Hanya berisi sepenggal pengalaman yang Allah takdirkan terjadi padaku. Semoga qt bisa mengambil pelajaran dan hikmah...
Senin, 31 Agustus 2020
Kaidah 24 - 25 - 26
Kaidah 21 - 22 - 23
Kaidah 18 - 19 - 20
Allah juga mengajari kita bahwasanya qishash itu terdapat kehidupan. Sesungguhnya efektifitas hukum Allah itu selalu jauh lebih tinggi daripada efektifitas hukum yang dibuat oleh manusia. Persentase negara yang menerapkan hukum qishash, jauh lebih mampu menekan angka pembunuhan dibandingkan negara-negara yang tidak menjalankan hukum qishash. Bukankah logika dan akal kita menerima, mata dibalas dengan mata, hidung dibalas dengan hidung, nyawa dibalas dengan nyawa, untuk menunjukkan kepada kita, hukum Allah itu sejatinya mewakili semua kebaikan pada kehidupan manusia.
Ditambah lagi, Allah juga mengajari kita, bahwasanya kehinaan itu bukanlah mereka yang miskin lagi papa, tapi kehinaan adalah mereka yang melampaui batas ketika melanggar larangan-larangan yang telah dibuat oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Inilah yang menjadikan kita harus senantiasa mengukur posisi kita, supaya posisi kita tidak semakin jauh dari Allah, ketika kita mudah bermaksiat kepadanya dalam kehidupan kita. Semoga Allah membimbing kita dan memuliakan kita dengan ketaatan yang kita lakukan.
Kaidah 15 - 16 - 17
Kaidah 15 = Kesudahan yang Baik (Al A'raf : 128)
Kaidah 16 = Buruk & Baik (Al Maidah : 100)
Kaidah 17 = Kuat Terpercaya (Al Qashash : 26)
~RESUME~
Allah memberikan kepada kita angin segar di tengah panjangnya pengorbanan dan perjuangan yang harus dilakukan. Perjuangan untuk mencari harta yang halal, perjuangan untuk mendidik anak-anak kita, perjuangan untuk membela kebenaran serta menghadapi orang-orang yang benci kepada kebenaran, ketika mereka berjejer kepada kebathilan. Ayat yang memberikan kesegaran layaknya angin segar di tengah cuaca yang begitu terik, yaitu adalah ketika kita menjumpai Allah mengatakan, "Wal aqibatu lil muttaqin ”, “Sesungguhnya kesudahan yang baik itu hanyalah bagi mereka yang bertaqwa kepada Allah”.
Inilah yang menjadikan kita, hari ini siapapun yang sedang berjalan menuju kepada pengorbanan yang dia berikan kepada Allah, ada yang sedang berjuang meninggalkan harta yang haram, ada yang sedang berjuang untuk mendidik istrinya, ada yang berjuang untuk mendidik anaknya, ada yang berjuang untuk berbakti kepada orang tua. Perhatikanlah, Allah memberikan kabar gembira, sesungguhnya kesudahan yang baik itu hanyalah milik orang-orang yang bertaqwa.
Disinilah pula kita menjumpai bahwasanya tidak ada orang yang paling layak untuk memimpin kita di dalam kebaikan dan tidak ada orang yang layak untuk mengarahkan kita kepada ketaatan, dari orang yang kita jadikan pemimpin dan imam dalam setiap kegiatan kebaikan kita kecuali mereka memiliki sifat dua, yaitu adalah mereka yang kuat dan mereka yang amanah. Bukankah Nabi Sulaiman adalah kuat dan amanah, bukankah Umar bin Khattab kuat dan amanah, bukankah Abu Bakar itu adalah kuat dan amanah. Jangan menyerahkan urusan agama ini, yang kita daulat menjadi orang yang akan kita ikuti dalam kebaikan kecuali mereka memiliki sifat kekuatan dan keamanahan.
Semoga anak-anak kita akan menjadi kader-kader Islam yang mereka memiliki karakter kekuatan dan rasa amanah dalam diri mereka, supaya memberikan kontribusi kepada agama Allah.
Rabu, 26 Agustus 2020 / 7 Muharram 1442
(Hari ke 7 di "Journey of Quran" Classroom)
Kaidah 12 - 13 - 14
Kaidah 12 = Indikator Mulia (Al Hujurat : 13)
Kaidah 13 = Orangtua & Anak (An Nisa' : 11)
~RESUME~
Islam itu merupakan ajaran langit yang menyamakan seluruh kehidupan manusia. Antara yang putih ataupun hitam, apapun jabatannya, dan apapun finansial yang mereka miliki, kaya ataupun miskin, semuanya memiliki kedudukan yang sama. Yang membedakan cuma satu: bagaimana nilai ketaqwaan mereka di hadapan Allah. Itupun hanya Allah yang mengetahui dan bukan manusia yang mengetahuinya.
Perhatikan Bilal, kenapa Bilal begitu teguh mengucapkan kata ”Ahadun Ahad”, walapun ditindih batu oleh Umayah Bin Kholaf? Karena dia tahu bahwasanya di dalam keislaman, dia dimuliakan. Makanya ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam memasuki kota Mekkah dengan kemenangan besar, siapa yang diberikan amanah untuk mengumandangkan adzan? Yang diberikan amanah adalah Bilal, padahal itu merupakan peristiwa besar. Proklamasi kemerdekaan Rasulullah ketika memasuki kota Mekkah, mengajarkan kepada kita bahwasanya sebelum orang dan manusia hari ini berbicara tentang kemanusiaan dan persamaan hak di antara seluruh manusia, Islam menjadi terdepan ketika selalu menempatkan setiap manusia sesuai dengan keadaannya dan tidak membedakan mereka kecuali dengan ketaqwaan-ketaqwaan yang ada.
Ini pula yang kita akhirnya dapati, bahwasanya kalaulah kita menjumpai ada manusia yang tidak menerima kebenaran, sejatinya bukan karena mereka tidak memahami kebenaran. Karena sejatinya kebenaran telah disampaikan oleh Allah, Dzat Yang Maha Ilmu dengan begitu gampang dan sederhana, yang mana setiap orang sejatinya begitu mudah memahami kebenaran. Kalaulah kita hari ini melihat ada orang di luar panggung kebenaran dan mereka tidak merespon kebenaran, pastikan bukan karena mereka tidak mengerti kebenaran dan jalannya, tapi sejatinya karena mereka mengikuti hawa nafsu.
Semoga kita termasuk orang-orang yang senantiasa diberikan oleh Allah kekuatan untuk mengendalikan nafsu, supaya nafsu ini mengarah kepada ketaatan.
Selasa, 25 Agustus 2020 / 6 Muharram 1442
(Hari ke 6 di "Journey of Quran" Classroom)
Minggu, 30 Agustus 2020
Kaidah 10 - 11
Kaidah 10 = Menolong Agama (Al Hajj : 40)
Kaidah 11 = Fenomena Sihir (Thaha : 69)
~RESUME~
Allah mengarahkan kita pada dua kaidah yang kita kaji pada hari ini, bahwasanya orang yang besar itu adalah mereka yang memikirkan sesuatu yang besar, bukan sesuatu yang remeh-temeh dan recehan. Sesuatu yang besar itu adalah agama Allah. Sesuatu yang remeh-temeh itu adalah dunia dan seisinya serta pernik-perniknya.
Siapapun yang memikirkan sesuatu yang besar yang sejatinya akan membantu karir dia nanti di akhirat, itulah sejatinya orang-orang yang akan diberikan pertolongan oleh Allah. Tidak mungkin Allah akan menolong kehidupan kita di akhirat ketika kita tidak pandai untuk menolong agama Allah di atas muka bumi. Bukan karena Allah itu membutuhkan kita, bukan karena Allah itu lemah, sejatinya Allah Maha Kuat, tetapi Allah jadikan berbagai macam perkara untuk menjadi perjuangan bagi kita supaya Allah tahu siapa yang mencintai agama ini dan siapa yang membenci agama ini ketika tidak mau membela dan menegakkan agama Allah. Semoga kita hidup di antara visi dan misi besar kehidupan seorang mukmin, yaitu adalah menjadi besar dengan membantu agama Allah. Inilah yang menjadikan kita memahami betapa pentingnya membantu agama Allah dalam kehidupan kita.
Ini pula kita mendapatkan bahwasanya tukang sihir sehebat apapun mantra yang dia ucapkan, sehebat apapun ilmu hitam yang dia kuasai, sesungguhnya Allah mengabarkan kepada kita sebuah keimanan yang tidak perlu kita ragukan. Sesungguhnya tidak akan pernah beruntung tukang sihir. Siapapun yang bersandar kepada Allah, siapapun yang
mereka beriman kepada Allah dan siapapun yang membentengi dirinya dengan ayat-ayat Allah dan dzikir-dzikir yang diajarkan oleh Nabi, seluruh mudharat yang disampaikan dan dilakukan oleh tukang sihir sejatinya akan patah sebelum sampai kepada kita. Kalaupun kemudharatan kita dapatkan bukan karena kuatnya tukang sihir, tapi sejatinya karena itu merupakan bagian takdir yang Allah berikan kepada kehidupan kita.
Semoga kita selalu merasa kuat dengan ayat-ayat yang Allah berikan kepada kita, karena tongkatnya tukang sihir tidak akan pernah berkutik dihadapan ayat-ayat Allah.
Senin, 24 Agustus 2020 / 5 Muharram 1442
(Hari ke 5 di "Journey with Quran" ClassRoom)