Selasa, 15 Maret 2016

Akhlakmu, Saudariku...

Bismillaah...

Baru saja euforia kesenangan saya rasakan beberapa hari yang lalu, karena ditelpon oleh seseorang yang sangat kusegani. Hampir 10 tahun kami tak pernah bertemu. Hari itu, tidak seperti biasanya, ia menelponku. Menanyakan keberadaanku dimana tapi tak memberi tahu kalau ia siapa. Saya disuruh menebak. Saya yang memang jarang menyimpan nomor, tentu tak bisa langsung tahu. Alhamdulillaah, lama kelamaan, mendengar suara tawanya yang khas, saya langsung menebak kalau ia adalah kak "WR", sebut saja begitu.

SURPRISE, kesan saya awalnya. Tapi, saya berpikir, mungkin ada keperluan. Ternyata betul. Tak berapa lama saya menebaknya, ia menyampaikan hajatnya. Ia butuh sesuatu. Sayangnya, sesuatu yg ia butuhkan itu berada di Sinjai, dan ia butuh cepat. Karena ipar saya juga pujya sesuatu itu, akhirnya saya mengalihkannya padanya.

Terhubunglah ia...
Dan hari ini, iparku menelpon. Ia curhat. Katanya, ia sudah memperlakukan kak "WR" dengan baik, membawakan sesuatu itu langsung ke rumahnya. Yang dibawa sangat banyak, karena kak WR memang meminta untuk dibawakan, semuanya. Sampai disana, ternyata tak ada satupun yang diambilnya. Ini kasus pertama.

Sesampai di rumahnya, iparku di telpon lagi. "Jual "ini" dek?"
"Iya, kak"
"Minta tolong dibawakan ke rumah"
"Saya tidak bisa, kak"
"Minta tolong sama pegawaita'"
Lanjut berlanjut. Dibawakanlah "ini" itu ke rumahnya sama pegawai iparku. Kak WR menyuruh untuk menyimpan barang itu. Katanya ingin dicoba dulu.
"Baiklah kalau begitu, kata iparku.
Esoknya, iparku sms "bagaimana, kak? Ada yang cocok?"
"Tidak ada yang saya suka, dek. Besok saya kembalikan ke toko ta'"

Dikembalikanlah "ini" itu ke toko iparku. TAPI, disini letak kesalahannya. Kak WR mengembalikan "ini" itu tidak seperti semula. Terbongkar-bongkar. Yang dalam dus sudah tidak berada dalam dusnya, dan lain lain, dan lain.
Trus, pas pengembaliannya pun sangat tidak sopan, katanya.
"Dek, ini di'. Buru2ka'...."
Tak ada kata maaf, katanya.

Subhanallaah...
Inikah akhlakmu, wahai saudariku?
Subhanallaah...
Andai itu dilakukan oleh orang yang tak berilmu, mungkin bisa dipahami.
Tapi, tidak.
Ia seorang yang sangat berilmu. Istri seorang yang sangat berilmu pula.

KECEWA, itu kata iparku.
Ternyata, tidak semua ummahat bisa dipercaya.
Tak semua, katanya.

Saya sebagai penghubung ia mengenalnya rasanya tidak enak sekali.

Qaddarullaah wa maa syaa a fa'ala.

Sinjai, 15 Maret 2016

Minggu, 13 Maret 2016

Bergerak Tanpa Kata

Bismillaah

Selalu ilfeel sama orang yang kalau marah, tidak bisa mengendalikan dirinya. Maunya memukul atau apalah yang berbau kekerasan.

Dan yang paling sial, kalau itu menimpa kita. Saya dan kamu. Ah, semoga tidak terjadi padamu dan semoga kamu yang membacanya pun tidak berlaku demikian.

Saya, jangankan dipukul, dicubit, dilempari dan segala bentuk kekerasan lain, SAYA SUDAH KENYANG. Sisa dibunuh mungkin yang belum terjadi. Lebay? Saya rasa tidak..

Teruntuk anak-anakku kelak...
Berlalu lemah lembutlah kalian terhadap semua orang, nak..
Dalam keadaan senang, sedih, maupun marah..
Jangan pernah kalian lampiaskan kemarahan kalian dalam bentuk kekerasan, nak... Jangan!
Karena itu sangat menyakiti hati maupun fisik..
Pilihlah pasangan hidup yang tepat..
Jangan asal pilih.. Jangan asal cantik.. pun, jangan asal gagah, nak
Karena sesungguhnya perbuatan buruk itu menular, dan bisa menjangkiti siapapun yang berdekatan dengannya..

Jika kalian marah, nak.. beristighfarlah.
Diamlah, nak.. adukan semua pada Allah
Biarlah Allah yang membalasnya.

Jangan kau salurkan marahmu dalam bentuk kekerasan, nak... jangan! Sekali lagi, jangan!

Sinjai, 13 Maret 2016

Jumat, 11 Maret 2016

Pilihannya Sendiri

Bismillaah..

Ada saatnya, tempat pakaian yang biasanya tersusun rapi, kini berhamburan tak sedap dipandang.

Ada kalanya, si baby yang biasanya pakaiannya diambilkan oleh sang ibu, kini bisa mengambil sendiri pakaiannya.

Ada masanya, si baby, yang pakaiannya dipilihkan oleh sang ibu, kini beranjak dewasa dan memilih sendiri pakaiannya.

Ia mulai menyukai satu atau beberapa jenis pakaian. Cuci, kering, pakai. Itulah jenis baju kesukaannya. Saat pakaian lain terlihat, ia cuek. Ia bahkan tak ingin dipakaikan atau memakainya.

Dan kini, ia pun mulai belajar memakai sendiri, pilihan sendiri.

Alhamdulillaah bini'matihi tatimmusshoolihaat

Tumbuh dan besarlah nak menjadi harapan ummi dan dan abi, menjadi pengh5afal alqur'an, da'i yang menyeru kebenaran, serta selalu memilih jalan kebaikan sebagai pilihan hidupmu.

Abdullah Ziyad, 2 tahun 5 bulan.

Sinjai, 11 Maret 2016

Rabu, 09 Maret 2016

Gerhana Matahari 2016

Bismillaah...

Dari kemarin, rameee sekali orang-orang membicarakan gerhana matahari. Dari bulan lalu malah. Sempat liat juga ada yang jual kacamata buat gerhana dan waktu itu saya belum 'ngeh'. Ternyata...

Hari ini, hari yang disebut-sebut akan terjadi peristiwa langka, peristiwa yang mungkin terjadi sekali dalam ratusan tahun.

Dari kemarin sudah woro-woro sebar undangan buat sholat gerhana. Saya, yang qaddarullaah lagi berhalangan untuk sholat, bangun hari ini dengan santai. Beraktivitas seperti biasa (mencuci). Setelah mencuci, langit seperti mendung, subhanallaah.. tapi tetap, saya tak bisa melihat gerhana seperti yang ditayangkan di televisi. Namun, saat itu, jam 8 tepatnya, kondisi begitu gelap. MENGERIKAN bagi saya. Perbanyak istighfar, karena Rasulullaah mengatakan, tidaklah gerhana datang melainkan sebagai adzab buat suatu kaum, naudzubillaah...

Pemandangan berbeda terlihat di televisi. Orang-orang menyaksikan gerhana dengan sorak sorai, teriakan bahkan lompat-lompat pertanda senang. Subhanallaah...

Saya jadi merinding, bagaimana jika saat ini juga, Allah tak memunculkan kembali matahari. Bagaimana jika saat ini juga, hari kiamat betul-betul terjadi. Sekali lagi, saya MERINDING ketakutan.

Di sisi lain, anak tertua saya, 'Abdullah Faqih (5y2m) yang sejak kemarin menanti, yang sejak kemarin pertanyaannya tak pernah bergeser "Ummi, besok hari kiamat?", hari ini ia bangun dengan semangat. Ia berniat untuk ikut sholat gerhana bersama abinya. Tapi, ternyata ia tak sadar ikut ke tantenya yang mau ke pasar. Alhasil, ia tidak ikut bersama abinya.

Sepulang dari pasar, ia berteriak.
"Mana abi, ummi?"
"Abi ke mesjid."
"Masjid mana?", teriaknya kembali.
"Ke mesjid dekat rumahmeki' qt, nak. Ada mungkin nenek bapak disitu".

Ia kesana. Dan kembali lagi ke rumah dengan tangisan.
"Tidak ada, ummi".
Ia menangis lagi, mencari abinya. Menyuruhku menelpon, tapi yang ditelpon tak jua mengangkat hpnya.
"Mungkin lagi sholat gerhana mi, nak".
Ia menangis, meraung-raung "Tidak sholat gerhana ma' saya, ummi".

Yah, qaddarullaah..

Setelah matahari muncul kembali, Faqih kembali mengatakan "Nanti malam beginiji lagi. Gelap lagi ummi toh".

"Iye, nak. Sebentar gelapji lagi, kalau malam"
"Sudahpi sore ummi toh?"
"Iye..."

Apa yang terbaik, itulah yang terjadi


Sinjai, 9 Maret 2016

Minggu, 28 Februari 2016

SIRAH NABAWIYAH (16)



KEADAAN MEKKAH SEBELUM NABI DILAHIRKAN

Masih ada hubungan erat dengan dua suku besar yang berkuasa di Mekkah yaitu suku Jurhum dan suku Khuza’ah. Suku Jurhum adalah suku Arab yang paling pertama masuk ke Mekkah, datang dari negeri Yaman, dan nabi Ismail 'alaihissalaam menikah dengan anak dari kepala suku Jurhum. Seiring berjalannya waktu, datang lagi suku Arab yang lain bernama suku Khuza’ah, yang berusaha merebut Mekkah dari suku Jurhum dan akhirnya menguasai Mekkah.

Pada saat suku Jurhum dikalahkan, mereka menimbun air zam-zam, sehingga suku Khuza’ah yang berkuasa setelahnya di Mekkah selama kurang lebih 300 atau 500 tahun (perselisihan pendapat di antara para ahli sejarah), mereka tidak memiliki sumber air (zam-zam). Oleh karena itu, suku Khuza’ah mendatangkan air dari luar. Kemudian muncul juga kisah Amru bin Luhay yang pertama memasukkan berhala ke Mekkah. Karena bingung tidak ada air di Mekkah, akhirnya disembahlah patung-patung yang didatangkan tadi karena berharap ada air. Ini rentetan sejarah yang lalu.

Kisah Qushay bin Kilab
Ia adalah seorang tokoh Mekkah, turunan dari Fihr. Fihr ini adalah Quraisy.
Note: Orang-orang Arab itu, kalau ada di antara tokoh masyarakat yang punya keturunan banyak, punya nama baik, punya kekayaan, hampir semua kebaikan-kebaikan tersebut ada padanya, maka diberilah julukan dari nama dia sebagai nama suku. Misal: Quraisy. Dari mana asal Quraisy? Dia adalah nama orang, seseorang bernama Fihr. Orangnya kaya raya, punya keturunan banyak serta dia dituakan dan diistimewakan di Mekkah. Karena keturunannya banyak, pengaruhnya besar, maka dinisbatkanlah suku orang-orang Mekkah ke dia (Fihr), padahal Fihr sebenarnya hanya salah satu dari masyarakat Mekkah. Begitulah seterusnya sampai hari ini.

Qushay bin Kilab termasuk salah satu tokoh masyarakat Mekkah yang sangat dikenal dan punya kedudukan, nama baik, wibawa, keturunan dan semua kebaikan berkumpul padanya. Ia berasal dari keturunan suku Jurhum, suku Arab pertama yang masuk ke Mekkah pada saat nabi Ismail dan ibunya Hajar ada di sana sendirian.

Waktu itu, bukan suku Jurhum yang berkuasa, tapi suku Khuza’ah. Qushay bin Kilab ini akhirnya menikah dengan anak kepala suku Khuza’ah yang sedang berkuasa di Mekkah. Raja dari suku Khuza’ah waktu itu bernama Hulail. Hulail punya anak gadis, dinikahi oleh Qushay bin Kilab. Pada saat terjadi pernikahan tersebut, maka Qushay bin Kilab makin harum namanya. Selain dia punya kelebihan secara fisik, kekayaan, wibawa, dia juga turunan Jurhum yang dulu berkuasa di Mekkah, dan sekarang menikah dengan anaknya raja Mekkah dari suku Khuza’ah.

Ketika Hulail meninggal, maka Qushay bin Kilab ini menobatkan dirinya menjadi raja Mekkah menggantikan mertuanya. Karena Qushay bin Kilab berasal dari suku Jurhum sementara yang berkuasa sebelumnya (Hulail) dari suku Khuza’ah, maka suku Khuza’ah saat itu menolak. Walaupun Qushay anak menantu Hulail, suku Khuzaah tetap tidak terima karena menganggap masih ada anak-anak Hulail yang lain yang bisa menjadi raja Mekkah.

Akhirnya, Qushay bin Kilab mengumpulkan semua dari suku Jurhum terutama dari orang-orang Quraisy (turunan Fihr), hingga terbentuklah kekuatan. Suku Khuza’ah juga membentuk kekuatan. Maka hampir saja pada saat itu Mekkah berperang, artinya masyarakatnya jadi terbagi dua; suku Jurhum dan suku Khuza’ah. Tetapi, karena sudah banyak pernikahan yang terjadi antara mereka (suku Jurhum dan Khuza’ah), termasuk Qushay bin Kilab, yang dikhawatirkan jika terjadi peperangan akan menimbulkan permasalahan dalam rumah tangga mereka, maka akhirnya disepakati, daripada perang, lebih baik mereka mencari satu orang penengah (hakim) yang menentukan, siapa kira-kira yang berhak memimpin Mekkah, apakah Qushay bin Kilab dari suku Jurhum menggantikan mertuanya atau kekuasaan dikembalikan ke suku Khuza’ah lagi (dari keturunan Hulail yang lain).

Ditemukanlah satu orang yang dituakan oleh orang-orang Arab saat itu, bernama Ya’mur bin Auf. Dia adalah seorang hakim yang masyhur di Mekkah. Umurnya sudah mencapai 100 tahun waktu itu. Hampir setiap masalah yang dihadapi oleh orang-orang Arab yang induknya berada di Mekkah, jika mereka tidak bisa pecahkan, mereka kembali ke orang ini (Ya’mur). Ketika diminta menjadi penengah, Ya’Mur mengatakan, “Baiklah... Datangkan saksi-saksi, 5 atau 6 dari suku Jurhum dan Khuza’ah”.

Saksi-saksi datang. Dibuatlah kesepakatan tertulis bahwasanya apapun yang Ya’mur bin Auf tentukan sebagai sebuah keputusan, harus disetujui, tidak boleh ada yang memberontak. Disepakatilah. Maka, Ya’mur pun mendatangkan Qushay bin Kilab, didudukkan. Kemudian didatangkan pula anak Hulail yang lain (namanya tidak disebutkan dalam buku sejarah) mewakili suku Khuza’ah.

Qushay ditanya oleh Ya’mur, “Apa permasalahanmu? Mengapa kamu tiba-tiba ingin menobatkan dirimu menjadi raja Mekkah? Apakah hanya karena kamu anak mantunya Hulail, raja Mekkah?”
Qushay menjawab, “Bukan. Jika dilihat dari history/sejarah, komunitas di Mekkah ini dibentuk oleh kakek saya yang bernama Ismail yang menikah dengan anak kepala suku Jurhum yang merupakan suku saya juga sementara suku Khuza’ah ini (suku mertua saya, Hulail, dan seluruh keturunannya) hanya datang, menyerang dan merebut Mekkah dari kami tanpa sebab.”

Ketika salah satu anak Hulail yang secara rentetan keturunan akan dijadikan pengganti Hulail ditanya, ia tidak bisa ngomong. Tokoh-tokoh suku Khuza’ah juga ditanya tak ada yang bisa menjawab, karena sejarahnya memang begitu; Khuza’ah datang memerangi Jurhum, dikalahkan, suku Jurhum keluar dari Mekkah.

Maka pada saat itu, tiba-tiba saja Ya’mur bin Auf mengatakan, “Semua kekuasaan Mekkah kembali ke Jurhum”. Mulai saat itulah, karena Qushay turunan dari Fihr (Quraisy), maka yang berkuasa di Mekkah bukan lagi Jurhum, tapi suku kecilnya (Quraisy). Ini sudah mulai masuk ke rentetan sejarah Mekkah. Ini kisahnya. Quraisy itu nama seorang tokoh bernama Fihr. Dan itulah kisah mengapa Quraisy mendominasi kekuasaan di Mekkah.

Akhirnya, dari keputusan Ya’mur bin Auf, Qushay bin Kilab dipastikan menjadi raja Mekkah dan kembalilah semua kekuasaan kepada suku Jurhum, tepatnya yang berkuasa adalah turunan dari Quraisy. Qushay ini adalah salah satu dari kakek Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam, jauh di atas Abdul Mutthalib. Nantinya, kita akan melihat, di Mekkah yang akan berkuasa adalah orang-orang Quraisy langsung dari turunan kakek nabi shallallaahu 'alaihi wasallam. Jadi, nabi shallallaahu 'alaihi wasallam adalah turunan raja di Mekkah, bukan masyarakat biasa.

Qushay bin Kilab, setelah menjadi raja, ternyata memang orangnya sangat adil dan baik, sehingga suku-suku Khuza’ah pun banyak yang puas dengan kepemimpinannya. Dia membangun sebuah tempat yang bernama Daarun Nadwah di Mekkah, sebuah tempat besar tempat berkumpulnya masyarakat Mekkah. Apapun kegiatannya kembali ke Daarun Nadwah. Termasuk nanti ketika orang-orang Quraisy ingin membunuh dan mengusir nabi shallallaahu 'alaihi wasallam dari Mekkah, mereka berkumpul di Daarun Nadwah. Nah, yang membangun Daarun Nadwah ini adalah Qushay bin Kilab, raja dari suku Jurhum yang akhirnya ternobatkan menjadi raja setelah mertuanya meninggal.

Qushay bin Kilab dikaruniai Allah beberapa orang anak. Diantara sekian banyak anak-anaknya, yang terkenal (dalam buku-buku sejarah banyak disebutkan) adalah ‘Abdud Daar dan Abdul Manaf. Sebelum Qushay bin Kilab meninggal, ia melihat anak-anaknya yang lain ini punya kedudukan dan berhasil kecuali ‘Abdud Daar. ‘Abdud Daar, anak tertuanya ini tidak punya kekuatan, orangnya lemah secara fisik, tidak punya wibawa di masyarakat.

Untuk memberikan kedudukan yang baik buat anaknya, ‘Abdud Daar, maka Qushay menulis sebuah surat wasiat, “Kalau saya meninggal, yang menggantikan saya adalah ‘Abdud Dar, tidak boleh anak yang lain karena mereka sudah punya kedudukan di masyarakat, punya kekayaan dan keturunan”. Jadi, setelah Qushay meninggal, yang datang (menjadi raja) adalah ‘Abdud Dar.

‘Abdud Daar ini memegang semua yang berurusan dengan Mekkah. Waktu itu belum ada pembagian tugas seperti misalnya: memberi makan dan minum jemaah haji. Zaman dulu itu, orang-orang Quraisy punya kemuliaan, seluruh jemaah haji yang datang mereka yang memberi makan dan minum. Jadi jamaah haji cuma datang dengan pakaian ibadah mereka, nanti disana baru diberikan makanan dan minuman. Dan semua yang dibutuhkan dari kendaraan (unta, kuda) itu semua disiapkan oleh  orang-orang Quraisy.

Qushay bin Kilab memberikan pemerintahan itu kepada ‘Abdud Daar, termasuk juga Daarun Nadwah, tempat pertemuan yang besar tadi. Berjalanlah kepemimpinan tersebut. Ringkas cerita, waktu ‘Abdud Daar meninggal, maka mulailah terjadi perselisihan di Mekkah. Anak-anaknya ‘Abdud Daar ingin meneruskan kerajaan itu, tapi anak dari Qushay bin Kilab (Abdul Manaf dan yang lain) menolak karena masih ada anak-anak Qushay yang lain. Mereka mengatakan dulu kerajaan diberikan kepada ‘Abdud Daar hanya untuk mengharumkan namanya karena dia tidak punya wibawa di masyarakat. Terjadilah perselisihan.

Karena perselisihan terjadi dan mereka hampir ribut, akhirnya disepakati pembagian tugas. Khusus untuk urusan Ka’bah; Qiswah/pembungkus ka’bah, mengurus mata air zam-zam, itu diberikan kepada keturunan ‘Abdud Daar, termasuk Daarun Nadwah. Keturunan Qushay yang lain yaitu Abdul Manaf, tugasnya mengurus jemaah haji (makan, minum, dll-nya). Jadi, ada pembagian tugas di Mekkah.

Jadi pembagian tugasnya waktu itu sampai hari ini masih sama. Termasuk kunci Ka’bah, yang memegang sekarang masih dari turunan ‘Abdud Daar. Sementara pengurusan jemaah haji dahulu dari turunan Abdul Manaf, tentu sekarang sudah tidak ada lagi karena jemaah haji sekarang pembiayaannya secara individual.

Teruslah mereka saling mewarisi hal ini, sampai di zamannya Abdul Mutthalib. Abdul Mutthalib ini turunan dari Abdul Manaf. Nanti di zaman Abdul Mutthalib ini, tidak ada lagi pembagiaan tugas itu, artinya tinggal memegang kunci ka’bah saja yang dipegang oleh turunan ‘Abdud Daar. Nanti ketika Abdul Mutthalib dinobatkan menjadi raja Mekkah sehingga Quraisy menjadi satu, tidak ada lagi istilah turunan ‘Abdud Daar dan Abdul Manaf.

Masih sejarah dari Abdul Manaf, turunannya terkenal sekali dengan karom (kemuliaannya). Karena mereka merasa memberi makan dan minum jamaah haji adalah sebuah tugas terhormat, sampai air yang mereka datangkan dari luar Mekkah, dibeli dengan harga mahal kemudian dicampur dengan susu dan madu untuk diberikan kepada jamaah haji. Waktu itu mata air zam-zam masih tertimbun, nanti di zaman Abdul Mutthalib baru ditemukan kembali. Ini perilaku yang sangat terkenal dalam sejarah dan jumlah jamaah haji waktu itu sangat banyak.

Kalau kita lihat sekarang, sebenarnya masih ada diantara turunan-turunan mereka (Quraisy di Mekkah) melakukan perilaku ini. Dan banyak juga orang-orang yang lain melakukannya, seperti misalnya kalau di Arafah, di Mina, di Muzdalifah, ditemukan banyak kontainer-kontainer membagi susu secara Cuma-Cuma. Membuka pintu kontainer lalu teriak “Sabilillah” kemudian jamaah haji berebutan. Nah, perilaku yang terjadi di zaman Abdul Manaf, itu masih terjadi sampai sekarang, tapi memang sudah tidak ada lagi pengkhususan, siapa saja boleh mengerjakan. Begitupun dengan jamaah haji yang lain, disarankan tidak hanya duduk di kemah, kalau ada kesempatan keluar saja beli makanan lalu bagikan kepada jamaah haji, ini juga termasuk amal yang positif, sehingga ada amal yang plus.

Tentang Daarun Nadwah, ada sedikit sejarah. Di zaman Abdul Mutthalib, Daarun Nadwah yang tadi disebutkan, dipegang oleh salah satu dari turunan ‘Abdud Daar. Pemegang kunci Daarun Nadwah ini punya hak mutlak, sama dengan pemegang kunci pintu Ka’bah, boleh dikunci boleh tidak, bebas, mutlak kekuasaan di tangan dia.

Salah satu pemegang kunci Daarun Nadwah (tidak disebutkan namanya dalam sejarah) pernah dipegang oleh seorang pemabuk. Ia pernah menjual Daarun Nadwah kepada salah seorang yang bernama Hakim bin Huzam (orang ini nantinya akan masuk Islam menjadi sahabat Nabi). Hakim bin Huzam ini memegang kunci Daarun Nadwah sejak zaman itu sampai zaman Muawiyah (zaman setelah khalifah Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali). Tidak ada yang merebutnya karena Hakim telah membelinya. Namun, kisah penjualan Darun Nadwah ini sesuatu yang tidak bisa dilupakan oleh ahli sejarah, karena lucu dan aneh kejadiannya.

Bagaimana kejadiannya? Hakim bin Huzam ini dekat dan bersahabat dengan pemabuk tadi, pemegang kunci Daarun Nadwah. Sementara mereka duduk, lagi mabuk-mabukan, Hakim berkata kepada pemabuk tadi, “Apakah engkau mau jual Daarun Nadwah buat saya?”.
Temannya (pemabuk tadi) mengatakan, “Iya. Saya akan jual.
Hakim bilang, “Berapa kau akan jual?
Dengan seteguk Khamr”. Jadi maksudnya, beri saya seteguk Khamr, saya akan memberikan kunci Daarun Nadwah.
Ini keduanya lagi mabuk.
Hakim bin Huzam bilang, “Baik kalau begitu. Saya beli. Saya tidak hanya memberi dengan seteguk, tapi 1 kendi Khamr”.
Diberikanlah 1 kendi khamr, lalu didatangkan seluruh saksi-saksi, dijual.

Turunan ‘Abdud Daar tidak ada yang bisa protes, karena sudah dijual. Akhirnya, kuncinya berpindah tangan ke Hakim bin Huzam sejak saat itu, sampai di zaman Mu’awiyah.

Di zaman Mu’awiyah, tahun 42 Hijriah, setelah setahun Mu’awiyah berkuasa, Hakim bin Huzam radhiyallaahu ‘anhum ini menjual Daarun Nadwah untuk kaum Muslimin (seluruh Mekkah sudah muslim saat itu). Ia menjual dengan 100.000 dinar. Mu’awiyah bertanya padanya, “Hai Hakim, bagaimana bisa kamu menjual Daarun Nadwah, syarafnya Quraisy? Orang Quraisy dulu sangat bangga dengan ini, kenapa kamu menjualnya hanya dengan 100.000? Kalau kamu menjual dengan lebih dari itu, mungkin bisa. Atau kamu tidak usah jual sehingga sejarah mencatat kamu sebagai pemegang satu-satunya.

Kata Hakim bin Huzam, “Wallaahi Amiirul Mu’minin. Saya dulu membeli ini hanya dengan seteguk khamr. Kalau sekarang saya menjual 100.000 dinar, itu jauh sekali beda harganya.” Kemudian dilanjut dengan kalimat yang luar biasa, Islam datang memuliakannya, kata Hakim bin Huzam, “Wahai Amiirul Mu’minin, hari ini bukan lagi kemuliaan karena rumahnya Qushay bin Kulab (artinya kisah Daarun Nadwah sudah habis, sudah gak ada lagi ceritanya), tapi sekarang kemuliaan karena ketaqwaan kepada Allah. Dan ini saya jual, wahai Amirul Mu’minin, bukan karena saya butuh uang (waktu itu Hakim bin Huzam adalah orang yang kaya raya), tapi saya memberikan kesaksian kepada Anda dan seluruh manusia menyaksikan, bahwasanya 100.000 dinar yang saya dapat itu saya infakkan di jalan Allah.

Ini sedikit kisah tentang Daarun Nadwah. Dibahas oleh para ahli sejarah karena kisah penjualannya yang unik.

Kembali ke kisah Abdul Manaf.
Abdul Manaf ini punya anak, yang masyhur bernama Hasyim. Hasyim ini punya anak lagi, namanya Syaibah.
Kita fokus ke Syaibah. Syaibah ini nama asli dan ia lebih terkenal dengan nama julukannya. Nama julukannya Abdul Mutthalib. Disini ada kisah tersendiri mengapa nama Abdul Mutthalib lebih masyhur dibanding nama aslinya, Syaibah.

Kisahnya...

Bersambung^^



(Sumber: ditranskrip dari ceramah Ust. Dr. Khalid Basalamah hafidzahullaah)
 
#sirahnabawiyah

Sabtu, 27 Februari 2016

Ulang Tahun itu...

Bismillaah..


Dari dulu, ingiiiin sekali menulis tentang Ulang Tahun ini, tapi gak jadi-jadi, hanya menguap di kepala, lalu lepas. Sekarang, ada momen, akhirnya memaksakan diri menulis tentang ini.

Hari ini, 27 Februari, katanya hari Ulang Tahun kabupatenku. Sejak pagi tadi, saya buka bbm, buka facebook, hampir semua berstatus sama. Ucapan Hari Ulang Tahun.

Ulang Tahun...
Sebenarnya asalnya darimana?
Siapa yang pertama kali mengadakan?
Siapa pencetus "Ulang Tahun" pertama di dunia ini?

Terkadang, saya berpikir, apakah memang semuanya patut dirayakan "Ulang Tahun"nya?
Sampai saya pernah menyampaikan ke suami, "Kak, bagaimana ya jika semua orang di dunia ini ulang tahunnya dirayakan? Mungkin tiap hari kita pusing dengan hal itu".
Pusing kenapa? Ya, mesti ada kado. Mesti ada ucapan. Tiap hari kerjaan kita, kalau buka facebook, minimal ucapkan "Selamat Ulang Tahun Fulan... Happy birthday Fulanah... dan seterusnya".

Apa gak repot? Apa gak berat kayak gitu?

Kata suami, "Yaa... menurutnya, orang-orang spesialnya saja yang dirayakan. Gak semua juga mungkin".

Berarti???
Ada ya orang-orang spesial di kehidupan kita? Tentu banyak. Lalu, ketika mereka semua ultah, kita rayakan gitu?

Subhanallaah...
Sungguh sempurna Islam mengajarkan kita. Semuanya sempurna. Mulai dari bangun tidur, sampai kita tidur kembali, semuanya ada perintah.
Lalu, apakah memang pernah didapatkan ada perintah untuk merayakan ultah ini?

"Kan cuma mau mengingatkan kita berapa usia kita".
Haruskah dengan cara itu?

"Kan berpahala juga kalau kita rayakan, kita bagi-bagi makanan ke orang-orang tidak mampu, dsb dsb"
Subhanallaah... Apa memang ada perintah seperti itu? Atau jangan-jangan, kita hanya sekedar menambah-nambah perintah dalam ajaran agama kita hingga terkesan sebagai sebuah ibadah yang bernilai baik di mata Allah? Subhanallaah...
Kalaulah itu baik, tentu orang-orang sebelum kita, orang-orang yang sudah dijamin masuk syurga oleh Allah yang disampaikan langsung melalui Rasulullaah shallallahu 'alaihi wasallam, tentu mereka lebih duluan mengerjakannya, tentu mereka berlomba-lomba merayakannya, jika seandainya itu adalah ibadah.

Tapi tidak saudaraku...
Ternyata, mereka tak pernah sekalipun merayakannya. Tak pernah ada berita bahwa Abu Bakar Ash-Shiddiq, sahabat yang sangat dicintai Nabi, merayakan ulang tahun anaknya, 'Aisyah radhiyallaahu 'anha, anak tercintanya yang juga adalah istri Rasulullaah. Tak pernah, saudaraku...
Yah, kalau seandainya itu baik, tentu orang-orang terdahulu yang lebih mulia dari kita lebih duluan mengerjakannya..

Dan perlu kita tanamkan dalam diri, semua yang dilarang tentu ada mudharat yang ditimbulkan. Begitupun perintah kepada kita, tentu tak mungkin diperintahkan jika ia tidak bermanfaat buat kita.

Sama halnya dengan Ulang Tahun.

Marilah kita sama-sama memikirkan, untuk apa sebenarnya ada perayaan ulang tahun?
Marilah kita sama-sama menanamkan dalam diri, bahwa semua yang kita lakukan akan dimintai pertanggung jawaban. Semuanya... Tak ada yang luput.

Pun ketika kita merayakannya, tentu kita akan dimintai alasan mengapa kita berbuat.
Jika alasan kita tidak tahu, mungkin saja pena akan terangkat, hukuman tidak dikenakan.
Tapi... akan berbeda jikalau kita, saya dan kamu, TIDAK MAU TAHU.
Padahal, begitu banyak tersebar majelis-majelis ilmu, artikel-artikel Islam, buku-buku Islami.
Dan itu cukup buat kita untuk tidak mengatakan "Saya Tidak Tahu".

Mari saudaraku...
Mari kita renungkan kembali, apakah semua yang kita kerjakan sudah dalam tuntunan Rasulullaah, ataukah sebaliknya.
Jangan sampai kita melakukan suatu hal, kita sudah menganggapnya ibadah, kita mengira sudah dapat pahala, namun ternyata, yang kita dapat adalah DOSA. Naudzubillaah...

Sinjai, 27 Februari 2016

Kamis, 18 Februari 2016

Akhir Sebuah Proses

Bismillaah...

Seringkali, kita memandang orang dengan hanya melihat ia bagaimana sekarang. Kita tak pernah mau mencoba untuk melihat, bagaimana ia bisa sampai ke apa yang kita pandang sekarang. Pun kita tak pernah ingin tahu bagaimana kerasnya ia bisa sampai di titik yang menurut kita "sempurna"

Terkadang, kita pun membanding-bandingkan dengan apa yang kita miliki.
Seakan-akan, apa yang kita miliki itu, dialah yang terburuk. Dialah yang tak mampu menjadi seperti yang kita inginkan.

Padahal, semua butuh proses. Semua tentu akan berusaha untuk menjadi yang terbaik. Jatuh, bangkit, jatuh lagi dan bangkit lagi, adalah usaha yang tak semestinya kita anggap remeh.

Kalau kita tak bisa membantu, minimal jangan mematahkan semangatnya. Jangan anggap remeh. Jangan pula membandingkannya dengan sesuatu yang telah melewati proses.

Sinjai, 18 Februari 2016