matihi tatimmusshoolihaat
Tumbuh dan besarlah nak menjadi harapan ummi dan dan abi, menjadi pengh5afal alqur'an, da'i yang menyeru kebenaran, serta selalu memilih jalan kebaikan sebagai pilihan hidupmu.
Abdullah Ziyad, 2 tahun 5 bulan.
Sinjai, 11 Maret 2016
Ada saatnya, tempat pakaian yang biasanya tersusun rapi, kini berhamburan tak sedap dipandang.
Ada kalanya, si baby yang biasanya pakaiannya diambilkan oleh sang ibu, kini bisa mengambil sendiri pakaiannya.
Ada masanya, si baby, yang pakaiannya dipilihkan oleh sang ibu, kini beranjak dewasa dan memilih sendiri pakaiannya.
Ia mulai menyukai satu atau beberapa jenis pakaian. Cuci, kering, pakai. Itulah jenis baju kesukaannya. Saat pakaian lain terlihat, ia cuek. Ia bahkan tak ingin dipakaikan atau memakainya.
Dan kini, ia pun mulai belajar memakai sendiri, pilihan sendiri.
Alhamdulillaah bini'matihi tatimmusshoolihaat
Tumbuh dan besarlah nak menjadi harapan ummi dan dan abi, menjadi pengh5afal alqur'an, da'i yang menyeru kebenaran, serta selalu memilih jalan kebaikan sebagai pilihan hidupmu.
Abdullah Ziyad, 2 tahun 5 bulan.
Sinjai, 11 Maret 2016
Rabu, 09 Maret 2016
Gerhana Matahari 2016
Bismillaah...
Dari kemarin, rameee sekali orang-orang membicarakan gerhana matahari. Dari bulan lalu malah. Sempat liat juga ada yang jual kacamata buat gerhana dan waktu itu saya belum 'ngeh'. Ternyata...
Hari ini, hari yang disebut-sebut akan terjadi peristiwa langka, peristiwa yang mungkin terjadi sekali dalam ratusan tahun.
Dari kemarin sudah woro-woro sebar undangan buat sholat gerhana. Saya, yang qaddarullaah lagi berhalangan untuk sholat, bangun hari ini dengan santai. Beraktivitas seperti biasa (mencuci). Setelah mencuci, langit seperti mendung, subhanallaah.. tapi tetap, saya tak bisa melihat gerhana seperti yang ditayangkan di televisi. Namun, saat itu, jam 8 tepatnya, kondisi begitu gelap. MENGERIKAN bagi saya. Perbanyak istighfar, karena Rasulullaah mengatakan, tidaklah gerhana datang melainkan sebagai adzab buat suatu kaum, naudzubillaah...
Pemandangan berbeda terlihat di televisi. Orang-orang menyaksikan gerhana dengan sorak sorai, teriakan bahkan lompat-lompat pertanda senang. Subhanallaah...
Saya jadi merinding, bagaimana jika saat ini juga, Allah tak memunculkan kembali matahari. Bagaimana jika saat ini juga, hari kiamat betul-betul terjadi. Sekali lagi, saya MERINDING ketakutan.
Di sisi lain, anak tertua saya, 'Abdullah Faqih (5y2m) yang sejak kemarin menanti, yang sejak kemarin pertanyaannya tak pernah bergeser "Ummi, besok hari kiamat?", hari ini ia bangun dengan semangat. Ia berniat untuk ikut sholat gerhana bersama abinya. Tapi, ternyata ia tak sadar ikut ke tantenya yang mau ke pasar. Alhasil, ia tidak ikut bersama abinya.
Sepulang dari pasar, ia berteriak.
"Mana abi, ummi?"
"Abi ke mesjid."
"Masjid mana?", teriaknya kembali.
"Ke mesjid dekat rumahmeki' qt, nak. Ada mungkin nenek bapak disitu".
Ia kesana. Dan kembali lagi ke rumah dengan tangisan.
"Tidak ada, ummi".
Ia menangis lagi, mencari abinya. Menyuruhku menelpon, tapi yang ditelpon tak jua mengangkat hpnya.
"Mungkin lagi sholat gerhana mi, nak".
Ia menangis, meraung-raung "Tidak sholat gerhana ma' saya, ummi".
Yah, qaddarullaah..
Setelah matahari muncul kembali, Faqih kembali mengatakan "Nanti malam beginiji lagi. Gelap lagi ummi toh".
"Iye, nak. Sebentar gelapji lagi, kalau malam"
"Sudahpi sore ummi toh?"
"Iye..."
Apa yang terbaik, itulah yang terjadi
Sinjai, 9 Maret 2016
Dari kemarin, rameee sekali orang-orang membicarakan gerhana matahari. Dari bulan lalu malah. Sempat liat juga ada yang jual kacamata buat gerhana dan waktu itu saya belum 'ngeh'. Ternyata...
Hari ini, hari yang disebut-sebut akan terjadi peristiwa langka, peristiwa yang mungkin terjadi sekali dalam ratusan tahun.
Dari kemarin sudah woro-woro sebar undangan buat sholat gerhana. Saya, yang qaddarullaah lagi berhalangan untuk sholat, bangun hari ini dengan santai. Beraktivitas seperti biasa (mencuci). Setelah mencuci, langit seperti mendung, subhanallaah.. tapi tetap, saya tak bisa melihat gerhana seperti yang ditayangkan di televisi. Namun, saat itu, jam 8 tepatnya, kondisi begitu gelap. MENGERIKAN bagi saya. Perbanyak istighfar, karena Rasulullaah mengatakan, tidaklah gerhana datang melainkan sebagai adzab buat suatu kaum, naudzubillaah...
Pemandangan berbeda terlihat di televisi. Orang-orang menyaksikan gerhana dengan sorak sorai, teriakan bahkan lompat-lompat pertanda senang. Subhanallaah...
Saya jadi merinding, bagaimana jika saat ini juga, Allah tak memunculkan kembali matahari. Bagaimana jika saat ini juga, hari kiamat betul-betul terjadi. Sekali lagi, saya MERINDING ketakutan.
Di sisi lain, anak tertua saya, 'Abdullah Faqih (5y2m) yang sejak kemarin menanti, yang sejak kemarin pertanyaannya tak pernah bergeser "Ummi, besok hari kiamat?", hari ini ia bangun dengan semangat. Ia berniat untuk ikut sholat gerhana bersama abinya. Tapi, ternyata ia tak sadar ikut ke tantenya yang mau ke pasar. Alhasil, ia tidak ikut bersama abinya.
Sepulang dari pasar, ia berteriak.
"Mana abi, ummi?"
"Abi ke mesjid."
"Masjid mana?", teriaknya kembali.
"Ke mesjid dekat rumahmeki' qt, nak. Ada mungkin nenek bapak disitu".
Ia kesana. Dan kembali lagi ke rumah dengan tangisan.
"Tidak ada, ummi".
Ia menangis lagi, mencari abinya. Menyuruhku menelpon, tapi yang ditelpon tak jua mengangkat hpnya.
"Mungkin lagi sholat gerhana mi, nak".
Ia menangis, meraung-raung "Tidak sholat gerhana ma' saya, ummi".
Yah, qaddarullaah..
Setelah matahari muncul kembali, Faqih kembali mengatakan "Nanti malam beginiji lagi. Gelap lagi ummi toh".
"Iye, nak. Sebentar gelapji lagi, kalau malam"
"Sudahpi sore ummi toh?"
"Iye..."
Apa yang terbaik, itulah yang terjadi
Sinjai, 9 Maret 2016
Langganan:
Postingan (Atom)