Bismillaah...
Datang dan pergi, silih berganti.
Tepat setahun, ia bergabung bersama kami. Kemarin, ia meminta izin untuk resign dari Mutiara Baby Shop.
Sedih dan senang.
Sedih, karena rasa-rasanya ia sudah menjadi bagian dari keluarga kami. Setahun bekerja di toko, bukan waktu yang singkat. Beraaaat skali melepaskan. Tapi apa mau dikata, semua ada batasnya. Semua ada akhirnya.
Senang, karena ia resign untuk berpindah ke kehidupan yang lebih baik. Ia -alhamdulillaah- akan menikah dalam waktu dekat. Tanggal pun sudah ada. Itulah yang terbaik. Semoga Allah mudahkan hingga hari H.
Seketika, semua kenangan bersama terputar kembali. Lagi-lagi, masih sedih. Terkadang, saya berpikir, mengapa setiap perpisahan itu menyakitkan. Tapi saya kembali menyadari, begitulah kehidupan. Tak ada yang kekal, tak ada yang abadi. Yang abadi hanyalah Allah. Lalu mengapa kita masih saja menggantungkan sejuta harapan kepada selain Allah? Padahal mereka semua akan pergi, akan sirna, dan meninggalkan kita. Mau tidak mau, sedih atau senang, manis atau pahit.
*untuk Faridah, our best marketing tim in MBS, semoga Allah lancarkan urusan-urusannya hingga dan setelah hari pernikahannya*
Sinjai, 2 Januari 2017
(RMI)
Hanya berisi sepenggal pengalaman yang Allah takdirkan terjadi padaku. Semoga qt bisa mengambil pelajaran dan hikmah...
Senin, 02 Januari 2017
Sabtu, 31 Desember 2016
"Kiamat Sudah Dekat"
Tadi sore, antar 3 paket ke JNE.
Pas sampai sana, pak JNE nya lagi dengar sesuatu dari hpnya pake headset. Saya masuk, pak JNE lepas headset trus duduk.
"Tujuan kemana, bu?" (sambil melihat ke paket-paket)
Saya terdiam saja, karena pak JNE nya sudah liat tulisan di paket.
Tiba-tiba, beliau nyeletuk,
"Betul-betul sekarang, zaman sudah berubah. Kiamat sudah dekat", beliau berkata seperti ngeri campur takut.
"Iya pak", cuma itu jawaban saya, karena saya pun tak tahu ada sebab apa beliau tiba-tiba mengatakan seperti itu.
Apakah beliau sudah dengar/baca berita tentang orang-orang yang menyambut tahun baru sekarang sehingga mengatakan seperti itu?
Ataukah ada hubungannya dengan paket-paket yang saya bawa? Hmm.. entahlah..
Mau nanya lebih lanjut, agak segan, takut mengganggu kerjaan beliau yang lagi proses penginputan alamat ke komputer.
Apapun sebabnya, memang betul, pak..
KIAMAT SUDAH DEKAT
Mari ber"SIAP"...
Sinjai, 31 Desember 2016
(Lagi gak ada teman cerita, jadi ceritanya sama blog saja 😢😢)
Pas sampai sana, pak JNE nya lagi dengar sesuatu dari hpnya pake headset. Saya masuk, pak JNE lepas headset trus duduk.
"Tujuan kemana, bu?" (sambil melihat ke paket-paket)
Saya terdiam saja, karena pak JNE nya sudah liat tulisan di paket.
Tiba-tiba, beliau nyeletuk,
"Betul-betul sekarang, zaman sudah berubah. Kiamat sudah dekat", beliau berkata seperti ngeri campur takut.
"Iya pak", cuma itu jawaban saya, karena saya pun tak tahu ada sebab apa beliau tiba-tiba mengatakan seperti itu.
Apakah beliau sudah dengar/baca berita tentang orang-orang yang menyambut tahun baru sekarang sehingga mengatakan seperti itu?
Ataukah ada hubungannya dengan paket-paket yang saya bawa? Hmm.. entahlah..
Mau nanya lebih lanjut, agak segan, takut mengganggu kerjaan beliau yang lagi proses penginputan alamat ke komputer.
Apapun sebabnya, memang betul, pak..
KIAMAT SUDAH DEKAT
Mari ber"SIAP"...
Sinjai, 31 Desember 2016
(Lagi gak ada teman cerita, jadi ceritanya sama blog saja 😢😢)
Kamis, 15 Desember 2016
Selamat Jalan, kak Fitri...
Tidak ada yang bisa saya ceritakan tentang Ummu Uwais selain kebaikannya.
Beliau adalah thoolibah (penuntut ilmu) sejati. Tak ada majelis ilmu kecuali ada beliau. Kalaupun beliau tidak hadir, beliau meminta catatan atau rekaman dari yang hadir. Terakhir, ketika ada acara seminar parenting oleh teh Kiki di Sinjai, di grup akhwat sinjai, beliau sangat meminta untuk direkamkan. Sangat haus dengan ilmu. Maa sya Allaah
Beliau sangat gigih dalam menghafal quran. Di halaqoh kami dulu, saya saksi mata beliau atas kegigihannya. Walau anak sudah dua waktu itu, semangatnya tidak berubah. Suatu waktu, sebelum tarbiyah dimulai, beliau mencolek saya.
"Dek, mauka' stor hafalanku"
Terdengarlah lantunan ayat dari beliau, banyak, bukan 1-5 ayat. Setelahnya, beliau bercerita tentang pengalaman dan perjuangannya menghafal Qur'an.
Sampai saat ini, masih terbayang saat-saat beliau melantunkan ayat di juz 29.
Beliau adalah mujahidah, sangat tangguh, baik dalam kepengurusan maupun amanahnya sebagai murobbiyah. Aktif berdakwah kapan saja dan dimana saja.
Lembut tapi tegas. Paling tidak bisa melihat kemungkaran sekecil apapun.
Dimanapun beliau berada, beliau tetap berdakwah. Ia lalui walau medan dakwah begitu berat dan jauh.
Kader yang beliau cetak maa sya Allaah. Saya terkagum-kagum, saat baru memasuki salah satu sekolah di Sinjai, tempat saya dan kak fitri diberi amanah, banyak siswa yang berpakaian syar'i. Cek per cek, ternyata sebagian besar siswa itu adalah binaan kak Fitri. Ma sya Allaah.
Yang saya tahu, hidupnya memang tak jauh dari dakwah dan kaderisasi. Hingga saat beliau sembuh dari sakitnya, ia masih sempat mencari "siapa yang mau belajar Islam"
Masih banyak kenangan lain tentang kebaikan beliau semasa hidup.
Kak Fitri memang sudah meninggal, tapi semangat dan perjuangannya masih hidup di hati kami. Semoga saja, itu semua menjadi amal jariyah buat kak Fitri, penerang kuburnya yang bisa mengantarkan beliau hingga ke syurgaNya.
Bukan tentang kapan, dimana dan saat apa kita meninggal, tapi bagaimana kita mempersiapkan amalan yang bisa menemani kita di alam kubur nanti, mempersiapkan diri menuju kehidupan yang abadi, yang tak ada lagi kehidupan setelahnya.
Allaahummaghfir lahaa wa 'afihi wa'fuanhaa..
Beliau adalah thoolibah (penuntut ilmu) sejati. Tak ada majelis ilmu kecuali ada beliau. Kalaupun beliau tidak hadir, beliau meminta catatan atau rekaman dari yang hadir. Terakhir, ketika ada acara seminar parenting oleh teh Kiki di Sinjai, di grup akhwat sinjai, beliau sangat meminta untuk direkamkan. Sangat haus dengan ilmu. Maa sya Allaah
Beliau sangat gigih dalam menghafal quran. Di halaqoh kami dulu, saya saksi mata beliau atas kegigihannya. Walau anak sudah dua waktu itu, semangatnya tidak berubah. Suatu waktu, sebelum tarbiyah dimulai, beliau mencolek saya.
"Dek, mauka' stor hafalanku"
Terdengarlah lantunan ayat dari beliau, banyak, bukan 1-5 ayat. Setelahnya, beliau bercerita tentang pengalaman dan perjuangannya menghafal Qur'an.
Sampai saat ini, masih terbayang saat-saat beliau melantunkan ayat di juz 29.
Beliau adalah mujahidah, sangat tangguh, baik dalam kepengurusan maupun amanahnya sebagai murobbiyah. Aktif berdakwah kapan saja dan dimana saja.
Lembut tapi tegas. Paling tidak bisa melihat kemungkaran sekecil apapun.
Dimanapun beliau berada, beliau tetap berdakwah. Ia lalui walau medan dakwah begitu berat dan jauh.
Kader yang beliau cetak maa sya Allaah. Saya terkagum-kagum, saat baru memasuki salah satu sekolah di Sinjai, tempat saya dan kak fitri diberi amanah, banyak siswa yang berpakaian syar'i. Cek per cek, ternyata sebagian besar siswa itu adalah binaan kak Fitri. Ma sya Allaah.
Yang saya tahu, hidupnya memang tak jauh dari dakwah dan kaderisasi. Hingga saat beliau sembuh dari sakitnya, ia masih sempat mencari "siapa yang mau belajar Islam"
Masih banyak kenangan lain tentang kebaikan beliau semasa hidup.
Kak Fitri memang sudah meninggal, tapi semangat dan perjuangannya masih hidup di hati kami. Semoga saja, itu semua menjadi amal jariyah buat kak Fitri, penerang kuburnya yang bisa mengantarkan beliau hingga ke syurgaNya.
Bukan tentang kapan, dimana dan saat apa kita meninggal, tapi bagaimana kita mempersiapkan amalan yang bisa menemani kita di alam kubur nanti, mempersiapkan diri menuju kehidupan yang abadi, yang tak ada lagi kehidupan setelahnya.
Allaahummaghfir lahaa wa 'afihi wa'fuanhaa..
Senin, 19 September 2016
Selamat Jalan, Ummu Hikari
Bismillaah...
Sesedih itukah?
Iya, sangat sedih. Sejak pertama kali mendengar kabar bahwa beliau kritis, saya gemetaran. Saat itu masih stengah 5 subuh, menunggu azan, buka facebook, statusmu ramai. Padahal hanya status 'biasa'. Saya kaget saat membaca salah satu komen "innalillaah...."
Janin yang kau kandung selama 9 bulan, ternyata sudah meninggal duluan. Dan engkau kritis, koma setelahnya.
Innalillaahi wa inna ilaihi roji'un...
Sejak saat itu, saya tak bisa move on. Ingatanku selalu padamu, memantau kabarmu dari fb mu dan berharap ada perkembangan baik darimu.
2 hari sebelum hari ini, ada berita baik. Katanya, kamu mengalami peningkatan dengan respon gelitikan di kaki. Dan hari itu saya terharu. Berharap lagi ada keajaiban. Berharap dirimu kembali sadar dan berkumpul bersama keluarga.
Tapi tidak. Tadi pagi, bahkan suami yang mengabarkan saya. Saya tak percaya. Hingga kubuka fb ku, dan ucapan berduka berentetan di timeline fb ku.
Innalillaahi wa inna ilaihi roji'un...
Selamat jalan kak Ummi :'(
Ingatanku kembali ke awal kita saling tahu. Kita satu kabupaten, tapi dipertemukan di salah satu grup nasional, yang isinya dari berbagai kota di Indonesia. Saat itu, engkau yang jadi penanggung jawab area Sulawesi. Mau tidak mau, saya harus berkenalan denganmu, kakak.
Selanjutnya, kembali kita dipertemukan di grup kulakan. Kita memesan barang yang sama dan barangnya dialamatkan ke tempatku. Saat barang datang, saya menghubungimu dan engkau datang ke rumah. Saat itulah awal kali kita bertemu.
Ekspresi kagum kepadamu, kak, karena saat itu, engkau baru saja sepekan telah melahirkan anak keduamu. Dan engkau datang ke rumah mengendarai motor.
"Kuatta', kak..", hanya itu yang kuungkapkan padamu.
Dan kau hanya tersenyum dan pamit pulang ke rumah.
Kali kedua, kita kulakan makanan Pie khas Bali. Kali ini dialamatkan ke tempatmu. Dan saya sendiri yang menjemputnya di rumahmu (diantar suami) malam-malam. Dan malam itu, pun engkau sendiri yang menyerahkan padaku.
Dan beberapa kenangan lain yang tak bisa saya sebutkan semuanya.
Sungguh, perjuangan ibu ternyata begitu berat. Sangat berat. Antara hidup dan mati. Dan kau telah membuktikannya, kak Ummi.
Selamat jalan, kak..
Tuntas sudah amanahmu di dunia
Tinggal kami di sini, yang hanya tinggal menunggu giliran.
Semoga Allah berkenan mematikan saya dan kita semua dengan akhir yang baik.
Sinjai, 19 September 2016
Sesedih itukah?
Iya, sangat sedih. Sejak pertama kali mendengar kabar bahwa beliau kritis, saya gemetaran. Saat itu masih stengah 5 subuh, menunggu azan, buka facebook, statusmu ramai. Padahal hanya status 'biasa'. Saya kaget saat membaca salah satu komen "innalillaah...."
Janin yang kau kandung selama 9 bulan, ternyata sudah meninggal duluan. Dan engkau kritis, koma setelahnya.
Innalillaahi wa inna ilaihi roji'un...
Sejak saat itu, saya tak bisa move on. Ingatanku selalu padamu, memantau kabarmu dari fb mu dan berharap ada perkembangan baik darimu.
2 hari sebelum hari ini, ada berita baik. Katanya, kamu mengalami peningkatan dengan respon gelitikan di kaki. Dan hari itu saya terharu. Berharap lagi ada keajaiban. Berharap dirimu kembali sadar dan berkumpul bersama keluarga.
Tapi tidak. Tadi pagi, bahkan suami yang mengabarkan saya. Saya tak percaya. Hingga kubuka fb ku, dan ucapan berduka berentetan di timeline fb ku.
Innalillaahi wa inna ilaihi roji'un...
Selamat jalan kak Ummi :'(
Ingatanku kembali ke awal kita saling tahu. Kita satu kabupaten, tapi dipertemukan di salah satu grup nasional, yang isinya dari berbagai kota di Indonesia. Saat itu, engkau yang jadi penanggung jawab area Sulawesi. Mau tidak mau, saya harus berkenalan denganmu, kakak.
Selanjutnya, kembali kita dipertemukan di grup kulakan. Kita memesan barang yang sama dan barangnya dialamatkan ke tempatku. Saat barang datang, saya menghubungimu dan engkau datang ke rumah. Saat itulah awal kali kita bertemu.
Ekspresi kagum kepadamu, kak, karena saat itu, engkau baru saja sepekan telah melahirkan anak keduamu. Dan engkau datang ke rumah mengendarai motor.
"Kuatta', kak..", hanya itu yang kuungkapkan padamu.
Dan kau hanya tersenyum dan pamit pulang ke rumah.
Kali kedua, kita kulakan makanan Pie khas Bali. Kali ini dialamatkan ke tempatmu. Dan saya sendiri yang menjemputnya di rumahmu (diantar suami) malam-malam. Dan malam itu, pun engkau sendiri yang menyerahkan padaku.
Dan beberapa kenangan lain yang tak bisa saya sebutkan semuanya.
Sungguh, perjuangan ibu ternyata begitu berat. Sangat berat. Antara hidup dan mati. Dan kau telah membuktikannya, kak Ummi.
Selamat jalan, kak..
Tuntas sudah amanahmu di dunia
Tinggal kami di sini, yang hanya tinggal menunggu giliran.
Semoga Allah berkenan mematikan saya dan kita semua dengan akhir yang baik.
Sinjai, 19 September 2016
Sabtu, 17 September 2016
Menolak Tawaran
Bismillaah..
Tadi siang, saya di telpon sama seorang ibu. Beliau menawarkan suatu barang dan ingin bertemu langsung untuk memperlihatkan produknya.
Singkat cerita...
Bertemulah kami. Beliau memperlihatkan saya produk yang dijual dengan harapan, saya membeli sekaligus menyetok / menjual di toko.
Saya, yang tentu saja tak ingin ceroboh, pamit untuk minta izin pada suami. Baru menyebut nama barangnya, suami bilang "Gak Usah nyetok yang itu, jualan itu harus FOKUS".
Tanpa pikir panjang, saya kembali ke ibu tadi. Kebetulan saat saya kembali ini, si ibu tadi nampak berbincang ringan dengan seorang pengunjung toko.
Saya menyela...
"Maaf bu, nda diizinkanka'. Bagus mungkin qt jual di penjual xxx (yang berhubungan dengan produknya)."
"O iya...", si ibu dengan tanggap mengambil produknya dari tanganku, sambil tetap bercakap dengan ibu pengunjung toko.
Saya masih berdiri di situ, karena seperti biasa, jika ada sales, saya akan beranjak jika ia telah keluar dari pintu toko.
Begitupun dengan ibu kali ini. Setelah saya menolak dan produknya diambilnya dari tanganku, raut muka nya berubah. Kecewa pasti. Dan, setelahnya, ia tak pernah lagi melihatku. Sampai ia keluar dari pintu. Pamitnya cuma sama ibu pengunjung.
Jangan pernah mau jadi penjual jika tak siap ditolak. Jadi pembeli saja. Karena pembeli tak pernah akan ditolak sama penjual.
Sinjai, 17 September 2016
Tadi siang, saya di telpon sama seorang ibu. Beliau menawarkan suatu barang dan ingin bertemu langsung untuk memperlihatkan produknya.
Singkat cerita...
Bertemulah kami. Beliau memperlihatkan saya produk yang dijual dengan harapan, saya membeli sekaligus menyetok / menjual di toko.
Saya, yang tentu saja tak ingin ceroboh, pamit untuk minta izin pada suami. Baru menyebut nama barangnya, suami bilang "Gak Usah nyetok yang itu, jualan itu harus FOKUS".
Tanpa pikir panjang, saya kembali ke ibu tadi. Kebetulan saat saya kembali ini, si ibu tadi nampak berbincang ringan dengan seorang pengunjung toko.
Saya menyela...
"Maaf bu, nda diizinkanka'. Bagus mungkin qt jual di penjual xxx (yang berhubungan dengan produknya)."
"O iya...", si ibu dengan tanggap mengambil produknya dari tanganku, sambil tetap bercakap dengan ibu pengunjung toko.
Saya masih berdiri di situ, karena seperti biasa, jika ada sales, saya akan beranjak jika ia telah keluar dari pintu toko.
Begitupun dengan ibu kali ini. Setelah saya menolak dan produknya diambilnya dari tanganku, raut muka nya berubah. Kecewa pasti. Dan, setelahnya, ia tak pernah lagi melihatku. Sampai ia keluar dari pintu. Pamitnya cuma sama ibu pengunjung.
Jangan pernah mau jadi penjual jika tak siap ditolak. Jadi pembeli saja. Karena pembeli tak pernah akan ditolak sama penjual.
Sinjai, 17 September 2016
Rabu, 31 Agustus 2016
Kenangan 4 Tahun Yang Lalu
Bismillaah..
Terakhir USG 27 Agustus. Kata dokter, perkiraan lahiran bulan depan, sekitar tanggal 25an *masih lama*.
Tadi sore jam 5, pas gendong Faqih, serasa ada yang keluar dari jalan lahir. Cek per cek, ada bercak sedikit, disertai kontraksi. Kayaknya ini tanda-tanda menuju lahiran.
Segera kuhubungi pak suami yang lagi ada urusan di luar rumah.
Saya: "Kak, ada bercak darah yang keluar tadi, kayaknya mauma' melahirkan."
Suami: "Ha? Janganki dulu, belumpa' siap." *panik*
Saya: *tertawa* "Ih, memangnya qt kah yang mau lahiran?"
Suami: "Iye, tapi janganki' dulu, belumpa siap"
.
.
.
.
4 tahun yang lalu, menuju persalinan anak ke 2 "Mutiara Hannan"
Sinjai, 31 Agustus 2016
Terakhir USG 27 Agustus. Kata dokter, perkiraan lahiran bulan depan, sekitar tanggal 25an *masih lama*.
Tadi sore jam 5, pas gendong Faqih, serasa ada yang keluar dari jalan lahir. Cek per cek, ada bercak sedikit, disertai kontraksi. Kayaknya ini tanda-tanda menuju lahiran.
Segera kuhubungi pak suami yang lagi ada urusan di luar rumah.
Saya: "Kak, ada bercak darah yang keluar tadi, kayaknya mauma' melahirkan."
Suami: "Ha? Janganki dulu, belumpa' siap." *panik*
Saya: *tertawa* "Ih, memangnya qt kah yang mau lahiran?"
Suami: "Iye, tapi janganki' dulu, belumpa siap"
.
.
.
.
4 tahun yang lalu, menuju persalinan anak ke 2 "Mutiara Hannan"
Sinjai, 31 Agustus 2016
Minggu, 28 Agustus 2016
Ziyad-ku
Bismillaah...
Hari ini, 27 Agustus 2016. Pertama kalinya, Ziyad ke Makassar sendirian bersama abinya, tanpa saya dan anak-anak. Hiks..
Pas Abi bilang, "Ziyad yang berangkat", kakaknya Faqih merayu agar adiknya tidak ikut. Tapi tetap saja, untuk pembelajaran dan pembiasaan, Ziyad harus ikut berangkat ke Makassar.
Sebelum pergi, terjadi dialog singkat antara saya dan Ziyad.
S: Ziyad, mau kemana nak?
Z: ke makassar
S: mau ketemu siapa disana?
Z: mauka ketemu abaku
S: Bukan abata itu deh. Abanya Faqih
Z: iye, abanya Faqih. Kupinjamki dulu loh...
Huaa... lucu-lucunya ini sebenarnya yang bikin saya berat melepaskannya ke Makassar. Gak ada Ziyad di rumah, gak rame. Soalnya dia yang paling cerewet, enak diganggu, tingkahnya lucu.
Semoga saja, di Makassar, dia gak rewel.
Sinjai, 27 Agustus 2016
Hari ini, 27 Agustus 2016. Pertama kalinya, Ziyad ke Makassar sendirian bersama abinya, tanpa saya dan anak-anak. Hiks..
Pas Abi bilang, "Ziyad yang berangkat", kakaknya Faqih merayu agar adiknya tidak ikut. Tapi tetap saja, untuk pembelajaran dan pembiasaan, Ziyad harus ikut berangkat ke Makassar.
Sebelum pergi, terjadi dialog singkat antara saya dan Ziyad.
S: Ziyad, mau kemana nak?
Z: ke makassar
S: mau ketemu siapa disana?
Z: mauka ketemu abaku
S: Bukan abata itu deh. Abanya Faqih
Z: iye, abanya Faqih. Kupinjamki dulu loh...
Huaa... lucu-lucunya ini sebenarnya yang bikin saya berat melepaskannya ke Makassar. Gak ada Ziyad di rumah, gak rame. Soalnya dia yang paling cerewet, enak diganggu, tingkahnya lucu.
Semoga saja, di Makassar, dia gak rewel.
Sinjai, 27 Agustus 2016
Langganan:
Postingan (Atom)