Bismillah...
Sesungguhnya tidak ada
yang mempertemukan kita pada kajian ilmu secara virtual ini kecuali semata-mata
karena Allah. Semoga Allah selalu memperjumpakan kita di dalam kebaikan. Semoga
kita senantiasa menjadi orang yang dipersaudarakan oleh Allah subhanahu
wata’ala.
Berbicara tentang program
yang akan kita selami, bagaimana sensasi menghabiskan satu kitab “50 Kaidah
Penting dalam alQuran”, tentunya saya ingin menyampaikan prolog. Prolog ini
penting karena akan membantu dan memotivasi kita supaya memudahkan kita untuk
memahami setiap kaidah-kaidah yang akan kita kaji dan pelajari. Prolog dan
muqaddimah itu dalam segala sesuatu selalu diperlukan.
Saya akan menyampaikan
prolog pada kajian Journey with Quran dengan sebuah kisah nyata yang semoga
kisah ini related dengan apa yang kita pelajari. Saya pernah mendapati dalam
teras kehidupan dakwah, saya pernah bertemu dengan seseorang yang menceritakan
tentang salah satu circle sahabatnya. Sahabatnya ini menempuh pendidikan di
luar negeri, di daerah Eropa, Amerika. Dan ketika dia pulang dari perjalanan
studinya setelah menyelesaikan pendidikannya, maka beliau kembali ke tanah air
tercinta, Indonesia. Suatu waktu, orang ini ditakdirkan untuk mengikuti kajian
keluarga besarnya. Walaupun sebenarnya ia merupakan orang yang tidak terbiasa
dengan kultur kajian. Tapi karena ini diadakan dan diselenggarakan oleh
keluarganya, maka beliau ikut. Ketika beliau ikut pada kajian tersebut,
diantara berbagai macam uraian yang disampaikan oleh sang ustadz, ada beberapa
narasi yang sangat menyentuh hatinya.
Sang ustadz berkata,
“Sesungguhnya Quran, ketika menyentuh apapun dalam lini kehidupan kita, maka
Quran itu akan membentuk sesuatu yang istimewa.” Karena beliau kulturnya adalah
dari studi di luar negeri yang mana sangat kuat rasionalitas dan logikanya,
maka sesungguhnya dia sempat menolak apa yang disampaikan oleh sang ustadz. Dia
berpegang kepada logikanya.
Tapi, entah bagaimana,
ketika dia ditakdirkan untuk hamil, maka dia teringat bahwa diantara salah satu
penjelasan sang ustadz, orang-orang yang hamil itu ketika membaca qur’an, akan
diberikan kualitas anak yang berbeda dibanding kehamilannya yang tidak banyak
berinteraksi dengan alquran. Maka ketika dia hamil, antara percaya dan tidak,
antara menolak apa yang pernah ia dengarkan, dengan membandingkan semua teori
yang pernah dia pelajari di dalam studinya, saling beradu.
Sampai akhirnya dia
mencoba untuk membaca alquran selama kehamilannya. Tapi karena dia belum terlalu
yakin, dia membacanya hanya satu kali dalam sembilan bulan. Dan ketika anak itu
dilahirkan, setelah melewati beberapa bulan dan waktu, beliau mendapati
bahwasanya anaknya memiliki kelebihan yang tidak ia dapatkan dari anak-anak
yang seusianya. Dia sempat mengambil kesimpulan, apakah keistimewaan anak saya
karena saya membacakan Quran? Karena sekali lagi, background dia sebagaimana
orang yang selalu mengedepankan rasionalitas, mencoba untuk menolak itu. Tetapi
tetap, bergelayut pertanyaan di dalam hatinya, apakah istimewanya anak saya ini
disebabkan karena saya membacakan quran?
Sampai beberapa waktu
lamanya, akhirnya beliau ditakdirkan untuk hamil yang kedua. Beliau membaca
alquran kembali dan beliau mengkhatamkan alquran selama masa kehamilannya
sebanyak 3 kali (setiap 3 bulan kehamilan, ia khatam sekali). Dan ketika lahir
anak yang kedua, ternyata kualitas anaknya bertambah lebih baik dan lebih maju
daripada anak yang pertama (baik dan maju sesuai dengan pengetahuan yang pernah
ia kaji tentang masalah anak). Dari sugesti menjadi keyakinan, apakah ini disebabkan
karena interaksi saya ketika hamil bersama alquran? Pertanyaan itu tetap muncul
dan belum membuahkan keyakinan penuh.
Sampai akhirnya ia beliau
ditakdirkan untuk hamil yang ketiga. Dalam kehamilannya yang ketiga ini, maka
beliau mencoba untuk mengkhatamkan quran setiap bulan, selama masa
kehamilannya, sembilan bulan sembilan kali khatam. Ketika lahir anak yang
ketiga, melewati beberapa bulan, ia mendapati anak yang ketiga memiliki
keistimewaan lebih dari pada kedua kakaknya. Dan hari ini, anak yang ketiga, di
usia belia sudah hafal alquran.
Disitulah akhirnya beliau
menyampaikan, ternyata betul, interaksi manusia, interaksi alam semesta dengan
alquran itu akan membuat suatu keistimewaan yang luar biasa. Ketika janin
berinteraksi dengan alquran, maka janin pun mendapatkan keistimewaan.
Karena memang sejatinya,
alquran itu bukan hanya kitab yang mana kita mendapatkan manivestasi pahala
ketika kita membacanya. Tetapi dalam
kehidupan kita, hakikat dan sejatinya alquran yang Allah turunkan melalui lisan
nabi dan apa yang diturunkan kepada Rasulullah merupakan kekuatan yang besar.
Karena kekuatan besar dalam kehidupan manusia adalah ketika mereka bersama
dengan alquran. Alquran itu tak hanya diibadahi ketika dibaca, tapi ia
sejatinya kekuatan tanpa perisai yang merubah apapun.
Maka betul apa yang
disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di dalam hadits yang
shohih,
Dari Umar RA, “Allah
mengangkat derajat beberapa kaum melalui kitab ini (Alquran) dan Dia
merendahkan beberapa kaum lainnya melalui kitab ini pula.” (HR. Muslim).
Maka pantas, Alquran itu
adalah mu’jizat terbesar pada kehidupan manusia. Kenapa? Tahukah kita, seluruh
mu’jizat para nabi dan rasul hilang bersama dengan wafatnya satu persatu para
nabi dan rasul ketika mereka meninggal dunia, hilang pula mu’jizat-mu’jizat
yang pernah Allah turunkan kepada para nabi dan rasul. Tapi itu tidak berlaku
pada alquran. Mu’jizat yang Allah turunkan kepada nabi Muhammad itu adalah
alquran, dan dashyat serta spektakulernya alQur’an itu adalah ia tidak hilang
walaupun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam meninggal dunia. Dan kita
menjumpai efektivitas dari mu’jizat alquran terus berlangsung pada kehidupan
manusia sampai nanti ketika matahari terbit dari arah barat.
Kita perhatikan beberapa
hal, untuk menambah keimanan kita bahwasanya alquran itu mu’jizat terbesar pada
kehidupan manusia (perhatikan video). Video ini menceritakan tentang sosial
experiment: orang-orang yang diperdengarkan alquran di negeri Eropa, dimana
negeri itu negeri yang subur dengan Islam phobia, banyak diantara masyarakatnya
sama sekali tidak pernah mengenal Islam dengan pemahaman yang benar dan mereka
tidak pernah mendengarkan quran. Perhatikan, ketika mereka mendengarkan alquran
dari orang yang memperdengarkan alquran di telinga mereka pertama kali. Ada
yang duduk, ada yang nangis, ada yang termenung, bahkan ada yang berkomentar
“Ini instrumen terindah yang pernah saya dapatkan dalam hidup”. Inilah mukjizat
alquran, sampai mereka yang tidak beriman yang notabene mereka tidak pernah
mendengarkan alquran, tetapi justru mereka merasakan dahsyatnya alquran itu
menyentuh pada dinding hati mereka. Dan bukankah kita juga merasakan langsung
mukjizat alquran? Berapa kali kita sering menangis ketika kita berdiri di
belakang imam yang begitu merdu, hafal quran ketika membacakan quran dalam
sholat-sholat panjang yang kita pernah lalui, lalu meneteskan air mata walaupun
kita tidak paham maknanya secara detail. Karena quran spektakuler menjadi
kekuatan yang besar, bukan hanya mengubah kejayaan, tetapi sesungguhnya quran
pun menyentuh dinding hati paling terdalam pada diri manusia.
Kita lihat lagi, ada
sebuah contoh yang bisa menambah keyakinan kita kepada Allah. Perhatikan video
ini. Ini video lautan, terpisah dengan dua lautan dari sisi kanan dan sisi
kiri, kita melihat warna yang berbeda. Tetapi ternyata mereka tidak saling
melampaui diantara dua lautan itu. Sebelum kita menemukan video ini, tahukah
kita? Di dalam surah Arrahman ayat 19-20, Allah sudah berfirman:
“Allah mencampurkan
antara dua lautan, yang asin dan yang tawar saling bertemu yang tampak dilihat
dengan mata. Antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui masing-masing.”
Ada dua lautan yang
ketika bertemu, mereka tidak saling melampaui. Dan itu ada di dalam alquran,
1400 tahun yang lalu, dibawa oleh Rasul dari padang pasir, jauh dari lautan.
Dan Rasul tidak pernah menyeberangi samudra tapi ternyata Rasul sudah
mengabarkan bahwasanya lautan ada dua sisi yang mereka datang dengan warna yang
berbeda dan tidak saling memasuki, dan itu disampaikan di dalam alquran 1400
tahun yang lalu sebelum kita melihat video ini. Disitulah kita paham, siapapun
yang bersama alquran, sejatinya mereka selalu terdepan dalam setiap peradaban.
Perhatikan video kembali,
kita melihat ini adalah foto sebuah gunung warna-warni di dataran China. Kita
dulu tidak tahu kalau ternyata gunung itu warna warni. Tapi ternyata pada surah
Fathir ayat 27, Allah menyampaikan, “Dan diantara gunung-gunung itu ada
garis-garis putih dan merah yang beraneka macam warnanya dan ada pula yang
hitam pekat.”
Dan ternyata itu sudah
disampaikan oleh Allah, 1400 tahun yang lalu. Dan kita baru menyadarinya ketika
melihat video ini, dan itu tambahan kembali bagi kita. Ternyata Quran selalu
mengajak kita terdepan dalam pemikiran, bagaimana kita mengimani quran yang datang
dari dzat yang maha ilmu yang tidak ada batas akhirnya dalam setiap kalam yang
Allah sampaikan dalam alquran. Maka betul kata Rasulullah, Quran itu mengangkat
satu kaum.
Perhatikan bangsa Arab,
bangsa penggembala kambing. Anak-anak perempuan dikubur hidup-hidup, umatnya
meminum khamr, perempuan-perempuannya bisa dicicipi setiap lelaki pada zaman
itu. Bahkan kalau kita mengenal kultur masyarakat jahiliyah, setiap perempuan
yang mau dizinahi, tinggal memasang bendera di depan rumahnya, yang dipahami
setiap lelaki bahwasanya dia memasuki rumah tersebut dalam kondisi bisa untuk
menikmati perempuannya. Dari bangsa dengan kultur yang semacam itu, quran
menyentuh mereka. Dan ternyata, peradaban mereka berubah pesat. Tidak sampai 20
tahun, Persia rontok. Tidak sampai 50 atau 100 tahun, Romawi pun rontok,
disebabkan komitmen komunitas ring pertama Rasulullah yaitu para sahabat,
komitmen kepada AlQuran. Inilah saatnya, ketika kita ingin membangun
puzzle-puzzle peradaban dan kemuliaan kita dihadapan sang khalik, kemuliaan
kita adalah ketika kita memahami kalam Allah dalam kehidupan kita dan itulah
kewajiban kita kepada alquran.
Syeikh Utsaimin berkata,
“Kewajiban manusia kepada Quran itu sejatinya ada 4:
1. Membacanya (karena itu
adalah bagian dari ibadah, setiap hurufnya), 2. Memahami artinya, 3. Memahami
tafsir, ta’wil dan interpretasinya (persis dengan apa yang disampaikan oleh
Rasulullah), 4. Tata prilaku dan sikap (persis sebagaimana petunjuk wahyu dan
ilahi)”.
Dan Inilah kewajiban kita
dalam kehidupan kita berinteraksi dengan alQuran supaya meningkatkan kemuliaan
kita di hadapan sang khalik dan sesungguhnya alam semesta merendahkan dirinya
kepada mereka yang telah menyerahkan dirinya kepada alquran.
Makanya, saya pernah
kagum pada salah satu acara yang membuat saya tidak akan pernah lupa. Dulu
ketika saya masih kuliah di Fakultas Syariah, saya pernah menghadiri debat
antara kaum muslimin dan umat kristiani dalam sebuah debat yang ramah dan baik.
Yang menarik bukan ketika masing-masing pihak menyampaikan apa yang ingin
mereka sampaikan dari konsep kebenaran, tetapi yang menarik adalah ketika
dibuka sesi pertanyaan, ada salah satu yang menanggapi. Pada saat itu, dia
mengatakan testimoni, “Saya ini muallaf. Alasan saya masuk Islam itu sederhana.
Saya mencari semua agama diantara perbedaan dan keistimewaan masing-masing
agama. Lalu saya menjumpai, tidak ada agama yang mampu menjadikan setiap
pemeluknya hafal kitab sucinya, dari huruf pertama sampai terakhir kecuali itu
hanya saya dapatkan di dalam Islam. Dan yang hafal alquran di dalam Islam bukan
satu dan dua, ratusan ribu yang tersebar dari ujung timur sampai ujung barat.
Dan tidak ada kitab yang sampai dijadikan mudah oleh penciptanya untuk
dihafalkan oleh pemeluknya kecuali itu hanyalah alquran.” Lalu beliau menantang
dengan lembut. Tantangan itu adalah ketika beliau berkata, “Apapun agama yang
bisa memberikan bukti kepada saya bahwasanya kitab suci mereka dihafalkan oleh
pemeluknya sebagaimana kami menghafalkan alquran dari huruf pertama sampai
huruf yang terakhir, maka saya siap untuk murtad dari agama ini dan memindahkan
agama saya kepada agama itu.” Dan tantangan itu, senyap, tidak terjawab. Karena
memang sejatinya tidak ada kitab suci yang paling benar, yang asli, kecuali alquran
yang Allah mudahkan bagi setiap hamba dan mahkluknya untuk menghafalkannya,
karena disitulah kunci peradaban kita.
Inilah yang membuat kami
ingin membahas sisi-sisi yang ada dalam alquran, yang related dan berkaitan
langsung dengan kehidupan kita, supaya betul-betul kehidupan kita, referensinya
bukan referensi abal-abal dari manusia. Referensinya bukan abal-abal dari
mereka yang tidak beriman dan bukan bersumber kepada dzat yang maha ilmu. Kita
ingin kembali berinteraksi dengan alquran dalam kehidupan kita, karena
kebahagiaan kita terletak pada kebahagiaan kita bersama alquran. Siapapun yang
bersama alQuran, maka akan mulia. Bukankah quran ketika malaikat Jibril
menurunkan, ia menjadi malaikat yang paling mulia. Bukankah malam ketika Allah
menurunkan alquran menjadi malam yang paling mulia, yaitu malam lailatul Qadr.
Bukankah bulan ketika Allah menurunkan alquran menjadi bulan yang paling mulia,
yaitu bulan Ramadhan. Dan bukankah lelaki yang paling mulia adalah lelaki yang
padanya diturunkan alQuran, yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Inilah sebab kami membahas sisi kecil diantara
samudera kebenaran dalam alquran supaya kita paham, kemajuan dan kualitas hidup
kita tidak terletak pada teori-teori yang disandarkan kepada manusia, tetapi
kemuliaan kita yaitu ketika hidup kita bersandar pada kalam ilahi, Rabb yang
menguasai alam semesta.
Selamat datang di program Journey of Quran, semoga kita
mendapatkan keberkahan dalam setiap lembaran-lembaran yang akan kita kaji dan
menumbuhkan keberkahan dengan perbuatan nyata sesuai dengan apa yang Allah
cintai dan ridhoi.
Journey With Quran
oleh: Abu Bassam Oemar Mita, LC. -Hafidzahullah-
Kamis, 20 Agustus 2020 / 1 Muharram 1442 Hijriyah
#catatanraidahmuharrikah #catatanjourneywithquran #journeywithquran #syameelaseriesclassroom