Bismillaah...
Pernah, suatu waktu, sepulang dari suatu acara, saya mengeluh ke suami.
"Kak, tadi dibilangi ka', di toko itu (Mutiara Baby Shop) berkumpul sarjana pengangguran 😪😪😪"
Sebenarnya, sakit hati sekali dibilangi kayak gini, di depan orang banyak lagi. Walaupun waktu itu, saya pura-pura tidak mendengarnya. Tapi, karena tidak ingin sedih sendirian, akhirnya curhatlah saya ke suami.
Beliau menanggapi dengan ekspresi kaget.
Lalu, beliau melanjutkan,
"Gak pa2, nda pernahki kasi' uang ke beliau (yang bilang itu) toh? Mulai bulan depan, kasi'ki. Mungkin kita kurang bersedekah sama beliau."
#glek
Maasyaallah...
Sesimpel itu beliau memberi solusi. Jawaban yang saya perkirakan akan menjurus ke hasutan kebencian terhadap seseorang, ternyata tidak terjadi.
Dan lagi-lagi saya tersadar, tidak harus sesuatu yang menyakitkan dibalas serupa. Biar Allah yang balas, biar Allah yang kasi bagiannya. Kita hanya diperintahkan untuk berbuat yang terbaik. Entah balasannya sesuai dengan yang kita harapkan ataupun tidak. Biar Allah saja yang membalas. Biar Allah saja yang menilai.
Semoga Allah menempatkan beliau ~rahimahullah rahmatan waasi'aah~ di tempat yang indah, semoga setiap untaian nasehatnya ke saya menjadi amal jariyah buat beliau. Semoga Allah kembali mempertemukan kami di syurgaNya, aamiin.
Hanya berisi sepenggal pengalaman yang Allah takdirkan terjadi padaku. Semoga qt bisa mengambil pelajaran dan hikmah...
Selasa, 29 Januari 2019
Senin, 21 Januari 2019
"Ibu" & "Nenek"
Ibu saya sangat jelas diawal, tidak mau ketitipan cucunya. Menginap sekali-kali ok.
Bermain dengan mereka ok.
Tapi anak-anak saya dititipkan oleh yang maha kuasa di Rahim saya, oleh sebab itu, itu tanggung jawab saya.
Bukan ibu saya lagi.
Tidak mau ketitipan bukan berarti tidak sayang.
Tapi cukup sudah beliau membesarkan saya dan adik-adik saya.
Kini ‘musim’nya beliau, tidur siang dengan tenang.
Menikmati makanan tanpa gangguan.
Sholat dhuha dan bermunajat berlama-lama.
Nagji Qur’an berlembar-lembar, menghadiri kajian-kajian.
Ini pembelajaran besar bagi anak saya, melihat bagaimana saya memperlakukan orang tua.
Karena, tidak berapa lama lagi...
akan datang giliran saya yang menua.
Kecuali keadaan terdesak seperti single parents, menurut saya pribadi, tidak ada alasan yang cukup kuat untuk meninggalkan anak anak pada org tua.
Wallahu a’lam bis shawab.
Dari postingannya mbak Hanaa..
Pernah g sih dengar curahan hati seorang ibu tentang anak perempuannya yang menitipkan anaknya (cucu si ibu) selama ia bekerja setiap harinya?
*TanpaUdzurSyar'i*
.
Saya pernah ...
Dan rasanya sedih, ingin nangis.
Anak si ibu itu bilang kalau dia mau promil lagi (yang ke-3), ibu bilang ke anaknya
"Ibu g larang kamu hamil lagi, ibu cuma minta untuk berhenti kerja. Bukan g boleh punya anak lagi."
Tapi anaknya g faham, tetap bilang kalau ibunya g bolehin punya anak lagi.
Padahal maksud si ibu, ibu sudah capek di'titip'in cucu-cucunya.
Mungkin lebih tepatnya bukan di'titip'in cucu-cucunya, tapi merawat cucu-cucunya.
Bagaimana mungkin merawat?
Sejak lahir, ibunyalah yang mengurus cucunya, si anak pemulihan nifas. Selesai nifas kerja lagi, ibunyalah yang ngurus semua-muanya ...
Mandikan, nimang-nimang biar bobo, buatin susu, ganti popok, cuci baju, ajak jalan-jalan, mendidik dan lain lain yang tak terhitung pekerjaan yang di'titip'in anaknya ke ibundanya.
Belum lagi pekerjaan rumah tangga beliau sendiri, masak-nyuci-bebersih endeblaendebla.
.
Belumlah anaknya setengah tahun, hamil lagi. Si kakak baru 1th lewat dikit adiknya lahir, di tambah lagi 'titip'annya.
Ibu itu cerita, setiap hari ibu lari-larian buatin susu buat cucu 2, nimang-nimang boboin cucu 2 yang masih kecil-kecil, umur ibu sudah segini, udah g sekuat ketika muda dulu. Tapi anak ibu g ngerti, g faham.
Sekarang, ibu juga yang antar jemput sekolah cucu, nyuci baju cucu, nyetrika, masakin makan untuk cucu.
G terasa, sudah lewat 8th ibu di'titip'in cucu-cucunya selama anaknya cari uang setiap harinya, padahal suaminya berkerja, punya beberapa usaha pula.
Liburnya hanya hari ahad saja, itupun anak-anak tetap dirumah neneknya krn sudah terbiasa disana.
Jadi mungkin dibilangnya, anak-anak justri dititipkan ke ibunya untuk TIDUR saja. Adapun dirawat, dibesarkan, diurusi ... oleh neneknya.
.
Sediiih deh dengarnya, padahal bukan maksud tidak senang ditemani cucu-cucunya.
Hanya saja, usia segitu ngurus 2 bayi sampai 8th ... saya aja umur segini ngurus 2 anak belum sampai 8th rasanya warbyasah. Apalagi ibu itu?
Sudah membesarkan putrinya sampai dijadikan istri, ditambah lagi di'suruh' merawat anak-anak putrinya. Ia tidak juga faham bahwa wanita yang sudah tua itu tidak mampu menolak permintaannya untuk di'titip'in cucu-cucunya, hanya sj kali ini ia sudah sangat tua untuk pontang-panting mengurus bayi dengan 2 anak yang sedang senang main kabur-kaburan.
Dan putrinya masih belum faham juga lelahnya membesarkan anak, mungkin krn iapun belum merasakan 'menjadi ibu' sebab sibuk bekerja.
.
Sediiih, sampailah kakak lelakinya bilang 'mungkin dia baru akan sadar jadi ibu itu capek kalau ibu sudah meninggal! Baru deh ngerasain pengorbanan ibu, baru deh sadar kalau kerja di rumah itu lebih capek dari kerja di kantor!'
.
Sedihnya lagi, yang seperi itu sudah sangat biasa, bahkan dianggap wajar menitipkan anak karena kerja ke neneknya sejak bayi sampai anak gede 😢
#SayangiIbu
#IbuTidakMampuMenolak
#SebelumIaMeninggal
#SebelumMenyesal
Author : Kakak
Bermain dengan mereka ok.
Tapi anak-anak saya dititipkan oleh yang maha kuasa di Rahim saya, oleh sebab itu, itu tanggung jawab saya.
Bukan ibu saya lagi.
Tidak mau ketitipan bukan berarti tidak sayang.
Tapi cukup sudah beliau membesarkan saya dan adik-adik saya.
Kini ‘musim’nya beliau, tidur siang dengan tenang.
Menikmati makanan tanpa gangguan.
Sholat dhuha dan bermunajat berlama-lama.
Nagji Qur’an berlembar-lembar, menghadiri kajian-kajian.
Ini pembelajaran besar bagi anak saya, melihat bagaimana saya memperlakukan orang tua.
Karena, tidak berapa lama lagi...
akan datang giliran saya yang menua.
Kecuali keadaan terdesak seperti single parents, menurut saya pribadi, tidak ada alasan yang cukup kuat untuk meninggalkan anak anak pada org tua.
Wallahu a’lam bis shawab.
Dari postingannya mbak Hanaa..
Pernah g sih dengar curahan hati seorang ibu tentang anak perempuannya yang menitipkan anaknya (cucu si ibu) selama ia bekerja setiap harinya?
*TanpaUdzurSyar'i*
.
Saya pernah ...
Dan rasanya sedih, ingin nangis.
Anak si ibu itu bilang kalau dia mau promil lagi (yang ke-3), ibu bilang ke anaknya
"Ibu g larang kamu hamil lagi, ibu cuma minta untuk berhenti kerja. Bukan g boleh punya anak lagi."
Tapi anaknya g faham, tetap bilang kalau ibunya g bolehin punya anak lagi.
Padahal maksud si ibu, ibu sudah capek di'titip'in cucu-cucunya.
Mungkin lebih tepatnya bukan di'titip'in cucu-cucunya, tapi merawat cucu-cucunya.
Bagaimana mungkin merawat?
Sejak lahir, ibunyalah yang mengurus cucunya, si anak pemulihan nifas. Selesai nifas kerja lagi, ibunyalah yang ngurus semua-muanya ...
Mandikan, nimang-nimang biar bobo, buatin susu, ganti popok, cuci baju, ajak jalan-jalan, mendidik dan lain lain yang tak terhitung pekerjaan yang di'titip'in anaknya ke ibundanya.
Belum lagi pekerjaan rumah tangga beliau sendiri, masak-nyuci-bebersih endeblaendebla.
.
Belumlah anaknya setengah tahun, hamil lagi. Si kakak baru 1th lewat dikit adiknya lahir, di tambah lagi 'titip'annya.
Ibu itu cerita, setiap hari ibu lari-larian buatin susu buat cucu 2, nimang-nimang boboin cucu 2 yang masih kecil-kecil, umur ibu sudah segini, udah g sekuat ketika muda dulu. Tapi anak ibu g ngerti, g faham.
Sekarang, ibu juga yang antar jemput sekolah cucu, nyuci baju cucu, nyetrika, masakin makan untuk cucu.
G terasa, sudah lewat 8th ibu di'titip'in cucu-cucunya selama anaknya cari uang setiap harinya, padahal suaminya berkerja, punya beberapa usaha pula.
Liburnya hanya hari ahad saja, itupun anak-anak tetap dirumah neneknya krn sudah terbiasa disana.
Jadi mungkin dibilangnya, anak-anak justri dititipkan ke ibunya untuk TIDUR saja. Adapun dirawat, dibesarkan, diurusi ... oleh neneknya.
.
Sediiih deh dengarnya, padahal bukan maksud tidak senang ditemani cucu-cucunya.
Hanya saja, usia segitu ngurus 2 bayi sampai 8th ... saya aja umur segini ngurus 2 anak belum sampai 8th rasanya warbyasah. Apalagi ibu itu?
Sudah membesarkan putrinya sampai dijadikan istri, ditambah lagi di'suruh' merawat anak-anak putrinya. Ia tidak juga faham bahwa wanita yang sudah tua itu tidak mampu menolak permintaannya untuk di'titip'in cucu-cucunya, hanya sj kali ini ia sudah sangat tua untuk pontang-panting mengurus bayi dengan 2 anak yang sedang senang main kabur-kaburan.
Dan putrinya masih belum faham juga lelahnya membesarkan anak, mungkin krn iapun belum merasakan 'menjadi ibu' sebab sibuk bekerja.
.
Sediiih, sampailah kakak lelakinya bilang 'mungkin dia baru akan sadar jadi ibu itu capek kalau ibu sudah meninggal! Baru deh ngerasain pengorbanan ibu, baru deh sadar kalau kerja di rumah itu lebih capek dari kerja di kantor!'
.
Sedihnya lagi, yang seperi itu sudah sangat biasa, bahkan dianggap wajar menitipkan anak karena kerja ke neneknya sejak bayi sampai anak gede 😢
#SayangiIbu
#IbuTidakMampuMenolak
#SebelumIaMeninggal
#SebelumMenyesal
Author : Kakak
Minggu, 20 Januari 2019
Mendidik Anak
Fulan, saat berusia 6 tahun.
-Di sekolah:
Nilai matematika jeblok, nilai science terjun bebas, nilai tematik merinding disko.
Ranking 29 dari 30 siswa.
-Di rumah:
Periang, mulai gampang diajak shalat berjamaah, selalu terucap, "Aku sayang Papa Mama".
.
.
Fulan, saat berusia 8 tahun.
-Di sekolah:
Nilai matematika masih nyungsep, nilai science menanjak hampir tak kentara, nilai tematik tetap oleng.
Ranking 27 dari 30 siswa.
-Di rumah:
Sayang adik, shalat mulai diusahakan di awal waktu, puasa Ramadhan full, semangat mengaji di masjid dekat rumah.
.
.
Fulan, saat berusia 10 tahun.
-Di sekolah:
Nilai matematika sejauh ini tanpa harapan, nilai science mulai membaik, nilai tematik naik turun.
Ranking 25 dari 30 siswa
-Di rumah:
Hafalan ayat bertambah secara signifikan, bantu mama cuci piring tanpa diminta, mengingatkan adik-adiknya untuk tidak buang-buang makanan, jarang membantah orang tua, gampang berempati, stand-up comedian favorit orang serumah.
.
.
.
Orang tua, usia: tua.
-Saat nilai matematikanya jeblok:
"Gimana sih, udah kelas 5 SD perkalian aja masih acak adut begini? Ini kan pelajaran kelas dua! Ihhh, gemesss!"
-Ketika ia rajin membantu mencuci piring:
"Itu wajan sama baskom jangan pura-pura gak dilihat ya? Sekalian dicuci!"
.
.
-Saat nilai tematiknya oleng:
"Dulu waktu Mama SD, pelajaran geografi begini mah luar kepala!"
-Ketika ia berempati pada teman:
"Kamu tiap hari ngasih sebagian uang jajan sama si anu ya? Ya ampun, untuk apa siiihh ...??"
.
.
.
Orang tua mana coba, yang tidak ingin anaknya berprestasi? Multi prestasi malah, kalau bisa.
KALAU BISA. Kalau tidak bisa?
Nilai teteup aja tiarap, mau pakai gaya belajar gas pol plus ekskul plus bimbel sekalipun. Ranking juga istiqomah terus di urutan nyaris ekor.
Belum lagi terhanyut nostalgia betapa ayah bundanya dulu bintang teladan dari sekolah masing-masing. Ditambah pula tetangga, teman dan saudara rajin banget lagi posting prestasi buah hati mereka di medsos, semakin meyakinkan orang tua bahwa ada yang salah dengan anaknya.
Ini anak error dimana sih DNA-nya, kok bisa nir prestasi begini di sekolah?'
Hmm, padahal ....
Si Kecil tersayang sudah dan sedang tumbuh menjadi sebuah pribadi yang cendekia di balik dunia akademisnya. Dengan suka cita ia mengumpulkan nilai terbaik di bidang yang sayangnya tidak pernah dianggap cukup perlu untuk ditakar dengan nilai satu sampai seratus.
Sehingga sadar tidak sadar kita sebagai orang tua kerap terjebak mem-framing cacat akademisnya. Seakan-akan masa depan si anak auto gelap gulita bila ia tidak menguasai rumus Phytagoras atau ilmu pembelahan sel.
Seakan-akan rasa empatinya yang terasah tajam bukanlah poin yang membanggakan. Hafalan tahfiz, shalat di awal waktu, sayang adik, tidak buang-buang makanan ... bablas tak sempat dicermati. Dicermati saja tidak, boro-boro dianggap prestasi ....
Tidak semua anak dilahirkan sebagai matahari tunggal si penebar cahaya yang paling terang. Banyak dari buah hati kita ditakdirkan Allah sebagai bintang yang ribuan, yang walaupun berpendar ketika gelap merayap, ia tetaplah cemerlang dengan jalannya sendiri.
Jadi please, berhentilah hanya fokus mem-framing kegagalan akademis anak semata, tanpa menghargai pertumbuhan kepribadian baiknya. Mendorongnya memperbaiki nilai tentu sah-sah saja, selama kita tidak mem-blur nilai-nilai "lain" yang sudah digenggamnya.
Jangan sampai si Kecil merasa ia gagal di semua aspek kehidupannya akibat apresiasi orang tua yang tidak fair. Tak terbayangkan betapa akan sulit ia menjalani masa depannya.
Jadi, adakah "Si Fulan" dengan komposisi prestasi seperti di atas yang sedang Anda besarkan di rumah?
Selamat! Anda telah mendidiknya dengan sangat baik, Ayah Bunda!
.
.
Tabarakallah
-Cut Cynthia Sativa-
-Di sekolah:
Nilai matematika jeblok, nilai science terjun bebas, nilai tematik merinding disko.
Ranking 29 dari 30 siswa.
-Di rumah:
Periang, mulai gampang diajak shalat berjamaah, selalu terucap, "Aku sayang Papa Mama".
.
.
Fulan, saat berusia 8 tahun.
-Di sekolah:
Nilai matematika masih nyungsep, nilai science menanjak hampir tak kentara, nilai tematik tetap oleng.
Ranking 27 dari 30 siswa.
-Di rumah:
Sayang adik, shalat mulai diusahakan di awal waktu, puasa Ramadhan full, semangat mengaji di masjid dekat rumah.
.
.
Fulan, saat berusia 10 tahun.
-Di sekolah:
Nilai matematika sejauh ini tanpa harapan, nilai science mulai membaik, nilai tematik naik turun.
Ranking 25 dari 30 siswa
-Di rumah:
Hafalan ayat bertambah secara signifikan, bantu mama cuci piring tanpa diminta, mengingatkan adik-adiknya untuk tidak buang-buang makanan, jarang membantah orang tua, gampang berempati, stand-up comedian favorit orang serumah.
.
.
.
Orang tua, usia: tua.
-Saat nilai matematikanya jeblok:
"Gimana sih, udah kelas 5 SD perkalian aja masih acak adut begini? Ini kan pelajaran kelas dua! Ihhh, gemesss!"
-Ketika ia rajin membantu mencuci piring:
"Itu wajan sama baskom jangan pura-pura gak dilihat ya? Sekalian dicuci!"
.
.
-Saat nilai tematiknya oleng:
"Dulu waktu Mama SD, pelajaran geografi begini mah luar kepala!"
-Ketika ia berempati pada teman:
"Kamu tiap hari ngasih sebagian uang jajan sama si anu ya? Ya ampun, untuk apa siiihh ...??"
.
.
.
Orang tua mana coba, yang tidak ingin anaknya berprestasi? Multi prestasi malah, kalau bisa.
KALAU BISA. Kalau tidak bisa?
Nilai teteup aja tiarap, mau pakai gaya belajar gas pol plus ekskul plus bimbel sekalipun. Ranking juga istiqomah terus di urutan nyaris ekor.
Belum lagi terhanyut nostalgia betapa ayah bundanya dulu bintang teladan dari sekolah masing-masing. Ditambah pula tetangga, teman dan saudara rajin banget lagi posting prestasi buah hati mereka di medsos, semakin meyakinkan orang tua bahwa ada yang salah dengan anaknya.
Ini anak error dimana sih DNA-nya, kok bisa nir prestasi begini di sekolah?'
Hmm, padahal ....
Si Kecil tersayang sudah dan sedang tumbuh menjadi sebuah pribadi yang cendekia di balik dunia akademisnya. Dengan suka cita ia mengumpulkan nilai terbaik di bidang yang sayangnya tidak pernah dianggap cukup perlu untuk ditakar dengan nilai satu sampai seratus.
Sehingga sadar tidak sadar kita sebagai orang tua kerap terjebak mem-framing cacat akademisnya. Seakan-akan masa depan si anak auto gelap gulita bila ia tidak menguasai rumus Phytagoras atau ilmu pembelahan sel.
Seakan-akan rasa empatinya yang terasah tajam bukanlah poin yang membanggakan. Hafalan tahfiz, shalat di awal waktu, sayang adik, tidak buang-buang makanan ... bablas tak sempat dicermati. Dicermati saja tidak, boro-boro dianggap prestasi ....
Tidak semua anak dilahirkan sebagai matahari tunggal si penebar cahaya yang paling terang. Banyak dari buah hati kita ditakdirkan Allah sebagai bintang yang ribuan, yang walaupun berpendar ketika gelap merayap, ia tetaplah cemerlang dengan jalannya sendiri.
Jadi please, berhentilah hanya fokus mem-framing kegagalan akademis anak semata, tanpa menghargai pertumbuhan kepribadian baiknya. Mendorongnya memperbaiki nilai tentu sah-sah saja, selama kita tidak mem-blur nilai-nilai "lain" yang sudah digenggamnya.
Jangan sampai si Kecil merasa ia gagal di semua aspek kehidupannya akibat apresiasi orang tua yang tidak fair. Tak terbayangkan betapa akan sulit ia menjalani masa depannya.
Jadi, adakah "Si Fulan" dengan komposisi prestasi seperti di atas yang sedang Anda besarkan di rumah?
Selamat! Anda telah mendidiknya dengan sangat baik, Ayah Bunda!
.
.
Tabarakallah
-Cut Cynthia Sativa-
Kamis, 17 Januari 2019
Mengenang Beliau ~Rahimahullah~
"Bi, debat capres mi 😢"
Beliau suka sekali mengamati politik, baik lokal maupun nasional. Paling suka sama hastag yang lagi viral, bahkan pernah bermain "jawab pertanyaan" dari facebook, apapun pertanyaannya, jawabannya #2009gantipresiden.
Dan malam ini, saya membayangkan beliau ada di sini, di rumah, lagi nonton debat capres. Jika seperti itu, kadang-kadang saya disuruh menemani, walau lebih sering saya tidak betah, lalu kembali ke kamar dengan alasan ingin menidurkan anak-anak. Karena saya tidak suka "politik" tapi kalau beliau ~rahimahullah~ yang bicara atau menjelaskan, jadinya paham.
Namun, sebulan sebelum beliau meninggal, yang terjadi sebaliknya. Beliau sudah tidak peduli dan berselera membicarakan politik.
Pernah, di suatu perjalanan, saya menyinggung tentang calon bupati di Sinjai, tentang pilihan yang tepat memilih siapa. Berhubung waktu itu, pemilihan bupati di Sinjai sebulan lagi. Tapi, beliau tidak menggubris, beliau pun tidak membahas agak jauh bahkan kelihatannya ia tidak ingin membahas masalah itu. Pun dengan capres cawapres. ANEH, tidak seperti biasanya, yang beliau suka dengan topik ini.
Sebulan sebelum meninggal, beliau seperti fokus beribadah. Pas juga dengan momen Ramadhan. Pernah, di malam ke 27 Ramadhan, saat ada pembeli berkunjung ke rumah, beliau bilang ke saya, "Malam ke 27 Ramadhan ini, (siapa tau) malam lailatul qadr. Berhentimi menjual". ANEH, tak seperti biasanya, yang beliau senang jika ada pembeli yang datang.
Pernah juga di suatu sore, hujan sangat deras. Karenanya, beliau tinggal di mesjid. Tapi waktu itu, beliau lupa bawa qur'an nya. Akhirnya, saya "dipaksa" untuk melihat tanda di alqurannya sudah di surah dan halaman apa. "Dipaksa" karena waktu itu, sebenarnya saya lagi di rumah orang tua, sementara alqurannya ada di rumah. Rumah orang tua dan rumah kami bersebelahan sih, tapi untuk melaluinya harus menerobos hujan deras dulu, sementara beliau gak mau menunggu. Harus dapat jawaban sesegera mungkin. ANEH, tidak seperti biasanya, yang beliau sabar atau kadang menunda ngajinya jika tiba di rumah.
Begitulah mungkin cara Allah untuk mengarahkan akhir hidup kita, ke arah yang baik kah atau sebaliknya. Bersyukur jika Allah menghindarkan kita dari maksiat dan selalu menuntun kita untuk mengerjakan kebaikan. Inilah yang disebut hidayah, yang tidak bisa dibeli maupun dipaksakan. Tapi untuk mengusahakannya sangatlah bisa.
Maka banyak-banyaklah berdoa, semoga Allah istiqomahkan dan membuat akhir hidup kita menjadi husnul khatimah. aamiin
Beliau suka sekali mengamati politik, baik lokal maupun nasional. Paling suka sama hastag yang lagi viral, bahkan pernah bermain "jawab pertanyaan" dari facebook, apapun pertanyaannya, jawabannya #2009gantipresiden.
Dan malam ini, saya membayangkan beliau ada di sini, di rumah, lagi nonton debat capres. Jika seperti itu, kadang-kadang saya disuruh menemani, walau lebih sering saya tidak betah, lalu kembali ke kamar dengan alasan ingin menidurkan anak-anak. Karena saya tidak suka "politik" tapi kalau beliau ~rahimahullah~ yang bicara atau menjelaskan, jadinya paham.
Namun, sebulan sebelum beliau meninggal, yang terjadi sebaliknya. Beliau sudah tidak peduli dan berselera membicarakan politik.
Pernah, di suatu perjalanan, saya menyinggung tentang calon bupati di Sinjai, tentang pilihan yang tepat memilih siapa. Berhubung waktu itu, pemilihan bupati di Sinjai sebulan lagi. Tapi, beliau tidak menggubris, beliau pun tidak membahas agak jauh bahkan kelihatannya ia tidak ingin membahas masalah itu. Pun dengan capres cawapres. ANEH, tidak seperti biasanya, yang beliau suka dengan topik ini.
Sebulan sebelum meninggal, beliau seperti fokus beribadah. Pas juga dengan momen Ramadhan. Pernah, di malam ke 27 Ramadhan, saat ada pembeli berkunjung ke rumah, beliau bilang ke saya, "Malam ke 27 Ramadhan ini, (siapa tau) malam lailatul qadr. Berhentimi menjual". ANEH, tak seperti biasanya, yang beliau senang jika ada pembeli yang datang.
Pernah juga di suatu sore, hujan sangat deras. Karenanya, beliau tinggal di mesjid. Tapi waktu itu, beliau lupa bawa qur'an nya. Akhirnya, saya "dipaksa" untuk melihat tanda di alqurannya sudah di surah dan halaman apa. "Dipaksa" karena waktu itu, sebenarnya saya lagi di rumah orang tua, sementara alqurannya ada di rumah. Rumah orang tua dan rumah kami bersebelahan sih, tapi untuk melaluinya harus menerobos hujan deras dulu, sementara beliau gak mau menunggu. Harus dapat jawaban sesegera mungkin. ANEH, tidak seperti biasanya, yang beliau sabar atau kadang menunda ngajinya jika tiba di rumah.
Begitulah mungkin cara Allah untuk mengarahkan akhir hidup kita, ke arah yang baik kah atau sebaliknya. Bersyukur jika Allah menghindarkan kita dari maksiat dan selalu menuntun kita untuk mengerjakan kebaikan. Inilah yang disebut hidayah, yang tidak bisa dibeli maupun dipaksakan. Tapi untuk mengusahakannya sangatlah bisa.
Maka banyak-banyaklah berdoa, semoga Allah istiqomahkan dan membuat akhir hidup kita menjadi husnul khatimah. aamiin
Label:
Baity Jannati,
Belajar Menulis
Rabu, 16 Januari 2019
ASN dan Hanin 7 Bulan
Bismillaah...
Ada 3 "tema" hari ini.
1. ASN
2. Umrah
3. Hanin 7 bulan 💞
Tentang ASN
Serius, sebenarnya sejak kemarin-kemarin, saya suka baca tentang ASN ini. Di grup whatsapp kampus, di facebook, dunia maya maupun di dunia nyata, orang-orang suka menyebut "ASN". Tapi serius (lagi), sejak kemarin-kemarin itu saya sebenarnya penasaran dan mencoba menerka kepanjangan dari ASN. Abdi.... S... Negara, SALAH. Anggota Sekolah Negara, SALAH. Dan banyak terkaan lain.
Baru hari ini saya googling, karena rasa penasaran dan waktu yang ada (lagi ingat). Ternyata, ASN itu... *bentar, googling lagi, lupa*
Ya... ASN itu singkatan dari Aparatur Sipil Negara. *Susahnya dihafal 😁
Kayaknya, sekarang PNS sudah berganti nama ya? Bukan PNS dan CPNS lagi ya? Sudah berganti nama jadi ASN kah?
Saya kudet tentang ini. Biasanya ada suami yang dengan rela ditanya dan dengan senang hati pula menjawab disertai dengan pendapat pribadi mengenai hal yang dipertanyakan. Wawasannya luas. Kadang apa yang dipikirkan itu tidak terpikirkan oleh saya. ~rahimahullah rahmatan wasi'ah~
Balik ke ASN.
Alhamdulillaah, 2 keluarga dekat, adik suami satu-satunya beserta suaminya, lulus tes ujian masuk ASN. Semua keluarga bergembira, menyampaikan selamat dan bersukacita, begitupun dengan saya (walau terselip rasa sedih dan merasa kehilangan karena tiba-tiba jadi ingat beliau yang PNS duluan dan pergi duluan).
Semoga Allah memudahkan urusan-urusan mereka, semoga Allah memberi sifat amanah dan semoga statusnya bisa menjadi wasilah menebar manfaat.
Tentang Hanin, tepat 7 Bulan hari ini
🌼 Alhamdulillaah makin hari makin lucu ~maasyaallah, tabaarokallah~.
🌼 Selalu mencari tempat berpijak, biar bisa berdiri lalu senyum-senyum ke sekelilingnya.
🌼 Masih jadi "anak ummi" yang "only ummi". Jadinya, kemanapun umminya pergi, dia harus ikut. Gak bisa ditinggal di rumah tanpa umminya. Pernah, saya ke banknya PNS urus sesuatu, bawa Hanin juga. Jadilah saya satu-satunya pengunjung bawa baby ke bank itu.
🌼 Masih takut melihat laki-laki dewasa. Entah ini sampai kapan. Jangankan omnya ~saudara abi maupun umminya~ bahkan melihat kakeknya yang serumah dengannya pun ia takut. Dan ia adalah anakku satu-satunya yang seperti itu. Wajar, karena ia tak pernah melihat abinya, kata neneknya. 😩😩😩
🌸 Sudah bisa duduk sendiri dan merangkak. Alhamdulillaah gak pake jatuh-jatuh lagi. Lancar.
Lalu, tentang Umroh...
Dibahas lain kali sajalah. Ada rasa sedih kalau ingat ini.
Semoga hari esok lebih baik dari hari ini. Semoga Allah tetap mengistiqomahkan kita di atas ad-diin hingga akhir hayat, aamiin
Ada 3 "tema" hari ini.
1. ASN
2. Umrah
3. Hanin 7 bulan 💞
Tentang ASN
Serius, sebenarnya sejak kemarin-kemarin, saya suka baca tentang ASN ini. Di grup whatsapp kampus, di facebook, dunia maya maupun di dunia nyata, orang-orang suka menyebut "ASN". Tapi serius (lagi), sejak kemarin-kemarin itu saya sebenarnya penasaran dan mencoba menerka kepanjangan dari ASN. Abdi.... S... Negara, SALAH. Anggota Sekolah Negara, SALAH. Dan banyak terkaan lain.
Baru hari ini saya googling, karena rasa penasaran dan waktu yang ada (lagi ingat). Ternyata, ASN itu... *bentar, googling lagi, lupa*
Ya... ASN itu singkatan dari Aparatur Sipil Negara. *Susahnya dihafal 😁
Kayaknya, sekarang PNS sudah berganti nama ya? Bukan PNS dan CPNS lagi ya? Sudah berganti nama jadi ASN kah?
Saya kudet tentang ini. Biasanya ada suami yang dengan rela ditanya dan dengan senang hati pula menjawab disertai dengan pendapat pribadi mengenai hal yang dipertanyakan. Wawasannya luas. Kadang apa yang dipikirkan itu tidak terpikirkan oleh saya. ~rahimahullah rahmatan wasi'ah~
Balik ke ASN.
Alhamdulillaah, 2 keluarga dekat, adik suami satu-satunya beserta suaminya, lulus tes ujian masuk ASN. Semua keluarga bergembira, menyampaikan selamat dan bersukacita, begitupun dengan saya (walau terselip rasa sedih dan merasa kehilangan karena tiba-tiba jadi ingat beliau yang PNS duluan dan pergi duluan).
Semoga Allah memudahkan urusan-urusan mereka, semoga Allah memberi sifat amanah dan semoga statusnya bisa menjadi wasilah menebar manfaat.
Tentang Hanin, tepat 7 Bulan hari ini
🌼 Alhamdulillaah makin hari makin lucu ~maasyaallah, tabaarokallah~.
🌼 Selalu mencari tempat berpijak, biar bisa berdiri lalu senyum-senyum ke sekelilingnya.
🌼 Masih jadi "anak ummi" yang "only ummi". Jadinya, kemanapun umminya pergi, dia harus ikut. Gak bisa ditinggal di rumah tanpa umminya. Pernah, saya ke banknya PNS urus sesuatu, bawa Hanin juga. Jadilah saya satu-satunya pengunjung bawa baby ke bank itu.
🌼 Masih takut melihat laki-laki dewasa. Entah ini sampai kapan. Jangankan omnya ~saudara abi maupun umminya~ bahkan melihat kakeknya yang serumah dengannya pun ia takut. Dan ia adalah anakku satu-satunya yang seperti itu. Wajar, karena ia tak pernah melihat abinya, kata neneknya. 😩😩😩
🌸 Sudah bisa duduk sendiri dan merangkak. Alhamdulillaah gak pake jatuh-jatuh lagi. Lancar.
Lalu, tentang Umroh...
Dibahas lain kali sajalah. Ada rasa sedih kalau ingat ini.
Semoga hari esok lebih baik dari hari ini. Semoga Allah tetap mengistiqomahkan kita di atas ad-diin hingga akhir hayat, aamiin
Label:
Belajar Menulis,
Hanin Athifah
Selasa, 15 Januari 2019
Virus Sedekah Kreatif
::VIRUS SEDEKAH KREATIF ::
Virus ini berbahaya yg bisa berefek bahagia, bisa bikin ketagihan juga loo...
gak percaya???segera Cobain deh salah satunya.. tanpa tapi tanpa nanti...😀👍
1. Siapkan nasi bungkus dari rumah. Berikan ke orang yang kira-kira membutuhkan seperti pedagang kecil, pengemis, orang gila, pengamen, anak terlantar dll. Enggak usah banyak-banyak misal 1 bungkus setiap harinya.
2. Laundry/cucikan Mukena secara berkala musholla yang ada di sekitar lingkungan kita.
3. Berkala beli Mukena baru, misal 3 bln sekali. Malu dong sama Allah pake itu-itu melulu, yang lama disedekahkan.
4. Bawa Mukena ketika akan berpergian. Tinggalkan di masjid/ musholla yang kita singgahi.
5. Beli kamper/pengharum baju. Taruh di kumpulan mukena di masjid/musholla yang kita singgahi
6. Bungkus perlengkapan shalat (Mukena, sarung, sajadah, kopiah, Al Qur'an jadikan parcel ketika lebaran. Berikan ke satpam komplek atau tukang kebersihan komplek atau office boy di kantor. InsyaAllah pahalanya mengalir.
7. Beli beberapa pasang sandal cepit, taruh di kantor, musholla atau masjid untuk digunakan ketika berwudhu.
8. Beli perlengkapan untuk membersihkan toilet, juga pengharum ruangan, dan berikan secara berkala ke masjid-masjid.
9. Bagi yang shalat Jum'at, datang 15 menit lebih awal. Bantu bersih-bersih dan beres-beres.
10. Kumpulkan botol minuman plastik/botol bekas shampoo dll, setelah banyak berikan ke pemulung.
11. Kalau beli minum dalam kemasan, kalau ada sisa bawa pulang. Airnya bisa disedekahkan untuk tanaman (sedekah alam), dan wadahnya dikumpulkan, kalau sudah banyak dikasihkan pemulung..
12. Beli beberapa burung yang murah saja, lepaskan ke alam bebas.
13. Beli makanan kucing siap saji dalam toples, taruh di tas. Ketika di jalan ketemu kucing liar, berikan.
14. Beli barang diskonan di supermarket agak banyak. Misal detergent, minyak goreng, sabun, buku tulis, pulpen kemudian bungkus cantik hadiahkan ke panti asuhan atau rumah singgah.
15. Jangan nawar ke pedagang kecil, kalau bisa justru kasih lebih.
16. Beli tissue atau keperluan yangsederhana di pedagang kecil yangkita jumpai, misal tissue 2000 rupiah, ikat rambut atau peniti sudah cukup bikin mereka senang.
17. Ketika makan di kaki lima ada pengemis atau anak terlantar, beliin mereka seporsi seperti yang kita makan.
18. Siapa yang suka jualan makanan kecil di kantor? Gratisin buat yang buka puasa. Kebayangkan gorengan 2000 bisa bikin kita masuk surga. In syaa Allah.
19. Ada pembangunan masjid? Bisa bikin gorengan? Berikan beberapa ke pekerja.
20. Selalu siap jika dimintai tolong tenaga, jika sedekah materi belum bisa kita lakukan.
21. Bayarlah lebih ketika naik angkot yang supirnya kakek-kakek atau bapak tua.
22. Kasih tips lebih buat ibu/abang ojek online kalo kira-kira jaraknya jauh dan juga kondisi mereka yang kira-kira memprihatinkan (tua misalnya).
23. Ketika di bis/ angkot. Bayarin nenek-kakek yang keliatan kurang mampu atau suami istri yang buta.
24. Pas bulan Ramadan. Diperkirakan buka puasa diperjalanan. Angkot, bis, kereta, busway etc. Siapkan beberapa air mineral (gelas) pas adzan bagi-bagi. Kebayang beli 5000 aja udah dapat 10, Kita dapat 10 pahala beri minuman orang berbuka. In sya Allah.
25. Tawarkan temen kita yang searah, Jika kita bawa kendaraan.
26. Pada saat di perjalanan bersama keluarga mampir di toilet masjid biasakan anak laki-laki diberi tugas bersihin toilet dan tempat wudhu.
27. Rutin mensortir mainan anak kita. Buy 1 give 1. Ketika beli mainan baru harus ada 1 mainan yang disedekahkan ke temannya atau panti asuhan.
28.Diam-diam ke toko bangunan,terus belanja semen semampu kita terus langsung kirim aja ke tempat2 sosial seperti masjid-masjid,sekolah2 yang masih dalam tahap pembangunan dan butuh bantuan dana.
30.Suka memberi hadiah2 kecil atau oleh-oleh untuk orang lain
29. .... Ada ide lain???? Yuk ..sharing juga idemu...😀👍
Semoga menginspirasi. Mulai dari hal yang terlihat sepele, mulai dari diri sendiri, mulai dari sekarang.
"Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang2 yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap2 bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui."
QS. AL BAQARAH
Kebayang satu orang di antara kita menjalankan ini setiap harinya, berapa banyak masalah sosial bisa teratasi ... plus pahala yang bisa kita raih .. Amin.
#Copas #gatausiapaygnulis
Virus ini berbahaya yg bisa berefek bahagia, bisa bikin ketagihan juga loo...
gak percaya???segera Cobain deh salah satunya.. tanpa tapi tanpa nanti...😀👍
1. Siapkan nasi bungkus dari rumah. Berikan ke orang yang kira-kira membutuhkan seperti pedagang kecil, pengemis, orang gila, pengamen, anak terlantar dll. Enggak usah banyak-banyak misal 1 bungkus setiap harinya.
2. Laundry/cucikan Mukena secara berkala musholla yang ada di sekitar lingkungan kita.
3. Berkala beli Mukena baru, misal 3 bln sekali. Malu dong sama Allah pake itu-itu melulu, yang lama disedekahkan.
4. Bawa Mukena ketika akan berpergian. Tinggalkan di masjid/ musholla yang kita singgahi.
5. Beli kamper/pengharum baju. Taruh di kumpulan mukena di masjid/musholla yang kita singgahi
6. Bungkus perlengkapan shalat (Mukena, sarung, sajadah, kopiah, Al Qur'an jadikan parcel ketika lebaran. Berikan ke satpam komplek atau tukang kebersihan komplek atau office boy di kantor. InsyaAllah pahalanya mengalir.
7. Beli beberapa pasang sandal cepit, taruh di kantor, musholla atau masjid untuk digunakan ketika berwudhu.
8. Beli perlengkapan untuk membersihkan toilet, juga pengharum ruangan, dan berikan secara berkala ke masjid-masjid.
9. Bagi yang shalat Jum'at, datang 15 menit lebih awal. Bantu bersih-bersih dan beres-beres.
10. Kumpulkan botol minuman plastik/botol bekas shampoo dll, setelah banyak berikan ke pemulung.
11. Kalau beli minum dalam kemasan, kalau ada sisa bawa pulang. Airnya bisa disedekahkan untuk tanaman (sedekah alam), dan wadahnya dikumpulkan, kalau sudah banyak dikasihkan pemulung..
12. Beli beberapa burung yang murah saja, lepaskan ke alam bebas.
13. Beli makanan kucing siap saji dalam toples, taruh di tas. Ketika di jalan ketemu kucing liar, berikan.
14. Beli barang diskonan di supermarket agak banyak. Misal detergent, minyak goreng, sabun, buku tulis, pulpen kemudian bungkus cantik hadiahkan ke panti asuhan atau rumah singgah.
15. Jangan nawar ke pedagang kecil, kalau bisa justru kasih lebih.
16. Beli tissue atau keperluan yangsederhana di pedagang kecil yangkita jumpai, misal tissue 2000 rupiah, ikat rambut atau peniti sudah cukup bikin mereka senang.
17. Ketika makan di kaki lima ada pengemis atau anak terlantar, beliin mereka seporsi seperti yang kita makan.
18. Siapa yang suka jualan makanan kecil di kantor? Gratisin buat yang buka puasa. Kebayangkan gorengan 2000 bisa bikin kita masuk surga. In syaa Allah.
19. Ada pembangunan masjid? Bisa bikin gorengan? Berikan beberapa ke pekerja.
20. Selalu siap jika dimintai tolong tenaga, jika sedekah materi belum bisa kita lakukan.
21. Bayarlah lebih ketika naik angkot yang supirnya kakek-kakek atau bapak tua.
22. Kasih tips lebih buat ibu/abang ojek online kalo kira-kira jaraknya jauh dan juga kondisi mereka yang kira-kira memprihatinkan (tua misalnya).
23. Ketika di bis/ angkot. Bayarin nenek-kakek yang keliatan kurang mampu atau suami istri yang buta.
24. Pas bulan Ramadan. Diperkirakan buka puasa diperjalanan. Angkot, bis, kereta, busway etc. Siapkan beberapa air mineral (gelas) pas adzan bagi-bagi. Kebayang beli 5000 aja udah dapat 10, Kita dapat 10 pahala beri minuman orang berbuka. In sya Allah.
25. Tawarkan temen kita yang searah, Jika kita bawa kendaraan.
26. Pada saat di perjalanan bersama keluarga mampir di toilet masjid biasakan anak laki-laki diberi tugas bersihin toilet dan tempat wudhu.
27. Rutin mensortir mainan anak kita. Buy 1 give 1. Ketika beli mainan baru harus ada 1 mainan yang disedekahkan ke temannya atau panti asuhan.
28.Diam-diam ke toko bangunan,terus belanja semen semampu kita terus langsung kirim aja ke tempat2 sosial seperti masjid-masjid,sekolah2 yang masih dalam tahap pembangunan dan butuh bantuan dana.
30.Suka memberi hadiah2 kecil atau oleh-oleh untuk orang lain
29. .... Ada ide lain???? Yuk ..sharing juga idemu...😀👍
Semoga menginspirasi. Mulai dari hal yang terlihat sepele, mulai dari diri sendiri, mulai dari sekarang.
"Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang2 yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap2 bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui."
QS. AL BAQARAH
Kebayang satu orang di antara kita menjalankan ini setiap harinya, berapa banyak masalah sosial bisa teratasi ... plus pahala yang bisa kita raih .. Amin.
#Copas #gatausiapaygnulis
Senin, 14 Januari 2019
Teman Sampai di Syurga
Bismillaah...
Hari ini, lagi-lagi belajar dari anak-anak.
Hari ini, saya belajar dari Hannan, putri kecilku yang sholehah ~Insyaallah~.
Tadi, kami berempat ke toko ~Mutiara Baby Shop~; tanpa Faqih, karena tiap Senin sekolahnya sampai jam 3. Berangkat sebelum jam 12 biar sholat dhuhurnya di toko saja.
Singkat cerita, pukul 3 siang, saya lagi makan sesuatu dekat tangga di dalam. Hannan saat itu lagi lari-larian sama Ziyad keluar toko trus masuk lagi trus keluar lagi, begitu seterusnya. Pas suatu waktu, ia masuk dengan gembira menemui saya lalu berkata, "Ummi, ada teman sekolahku di luar, Zalfa".
Bagi saya biasa saja. Teman sekolah, berarti tiap hari ketemuan. Baru saja beberapa jam yang lalu mereka berpisah dari sekolahnya. Trus, apanya yang istimewa? 😁
Ternyata, bagi Hannan, ini adalah kejutan, surprise dan itu menyenangkan. Bertemu dengan teman sekolah di suatu tempat itu juga sesuatu yang wah dan menyenangkan. Kelihatan dari ekspresi dan tingkahnya, khas anak-anak yang sukanya lari kesana kemari, begitulah yang terjadi pada Hannan. Begitupun temannya, Zalfa, terlihat sangat senang bertemu dengan Hannan, si pemilik toko 😅.
Lalu pelajaran apa yang bisa saya ambil dari kisah mereka?
Kalau di dunia saja kita begitu senang bertemu dengan teman kita, bagaimana lagi jika kita dipertemukan kembali oleh Allah di syurgaNya?
Sambil duduk berhadap-hadapan di atas dipan, disuguhi minuman/makanan yang sangat enak. Maasyaallaah. *jadi sangat ingin kesana*
Semoga saja kita bersama teman kita yang saling berteman dan bersaudara karena Allah, kelak dipertemukan kembali di tempat terindah, syurga.
Bagaimana jika tidak?
Maka carilah ia, mintalah pada RabbMu agar ia ditarik dari neraka lalu kumpul kembali denganmu.
Sebagaimana hadits tentang penghuni syurga yang tidak menemukan sahabat mereka di syurga:
"Yaa Rabb, kami tidak melihat sahabat-sahabat kami yang sewaktu di dunia sholat bersama kami, puasa bersama kami dan berjuang bersama kami.
Maka Allah berkata:
"Pergilah kamu ke neraka, lalu keluarkanlah sahabat-sahabatmu yang dihatinya ada iman walaupun hanya sebesar zarrah. (HR. Ibnul Mubarak).
"Ukhti, cari saya ya jika engkau tidak menemukan saya dalam syurga"
Hari ini, lagi-lagi belajar dari anak-anak.
Hari ini, saya belajar dari Hannan, putri kecilku yang sholehah ~Insyaallah~.
Tadi, kami berempat ke toko ~Mutiara Baby Shop~; tanpa Faqih, karena tiap Senin sekolahnya sampai jam 3. Berangkat sebelum jam 12 biar sholat dhuhurnya di toko saja.
Singkat cerita, pukul 3 siang, saya lagi makan sesuatu dekat tangga di dalam. Hannan saat itu lagi lari-larian sama Ziyad keluar toko trus masuk lagi trus keluar lagi, begitu seterusnya. Pas suatu waktu, ia masuk dengan gembira menemui saya lalu berkata, "Ummi, ada teman sekolahku di luar, Zalfa".
Bagi saya biasa saja. Teman sekolah, berarti tiap hari ketemuan. Baru saja beberapa jam yang lalu mereka berpisah dari sekolahnya. Trus, apanya yang istimewa? 😁
Ternyata, bagi Hannan, ini adalah kejutan, surprise dan itu menyenangkan. Bertemu dengan teman sekolah di suatu tempat itu juga sesuatu yang wah dan menyenangkan. Kelihatan dari ekspresi dan tingkahnya, khas anak-anak yang sukanya lari kesana kemari, begitulah yang terjadi pada Hannan. Begitupun temannya, Zalfa, terlihat sangat senang bertemu dengan Hannan, si pemilik toko 😅.
Lalu pelajaran apa yang bisa saya ambil dari kisah mereka?
Kalau di dunia saja kita begitu senang bertemu dengan teman kita, bagaimana lagi jika kita dipertemukan kembali oleh Allah di syurgaNya?
Sambil duduk berhadap-hadapan di atas dipan, disuguhi minuman/makanan yang sangat enak. Maasyaallaah. *jadi sangat ingin kesana*
Semoga saja kita bersama teman kita yang saling berteman dan bersaudara karena Allah, kelak dipertemukan kembali di tempat terindah, syurga.
Bagaimana jika tidak?
Maka carilah ia, mintalah pada RabbMu agar ia ditarik dari neraka lalu kumpul kembali denganmu.
Sebagaimana hadits tentang penghuni syurga yang tidak menemukan sahabat mereka di syurga:
"Yaa Rabb, kami tidak melihat sahabat-sahabat kami yang sewaktu di dunia sholat bersama kami, puasa bersama kami dan berjuang bersama kami.
Maka Allah berkata:
"Pergilah kamu ke neraka, lalu keluarkanlah sahabat-sahabatmu yang dihatinya ada iman walaupun hanya sebesar zarrah. (HR. Ibnul Mubarak).
"Ukhti, cari saya ya jika engkau tidak menemukan saya dalam syurga"
Label:
Belajar Menulis,
Tazkiyah
Langganan:
Postingan (Atom)