Senin, 31 Agustus 2020

Kaidah 24 - 25 - 26

Bismillaah...

Kaidah 24 = Mencari Keridhoan (Al Ankabut : 69)
Kaidah 25 = Menakuti (Al Isro' : 59)
Kaidah 26 = Teliti Berita (Al Hujurat : 6)


~RESUME~

Hari ini kita belajar, siapapun yang bersungguh-sungguh dalam perjalanan kebaikan, maka dia akan mendapatkan garansi petunjuk yang Allah berikan kepada mereka yang bersungguh-sungguh. Siapapun hari ini yang sedang hijrah, bersungguh-sungguhlah sampai Allah memberikan kepadamu petunjuk. Siapapun yang sedang berbakti kepada orangtuanya, bersungguh-sungguhlah sampai Allah akan memberikan petunjuk. Karena siapapun yang istiqomah serta bersungguh-sungguh pada jalan ini, sesungguhnya Allah tidak akan pernah melewatkan kecuali Allah mengiringi mereka dengan petunjuk-petunjuk yang Allah turunkan dari langit.

Disinilah kita juga mengerti bahwasanya semua yang terjadi di alam semesta ini bukan terjadi karena kebetulan dan settingan, tapi semua yang terjadi di alam ini merupakan bagian dari hikmah yang Allah tetapkan supaya kita kembali kepada Allah. Janganlah kita melihat banjir, tsunami hanyalah data dan angka yang tidak kita kaitkan kepada Allah. Terjadinya gesekan lempeng bumi, terjadinya tsunami, tidaklah itu terjadi kecuali menakuti kita supaya kita kembali kepada Allah.

Inipula yang menjadikan kita memahami bahwasanya apapun yang kita dengarkan, maka pastikan kita bertabayyun. Dan tabayyun itu sejatinya dengan dua langkah: pastikan apa yang kita dengar dan apa yang kita lihat betul-betul terjadi dan pastikan bahwasanya yang terjadi adalah sesuai dengan konteks kejadian yang sebenarnya sehingga kita tidak sampai salah mengambil kesimpulan di dalam menyikapi saudara kita.

Semoga Allah merahmati kita.



Sabtu, 29 Agustus 2020 / 10 Muharram 1442
(Hari ke 10 di "Journey with Qur'an" Classroom)

Kaidah 21 - 22 - 23

Bismillaah...

Kaidah 21 = Orang-orang Benar (At-Taubah : 119)
Kaidah 22 = Pahala (Yusuf : 88-90)
Kaidsh 23 = Pintu yang Benar (Al Baqarah : 189)


~RESUME~

Hari ini kaidah Quran memberitahukan kepada kita bahwasanya kejujuran itu ibarat kapal yang menghantarkan kita kepada dermaga keselamatan. Karena kejujuran berbanding lurus dengan fitrohnya kehidupan manusia.

Imam syafi'i, diterangkan oleh ibnu Ma'in, muridnya, "Kalaulah kedustaan itu diperbolehkan, pastilah kewibawaan Imam Syafi'i yang menjadikan dia tidak berbohong".

Imam Auza'i pun berkata, "Kalaulah ada seruan di langit yang mengatakan diperbolehkan untuk berdusta, maka saya pun enggan untuk berdusta, karena kehinaan yang terletak pada kedustaan."

Kejujuran di dalam bisnis: mendapatkan kepercayaan dari customer dan bisa merumuskan kesuksesan di dalam kita berbisnis. Kalaulah di dalam urusan bisnis ternyata bisa sukses dengan apa yang kita lakukan ketika kita melakukan kejujuran, terlebih lagi dalam urusan akhirat kita tergantung kepada kejujuran kita. 

Kejujuran dalam perkataan, kejujuran dalam keyakinan dan kejujuran di dalam perbuatan.

Inilah pula yang menjadikan kita memahami bahwasanya bukan hanya kejujuran yang kita perlukan, tapi kesabaran dan ketaqwaan pun juga kita perlukan. Banyak orang yang menyangka sabar itu cukup, SALAH. Sabar itu sejatinya belum cukup sampai mereka bertaqwa. Bukankah maling banyak yang bersabar? Bukankah koruptor banyak yang bersabar? Tetapi orang yang beriman adalah mereka yang sabar dan bertaqwa, karena sejatinya kesabaran dan ketaqwaan saling memanggil dan bergandengan mesra.

Inipula yang menjadikan kita mendapatkan sebuah kaidah agung, datangilah sesuatu sesuai dengan pintunya. Temukan apa yang kita harapkan ketika kita menempuh seluruh prosesnya. Datangilah Allah dengan ilmunya karena Allah itu diibadahi dengn ilmu. Pastikan pula pasangan-pasangan hidup kita baik, ketika kita selalu tidak pernah berhenti berproses untuk menjadi baik. Karena segala sesuatu tergantung  pada proses yang kita tempuh sampai kita mendapatkan apa yang kita inginkan.


Jumat, 28 Agustus 2020 / 9 Muharram 1442
(Hari ke 9 di "Journey with Quran" Classroom)

Kaidah 18 - 19 - 20

Bismillaah...

Kaidah 18 = Rencana Jahat (Fatir : 43)
Kaidah 19 = Hukum Qishaash (Al Baqarah : 179)
Kaidah 20 = Dihinakan Allah (Al Hajj : 18)


~RESUME~

Hari ini Allah mengajari kita melalui kalam-Nya. Siapapun yang berjalan di atas kebenaran, sesungguhnya kebenaran tidak pernah mendekatkan ajal, sebagaimana kebenaran tidak pernah menjauhkan rezeki. Orang yang berjalan di atas kebenaranpun harus memaklumi ketika satu-persatu banyak orang yang menjadi musuhnya ketika ingin untuk memadamkan kebenaran yang dia usung. Ada di antara mereka yang membuat makar, tapi Allah menjamin dan menggaransi, siapapun yang membuat makar kepada mereka yang beriman kepada Allah tidaklah makar itu kecuali kembali kepada diri mereka sendiri.

Allah juga mengajari kita bahwasanya qishash itu terdapat kehidupan. Sesungguhnya efektifitas hukum Allah itu selalu jauh lebih tinggi daripada efektifitas hukum yang dibuat oleh manusia. Persentase negara yang menerapkan hukum qishash, jauh lebih mampu menekan angka pembunuhan dibandingkan negara-negara yang tidak menjalankan hukum qishash. Bukankah logika dan akal kita menerima, mata dibalas dengan mata, hidung dibalas dengan hidung, nyawa dibalas dengan nyawa, untuk menunjukkan kepada kita, hukum Allah itu sejatinya mewakili semua kebaikan pada kehidupan manusia.

Ditambah lagi, Allah juga mengajari kita, bahwasanya kehinaan itu bukanlah mereka yang miskin lagi papa, tapi kehinaan adalah mereka yang melampaui batas ketika melanggar larangan-larangan yang telah dibuat oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Inilah yang menjadikan kita harus senantiasa mengukur posisi kita, supaya posisi kita tidak semakin jauh dari Allah, ketika kita mudah bermaksiat kepadanya dalam kehidupan kita. Semoga Allah membimbing kita dan memuliakan kita dengan ketaatan yang kita lakukan.

Kamis, 27 Agustus 2020 / 8 Muharram 1442
(Hari ke 8 di "Journey with Quran" Classroom)

Kaidah 15 - 16 - 17

Bismillaah...

Kaidah 15 = Kesudahan yang Baik (Al A'raf : 128)
Kaidah 16 = Buruk & Baik (Al Maidah : 100)
Kaidah 17 = Kuat Terpercaya (Al Qashash : 26)


~RESUME~

Allah memberikan kepada kita angin segar di tengah panjangnya pengorbanan dan perjuangan yang harus dilakukan. Perjuangan untuk mencari harta yang halal, perjuangan untuk mendidik anak-anak kita, perjuangan untuk membela kebenaran serta menghadapi orang-orang yang benci kepada kebenaran, ketika mereka berjejer kepada kebathilan. Ayat yang memberikan kesegaran layaknya angin segar di tengah cuaca yang begitu terik, yaitu adalah ketika kita menjumpai Allah mengatakan, "Wal aqibatu lil muttaqin ”, “Sesungguhnya kesudahan yang baik itu hanyalah bagi mereka yang bertaqwa kepada Allah”.

Inilah yang menjadikan kita, hari ini siapapun yang sedang berjalan menuju kepada pengorbanan yang dia berikan kepada Allah, ada yang sedang berjuang meninggalkan harta yang haram, ada yang sedang berjuang untuk mendidik istrinya, ada yang berjuang untuk mendidik anaknya, ada yang berjuang untuk berbakti kepada orang tua. Perhatikanlah, Allah memberikan kabar gembira, sesungguhnya kesudahan yang baik itu hanyalah milik orang-orang yang bertaqwa.

Disinilah pula kita menjumpai bahwasanya tidak ada orang yang paling layak untuk memimpin kita di dalam kebaikan dan tidak ada orang yang layak untuk mengarahkan kita kepada ketaatan, dari orang yang kita jadikan pemimpin dan imam dalam setiap kegiatan kebaikan kita kecuali mereka memiliki sifat dua, yaitu adalah mereka yang kuat dan mereka yang amanah. Bukankah Nabi Sulaiman adalah kuat dan amanah, bukankah Umar bin Khattab kuat dan amanah, bukankah Abu Bakar itu adalah kuat dan amanah. Jangan menyerahkan urusan agama ini, yang kita daulat menjadi orang yang akan kita ikuti dalam kebaikan kecuali mereka memiliki sifat kekuatan dan keamanahan.
Semoga anak-anak kita akan menjadi kader-kader Islam yang mereka memiliki karakter kekuatan dan rasa amanah dalam diri mereka, supaya memberikan kontribusi kepada agama Allah.



Rabu, 26 Agustus 2020 / 7 Muharram 1442
(Hari ke 7 di "Journey of Quran" Classroom)

Kaidah 12 - 13 - 14

Bismillaah...

Kaidah 12 = Indikator Mulia (Al Hujurat : 13)
Kaidah 13 = Orangtua & Anak (An Nisa' : 11)
Kaidah 14 = Hawa Nafsu (Al Qashash : 48 - 50)


~RESUME~

Islam itu merupakan ajaran langit yang menyamakan seluruh kehidupan manusia. Antara yang putih ataupun hitam, apapun jabatannya, dan apapun finansial yang mereka miliki, kaya ataupun miskin, semuanya memiliki kedudukan yang sama. Yang membedakan cuma satu: bagaimana nilai ketaqwaan mereka di hadapan Allah. Itupun hanya Allah yang mengetahui dan bukan manusia yang mengetahuinya.

Perhatikan Bilal, kenapa Bilal begitu teguh mengucapkan kata ”Ahadun Ahad”, walapun ditindih batu oleh Umayah Bin Kholaf? Karena dia tahu bahwasanya di dalam keislaman, dia dimuliakan. Makanya ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam memasuki kota Mekkah dengan kemenangan besar, siapa yang diberikan amanah untuk mengumandangkan adzan? Yang diberikan amanah adalah Bilal, padahal itu merupakan peristiwa besar. Proklamasi kemerdekaan Rasulullah ketika memasuki kota Mekkah, mengajarkan kepada kita bahwasanya sebelum orang dan manusia hari ini berbicara tentang kemanusiaan dan persamaan hak di antara seluruh manusia, Islam menjadi terdepan ketika selalu menempatkan setiap manusia sesuai dengan keadaannya dan tidak membedakan mereka kecuali dengan ketaqwaan-ketaqwaan yang ada.

Ini pula yang kita akhirnya dapati, bahwasanya kalaulah kita menjumpai ada manusia yang tidak menerima kebenaran, sejatinya bukan karena mereka tidak memahami kebenaran. Karena sejatinya kebenaran telah disampaikan oleh Allah, Dzat Yang Maha Ilmu dengan begitu gampang dan sederhana, yang mana setiap orang sejatinya begitu mudah memahami kebenaran. Kalaulah kita hari ini melihat ada orang di luar panggung kebenaran dan mereka tidak merespon kebenaran, pastikan bukan karena mereka tidak mengerti kebenaran dan jalannya, tapi sejatinya karena mereka mengikuti hawa nafsu.

Semoga kita termasuk orang-orang yang senantiasa diberikan oleh Allah kekuatan untuk mengendalikan nafsu, supaya nafsu ini mengarah kepada ketaatan.



Selasa, 25 Agustus 2020 / 6 Muharram 1442
(Hari ke 6 di "Journey of Quran" Classroom)

Minggu, 30 Agustus 2020

Kaidah 10 - 11

Bismillaah...


Kaidah 10 = Menolong Agama (Al Hajj : 40)
Kaidah 11 = Fenomena Sihir (Thaha : 69)


~RESUME~

Allah mengarahkan kita pada dua kaidah yang kita kaji pada hari ini, bahwasanya orang yang besar itu adalah mereka yang memikirkan sesuatu yang besar, bukan sesuatu yang remeh-temeh dan recehan. Sesuatu yang besar itu adalah agama Allah. Sesuatu yang remeh-temeh itu adalah dunia dan seisinya serta pernik-perniknya.

Siapapun yang memikirkan sesuatu yang besar yang sejatinya akan membantu karir dia nanti di akhirat, itulah sejatinya orang-orang yang akan diberikan pertolongan oleh Allah. Tidak mungkin Allah akan menolong kehidupan kita di akhirat ketika kita tidak pandai untuk menolong agama Allah di atas muka bumi. Bukan karena Allah itu membutuhkan kita, bukan karena Allah itu lemah, sejatinya Allah Maha Kuat, tetapi Allah jadikan berbagai macam perkara untuk menjadi perjuangan bagi kita supaya Allah tahu siapa yang mencintai agama ini dan siapa yang membenci agama ini ketika tidak mau membela dan menegakkan agama Allah. Semoga kita hidup di antara visi dan misi besar kehidupan seorang mukmin, yaitu adalah menjadi besar dengan membantu agama Allah. Inilah yang menjadikan kita memahami betapa pentingnya membantu agama Allah dalam kehidupan kita.

Ini pula kita mendapatkan bahwasanya tukang sihir sehebat apapun mantra yang dia ucapkan, sehebat apapun ilmu hitam yang dia kuasai, sesungguhnya Allah mengabarkan kepada kita sebuah keimanan yang tidak perlu kita ragukan. Sesungguhnya tidak akan pernah beruntung tukang sihir. Siapapun yang bersandar kepada Allah, siapapun yang

mereka beriman kepada Allah dan siapapun yang membentengi dirinya dengan ayat-ayat Allah dan dzikir-dzikir yang diajarkan oleh Nabi, seluruh mudharat yang disampaikan dan dilakukan oleh tukang sihir sejatinya akan patah sebelum sampai kepada kita. Kalaupun kemudharatan kita dapatkan bukan karena kuatnya tukang sihir, tapi sejatinya karena itu merupakan bagian takdir yang Allah berikan kepada kehidupan kita.

Semoga kita selalu merasa kuat dengan ayat-ayat yang Allah berikan kepada kita, karena tongkatnya tukang sihir tidak akan pernah berkutik dihadapan ayat-ayat Allah.


Senin, 24 Agustus 2020 / 5 Muharram 1442 

(Hari ke 5 di "Journey with Quran" ClassRoom)

Kaidah 08 - 09

Bismillaah...

Kaidah 8 = Memikul Dosa (Az-Zumar : 7)
Kaidah 9 = Laki-laki & Perempuan (Ali Imran : 37)

~RESUME~

Hari ini kita belajar, bahwasanya siapapun yang terlibat suatu masalah maka bijaklah menyikapi satu masalah yang timbul. Jangan melebar dan jangan memberikan hukuman kepada seseorang yang sejatinya tidak terlibat dengan masalah yang kita hadapi.

Belajarlah kepada Rasulullah, Rasulullah bermusuhan dengan Abu Jahal, tapi Rasulullah tidak memusuhi putranya yaitu adalah Ikrimah, dan justru Ikrimah menjadi pembela Rasulullah. Rasulullah diusir oleh penduduk Thaif tapi Rasulullah tidak dendam kepada keturunan-keturunan Thaif yang sejatinya mereka di masa mendatang, beriman dan membantu serta membela Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam.

Inilah yang menjadikan seorang mukmin, siapapun yang sedang terlibat masalah dengan kita, fokuslah kepada mereka yang membuat masalah dengan kita, tidak perlu kita membawa masalah itu kepada seseorang yang sejatinya tidak terlibat pada pusaran masalah tersebut. Kadang-kadang kita punya masalah di kantor, tetapi kita membawa masalah itu, kita limpahkan dan kita lampiaskan kepada anak dan istri kita yang sejatinya tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Kita bermusuhan dengan teman kita, tetapi yang kita musuhi anaknya, istrinya, keluarga besarnyapun ikut-ikutan kita musuhi, padahal mereka tidak tahu apa yang sedang terjadi di antara kita dengan teman kita. Inilah yang menjadikan kita mendapatkan, belajarlah menyikapi masalah sesuai dengan konteksnya.


Di sini pula kita mempelajari bahwasanya laki-laki dan perempuan sejatinya memang berbeda. Allah menjadikan laki-laki dan perempuan berbeda bukan untuk saling membedakan, tetapi justru saling mengisi. Bukankah matahari indah ketika digantikan rembulan sebagaimana laki-laki itu akan dipahami keagungannya ketika ada seorang wanita.

Jangan membuat sesuatu yang sama yang sejatinya tidak pernah sama. Ketika kita paham bahwasanya laki-laki dan perempuan itu tidak sama, kita akan tahu bagaimana cara memperlakukan anak kita yang perempuan, tentunya tidak sama memperlakukan anak kita yang laki-laki. Semuanya sudah disampaikan secara tuntas di dalam Al-Qur’an supaya kita bijak menyikapi apapun yang ada di sekitar kita.



Ahad, 23 Agustus 2020 / 4 Muharram 1442
(hari ke 4 di "Journey with Quran" Classroom)